
Birendra duduk dengan kedua tangan ditumpukan di atas kemudi, matanya menatap rumah makan di hadapannya. Sebuah rumah makan dengan nuansa pedesaan yang berada di daerah Surabaya Selatan. Beberapa kali Birendra mengatur pernapasan. Sesungguhnya dia tak ingin berada di sini kalau bukan karena Alvin, temannya yang tinggal di Lampung dan kini sedang ada di Surabaya.
“Halo, dimana? Jadi datang kan?” Untuk kesekian kalinya Alvin menghubungi Birendra.
“Sudah di parkiran.”
“Sip, yang lain sudah nunggu dari tadi nih.”
Birendra memutus panggilan, kemudian menghirup udara dalam-dalam, menghembuskannya secara perlahan sebelum memantapkan diri ke luar dari persembunyiannya selama beberapa menit terakhir.
Birendra berjalan di jalan setapak dengan saung di kanan kirinya yang dipenuhi pengunjung yang tengah menikmati makan siang sambil bersenda gurau bersama keluarga, rekan kerja, atau sahabat. Langkah membawa Birendra semakin mendekati saung dimana beberapa orang pria terlihat duduk sambil tertawa membuat tangan Birendra mulai gemetar, sepanjang jalan itu juga dia terus mengatur napas berusaha menenangkan diri.
“Ini dia pengacara kita!” seru Fahmi membuat semua orang yang berada di dalam saung itu kini menatapnya dengan senyum ramah, kecuali satu orang yang menatapnya dengan sorot mata tajam. Doni.
Jantung Birendra berdetak semakin cepat, tubunya gemetar, bahkan wajahnya sudah mulai memucat. Dia tak mengetahui kalau Doni akan ada di sana. Seandainya dia tahu, sudah pasti dia tidak akan datang hari ini.
Memerlukan keberanian yang sangat besar untuk Birendra bertemu dengan orang-orang yang mengetahui masa lalunya. Apalagi Doni, orang yang akan mengingatkan Birendra kepada masa kelamnya. Dulu ada masanya dimana Birendra, Alvin, Fahmi dan Doni adalah sahabat dekat, saling menceritakan rahasia terkelam, saling melindungi, saling menghibur, saling mendukung, bahkan menjadi partner in crime masa-masa remaja. Sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang yang kembali mengingatkan Birendra pada masa lalu, dan akhirnya memenjaranya dalam perasaan bersalah hingga sekarang.
“Wiiih, tambah ganteng saja, Bi!” Alvin memeluknya.
“Apa kabar, Vin?”
“Baik, tidak lihat ini perut semakin bulat saja.”
Alvin menepuk perutnya yang buncit membuat Birendra sedikit tersenyum sebelum menyalami teman-temannya yang menyapanya tak kalah ramah seperti Alvin. Tentu saja kecuali Doni.
Sesaat suasana tegang langsung terasa ketika Doni hanya terdiam menatap uluran tangan Birendra yang perlahan menarik kembali tangannya. Semua orang kini terdiam, terasa canggung melihat dua sahabat yang kini seperti musuh bebuyutan.
“Aku dengar kamu baru saja menjadi seorang ayah?” Birendra mencoba memecah keheningan dan kecanggungan dengan bertanya kepada Fahmi yang langsung tertawa dan mulai dengan bangga menceritakan tentang putranya yang baru lahir.
Suasana mulai mencair, semua orang menceritakan kisah hidup mereka, kecuali tentu saja Birendra dan Doni yang hanya diam mendengarkan sambil makan siang, walaupun jujur saja Birendra hanya mengunyah lalu menelannya tak peduli rasanya seperti apa. Dia sudah ingin sekali pergi dari sana, dadanya perlahan menjadi sesak setelah mendapat pandangan penuh kebencian dari Doni.
Dari tadi dia menahannya dengan mencoba mengabaikan Doni dan ikut berbaur dengan percakapan Alvin, Fahmi dan dua temannya yang lain, tapi tidak berhasil. Menerima pandangan penuh kebencian dari Doni, itu sama artinya kembali ke masa lalu yang menjembloskannya dalam lubang dalam dan gelap yang menyesakkan.
