SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 46



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


19.30 WIB


Jakarta, Villa Sunjaya.


Ruang makan begitu hening, tak ada yang berbicara hanya terdengar dentingan alat makan memenuhi ruangan tersebut. Beberapa pelayan yang berdiri di samping meja makan saling bersitatap bingung.


Tak


Xander meletakan alat makannya kemudian membersihkan bibirnya, ia menatap ke arah Ivan yang duduk berdampingan dengan Aileen.


"Ahh ... kenapa sepi sekali?" tanya Xander.


"Lo mau kita dangdutan?" tawar Xavier menanggapi pertanyaan Xander. "Kalo mau, gue bisa lakuin itu!"


"Kalo lo nyanyi, yang ada piring-piring pada pecah," sinis Xander.


"Lah? Kenapa gitu?"


"Suara lo jelek, bikin telinga sakit," jawab Xander setelah ia meminum air.


"Jahat banget sih." Xavier cemberut mendengarnya.


Xander melirik Kanaya di sampingnya, Kanaya hanya terdiam dengan pandangan tertunduk. Acara makan telah selesai, piring dan sisa makanan telah di bersihkan. Kini hidangan penutup disajikan, waktu yang pas untuk mengobrol.


Xander menggenggam tangan Kanaya yang berada di atas pangkuannya. Kanaya mendongak menatap wajah Xander. Xander tersenyum membalas tatapan Kanaya.


"Tuan Trivara, bukankah ada yang ingin Anda sampaikan?" tanya Xander menatap Ivan di depannya.


Ivan terdiam, ia menatap Aileen sekilas. Aileen terlihat mengangguk kecil seolah mengizinkan Ivan untuk bercerita.


"S-saya ingin mengajukan permohonan maaf saya pada kedua putri saya," ucap Trivara angkat bicara.


Sanaya dan Kanaya menatap wajah sang ayah dengan kening berkerut. Yunda tersenyum menyimak pembicaraan keluarga Trivara.


"Silakan lanjutkan, Tuan," ucap Yunda.


"Sana, Papa minta maaf karena dulu Papa usir kamu dari rumah. Bukan tanpa alasan Papa usir kamu, dan bukan karena Papa gak sayang sama kamu." Ivan terdiam sejenak menatap Sanaya yang hanya menunduk. "Papa tahu kamu pasti marah dan benci sama Papa, Papa terima itu Sanaya."


"Jika saya boleh bertanya, apa alasan Anda melakukan itu pada kami?" tanya Kanaya angkat bicara.


"Papa hanya ingin kalian bisa menjadi seorang wanita genius untuk meneruskan perusahaan Trivara. Papa hanya memiliki kalian sebagai penerus, Papa gak punya anak laki-laki untuk dijadikan penerus Trivara," jelas Ivan.


"Lalu, kenapa selama ini Anda mengabaikan saya dan juga ibu saya?" tanya Sanaya sedikit parau.


"Tidak, kamu salah Sanaya. Papa sama sekali tidak mengabaikan kalian berdua, setiap sebulan sekali Papa berkunjung ke rumah kamu saat kamu tertidur," jawab Trivara mengelak.


"Kenapa Anda tidak menemuinya saat siang?" tanya Kanaya bingung.


"Karena Papa tahu Sanaya akan menjauh dari Papa," jawab Ivan.


"Lalu kenapa Anda bersikap keras kepada saya?" tanya Kanaya, ia kembali menundukan kepala.


"Karena kamu satu-satunya harapan yang Papa punya, Papa gak yakin kalo Sanaya akan kembali dan terima Papa lagi. Maka, Papa bersikap kayak gitu supaya kamu bisa menjadi penerus," jawab Ivan.


"Dengan cara melakukan kekerasan fisik?"


"Bukan begitu Naya. Papa minta maaf karena Papa nyakitin kamu, tapi ketahuilah Papa lakuin itu demi kebaikan kamu Naya," sanggah Ivan menatap sendu putri kandungnya itu.


Kanaya menangis mengingat bagaimana sang ayah memukulnya waktu itu. Xander memeluk Kanaya berusaha menenangkan sang kekasih.


Ivan menunduk dalam, ia mengaku salah. Seharusnya Ivan bisa menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan pada Kanaya, seharusnya saat itu ia bisa menahan amarah.


"Saat itu Papa marah, proyek Papa gagal karena ditipu klien. Papa benar-benar marah dan tanpa Papa sadari, Papa melampiaskan amarah Papa sama kamu," aku Ivan sedih. "Papa pantas mendapatkan kebencian dari kalian." Ivan menangis meneteskan air mata, Aileen menggenggam erat tangan sang suami.


