
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
16.50 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
"Haaah ...." Xander menghela napas panjang.
"Kenapa Ander?" tanya Yunda sembari meletakan piring berisi kue kering.
"Ander gak kenapa-kenapa Ma," jawab Xander.
"Masa sih? Muka kamu keliatan kusut gitu, masa gak ada masalah."
Xander terdiam memakan kue buatan Yunda. "Ander lagi ada yang dipikirin," jawab Xander.
"Mikir apa sih, sampe kamu menghela kayak tadi?" Yunda menyisir rambut Xander dengan tangannya.
Xander tersenyum, ia menurunkan tangan sang ibu dari kepalanya kemudian mencium punggung tangannya. "Mikirin Kanaya, Ma."
"Aduh ... anak Mama lagi mikir pacarnya toh, gak nyangka Mama kamu bisa pacaran sama Kana," ungkap Yunda.
"Kenapa gak nyangka?"
"Soalnya sifat kamu dingin banget kayak kutub utara. Eh tau-tau udah punya pacar aja," jawab Yunda diselingi kekehan kecil.
"Mama ada-ada aja."
"Emangnya kenapa sama Kanaya? Kalian lagi berantem?" tanya Yunda melirik Xander sekilas.
"Gak Ma, tadi ayah Kanaya telepon Ander. Dia minta Ander buat balikin Kanaya ke dia," jawab Xander.
"Terus, kenapa gak kamu anterin Kana pulang?"
"Soalnya Ander gak yakin dia bakal aman sama ayahnya, selama ini Kanaya sering mendapat perlakuan buruk dari ayahnya," jelas Xander.
"Mama ngerti kamu khawatir soal itu. Tapi, gak baik kalo kamu terus jauhin Kanaya dari papanya," tutur Yunda dengan lembut.
"Ander juga gak tega pisahin Kanaya sama ibunya. Selama ini Kanaya tingga terpisah sama ibunya, Ander cuma mau Kanaya bahagia tinggal bareng ibunya," sahut Xander tersenyum menatap wajah cantik sang ibu.
"Astaga anak Mama ... manis banget sih. Belajar dari siapa bertingkah manis kayak gitu?"
"Hmm ... Xavier mungkin," jawab Xander asal.
"Gak mungkin kalo Vier, yang ada kamu diajarin lebih parah dari ini," elak Yunda.
Xander tertawa kecil mendengarnya. "Mama kenapa jelekin Xavier kayak gitu?"
"Yah ... karena dia udah pasti kayak gitu," jawab Yunda. Yunda bangun dari duduknya. "Mama mau masak dulu buat makan malam," pamitnya kemudian pergi menuju dapur.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
17.00 WIB
Jakarta, Taman Westeria.
"Enak?" tanya Xavier sembari mengusap ujung bibir Sanaya yang kotor karena coklat.
"Enak banget, rasanya manis. Mau coba?" tawar Sanaya.
"Mau dong," jawab Xavier semangat.
Sanaya menyodorkan es krim ke arah Xavier, Xavier memakan es krim Sanaya. "Ternyata bener-bener manis ya, sangat manis karena aku makannya sambil liat kamu."
"Bisa aja sih kamu, gombalannya basi tau!" Sanaya terkekeh pelan.
"Tapi itu termasuk gombalan yang populer karena banyak orang yang pake gombalan itu," sanggah Xavier.
Sanaya menggeleng pelan kemudian melanjutkan makan es krim ditangannya.
"Keadaan kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Xavier. "Nyaman gak tinggal di villa?"
"Nyaman kok. Meski kadang aku kangen sama rumah jelek aku, tapi tinggal di villa lebih baik," jawab Sanaya.
"Syukur kalo kamu nyaman tinggal di sana." Xavier membelai lembut rambut Sanaya.
"Ekhem!" deheman seorang pria mengejutkan keduanya. "Lagi ngapain lo?"
Xavier menatap jengkel pria di depannya sementara Sanaya memasang senyum ramahnya.
"Lo ngapa di sini?" tanya balik Xavier.
"Ya lagi jalan lah sama pacar gue," jawabnya sembari menunjukan seorang gadis di sampingnya.
"Tapi kenapa harus di taman ini dah, kayak gak ada taman lain aja," kesal Xavier.
"Gak apa-apa, Vier," ujar Sanaya.
"Idih, kalo gue tau ada lo di sini mana mungkin gue jalan ke taman ini," elak pria tersebut.
"Alesan aja lu, sapi!"
"Gue Savian, bukan sapi. Dasar buah pir," ucap Vian balas mengejek Xavier.
"Alah, apaan cuma buah. Bisa gue makan lo!"
"U-udah dong, jangan berantem," lerai Tania.
"Maaf ya," ucap Savian sembari tersenyum menatap Tania.
Tania menatap Sanaya. "Kak, Kana ikut ke sini gak?"
"Ngga, dia ada di rumah," jawab Sanaya ramah.
"Kita pulang yuk!" ajak Savian yang diangguki Tania.
