
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
07.32 WIB
Jakarta, Winter's High School
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswi baru di kelas ini," ujar Wali Kelas kepada anak-anaknya.
"Siapa tuh Bu?"
"Cewek atau cowok Bu?"
"Cakep kagak Bu?"
"Kalo cewek, bakal gue jadiin pacar gue!"
"Enak aja lo!" marah Xavier.
Sontak semua mata tertuju padanya.
"Lo tau siapa murid barunya, Vier?" tanya seorang anak laki-laki.
"Tau," jawab Xavier tersenyum bangga.
"Siapa Vier? Kasih tau napa," desaknya.
"Ngapain gue kasih tau lo, nanti juga bakal muncul orangnya," jawab Xavier santai.
"Nah, sudah ya ribut nya? Ayo, murid baru silakan masuk!" Wali kelas menyuruh siswi baru untuk masuk kelas.
"Permisi," ucapnya sopan sambil menengok ke dalam.
Perlahan ia masuk ke dalam kelas, semua mata tertuju padanya. Bahkan Xavier terus menatap lekat seorang gadis yang menjadi siswi baru di kelasnya.
Gadis cantik dengan rambut panjang terurai, kulit putih, hidung mancung, bibir mungil, dan mata yang indah.
Para siswa terus menatap gadis itu tanpa berkedip, mereka terpesona akan kecantikan yang dimiliki gadis itu.
"Ayo perkenalkan nama kamu!" ujar Wali kelas.
"Halo semua, nama saya Sanaya Yusha. Saya siswi baru di sini, jadi mohon bantuannya ya!" Sanaya tersenyum menatap teman kelasnya.
"Halo Sanaya!"
"Cakep bet, kudu gercep ini mah."
"Eh-eh, mau ngapain lo?" marah Xavier menatap tajam siswa di sampingnya.
Sanaya terkekeh pelan, kemudian sang guru menyuruh Sanaya duduk di kursi. Kursi kosong di barisan kedua, meja ketiga, Sanaya duduk bersama seorang gadis imut.
"Hay, nama gue Gendis!" gadis imut itu mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik oleh Sanaya.
"Aku Sanaya, panggil aja Sana."
"Nama panggilannya lucu." Gendis terkekeh pelan.
"Iya, kadang suka keliru antara nama aku dan penunjuk arah." Sanaya ikut tertawa pelan.
"Semoga kita jadi teman baik, ya."
Sanaya mengangguk sambil tersenyum, dari kejauhan Xavier terus menatap Sanaya tanpa henti. Ia begitu amat menyukai wajah Sanaya.
"Sanaya?" Gumam Xander dengan kening berkerut.
Pelajaran pertama dimulai, Wali kelas pamit keluar begitu guru pembelajaran tiba di kelas.
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...
10.10 WIB
Jakarta, Winter's High School
Bel istirahat telah berbunyi sejak 10 menit yang lalu, suasana kantin ramai pengunjung.
Hari ini giliran Xander dan Nean yang memesan makanan di warung kantin. Nean memesan makanan teman-temannya, sementara Xander fokus menatap layar ponsel.
"Nder, gue denger di kelas lo ada murid baru ya?" tanya Nean penasaran.
"Iya," jawab Xander singkat.
"Siapa namanya? Cewek kan ya? Cakep kagak?" tanya Nean beruntun.
"Lo gak usah tau soal dia, karena dia udah ada yang punya," ucap Xander menatap Nean.
"Hah? Siapa?" tanya Nean kaget.
"Xavier," jawab Xander.
"Yaelah, anak itu gercep juga. Baru aja beberapa jam dia dateng ke sekolah, dah maen ambil aja," gerutu Nean.
"Dia udah kenal lama, bukan cuma hari ini," jelas Xander.
"Pantesan," ucap Nean lesu.
Di sisi lain, Sanaya bersama Gendis berjalan bersama menuju kantin. Gendis menarik tangan Sanaya mendekat ke warung yang kebetulan ada Xander dan Nean di sana.
"Minggir dong, gue mau mesen nih!" ujar Gendis pada keduanya.
"Gimana mau mesen, menunya juga kagak bisa kita liat. Sadar diri dong, kalian 'kan tiang listrik!" ujar Gendis disusul tawa ringan dari Sanaya.
Nean mencebik, ia lantas menengok ke belakang Gendis sambil menepi. Merasa ada seseorang yang memperhatikan, Sanaya balas menatap Nean kemudian menyunggingkan senyum manisnya.
"Hay, gue Nean." Neandro mengulurkan tangannya.
"Sanaya," Sanaya menjabat tangan Nean.
"Nama lo cantik, persis kayak orangnya."
