
Assalamualaikum, apa kabar? Semoga sehat" ya semuanya.
Sebelumnya mau info kalau GA SBAP resmi ditutup hari ini ya, pemenangnya akan saya ambil dari sepuluh besar Top Fans nya Abang, dan besok kesepuluh pemenang akan saya japri untuk minta alamat lengkap. Insyaallah hadiah dikirimkan secepatnya ya.
Selain dari Top Fans akan diambil juga 3 orang penghuni GC dengan kriteria dan penilaian sendiri tentu saja.
Mohon maaf buat yg tdk kebagian GA, maunya sih semua kebagian, tapi yang beruntung kali ini baru 13 orang.
Buat teman" yang tidak dapat GA, saya kasih hadiah Extra Part terakhir Abang saja ya 😁 Setelah ini, SBAP resmi berakhir ... nah sambil nunggu Polaris, insyaAllah nanti saya up chat story grup penghuni BUMI calon SURGA ... insyaallah mulai besok jam 8 malam, tapi tidak bisa setiap hari dan tidak pasti juga jadwal upnya, karena mau lbh fokus ke nulis POLARIS dulu, jadi harap maklum ya 😁
Jadi sampai jumpa di next story, dan terimakasih banyak atas dukungannya selama ini 😘😘😘
******
Bentari berusaha mengatur napas, sesekali terdengar rintihan keluar dari mulutnya, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin di sekujur tubuh membuat Birendra cemas sekaligus takut.
Pada bulan kesembilan kehamilannya, Bentari dan Birendra sementara pindah ke Graha Family supaya Birendra bisa tenang ketika harus kerja meninggalkan Bentari di rumah bersama dengan bu Mega. Dan tadi sore Bentari merasakan kontraksi membuat bu Mega dengan sigap membawanya ke rumah sakit, dan benar saja Bentari sudah mulai pembukaan dua.
Kontraksi Bentari termasuk lambat sudah hampir 10 jam namun baru pembukaan 7, hingga akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan induksi yang membuat rasa sakit dan mulas yang dialami Bentari semakin menjadi selama beberapa menit terakhir ini
“Sakit?”
Bentari melotot, tangannya mencengkram kuat tangan Birendra ketika mendengar pertanyaan suaminya.
“Menurut … kamu!” geram Bentari yang terlihat menahan sakit. “Aarrrgghh!!!” Bentari berteriak sambil mengedan ketika tak bisa lagi menahan dorongan bayi yang tak sabar ingin melihat dunia. “Kok pengen ngeden ya?”
“Mau pup?” tanya Birendra bingung sekaligus cemas.
“Enggak tahu … huuft -huuft- huuft, aaarrrgghhh! Tapi pengen ngeden!”
“Dok!” Birendra memanggil dokter yang masih terlihat santai sambil tersenyum melihat sepasang suami istri yang sudah pucat pasi.
Dokter kandungan usia pertengahan 40 tahun itu berjalan mendekati Bentari
“Sudah waktunya, bayinya sudah tidak sabar mau bertemu mamah sama ayahnya ini,” ucap dokter yang sudah bersiap di tempatnya dengan beberapa suster bersiap membantu persalinan. “Ayo, atur napas, Bu … ambil napas dalam-dalam … dorong!”
Bentari kembali mengedan sesuai interuksi dokter, tangannya mencengkram tangan Birendra sebagai pegangan agar lebih bertenaga.
Di luar bu Mega dan pak Andi menunggu dengan cemas, mereka tak putus berdoa.
Jam menunjukan pukul 4 pagi, suasana di rumah sakitpun terasa lebih hening hingga keadaan di dalam ruang bersalin samar-samar terdengar hingga ke ruang tunggu. Detik menit berlalu dalam suasana tegang … pak Andi beberapa kali berjalan mundar mandir, duduk, berdiri lagi, mundar-mandir. Begitu pun bu Mega yang berjalan mendekati pintu ruang bersalin seolah ingin masuk, tapi diurungkan, duduk, mendekati pintu lagi, duduk lagi, terus saja seperti itu sampai akhirnya terdengar suara tangisan bayi cukup kencang membuat mereka berdua saling pandang dengan senyum menghiasi wajah keduanya, dan akhirnya mereka bisa bernapas dengan lega sambil mengucap hamdalah.
***
Kediaman Andi Santoso pagi menjelang siang ini ramai oleh tamu yang datang untuk acara kekahan sang cucu raja property. Dengan diiringi shalawat Nabi secara bergilir sedikit rambut bayi menggemaskan yang tertidur dalam pelukan sang ibu dipotong oleh para sesepuh yang hadir.
