
16.00 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Ander, kamu kok bisa sakit gini sih?" ucap Yunda khawatir.
"Kecapean, Ma. Xavier gak mau bantu Ander kerja, jadi Ander beresin semuanya sendiri," sahut Xander yang kini terbaring di atas kasurnya.
Kemarin setelah Kanaya membawa Xander ke UKS, anggota The Dark Boy menyusulnya. Mereka membawa Xander pulang setelah mendapat izin dari guru.
Kanaya kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku catatannya, lalu ia berpapasan dengan Leon saat Kanaya hendak masuk ke dalam kelas. Kanaya berkenalan dengan Leon, nampak Leon sangat senang melihat Kanaya.
"Nyonya, ada tamu di depan!" ucap Mira memberi tahu.
Yunda menoleh ke luar pintu, menatap Mira. "Iya, suruh dia masuk!"
"Baik, Nyonya!" Mira lantas bergegas pergi dari luar kamar Xander, ia berjalan menemui tamu.
"Sebentar ya, Mama mau nemuin dulu tamunya." Yunda mengusap lembut rambut Xander.
"Iya, Ma."
Yunda tersenyum lalu beranjak pergi keluar dari kamar Xander, Yunda masuk ke dalam lift untuk menemui tamu yang kini tengah duduk di ruang tamu.
"Lho? Kana, kamu di sini Nak," ucap Yunda.
Kanaya bangun dari duduknya, ia menyalami tangan Yunda. "Iya, Tante. Kana mau jenguk Xander, sekalian kembaliin ini." Kanaya menunjukan jam tangan Xander.
"Eh? Sejak kapan jam tangannya lepas dari tangan Ander?" ucap Yunda menerima jam tangan tersebut.
"Kemarin waktu di perpustakaan, Xander lepas jam tangannya buat cuci tangan. Terus dia lupa buat pakai lagi," jelas Kanaya.
Yunda mengangguk seraya tersenyum. "Iya sudah. Ayo, katanya mau jenguk Ander. Ander ada di kamarnya."
Kanaya berjalan menuju kamar Xander ditemani Yunda.
"Kamu masuk aja dulu, Tante mau buat makanan."
"Iya, Tante."
"Jaga Andernya sebentar, ya!" Lantas Yunda bergegas menuju dapur untuk membuatkan makanan dan minuman.
KLAK
Pintu terbuka menampilkan sosok Kanaya, Xander tengah tertidur sehingga tidak menyadari kehadiran Kanaya. Kanaya membawa langkahnya masuk ke dalam kamar Xander, ia duduk di sebuah kursi di samping ranjang Xander.
Kanaya meletakan keranjang buah di atas nakas, Kanaya menatap wajah Xander yang tertidur pulas.
Tangan Kanaya terangkat, sadar atau tidak Kanaya menempelkan telapak tangannya di dahi Xander.
"Masih panas," gumam Kanaya.
Kanaya mengelus lembut kepala Xander, Kening Xander berkerut, ia lantas membuka matanya saat merasakan sentuhan lembut di kepalanya.
Kanaya terkejut melihat Xander yang telah bangun dari tidurnya, dengan cepat Kanaya menarik kembali tangannya dari kepala Xander.
"Lo di sini?" tanya Xander, ia berusaha untuk duduk dan bersandar di sandaran ranjang.
"Iya, gue mau ngembaliin jam tangan lo. Sekalian jenguk lo," jawab Kanaya.
"Bokap lo gak marah?" tanya Xander.
"Nggak, gue izinnya buat les private jadi dia izinin gue,"
"Lo gak takut ketahuan?"
"Nggak, mereka taunya rumah ini rumah guru les gue," jawab Kanaya lagi.
Xander melirik keranjang buah di sampingnya. "Itu, lo yang bawa?"
Kanaya mengangguk. "Buat lo, biar cepet sembuh. Kalo lo sembuh, gue bisa belajar lagi,"
"Thanks, meski gue gak sekolah. Lo harus tetap belajar, pelajari materi yang ada di buku. Gue pernah kasih bukunya ke lo 'kan?"
"Iya, setiap hari gue baca supaya lebih pinter dari lo!" Kanaya tertawa pelan, Xander tersenyum kecil.
"Aduh, lagi ngobrol rupanya. Ngobrolin apa, sih?" ujar Yunda saat ia masuk ke kamar Xander.
"Gak ada, Ma. Cuma bahas pelajaran," jawab Xander.
Yunda menyimpan nampan yang ia bawa di atas meja. "Makan dulu, sayang."
