SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 9



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


Hari libur telah tiba, para murid sekolah menikmati hari libur mereka dengan bersantai dan jalan-jalan menuju tempat liburan.


Xander menggunakan hari liburnya untuk pergi ke luar negeri.


"Ander, kamu mau kemana udah rapi gini?" tanya Yunda, sang mama yang hendak membangunkannya.


"Ander punya urusan di luar negeri, Ander bakal pulang sebelum hari libur selesai," jawabnya.


"Urusan apa, sayang?" tanya lembut Yunda sambil mengusap rambut Xander.


"Ada seseorang yang harus Ander temui, dia orang yang sangat penting," jawab Xander.


Yunda menghela nafas panjang. "Kamu jadi kayak papa kamu, sibuk karena urusan." Yunda menunduk, menatap jari manisnya yang bertengger cincin pernikahan. "Vier ikut gak?" tanya Yunda, kembali menatap sang putra.


Xander menggeleng. "Ander yakin Vier punya rencana sendiri."


Yunda mengangguk.


"Iya sudah, kamu boleh pergi. Asalkan, jangan sampai kenapa-kenapa, Mama gak mau liat kamu pulang dalam keadaan yang gak baik!" ucapnya.


"Iya Ma, kapan sih Ander gak jaga diri?" sahut Xander mencium kening sang mama.


"Sana, berangkat. Mama di sini sendiri, gak seru!" ujarnya.


Xander tertawa kecil, mamanya ini sangat lucu meski telah dimakan usia.


"Ander pergi ya Ma, jaga diri Mama baik-baik."


"Iya sayang. Hati-hati!"


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


09.30 WIB


Jakarta, Bandara Sukarno-Hatta.


"Tuan, tiket anda." Noah memberikan tiket pesawat Xander.


"Gue sempet tanya lo, kenapa lo manggil gue Tuan. Iya, 'kan?" ujarnya.


Noah mengangguk, ia ingat saat itu ia memanggil Xander 'Tuan'.


"Benar, dan bahasa saya menjadi formal kepada anda," jawabnya.


"Alasannya?"


"Karena sudah sepantasnya saya seperti itu. Syifa bilang, saya harus sopan terhadap anda seperti cerita dalam buku," jawab Noah enteng.


"Syifa seorang anak kecil, bagaimana bisa dia tau soal itu?"


"Entahlah, Tuan. Sebaiknya anda bergegas menuju pesawat, sebentar lagi pesawat anda akan lepas landas," tutur Noah.


Xander melangkah menuju pesawat diikuti Noah yang setia menemani.


"Anda tidak akan menemui Tuan besar dulu?" tanya Noah.


"Gak, Jansen lebih penting sekarang. Anggota yang lain juga berkumpul di sana." Xander terdiam sejenak. "Papa berusaha menyelesaikan masalahnya di sana, tapi dia bahkan tidak memiliki cukup banyak kekuatan dan akal. Gue di sini bakal bantuin dia, karena gue seorang Sunjaya!" ucapnya tegas menatap lurus ke depan.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


10.20 WIB


Jakarta, Dandelions Cafe


"Heh lo!"


GUBRAK!


"Kamu kenapa sih? Kenapa ganggu aku terus!" kesal seorang perempuan.


Sepeda yang ia tunggangi beserta kue-kue jualannya berantakan di jalan. Gadis itu memungut kue yang masih layak untuk dijual.


"Makanya! Lo harus nurut sama gue, terima cinta gue maka gue gak akan ganggu lo lagi!" ucap pria itu.


Gadis itu mendongak, menatap wajah angkuh pria di depannya. Gadis itu berdiri, menatap nyalang dengan bola mata indahnya.


"Aku udah bilang berkali-kali, kalo aku gak mau pacaran sama kamu!" sahut gadis itu kesal.


"Maka lo akan terus gue ganggu sampai lo nyerah dan terima cinta gue!" tegasnya.


Pria itu menginjak sisa kue yang masih layak dijual di atas tanah, gadis itu berurai air mata. Mata pencahariannya kini dirusak oleh seseorang yang selalu mengganggunya.


"Hentikan!" gadis itu mendorong tubuh sang pria di depannya.


Ia berjongkok, menatap sendu kue jualannya yang hancur.


"Kamu tega banget lakuin itu sama aku," gadis itu terisak.


Sang pria tersenyum puas, ia ikut jongkok di depan sang gadis.


"Sanaya sayang, aku akan lembut sama kamu kalo kamu mau jadi pacarku!" ucapnya kembali dengan penekanan.


Pria itu mengusap lembut surai panjang milik gadis bernama Sanaya itu. Sanaya memejamkan mata, meringis merasakan tangan jahat itu menyentuh kepalanya.


"Jangan sentuh kepalaku!" Sanaya menepis kasar tangan pria itu.


Sanaya berdiri dengan tatapan amarahnya, pria itu ikut berdiri. Ia tersenyum miring melihat tatapan Sanaya yang membuatnya merasa tertantang.


"Berani natap gue kayak gitu?" ujarnya dingin. "Tatap gue kayak gitu lagi, lo akan tau akibatnya. Sanaya sayang," lanjutnya.


Sanaya kembali menangis, "Kenapa sih Aldo? Aku gak mau jadi pacar kamu, tolong ngertiin aku!"


"Gue gak peduli, gue cuma mau lo jadi milik gue!"