Setelah selesai Bentari langsung naik ke atas diikuti oleh Kirana yang kini menggendong keponakannya, berjalan di belakangnya Salwa dan Alika yang hari ini datang bersama suami dan orangtuanya. Di atas terlihat Oka dan Caraka yang sedang bercanda bersama Danish yang kini sudah berumur 4 tahun.
“Baby Zi!” Seru anak laki-laki tampan itu dengan heboh ketika melihat ibunya menggendong bayi berumur 40 hari itu.
“Dedenya tidur,” ucap Kirana sambil duduk bergabung dengan adik dan putranya.
“Kenapa tidul telus sih?” tangan Danis kini mencolek-colek pipi tembem Zelia Khumaira Abhimana. Nama Zelia diberikan oleh Oka sedangkan Khumaira diberikan oleh sang kakek, dan tentu saja nama belakang sang ayah bertengger di deretan nama bayi cantik itu. Untuk panggilannya Bentari menyarankan Zi saja biar mudah diucapkan.
“Aa mau punya adik lagi tidak?” tanya Caraka yang juga terlihat terpesona melihat bayi mungil dalam pelukan sang istri.
“Adik sepelti baby Zi?”
“Iya, adik perempuan yang cantik seperti baby Zi.”
“Girl?”
“Yes, a girl.”
Danish terdiam sesaat sebelum dia menggeleng sambil bilang. “No!”
“Kenapa?” tanya Caraka kecewa sedangkan Kirana terlihat tertawa senang dengan jawaban anaknya yang sudah sangat pintar itu.
“Kata Om Oka, girl is annoying.”
Seketika tawa Kirana berhenti, dengan sebelah tangannya dia melempar bantal sofa ke arah Oka yang terbahak-bahak.
“Awas ya, kalau ngajarin yang tidak-tidak!”
“Itu fakta, Danish harus belajar tentang itu sejak dini … kecuali, Zi, iya kan, Zi.”
“Bangun, baby Zi nya bangun!” Danish bersorak heboh ketika melihat mata Zelia membuka memerlihatkan mata bulat yang mengedip-ngedip lucu.
Oka seolah terhipnotis oleh mata keponakannya itu, perlahan senyum terbit di wajah tampannya, tangannya terulur mengelus pipi bayi yang selembut sutra. Hatinya kembali merasakan kerinduan kepada sosok perempuan lain yang memiliki mata yang sama cantiknya.
“Mas Oka belum punya pacar?” Oka mengalihkan pandangannya kepada Alika yang duduk di samping Salwa dan Bentari, Oka hanya tersenyum sebagai jawaba. “Lho kenapa? Pasti banyak yang suka, wong ganteng gini.”
“Ganteng kalau sama cewek cuek ya percuma,” ucap Bentari yang mendapat anggukan setuju dari Kirana.
“Cewek itu suka kalau diperhatiin cowoknya.”
“Ya minta saja diperhatiin sama cowoknya, kenapa harus aku yang merhatiin.”
Caraka terkekeh sambil mengangguk-anggukan kepala, berbeda dengan Kirana dan Bentari yang menatap Oka kesal.
“Maksudnya, semua perempuan itu suka kalau ada lelaki yang merhatiin dia, peduli sama dia … iyakan Salwa?”
“Ya?” Salwa yang daritadi hanya duduk diam mendengarkan kini menatap Kirana yang bertanya padanya.
“Sebagai perempuan kamu pasti suka kan kalau ada yang merhatiin dan peduli sama kamu?”
Salwa menatap Oka kemudian menunduk dengan pipi memerah.
“Tuh dengerkan.”
“Dia enggak bilang apa-apa kok.”
“Oooh, jadi kamu mau denger suara Salwa,” goda Kirana yang langsung dapat delikan dan decakan dari Oka.
Sambil terkekeh Bentari mengambil Zelia yang sudah merengek dari tangan Kirana.
“Baby Zi kenapa?” tanya Danish penasaran.
“Baby Zi nya mau mimi susu dulu.”
“Lapel?”
“Iya, lapar. Aa lapar tidak?”
Danish menggelengkan kepala. “Tadi sudah makan puding, baaanyak.”
“Sekarang kita makan es, mau tidak?” ajak Oka yang langsung membuat Danish melompat antusias.
“Lets go!” Seru Oka yang diikuti Danish.
“Lets go!”
“Kabur-kabur!” Seru Kirana yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Oka sambil berjalan mengikuti Danish yang sudah berlari lebih dulu menuruni tangga, di belakangnya Caraka ikut mengekor meninggalkan para perempuan.l
“Mas Oka itu serius belum punya pacar?” tanya Alika seolah tak percaya.
