
17.00 WIB
Jakarta, Rumah Sanaya.
"Gak mampir dulu, Nak?" tanya ibu Sanaya.
Setibanya di rumah, Sanaya mengucapkan terima kasih lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Hal itu membuat sang ibu keheranan.
"Gak dulu, Tan. Ini udah sore, takut Mami nyariin Xavier kalo kelamaan pulang," tolak Xavier sopan.
"Ohh ... iya sudah kalo gitu. Hati-hati di jalan, ya!"
"Iya, Tante. Vier pulang dulu, ya!" pamit Xavier.
Xavier melajukan motornya menjauh dari pekarangan rumah Sanaya. Ibu Sanaya masuk ke dalam rumah, ia mencari keberadaan putrinya di dalam.
"Sana!" panggilnya.
"Iya, Ma!" sahut Sanaya dari dalam kamar.
Sanaya keluar dari kamar dengan memakai baju santainya.
"Kamu kenapa main masuk ke dalam rumah gitu aja? Bikin Mama khawatir, tau gak?" ujar sang ibu.
"Maaf, Ma. Sana kebelet pipis," jawab Sanaya berbohong.
Sebetulnya ia sudah tidak tahan menahan wajah bersemu merah miliknya, apalagi jika dilihat oleh sang ibu. Bisa-bisa dia makin tersipu malu.
Sang ibu mengangguk.
"Udah makan belum?" tanyanya.
"Udah," jawab Sanaya. "Oh iya, Sana lupa. Sebentar ya, Ma," Sanaya lantas kembali masuk ke dalam.
Tak lama, ia keluar kembali sambil membawa paperbag berwarna coklat.
"Ini buat Mama, tadi Xavier mampir ke restoran beli makanan," jelas Sanaya memberikan makanan itu kepada sang ibu.
"Baik banget sih," sang ibu menerima bingkisan itu. "Kamu pacaran sama Xavier?" Pertanyaan dari sang ibu membuat Sanaya terbelalak kaget.
"Gak Ma, masa iya Sana pacaran," jawab Sanaya.
"Siapa tau aja kan, kalian itu pacaran,"
Sanaya menggeleng. "Sana mau belajar dulu, Mama makan ya? Jangan sampai Mama gak makan!" ujar Sanaya.
"Iya, Mama pasti makan. Udah sana, belajar yang bener biar pinter!"
Sanaya kembali masuk k edalam kamar, ia mengambil buku pelajaran dari dalam tas. Ketika hendak mengerjakan PR, bayang-bayang kejadian sore itu melintas dipikirannya.
Sanaya kembali tersipu malu, ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di atas tumpuan tangannya.
.....¤◇¤.....
08.30 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
Seminggu berlalu, Kanaya belajar bersama Xander selama seminggu ini. Ia berhasil mempelajari berbagai rumus fisika, bahkan saat di kelas Kanaya mendapat nilai sempurna untuk mata pelajaran fisika tersebut.
Saat ini, di kediaman Sunjaya, Xander duduk di kursi kerjanya. Ruang kerja keluarga Sunjaya memiliki 3 buah. Ruang kerja utama berada dilantai 3 mansion tersebut, ruangan itu biasa digunakan Angga. Kedua ruang kerja yang lain berada di lantai 2.
Xander menatap penuh layar laptop di depannya, berbagai macam huruf terpampang di sana tak lupa dengan beberapa foto juga terlampir di layar tersebut.
TOK
TOK
TOK
"Ander? Kamu di dalam, sayang?" panggil Yunda.
Xander menatap pintu, kemudian berjalan ke arahnya.
KLAK
"Iya, Ma?" sahut Xander setelah membuka pintu.
"Dari pagi kamu duduk di sini terus, gak ada rencana buat keluar?" tanya Yunda.
"Nggak ada, Ma. Makanya Ander di sini," jawab Xander.
"Makan siang nanti kamu mau makan sama apa?" tanya Yunda.
Xander berpikir sejenak, tidak ada makanan buatan Yunda yang tidak disukai Xander, Xander dan Xavier menyukai semuanya, begitupun dengan Angga.
"Apa aja, Ma. Xander suka semua masakan Mama," jawab Xander.
"Semur jengkol mau?" tawar Yunda sambil tersenyum dengan sebelah alis terangkat.
"Mama bercanda? Xander alergi jengkol, Ma!" Xander bergidik ngeri membayangkan semangkuk semur jengkol.
Baiklah, ternyata tidak semua. Yah, ada yang tidak disukai Xander.
Yunda tertawa melihat ekspresi Xander.
"Harusnya Mama tawarin ke Xavier, itu kan makanan favorit dia," ucap Xander.
"Iya juga, dia pasti suka. Iya sudah, Mama pergi ke dapur dulu," Yunda mengelus rambut Xander lalu beranjak pergi menuju dapur.
