SUNJAYA'S LAST HEIRS

SUNJAYA'S LAST HEIRS
CHAPTER 18



...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


17.30 WIB


Jakarta, Kediaman Trivara.


Kanaya menundukan kepala sambil memeluk kedua lututnya, ia masih terisak, begitu setelah kejadian hari ini menimpanya.


Trivara mengunci Kanaya di kamarnya, Trivara sendiri yang memegang kunci kamarnya. Tak akan ia biarkan sang putri keluar dari kamar tanpa seizinnya.


Kanaya bangkit dari duduknya, berjalan gontai menuju jendela. Ia sibak gorden yang menutup jendela, kemudian Kanaya melangkah keluar dari balik jendela. Menatap keluar dari balkon kamarnya, angin sore menerpa wajahnya yang basah akibat air mata.


"Mama ... Naya kangen Mama ...." lirih Kanaya menatap langit dengan sendu.


Kanaya kembali menangis, tamparan keras dari Trivara membekas di wajah Kanaya. Sungguh tega ia menyakiti putrinya sendiri.


Kanaya melihat ke bawah, jarak antara kamar dengan tanah cukup jauh. Terlintas di benak Kanaya untuk melompat ke bawah, namun ia urungkan karena ia masih ingin melihat wajah sang ibu.


Kanaya berharap dapat menemui ibunya kembali, meski tidak bisa bersamanya setidaknya Kanaya ingin bertemu dengannya.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


06.00 WIB


Jakarta, Kediaman Sunjaya.


Satu bulan berlalu, selama satu bulan pula Xander dan Xavier melakukan pencarian anggota dari sebuah kelompok ternama.


Di samping itu, keduanya pun ikut turut membantu sang ayah mengurus perusahaan. Tak jarang keduanya pergi keluar negeri untuk mengurus salah satu cabang perusahaan. Tak jarang pula Senna dan sang anak mengunjungi kediaman Sunjaya untuk menemani Yunda.


Hari ini adalah hari pertama masuk ke sekolah kembali, Xander telah bangun lebih dulu sebelum Yunda mengetuk pintu. Tidak seperti Xavier yang masih tertidur ketika Yunda membangunkannya.


Seluruh anggota keluarga Sunjaya duduk manis di kursi meja makan, hidangan sarapan pagi berjejer rapi di atas meja. Yunda mengambilkan nasi goreng beserta lauknya ke piring Angga, sang suami.


"Kalian udah naik ke kelas 12, udah ada rencana buat masuk kuliah?" tanya Angga membuka percakapan pagi.


"Masalah itu bisa diatur nanti, terpenting lulus dulu," jawab Xavier, tumben sekali dia tenang.


"Hm? Serius kalian gak mikirin itu?"


"Iya, Pi. Kami yakin!" jawab Xavier.


"Iya sudah, ayo sarapan lagi!" ujar Yunda.


Kuliah? Gak kuliah aja gue udah bisa ngurus perusahaan, batin Xavier.


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


10.30 WIB


Jakarta, Winter's High School.


Rooftop, tempat ternyaman untuk bersantai, apalagi matahari tak terlalu terik menyorotkan sinarnya.


Xander menaiki tangga menuju atas gedung sekolah, ia ingin menikmati angin, berbaring menatap langit. Saat membuka pintu, ia terkejut melihat keberadaan seorang gadis.


Gadis itu duduk membelakangi pembatas atap sambil memeluk lututnya, terlihat bahu gadis itu berguncang dan isakan kecil terdengar di telinga Xander.


Xander berjalan ke arahnya tanpa menimbulkan suara, ia mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jas almamaternya.


Melihat bayangan seseorang, gadis itu mendongak dengan mata sembabnya ia melihat sosok Xander berdiri menjulang di depannya.


Xander menyodorkan sapu tangannya ke depan gadis itu.


"Ambil, usap air mata lo!" ucapnya.


Gadis itu menerimanya lalu mengusap air matanya, Xander melihat luka memar di pergelangan tangan gadis itu. Xander merogoh saku jasnya kembali, lalu berjongkok di depan gadis itu.


Xander menarik tangan kanan gadis itu, mengoleskan salep ke luka memarnya. Gadis itu sedikit meringis kesakitan, Xander menatap lekat mata gadis itu.