“Iya, siapa juga yang mau sama cowok cuek kayak gitu. Kamu jangan mau ya, Salwa, daripada kamu makan hati punya pacar nggak peka.”
Salwa hanya tersenyum mendengar ucapan Kirana, sedangkan Bentari mulai menyusui Zelia yang kehausan.
“Mas Oka baik kok, Mbak, sopan.”
“Sopan dari mana? Kamu tidak lihat dia tadi melempar bantal sofa sama kakaknya sendiri,” gerutu Kirana yang malah membuat senyum Salwa semakin lebar.
“Iya, kadang kami juga jambak-jambakan kalau rebutan remot TV atau makanan.”
Salwa terkikik mendengar perkataan Bentari. Membayangkan lelaki kalem, tak banyak bicara seperti Oka bisa juga bertengkar sama saudaranya hanya karena rebutan remot televisi, pasti terlihat lucu.
“Oka itu dari luar saja terlihat cool, kalem, tak banyak bicara, padahal di aslinya …” Kirana dan Bentari bersamaan menggelengkan kepala sambil menghela napas membuat Salwa tak bisa lagi menutupi tawanya.
“Tapi sepertinya mas Oka itu sangat sayang, melindungi dan peduli sama ibu dan kakak-kakaknya.”
“Ya, tidak bisa dipungkiri sedari kecil sebagai laki satu-satunya di rumah, Okalah yang bertugas menjaga kami.” Kali ini Kirana tersenyum penuh kasih sayang. “Dia itu terkadang seperti seorang bodyguard yang akan menghajar siapapun yang berani mengganggu kami, seperti sorang ayah, kakak yang akan melindungi kami.”
“Seperti sahabat yang akan mendengarkan kami curhat karena putus cinta sambil nangis-nangis sampai pagi,” ujar Bentari sambil tersenyum, di pangkuannya Zelia terlihat mulai kembali tertidur walaupun mulutnya masih aktif.
“Kadang ya seperti adik pada umumnya, yang isengnya nggak ketulungan.”
“Yang memanfaatkan kakak-kakaknya kalau lagi ada maunya.”
Kirana mengangguk semangat setuju dengan ucapan Bentari. Di sisi lain Salwa dan Alika yang mendengarkan dari tadi terlihat tersenyum. Terlihat jelas alaupun di mulut kedua kakak adik itu mengeluh tentang adik bungsu mereka, tapi mata mereka memancarkan kasih sayang yang teramat dalam.
“Ada yang bilang kalau mencari pasangan itu, lihatlah dari cara bagaimana dia memerlakukan ibu dan saudara perempuannya. Saya lihat mas Oka sangat baik dalam memerlakukan ibu dan kedua kakak perempuannya, jadi saya rasa mas Oka adalah seorang lelaki yang baik, terlepas dari sikapnya yang dingin.”
Semua orang terdiam mendengar ucapan Salwa.
“Oalah, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta sama mas Oka ini,” ucap Alika dengan senyum lebar membuat pipi Salwa memerah.
“Ndak, Mbak! Mana berani saya suka sama mas Oka.”
“Lho, kenapa tidak. kamu ini ayu (cantik), anggun, baik, solehah, pinter masak, dan yang pasti kamu ini anak satu-satunya pakle Wahyu pemilik usaha kain batik terbesar di Surabaya. Calon istri dan menantu idaman.”
“Sampean ini ngomong opo to, Mbak.” Salwa tertunduk dengan pipi memerah dengan bibir tersenyum simpul.
Kirana dan Bentari saling pandang sebelum ikut tersenyum kaku. Keisengan ibu mereka untuk mengenalkan Salwa pada Oka sepertinya telah menumbuhkan harapan tersendiri pada gadis cantik itu. Sebagai kakak, Kirana dan Bentari sangat tahu siapa perempuan yang masih berada di hati Oka, dan sebagai kakak pula mereka ingin Oka bahagia, mereka harap Salwa bisa membawa kebahagian bagi Oka.
Namun melihat sikap Oka yang memerlakukan Salwa hanya sebatas menjaga sopan santun dan ramah tamah, sepertinya akan susah bagi Salwa atau mungkin perempuan manapun untuk menggeser posisi Arunika di hati Oka. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Bukankah orang akan jatuh cinta karena terbiasa. Kalau sekarang belum ada perempuan yang bisa membuat Oka melupakan Arunika, mungkin dengan berjalannya waktu … suatu hari nanti akan ada seseorang yang akan mengisi posisi istimewa di hati Asoka Danubrata. Apakah itu Salwa? Atau perempuan lain? Atau mungkin Arunika akan kembali untuk menempati posisi yang telah dia tinggalkan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
***
Zelia terlihat segar, wangi dan sangat menggemaskan setelah bu Mega memandikannya sore itu, bayi menggemaskan dengan pipi tembem dan mata bulat itu kini mengenakan jumpsuit berwarna putih lengkap dengan tutup kepala berbentuk kepala Minnie Mouse. Melihat begitu cantiknya sang putri membuat Bentari tak tahan untuk mengabadikannya di kamera ponselnya, sebelum Birendra menggendong buah hatinya itu ke luar kamar sambil sesekali mencium pipinya gemas.