"Sulit bagi Sanaya dan Kanaya menerima Anda kembali setelah apa yang Anda lakukan pada mereka," ujar Yunda ikut sedih mendengar cerita keluarga Trivara. "Meskipun begitu, bukan berarti kalian bisa membenci ayah kalian selamanya."


Sanaya dan Kanaya menatap Yunda yang tersenyum hangat ke arah keduanya. Kehangatan Yunda mampu membuat suasana ruang makan menjadi lebih baik.


"Ingatlah, ayah kalian berusaha keras memimpin perusahaan. Bahkan ia tak melupakan kewajibannya sebagai kepala keluarga ketika Sanaya diusir dari rumah. Tuan Trivara tetap memberikan kasih sayang pada Sanaya meski ia harus melakukannya secara diam-diam," ujar Yunda membuat hati semua orang terasa hangat.


"Naya, Mama tahu perasaan kamu. Kamu pasri sangat terluka mendapat perlakuan buruk dari Papa kamu. Tapi, kamu ingat bukan ketika kecil bagaimana Papa merawat kamu meski dia sibuk? Dia sangat mencintai kalian berdua, dia hanya ingin kalian bisa meneruskan usahanya dengan baik," ucap Aileen menatap sang putri yang tertunduk.


"Sana, Naya ... Papa benar-benar minta maaf. Papa harap kalian mau memaafkan Papa meskipun Papa tahu itu sulit bagi kalian." Ivan kembali meneteskan air mata. "Papa mencintai kalian, Papa hanya berharap kalian bisa menjadi gadis yang kuat. Cara Papa memang salah, tapi tujuan Papa hanya ingin kalian menjadi kuat."


Sanaya dan Kanaya menangis dipelukan pasangan masing-masing. Keduanya mendengarkan dengan baik semua perkataan tersebut.


"Haaa ...." Ivan menghela napas panjang. Ia mengusap pelan sisa air matanya lantas menatap wajah cantik sang istri. "Ai, sekali lagi selamat ulang tahun pernikahan. Maaf karena selama ini aku belum bisa jadi suami yang baik bagi kamu," ujar Ivan tulus.


Aileen mengangguk dengan air mata yang mengalir. Ivan memeluk sang istri dengan erat. "Jaga dirimu dengan baik. Aku mencintaimu," bisiknya pelan membuat Aileen semakin menangis.


Hatinya begitu sakit dan pilu harus berpisah dengan suami yang begitu dicintainya. Sama halnya dengan Yunda, saat ini ia juga menangis mengingat perlakuan manis dari Angga, suami yang dicintainya.


"Aku harap kamu baik-baik aja ...." gumam Yunda pelan. Ya Tuhan, hilangkanlah perasaan buruk ini. Lindungilah suamiku, batin Yunda pilu.


Ivan melepaskan pelukannya, ia mengambil kotak dari dalam saku jasnya kemudian membukanya di hadapan Aileen. Ivan mengambil sebuah kalung dari dalam kotak lalu memasangkannya di leher Aileen.


"Hadiah kecil untukmu, semoga kamu menyukainya," ucap Ivan dengan menunjukan senyumannya.


Ivan bangkit dari kursi, ia mengecup lama kening sang istri. "Saya pamit pulang, terima kasih atas jamuan makan malamnya," pamit Ivan.


"Tuan, apa Anda tidak ingin menetap di sini semalam?" tanya Xander.


"Tidak perlu, kehadiran saya di sini hanya akan membuat kedua putri saya tidak nyaman. Lebih baik saya pulang saja," jawab Ivan.


Xander mengangguk kecil. Lantas Ivan bergegas keluar dari villa.


"P-Papa ...." panggil Sanaya dan Kanaya pelan dalam pelukan pasangan masing-masing.


Keduanya bangkit dari kursi secara tiba-tiba kemudian berlari keluar menghampiri Ivan, Aileen ikut berdiri lantas menyusul kedua putrinya.


Xander dan Xavier tersenyum melihat kekasih mereka berlari menghampiri Ivan. Pandangan Xander beralih menatap Yunda yang menunduk dalam. Xander mengernyitkan dahi, melihat bahu Yunda bergetar membuat Xander panik.


"Mama kenapa?" tanya Xander setelah ia menghampiri sang ibu. Xavier ikut terkejut melihat sang ibu menangis.


"Gak kenapa-kenapa, Mama cuma lagi kepikiran sama Papa kamu," jawab Yunda sembari tersenyum dengan air mata mengalir.


Deg


Xander dan Xavier terdiam melihat sang ibu yang menangis. Secara tiba-tiba perasaan aneh menyelimuti keduanya. Yunda tak hentinya menangis, ia terus terisak seraya mencengkram kuat lengan Xander yang memegangi wajahnya.


Apa yang terjadi? Kenapa perasaan gue gak enak kayak gini? batin Xander dan Xavier bersamaan.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...