"Iya, nanti Ander makan."
"Sekarang aja, nanti kamu lupa lagi!"
"Iya, Ma. Nanti aja, Ander lagi ngobrol," jawab Xander.
Xander terbelalak kaget, sementara Kanaya terkekeh pelan.
"Ma! Ander bukan anak kecil, Ander bisa makan sendiri!"
"Makanya, ayo makan!" Yunda berkacak pinggang.
"Iya-iya, Ander makan." Xander mengambil mangkuk bubur dari atas meja.
"Nah, bagus. Mama keluar sebentar. Kanaya, tolong jaga Xander ya? Pastikan dia makan buburnya!"
"Siap, Tante. Kana pasti jaga Xander," sahut Kanaya.
"Titip, ya!" Yunda mengelus lembut rambut Kanaya, lalu pergi keluar dari kamar Xander.
Xander meletakan kembali buburnya, ia lebih memilih meminum susu.
"Lho? Kok gak lo makan buburnya?" tanya Kanaya dengan alis terangkat.
"Gak nafsu makan," jawab Xander.
"Tetep aja lo harus makan! Nafsu gak nafsu, makan itu harus!" tutur Kanaya.
Kanaya mengambil mangkuk buburnya, lalu ia menyodorkan sesendok bubur ke hadapan Xander.
"Buka mulut lo!" pinta Kanaya.
"Gue bisa makan sendiri." Xander memegang sendok di depannya.
"Gak! Biar gue suapin lo!" sargah Kanaya. "Ayo, buka mulut lo!"
Xander pasrah, lagi pula ia tidak punya tenaga untuk makan. Bahkan untuk duduk saja ia kesulitan. Xander membuka mulutnya membiarkan Kanaya menyuapi dirinya.
Kanaya menyuapi Xander dengan perlahan, tanpa mereka sadari Yunda dan Xavier mengintip di luar kamar Xander.
"Sejak kapan mereka bisa deket kayak gitu?" ucap Xavier setengah berbisik.
"Sejak lama, Xander suka ajarin Kanaya," jawab Yunda ikut berbisik.
Xavier terdiam melihat Xander dan Kanaya, tangannya terkepal dengan kuat. Xavier beranjak dari tempatnya lalu keluar dari rumah.
Yunda menatap Xavier dengan heran, lantas ia mengejarnya.
"Xavier! Vier, kamu mau kemana?" ujar Yunda melihat kepergian Xavier.
"Haish ... anak ini, mau kemana sih buru-buru begitu?" gumamnya.
.....¤◇¤.....
16.20 WIB
Jakarta, Taman Mini.
"Xavier, kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Sanaya bingung.
Xavier terdiam, Sanaya bingung dengan keadaan Xavier saat ini.
"Vier? Ada apa? Apa ada masalah?" tanyanya lagi.
Xavier membuang nafas panjang, lantas menatap kedua manik mata Sanaya.
"Gak kok, gak ada masalah apapun. Gue cuma pengen menghirup udara segar di sore hari bareng lo!" sahut Xavier.
"Aku pikir kamu punya masalah,"
Xavier tersenyum. "Gue boleh peluk lo?"
Sanaya mengangguk, lantas Xavier memeluk Sanaya dengan erat. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, Sanaya merasa saat ini Xavier memiliki masalah. Hanya saja Xavier tidak ingin menceritakannya, ia memilih bungkam dan memendamnya sendiri.
Sanaya mengelus lembut punggung tegap milik Xavier, angin sore berhembus menambah kesan romantis di taman tersebut.
"Vier, apapun masalah kamu. Aku harap kamu bisa cerita semuanya, aku di sini siap mendengarkan semua cerita kamu." Sanaya terpejam lengannya terus mengusap punggung Xavier.
Sana, gue gak mau kehilangan lo. Gue gak mau pisah sama lo, gue ... gue cinta sama lo Sanaya.
Xavier melepaskan pelukannya, ia tersenyum menatap wajah cantik Sanaya.
"Jalan-jalan, yuk! Kita beli es krim!" ajak Xavier, ia kembali ceria.
Sanaya tersenyum. "Sepertinya Vier-ku kembali lagi. Ayo!" Sanaya bangun lalu menarik pelan tangan Xavier.
Xavier kembali tersenyum lantas keduanya pergi bersama mencari penjual es krim. Tatapan Xavier tak pernah lepas dari Sanaya.
Gue gak akan biarin siapapun merenggut kebersamaan kita. Gue janji, Sanaya!