Di dalam kamar Bentari membereskan bedak bayi, minyak telon, baby oil, cologne bayi dan semua peralatan Zelia setelah mandi. Setelah beres dia duduk di sofa kamar yang menghadap jendela kaca besar memerlihatkan pemandangan sore hari.
Bentari tersenyum memikirkan kehidupannya saat ini yang penuh kebahagian. Memiliki orangtua, kakak dan adik yang sangat luar biasa. Menikah dengan lelaki yang dia cintai dan juga mencintainya dengan teramat sangat, dan sekarang memiliki seorang putri yang sehat dan cantik, membuat semua orang jatuh cinta ketika melihatnya. Jadi apa lagi yang Bentari keluhkan? Tidak ada, semuanya sempurna, luar biasa, dan dia sangat bersyukur atas semuanya.
Akan tetapi Bentari menyadari, di suatu tempat yang dia sendiri tak tahu dimana, ada seorang gadis yang tengah merasakan kesepian, dan harus menahan kerinduan hingga membuat dada gadis itu sesak seperti yang dirasakan Oka, adiknya.
Entah apa yang membuat Arunika pergi, namun Bentari sangat paham dengan sifat Arunika. Gadis itu tidak akan pergi begitu saja apabila ini hanya masalah sepele. Tidak, Arunika bukan gadis yang pantang menyerah seperti itu. Bentari sadar, permasalahan yang dilalui Oka juga Arunika tidaklah semudah yang dikira orangtua dan kakaknya, hanya masalah putus layaknya anak muda biasa. Ada sesuatu yang lebih besar yang harus dilalui Arunika hingga dia pergi begitu saja tanpa pamit.
Bentari membuka ponselnya, membuka media sosial miliknya dan senyum menghiasi wajahnya ketika melihat pesan pribadi (DM) yang dia kirim kepada Arunika telah terbaca walaupun tanpa balasan. Tidak apa, itu sudah membuat Bentari senang karena artinya gadis yang mengingatkan akan dirinya pada masa lalu itu dalam keadaan baik-baik saja.
Bentari melihat foto Oka ketika wisuda dahulu yang dia kirim kepada Arunika.
Anak nakal ini tadi di wisuda, cumlaude lho dia. Keren kan?
Entah sedang nunggu siapa dia itu, dari tadi hanya melihat ke luar jendela seolah-olah lagi menunggu seseorang yang sangat dia rindukan.
Tapi kamu tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja selain kembali menjadi patung es kalau dideketin cewek-cewek, jadi sebaiknya kamu cepet kembali atau dia akan berubah jadi gunung es!
Bentari tersenyum membaca pesannya di hari Oka diwisuda. Sesaat Bentari terdiam sebelum jari-jarinya mengetik sesuatu di sana.
Apa kabar?
Maaf kakak sudah lama tidak buka sosmed jadi tidak memberimu kabar.
Kami di sini baik-baik saja. Oka sudah mulai bekerja di BUMI, dan dia masih jadi patung es.
Oh iya, kakak ingin mengenalkanmu pada seseorang.
Bentari mengirimkan foto Zelia yang baru saja dia ambil.
Kakak sudah lahiran, dan ini adalah putri kakak, namanya Zelia Khumaira Abhimana.
Zelia … cantik bukan namanya?
Kamu tahu siapa yang memberi nama Zelia?
Oka … anak nakal itu memberikan nama yang cantik untuk putri kakak.
Dan kamu tahu apa arti nama Zelia?
Awalnya kami tak tahu karena Oka tak mau memberitahu, namun setelah kakak mencari tahu sendiri ternyata Zelia itu artinya matahari terbit.
Iya, Oka memberi keponakannya nama yang sama dengan namamu … Arunika yang berarti matahari terbit.
Jadi dimanapun kamu berada, kakak harap kamu tetap seperti namamu, bersinar, memberi kehangatan pada orang-orang di sekitarmu. Tetap menjadi seorang Arunika, gadis ceria yang hadirnya selalu dinanti.
Ingat kamu tidak sendiri, ada kakak juga Oka yang selalu menunggumu di sini.
Semoga Allah selalu menjagamu, semoga suatu hari nanti kita bisa kembali bertemu dan berkumpul.
Love
Bentari
*****