Sanaya tersenyum menanggapi Nean, Gendis memanggilnya, menyuruhnya melihat menu dan memesan makanan.
"Asal lo tau ya, Llyod itu gantengnya kebangetan!" ujar Tania.
"Mana gue tau, gue kan kagak pernah liat si Llyod itu," jawab Kanaya.
"Entar deh di kelas gue kasih liat, pokoknya Llyod gue yang paling ganteng!"
"Llyod atau Vian nih?" goda Kanaya.
Tania mendadak terdiam. "Lo mah gitu, gue kan kagak bisa milih."
Kanaya tertawa melihat perubahan ekspresi Tania, lantas keduanya menghampiri sebuah warung. Tania memesan makanan, dan Kanaya menunggu tak ikut berdesakkan.
Sementara, laki-laki di sampingnya memperhatikan Kanaya, meski tangannya memegang ponsel.
Merasa pengap, Sanaya keluar dari kerumunan, ia mengatur nafasnya perlahan lalu menatap Xander memberikan senyuman, Xander melihatnya kemudian beralih melirik Kanaya.
Kanaya sibuk melihat ke samping, seperti tengah mencari seseorang, padahal orang yang dicari ada di sampingnya. Selepas menatap Xander, Sanaya menurunkan pandangannya melihat gadis cantik di samping Xander.
Bola mata Sanaya membulat, ia terkejut melihat gadis itu. Lantas Sanaya menghampirinya.
"Naya?" panggil Sanaya.
Kanaya dan Xander menatap Sanaya dengan alis terangkat. Kanaya terkejut melihat Sanaya ada di depannya, ia menengok ke kanan dan kiri seperti sedang memastikan sesuatu.
"Kakak, kenapa Kakak ada di sini?" tanya Kanaya.
Alis Xander kembali terangkat mendengar perkataan Kanaya.
"Kakak dipindahin ke sini. Kakak seneng banget bisa ketemu kamu," Sanaya meraih kedua tangan Kanaya lalu menggenggamnya dengan erat.
Tanpa sadar air mata keduanya mengalir, Sanaya tersenyum begitupun Kanaya.
"Bro! Bantuin gue nih!" Nean menyodorkan nampan kehadapan Xander.
Mendengar suara Nean, Kanaya dan Sanaya menatap Nean. Xander menyimpan ponselnya lalu menerima nampan dari Nean. Kanaya terkejut dengan kehadiran Xander di sampingnya.
Sejak kapan dia ada disamping gue? Pantes gue cari kagak ada, taunya disamping gue. Batin Kanaya.
Nean dan Xander pergi meninggalkan warung itu, keduanya lantas duduk di meja menghidangkan makanan tersebut.
Kanaya tak henti menatap Xander sampai dia duduk di kursi, melihat itu Sanaya tersenyum.
"Cuy, nih makanan lo!" Tania menyerahkan jajanan Kanaya.
Kanaya menerimanya, tak lama kemudian Gendis menghampiri Sanaya. Ia memberikan jajanan Sanaya.
"Yuk makan!" ajak Tania.
Kanaya mengangguk, ia mengajak sang kakak juga temannya untuk makan bersama. Lantas mereka memilih makan di taman sekolah, karena meja kantin telah terisi penuh.
Kanaya dan Sanaya asyik mengobrol, Tania dan Gendis ikut mengobrol sehingga topik mereka berubah-ubah. Tania yang sibuk membicarakan Llyod, yang ternyata disukai Gendis. Kanaya dan Sanaya nampak bingung melihat gambar yang katanya dia adalah Llyod.
"Pokoknya, Kak Gendis harus baca! Rekomended banget deh," ujar Tania.
"Pasti gue baca, keliatan seru juga. Apalagi artnya bagus dan mewah gitu," jawab Gendis.
"Emang apa sih itu?" tanya Kanaya.
"Manhua!" jawab Tania dan Gendis bersamaan.
Kanaya dan Sanaya saling pandang tak mengerti apa yang dibicarakan kedua gadis itu. Saking asyiknya mengbrol, mereka tidak menyadari seseorang yang tengah mengintainya di balik sebuh pohon.
"Bos, sepertinya Nona bertemu dengan dia."
"Dia? Siapa maksudmu?"
"Dia, nona sebelumnya."
"Apa? Bagaimana bisa dia ada di sana?"
"Saya dengar beliau mendapat beasiswa sehingga dipindahkan ke sini."
"Haaa ...." helaan nafas terdengar dari seberanh telepon. "Oke, aku akan mengurus sisanya!"
Sambungan telepon terputus, pria yang sedari tadi memperhatikan keempat gadis sambil bersembunyi itu menelisik lebih dalam.
SET
"Siapa lo?"
...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...