"Kenapa lo nangis di sini?" tanya Xander datar.


"Terserah gue, bukan urusan lo juga," ketusnya sambil menarik kembali lengannya.


Xander duduk di samping gadis itu. Gadis di sampingnya menoleh ia mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa lo duduk di sini?" tanyanya.


"Karena gue emang mau duduk di sini," jawab Xander.


Gadis itu membuang muka, Xander menatapnya.


"Kenapa lo nangis? Xavier nyakitin lo?" tanya Xander.


Tak enak jika benar Xavier yang membuat gadis itu menangis bahkan sampai melukai tangannya.


"Gak, bukan dia ...." jawab Kanaya.


"Terus?" Xander mengangkat sebelah alisnya.


"Gak usah tau, gak penting buat lo," jawab gadis itu.


Xander memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali menatap gadis di sampingnya.


"Lo kenapa ngehindar dari Sanaya?"


Gadis itu tersentak kaget, ia lantas menatap Xander.


"Kenapa lo peduli soal itu? Gue mau ngehindar atau gak juga bukan urusan lo 'kan?" marah Kanaya.


"Gue cuma mau tau,"


Kanaya menunduk, tangisnya kembali pecah saat ia mengingat kejadian semalam.


"Hiks ... kenapa lo bahas dia ...." ucap Kanaya di tengah isak tangisnya.


"Maaf,"


Kanaya menangis, melihatnya Xander ikut iba. Entah apa yang tengah dirasakan gadis itu, Xander yakin jika saat ini gadis di sampingnya tengah terluka.


Tangan kanan Xander terangkat ia menelusup ke belakang kepala Kanaya, kemudian mendorong pelan kepalanya untuk bersandar di bahunya yang kokoh.


Kanaya terkejut dengan tindakan Xander, namun ia membiarkannya. Karena itu juga yang dibutuhkannya saat ini.


"Kalo lo ada masalah, cerita aja ke gue. Siapa tau gue bisa bantu lo," ujar Xander tulus.


Kanaya menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


"Gue capek ditekan terus sama bokap, setiap hari disuruh belajar, tapi gak pernah dia muji gue. Minggu kemaren ada acara olimpiade kimia kan? Sanaya berhasil menang, sementara gue sendiri gagal. Bokap marah, dia nampar gue, mukul tangan gue, dan kurung gue di kamar. Kenapa dia tega sama gue? Apa kesalahan gue begitu besar sampe dia tega hukum gue kayak gitu?"


"Gue pengen bokap gue bangga sama gue, gue pengen dia merhatiin gue," lanjutnya.


Xander teringat sesuatu. "Bulan depan bakal ada olimpiade fisika, kalo lo tertarik ikut buat bikin bokap lo bangga, gue bisa bantu lo belajar biar bisa menang."


Kedua bola mata Kanaya nampak berbinar, ia menatap Xander dengan mata indahnya.


"Beneran? Lo mau bantu gue?" ujar Kanaya penuh harap.


"Gue udah bilang dari awal bakal bantu lo." Xander tersenyum kecil.


"Tapi, kalo gue gagal gimana?"


"Jangan pesimis, tetap semangat dan pikirin kalo lo pasti bisa!" ucap Xander.


Kanaya tersenyum, reflek memeluk Xander dengan erat. Xander tentu sangat terkejut.


"Makasih, lo udah mau bantu gue." Kanaya memejamkan matanya, menghirup aroma wangi parfum Xander.


Xander mengusap punggung Kanaya, ia tersenyum.


"Iya, sama-sama."


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...


15.30


Jakarta, Kafe Teratai.


"Hari ini lo mau belajar soal apa?" tanya Xander.


"Ini," Kanaya menunjuk sebuah rumus fisika. "Gue gak ngerti sama rumus ini, udah dijelasin sama gurunya tetep aja gak ngerti. Lo bisa jelasin ke gue gak?" Kanaya menatap Xander yang sibuk memperhatikan buku.


"Oh ... gampang. Lo tulis dulu rumusnya!"


Kanaya mengangguk lalu mulai menulis rumus, selesai menulis, Xander meraih buku dan pulpen Kanaya. Ia menuliskan sebuah soal, memberikannya pada Kanaya.


"Coba lo amatin soal itu, kalo bisa coba isi!" ucapnya.


