
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...
11.35 WIB
Jakarta, Kediaman Trivara.
Leon mendongak menatap Xander yang mencekal kuat pergelangan tangannya.
"Jangan pernah sentuh Kanaya!" larang Xander dengan menatap tajam Leon.
"Siapa kamu yang berani mengatakan itu?" tanya Trivara marah.
"Maaf Tuan, tetapi kelak Kanaya tidak akan menikah dengannya," ucap Xander.
"Apa yang kamu katakan? Menikahkannya dengan Leon adalah keputusan yang mutlak dari saya!" tegas Trivara.
"Tidak, bukan dia yang akan menikah dengan Kanaya. Tetapi saya yang akan menikahi Kanaya," balas Xander dengan tegas.
"Apa?" pekik Kanaya dan Leon secara bersamaan.
"Cih! Apa yang bisa kamu berikan kepada saya? Dari tampangmu saja kamu terlihat tidak mampu!" sinis Trivara.
Xander melepas cekalannya pada tangan Leon, sebelah alisnya terangkat. "Apa karena wajah saya yang berantakan seperti ini jadi Anda menduga bahwa saya orang yang tidak mampu?" tanya Xander meminta penjelasan.
"Benar, wajahmu terlihat seperti seorang berandalan! Saya tidak akan mengizinkan kamu menikahi putri saya!"
"Rupanya begitu." Xander menyisir rambut yang menghalangi jidatnya.
Kanaya menatap Xander dengan iba, wajah tampan Xander kini penuh dengan luka dan itu disebabkan oleh Leon, pria yang kini di sampingnya.
"Apa Anda tidak mengenal saya?" tanya Xander.
"Cih! Kami semua tau kalo lo itu cuma anak miskin!" cibir Leon.
Xander menatap tajam Leon yang berdiri di depannya, Xander mengeluarkan kartu namanya dari dalam dompetnya.
"Saya Xander Victor Sunjaya! Pewaris dari keluarga Sunjaya," ucap Xander memperkenalkan dirinya dengan jelas sambil menunjukan kartu namanya.
Mata Trivara terbelalak kaget mendengar pengakuan Xander. Siapa yang tidak mengenal nama keluarga tersebut, keluarga yang berjaya di Indonesia saat ini.
"S-Sunjaya?" gagap Trivara.
"Benar, maka dari itu izinkan saya menikahi Kanaya!"
Trivara terdiam, ia melirik Leon yang kini menatapnya tajam. Xander paham betul apa yang direncanakan Leon dengan ayah Kanaya. Xander menggenggam tangan Kanaya, Kanaya mendongak menatap wajahnya, Xander membalas tatapan Kanaya.
"Saya meminta izin Anda untuk membawa Kanaya pergi. Jika Anda ingin menemui Kanaya, hubungi saya." Xander memasukan kartu namanya ke saku jas Trivara.
Xander berbalik menarik pelan tangan Kanaya menuju mobilnya yang terparkir di depan. Leon berdecak kesal, ia mengacak rambutnya frustasi.
"Sial!" umpatnya. Leon menatap tajam Trivara. "Jika Anda tidak bisa membuat Kanaya menjadi milik saya, akan saya pastikan perusahaan Anda hancur dan beralih kuasa menjadi milik saya!" ancam Leon.
"A-aku akan berusaha membuat Kanaya menjadi milikmu, selama itu tolong bantu perusahaanku," jawab Trivara takut.
"Baguslah, Anda ingatlah bahwa saya ini seorang penguasa!"
"Ya, aku tahu," sahut Trivara.
Leon beranjak pergi meninggalkan kediaman Trivara. Trivara menatap tajam punggung Leon yang menjauh dari pandangannya.
"Penguasa apanya! Sunjaya jauh lebih berkuasa daripada Adicipta!" gumam Trivara kesal kemudian ia masuk ke dalam kediamannya.
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...
12.00 WIB
Jakarta.
"Muka lo berantakan kayak gini, kenapa lo gak nurut waktu gue larang lo buat lawan mereka?" kesal Kanaya sembari mengoleskan obat ke wajah Xander yang penuh dengan luka.
"Sshh ... obatin yang bener, jangan banyak omel," ucap Xander.