Aldo, dia menarik paksa tangan Sanaya menuju mobilnya terparkir. Suasana kafe cukup sepi pengunjung sehingga tak ada yang menyelamatkan Sanaya.


"Aldo, lepasin tangan aku! Aku gak mau ikut sama kamu!" tolak Sanaya berusaha memberontak.


"Diam Sanaya! Gue gak mau denger penolakan lo!" marah Aldo menatap tajam Sanaya.


"Aldo lepasin! Jangan kayak gini!" Sanaya berusaha melepaskan diri namun cengkraman Aldo begitu kuat sampai menyakiti tangan Sanaya.


BUGH


DUG


Sanaya terpaku di tempat, ia sangat terkejut mendapati Aldo terjatuh di atas tanah dengan kepala membentur aspal halaman kafe. Darah keluar dari kepala Aldo, Aldo meringis kesakitan. Ia mencoba bangkit dan melihat siapa yang telah berani menendangnya hingga terkapar.


Sebuah tangan menarik lengan Sanaya dan menyembunyikannya di balik punggung tegapnya.


Aldo, berdiri dari tanah dengan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia memegang kepalanya yang sakit, ia berbalik menatap sosok pria yang telah menendangnya.


"Berani banget lo!" ujar Aldo marah.


"Ngapain takut sama cowok kayak lo!" balasnya tajam.


"Siapa lo, hah?!"


"Setan."


"Hah?" bingung Aldo.


"Ya manusia lah, bego! Lo kagak liat wujud gue yang ganteng ini?" sungut pria itu kesal.


Aldo berdecih. "Gue tau lo manusia! Lo yang bego, lo gak ngerti apa yang gue bilang tadi?!"


"Ohh ... kagak," jawab pria itu yang mampu membuat Aldo pusing 7 keliling.


Sanaya tetap bersembunyi, lengannya masih digenggam erat pria di depannya.


"Lo bener-bener bikin gue kehilangan kesabaran!" kesal Aldo.


"Sorry, hobi gue soalnya. Lo kagak tau, ye?Kasian, mana masih muda," balasnya.


"Diem lo! Banyak omong lo! Maju sini kalo lo beneran laki!" tantang Aldo.


Pria itu maju selangkah, "Nih gue udah maju, gue beneran laki 'kan?"


Aldo kembali melongo, lelah bicara dengan pria di depannya padahal ia sudah mengambil ancang-ancang.


"Sialan! Bisa gila gue ngomong sama cowok kayak lo!"


"Lo emang udah gila sebelum ngomong sama gue," balas pria itu lagi.


"Diem! Congor lo kagak bisa apa diem barang sebentar?!" kesal Aldo.


"Oke," jawabnya.


Ia berbalik dengan tetap menggenggam erat tangan Sanaya. Sanaya menatap wajah tampan pria itu dari samping, kemudian Sanaya menunduk melihat tangannya yang digenggam erat tanpa menyakitinya.


"Mau kemana lo? Gue belum kelar sama lo!" teriak Aldo.


Pria itu berbalik menatap Aldo. "Lah? Tadi lo nyuruh gue diem. Dari pada diem kagak ngapa-ngapain, mending gue pulang," jawabnya.


"Sialan! Lo bikin gue kesal dari tadi!" marah Aldo.


"Hoaamm ...." pria itu menguap.


"Hey, lo laper gak?" tanyanya pada gadis yang bersembunyi di balik punggungnya.


Sanaya mengangguk kecil, menggemaskan menurut pria itu.


"Makan yuk! Gue yang traktir!" ajaknya.


"Heh! Gue belum selesai sama lo ya, banci cerewet!" ucap Aldo cukup keras.


Mendengar ia dihina, pria itu menutup matanya. Kemudian kembali terbuka, mata yang semula memancarkan aura ceria kini tergantikan dengan aura mencekam.


Pria itu melepaskan genggaman tangannya dari Sanaya, ia melangkah maju mendekati Aldo. Aldo yang berhasil memancing, bersiap-siap memasang kuda-kudanya.


"Sini lo, hajar gu-"


BUGH


"Ohok!" Aldo terbatuk setelah mendapat bogeman keras di pipinya.


Aldo memegang rahangnya yang terasa sakit, ia menatap nyalang mata tajam di depannya.


"Sialan! Gue belum-"


BUGH


"Sial!"


BUGH


BUGH


BUGH


Pukulan berturut-turut didapati Aldo. Dengan tak terkendalinya, pria itu memukul Aldo dengan keras. Ia memukul wajah Aldo 5 kali, lalu beralih memukul perutnya sebanyak 2 kali, dengan terakhir ia menendang Aldo hingga terdorong jauh dan menabrak mobilnya sendiri.


Pria itu kembali memejamkan mata.


"Nah, akhirnya selesai!" ucapnya kembali ceria.


Pria itu menghampiri Sanaya yang terpaku di tempat, ia menyaksikan adegan tersebut tanpa berkedip.


"Yok makan!" ajaknya sambil menarik tangan Sanaya.


"K-kamu siapa?" tanya Sanaya pelan sambil berjalan mengikuti pria yang telah menolongnya itu.


Pria itu berhenti berjalan, ia menatap Sanaya dengan senyum manis di wajahnya.


"Gue Xavier, panggil aja Vier," jawab Xavier.


Sanaya membalas senyuman Xavier, "Aku Sanaya."


"Nama yang cantik, persis kayak orangnya," sahut Xavier lalu kembali berjalan masuk ke dalam kafe.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...