Kanaya meneliti dengan baik soal tersebut, setelah yakin bisa, Kanaya mengerjakannya. Xander memperhatikan, sesekali alisnya terangkat.


"Ini, gimana?" tanya Kanaya menunjukan jawabannya.


Xander mengambil buku Kanaya, menelitinya. Ia kemudian menatap Kanaya.


"Salah, jawabannya kurang tepat," ucap Xander.


"Iya gimana, gue gak ngerti."


Xander menggeleng pelan, ia kemudian bangkit dan duduk disamping Kanaya.


"Perhatiin gue!"


"Pertama lo harus tau rumusnya, ingat baik-baik rumusnya. Ini, sama dengan 7. Lo tulis di sini. Nah, ini sama dengan 5 lo tulis juga di sini." Xander menuliskan jawabannya di buku Kanaya sambil menjelaskannya dengan baik.


Kanaya terpejam menghirup aroma parfum Xander, Kanaya menatap wajah Xander dari samping dan begitu dekat dengannya.


Tanpa sadar Kanaya tersenyum melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah.


Merasa ada yang tengah mengamati, Xander menoleh ke samping mendapati Kanaya yang terkejut.


"Kenapa liatin gue? Soal dan jawabannya ada di buku, bukan di wajah gue," ujar Xander.


"Gue gak liatin lo, tuh," elak Kanaya.


Ia kembali fokus mendengarkan penjelasan dari Xander, selesai memberi penjelasan, Xander membuat soal untuk Kanaya kerjakan.


Tak terasa hari sudah sore, Kanaya membereskan buku-bukunya. Sebelumnya Kanaya meminta izin pada sang ayah bahwa ia akan pulang terlambat karena ada les private.


"Jangan lupa kerjain PR dari gue dan PR dari guru lo!" ingat Xander.


Kanaya mengangguk sembari mengacungkan jempol.


"Lo dijemput supir atau naik taksi?"


"Jemput kayaknya, gue udah bilang ke supir buat jemput," jawab Kanaya.


Xander mengangguk, ia dan Kanaya berjalan bersama keluar dari kafe.


Kanaya menunggu jemputannya, tak tega meninggalkan Kanaya sendirian, Xander memilih untuk menemani Kanaya.


"Lo gak balik?" tanya Kanaya bingung melihat Xander masih ada di sampingnya.


"Nunggu lo balik," jawab Xander seadanya sambil memainkan ponselnya.


"Napa nunggu gue? Balik aja kali,"


"Takut aja lo diculik Om-Om," Xander asal menjawab, sungguh! Dia tidak berbohong! Hanya asal menjawab!


"Hah? Pft-"


Kanaya menahan tawanya, Xander melirik Kanaya sekilas.


"Kenapa ditahan? Ketawa aja, gak ada yang ngelarang," ujar Xander.


Mendengarnya Kanaya tak jadi tertawa, ia memilih diam menunggu sang supir. Sesekali Kanaya melirik Xander yang berdiri sangat dekat di sampingnya, Xander memasukan satu tangannya ke dalam saku, tangan yang lain ia angkat untuk melihat jam di tangannya.


Xander melihat sekeliling yang ramai, kendaraan lalu lalang di depan keduanya. Hembusan angin cukup kencang, rambut Kanaya berkibar dan menutupi wajahnya oleh angin kencang. Xander menyeka rambut Kanaya, membantunya menahan rambut agar hilang dari wajahnya.


Akibat hal tersebut, Xander dan Kanaya saling menatap cukup lama. Xander menangkup kedua pipi Kanaya, dan Kanaya yang memegang tangan Xander di kedua pipinya.


"Non?" panggil seorang supir.


Keduanya terperanjat kaget, lantas memisahkan diri.


"Ayo Non, Tuan menunggu di rumah," ucap sang supir.


Kanaya mengangguk, ia menoleh ke arah Xander.


"Gue pamit pulang, thanks udah ajarin gue," ucapnya yang diangguki Xander.


Kanaya masuk ke dalam mobil setelah sang supir membukakan pintu mobil untuknya, perlahan mobil itu menjauh dari pandangan Xander mengikuti barisan mobil lainnya di jalan.


Xander menatap kedua tangannya. Barusan itu apa? batin Xander


...❖━━━━━▷◆❃◆◁━━━━━❖...