"Ck! Gue gak bakalan ngomel kalo lo nurut sama gue!" tegas Kanaya.
Xander menatap manik mata hitam milik Kanaya, Kanaya balas menatap Xander.
Kanaya terdiam menundukan kepala, bahunya bergetar dengan terisak kecil. Xander mengangkat kepala Kanaya, ia terkejut melihat Kanaya menangis.
"Kenapa lo nangis? Jangan nangis." Xander mengusap air mata Kanaya.
"Gimana gue gak nangis? Gue takut lo kenapa-kenapa, Xander! Itu sebabnya gue larang lo buat lawan mereka!" marah Kanaya.
"Maaf."
Kanaya menatap Xander yang kini menatapnya dengan kening berkerut dan wajah tertekuk.
"Jangan nangis lagi, gue salah gak nurut sama lo. Gue siap terima hukuman dari lo. Jadi, jangan nangis lagi. Gue gak suka liat cewek yang gue sayang nangis, apalagi itu disebabkan karena gue."
Kanaya semakin terisak mendengarnya, Xander menggenggam tangan Kanaya dan mengusap kembali air matanya. Xander mendekatkan wajahnya ke wajah Kanaya, Kanaya tak menyadari hal itu sebab ia masih menangis.
CUP
Kanaya terkejut, ia membuka matanya menatap Xander yang kini begitu dekat dengan wajahnya. Kanaya menyentuh pipi kirinya yang mendapat kecupan dari Xander.
"Jangan nangis," ucap Xander seraya tersenyum lembut.
Kanaya tertegun melihat senyuman Xander yang begitu tulus dan alami. "Lo senyum?" tanya Kanaya.
Xander mengangkat alisnya. "Senyum? Gue gak senyum," jawab Xander.
Kanaya tertawa kecil mendengar respon Xander. "Lo ganteng kalo senyum."
Sontak telinga Xander memerah mendengarnya, Xander memegang telinga kanannya kemudian berbalik menatap ke depan menghindari tatapan Kanaya serta menyembunyikan wajah merahnya.
Kanaya terdiam menatap Xander, ia dapat melihat dengan jelas telinga merah milik Xander. Ahh ... imut juga, batin Kanaya kemudian ia tertawa kecil.
"Xander," panggil Kanaya.
Xander berdehem tanpa menoleh menatap Kanaya. "Apa?"
"Hadap sini, liat gue," pinta Kanaya.
Xander terdiam beberapa saat kemudian ia berbalik menghadap Kanaya. Kanaya cemberut karena Xander tak menatapnya.
"Apa?" tanya Xander dengan pandangan ke samping.
Kanaya tersenyum lalu mendekat menubruk dada Xander, Kanaya melingkarkan tangannya ke punggung Xander. Xander terkejut, ia menunduk menatap Kanaya yang saat ini menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya. Tangan Xander terangkat membalas pelukan Kanaya.
"Gue tau lo bohong," ucap Kanaya pelan.
"Soal apa?" tanya Xander dengan sebelah alis terangkat.
"Soal lo gak cinta sama gue," jawab Kanaya.
Xander tersenyum mendengarnya, ia melepaskan pelukannya. Kanaya menatap Xander begitupun sebaliknya. Xander menyelipkan anak rambut Kanaya ke belakang telinganya.
"Gue gak harus jujur buat ucapin perasaan, karena cukup dengan perlakuan gue lo bakal tau perasaan gue yang sebenarnya," tutur Xander.
Kanaya menganggukan kepala. "Benar, lo berbeda dari yang lain."
"Udah selesai obatin luka gue?" tanya Xander.
"Ck! Lagi romantis-romantisnya malah ngalihin topik," gumam Kanaya pelan. "Belum, gue belum pasang plasternya."
"Cepet pasang abis itu kita pergi."
"Pergi ke mana?" tanya Kanaya bingung.
"Nanti juga lo tau," jawab Xander.
Kanaya mendengus kesal kemudian memasang plaster di pelipis Xander. Setelah selesai memasang plaster, Xander melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Kanaya melirik Xander yang tengah fokus menyetir mobil. Wajahnya jadi terlihat lebih tampan ketika tengah fokus.
Cup
...✧═══════•❁❀❁•═══════✧...