"Kita pulang dulu ya Kak," pamit Tania lantas Savian menggandeng Tania membawanya pergi meninggalkan Xavier.
Selepas kepergian Savian, Xavier memasang wajah cemberut andalannya. "Kenapa sih itu sapi malah ganggu?"
"Biarin aja, gak sengaja juga dia datang ke sini buat ganggu," ucap Sanaya.
Xavier menatap Sanaya dengan ekspresi wajah cemberut. "Kan jadi gagal romantis tadi," rengeknya pelan.
Sanaya tertawa melihat tingkah Xavier layaknya seorang anak kecil. "Aduh ... bayi aku gak boleh nangis gitu dong." Sanaya mengelus lembut kepala Xavier.
Xavier mengusel pelan. "Kita juga pulang yuk, udah sore takut nanti ibu kamu nyariin," ajak Xavier.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
17.30 WIB
Jakarta, Kediaman Sunjaya.
Klak
"Tuan muda, ini teh Anda." Mira masuk ke dalam ruang kerja Xander sembari membawa nampan berisi secangkir teh.
"Ya, terima kasih," sahut Xander tanpa menoleh ke arah Mira.
Mira berjalan mendekati meja kerja Xander, ia letakan teh yang di bawanya ke atas meja. Mira melirik sekilas melihat penampilan Xander.
"Kalau begitu, saya pamit kembali Tuan," pamit Mira.
"Ya," jawab Xander.
Mira membungkuk sebentar lalu melenggang keluar dari ruang kerja Xander.
Xander melepaskan kacamata yang menempel di wajahnya, ia mengusap pelan kedua matanya. Sedari tadi pandangannya hanya fokus pada layar laptop mengerjakan pekerjaan yang di tinggalkan sang ayah. Rasanya cukup melelahkan bagi kedua mata Xander.
Xander mengambil cangkir teh yang tak jauh dari tangannya kemudian meneguknya sedikit.
"Kenapa belum ada kabar dari Swiss?" gumam Xander melirik teh yang ada di genggamannya.
Membuang napas perlahan, Xander meletakan kembali cangkir tehnya lantas memutar kursi menghadap jendela. Xander mengambil ponsel dari atas meja, mulai memainkan ponselnya mencari kontak seseorang.
"Halo?" sapa seseorang di seberang telepon.
"Selamat sore, Tuan," balas sapa Xander.
"Sore juga, ada perlu apa Nak Xander menghubungi saya?"
"Hmm ... saya ingin mengajukan kerja sama bersama dengan perusahaan Anda. Mungkin saja kita berdua akan saling mendapatkan keuntungan," ucap Xander.
"Kerja sama? Apakah benar Anda bersedia menjalin kerja sama dengan Trivara?" tanya Trivara memastikan.
"Benar, saya melakukan ini semata-mata hanya untuk kebaikan Kanaya. Saya tidak ingin Kanaya kembali terganggu dengan masalah Anda."
"Apa maksud Anda?" tanya Trivara bingung.
"Saya tahu apa yang Anda lakukan bersama dengan Tuan muda Abiputra. Saya juga tahu apa yang menjadi tujuan dari Tuan muda Abiputra." Xander terdiam sejenak menatap ke halaman kediamannya yang terlihat beberapa pelayan berlalu lalang. "Saya akan membantu Anda terlepas dari kungkungan Abiputra," sambung Xander.
"Jadi, Anda tahu masalah yang saya hadapi?"
"Tentu saja, Anda kehilangan proyek besar 2 bulan yang lalu. Kebetulan saat itu Tuan muda Abiputra mengincar putri Anda, maka beliau mengusulkan kerja sama dengan perusahaan Anda dan memberikan modal yang cukup besar untuk membantu Anda membayar uang ganti rugi. Benar bukan?"
"B-benar. Tapi, bagaimana bisa Anda tahu soal itu?" jawab sekaligus tanya Trivara.
Xander tersenyum miring. "Tak ada yang tidak diketahui oleh Sunjaya, Tuan Trivara," jawab Xander sedikit menyombonkan diri.
"A-ah ... ya. Jadi, apa yang harus saya lakukan untuk Anda?"
"Datanglah besok ke perusahaan Sunjaya, buktikan jika Trivara mampu membuat proyek yang saling menguntungkan. Saya akan mengamati berkas yang Anda berikan, jika berkas Anda cukup memuaskan maka saya akan dengan senang hati menyetujui kerja sama kita," jelas Xander dengan tenang.
"Tentu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan proyek ini sehingga kita berdua mendapatkan keuntungan," jawab Trivara senang.
"Baik, akan saya tunggu." Xander memutus sambungan telepon setelah selesai mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.
Xander kembali menatap keluar jendela, suasana sore hari sangat damai di kediamannya. Seperti tidak ada masalah apapun, hanya ada kedamaian. Tapi, Xander tak merasakan kedamaian itu, yang ia rasakan saat ini hanya kegelisahan.
"Aku harap semuanya baik-baik saja."
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...