Dering di ponselnya mengalihkan perhatian Xander, Xander mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Alisnya terangkat saat melihat sang penelepon.
Segera Xander mengangkat panggilan tersebut.
Kanaya? Ngapain? batin Xander
"Halo?" sapa seseorang di seberang telepon.
"Apa?" sahut Xander.
"Emm ... hari ini gak ada sesi les private lagi?" tanyanya.
"Kenapa? Lo mau ketemu gue?" Xander menyunggingkan senyum simpul.
"Ck! Apaan sih! Gue cuma mau belajar lagi, biar lebih pinter. Ya, 'kan?" sahutnya.
Xander tertawa pelan, sangat pelan sampai Kanaya sendiri tidak bisa mendengarnya.
"Lo ke sini aja, gue gak bisa keluar. Banyak kerjaan,"
"Hah? Ke sana? Ke rumah lo?" tanya Kanaya beruntun.
"Iya, rumah gue," jawab Xander.
"Lo bercanda? Gak bisa apa kalo belajar di luar?"
"Gak bisa, banyak kerjaan yang ditinggal bokap. Belum lagi si Xavier yang main keluar gitu aja," sahut Xander, memijat pelan pelipisnya.
Benar, banyak pekerjaan yang harus dia urus. Angga pergi ke luar negeri lagi, kali ini tujuannya adalah Jepang. Perusahaan di sana mendapat masalah, gudang penyimpanan terbakar dan Angga harus memeriksanya. Tak ada kerugian, gudang itu hanya berisi lembaran kertas dan sampah yang memenuhi gudang. Ada manfaatnya juga gudang itu terbakar.
"Tapi, masa iya gue ke rumah lo? Gak enak, tau!" ucap Kanaya.
"Kalo lo gak mau, ya gak apa-apa. Belajar mandiri aja," sahut Xander.
"Mana paham gue belajar sendiri." Kanaya terdiam. "Iya udahlah, gue ke rumah lo aja. Dari pada kena amukan bokap," putus Kanaya.
Xander kembali tersenyum.
"Oke. Gue kirim alamat rumah gue,"
Xander mematikan telepon, kemudian ia mengirim alamat rumahnya pada Kanaya.
.....¤◇¤.....
08.50 WIB
Jakarta, Kediaman Trivara.
Ting
Xander
- Jln Abraham No 05. Mansion Sunjaya
Sebuah pesan singkat dari Xander, Kanaya membacanya kemudian bersiap diri.
Kanaya membuka lemari pakaiannya, ia mengambil satu set pakaian kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Selesai berganti pakaian, Kanaya duduk di depan meja rias. Memoleskan pelembab wajah, ditambah polesan tipis bedak, ia juga memoles bibir kecilnya dengan lipbalm.
Selesai sudah riasan tipis ala Kanaya, tak terlihat menor namun cukup segar dilihat. Tak lupa Kanaya menyemprotkan parfum aroma strawberry segar ke tubuhnya.
Setelahnya, Kanaya memasukan buku les private dan juga buku tebal pemberian Xander seminggu yang lalu ke dalam tas. Kemudian ia keluar dari kamar, melangkahkan kaki menuju ruang kerja sang ayah.
Kebetulan, hari ini ayahnya tak pergi bekerja. Ia mengistirahatkan dirinya di rumah, namun tak pernah ada waktu untuk menemani Kanaya.
Setelah mengetuk pintu, Kanaya masuk ke dalam ruang kerja Trivara.
"Pa, Naya mau pergi," ucapnya.
Trivara menatap Kanaya, saat ini ia masih berkutat dengan berkas-berkas kantor yang menumpuk di sisi meja.
"Kemana?" tanyanya dengan alis terangkat.
"Les private," jawab Kanaya.
"Oh ... kalo memang mau les pergi aja. Tapi, kalo kamu ketahuan bohong, Papa bakal hukum kamu!" tegasnya.
"Iya, Pa. Naya beneran mau les," jawab Kanaya.
"Iya udah, sana pergi. Sama Arman, kan?"
"Iya, Pa. Sama om Arman," jawab Kanaya sambil mengangguk.
"Oh ya, berapa harga les nya?" tanya Trivara.
"Murah kok, Pa. Bisa pake uang jajan Naya bayarnya," jawab Kanaya.
"Iya udah, kalo kurang kamu minta aja sama Papa!"
"Iya, Pa. Naya pamit, ya? Takut keburu siang," pamit Naya.
"Iya, hati-hati di jalan," sahut Trivara.
Setelahnya Kanaya keluar dari ruang kerja Trivara. Sang ayah tak mengetahui guru les Kanaya yang sebenarnya, ia cukup tahu bahwa sang putri belajar dengan baik.
Trivara bahkan melupakan perihal Bara yang menghilang. Terhitung sudah terlalu lama Bara menetap di markas The Dark Boy. Terkurung dalam penjara bawah tanah yang dingin dan mencekam.
......Xiexie......