“Tinggal kamu saja nih yang belum nikah di antara kita.”
“Sudah ada calonnya belum, Bi?”
“Kalau sudah ada. Tunggu apa lagi, umur sudah cukup, karir juga sudah oke. Cepatlah kamu boyong dia ke pelaminan.”
Birendra hanya tersenyum mendengar ucapan teman-temannya, sampai akhirnya terdengar dengkusan dari Doni membuat semua orang menatapnya yang kini tertawa.
“Lapo koen iku, Don? Guyu-guyu dewe.” (Kenapa kamu itu, Don? Ketawa-ketawa sendiri.)
“Tidak apa-apa, lucu saja,” ucap Doni yang terus tertawa. “Kalau dia nikah … belum sebulan dia langsung jadi duda, hahahaha.”
Semua langsung terdiam, terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Kalian jangan pura-pura lupa. Dia itu, anak pembawa sial yang akan membunuh siapapun yang dekat dengannya.”
“Cukup, Don!” Seru Alvin yang merasa bersalah setelah melihat bagaimana pucatnya Birendra. Seharusnya dia tidak memaksa Birendra untuk datang hari ini yang hanya akan membuka luka lama Birendra dan juga … Doni.
“Aku permisi ...”
Birendra dengan cepat pergi dari sana.
“Gendeng koen, Don!” (Gila kamu, Don!)
Terdengar teman Birendra yang lain ikut membentak Doni yang kini tengah bertahan dengan argumennya. Tak memedulikan itu Birendra terus berjalan dengan cepat ke arah toilet. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya yang gemetar, dadanya sesak membuatnya terengah-engah mencoba menghirup oksigen, sedangkan asam lambung semakin naik ke tenggorakan. Dengan terseok-seok dia menuju toilet dan langsung memuntahkan semua makanan yang tadi ditelannya.
Bayangan itu kembali muncul … bayangan yang coba dia kubur bersama dengan suara-suara yang membuat tubuhnya menggigil.
Berpegangan pada wastafel toilet, dia mencoba menopang tubuhnya. Wajahnya yang pucat pasi tergambar jelas di atas cermin. Birendra mencoba melakukan relaksasi, dia menghirup udara perlahan dari hidung hingga perutnya terisi oksigen, kemudian perlahan menghembuskannya melalui mulut. Dia terus melakukan itu hingga perlahan mulai bisa menguasai dirinya kembali. Tubuhnya tak lagi gemetar, walaupun masih terasa lemas, wajahnya pun sudah tak sepucat tadi lagi. Setelah dirasa lebih baik, Birendra kembali mengambil napas dalam-dalam, menghembuskannya secara perlahan, sebelum dia ke luar.
Birendra baru melangkahkan kaki ketika melihat Fahmi berdiri di depan toilet sambil bersandar di tembok dengan rokok di sela jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Rokok?” Fahmi menawarkan rokoknya kepada Birendra.
“Ada.” Birendra mengeluarkan rokoknya dari saku celana, kemudian menyulutnya.
Mereka berdua kini berjalan menuju danau yang ada di area rumah makan itu. Sepanjang jalan mereka hanya diam sambil menghisap rokok, sampai akhirnya mereka duduk di depan danau yang memberi kesejukan.
“Dia benar kok. Aku hanya akan membunuh siapapun yang dekat denganku.”
“Kamu tuh ngomong apa sih?” Fahmi menatap Birendra yang tengah menghisap rokoknya, mencari sedikit ketenangan dari nikotin yang dia hisap. “Kamu itu bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup mati seseorang.”
Birendra mengembuskan asap putih yang ditatapnya dengan mata menerawang. Tentu saja dia tahu kalau dia bukan Tuhan, dia hanya manusia biasa … manusia pembawa sial.
“Tak capek apa kamu terus hidup dalam rasa bersalahmu itu?”
Birendra hanya terdiam sambil menghisap rokoknya.
“Aku pikir kamu sudah melupakan kejadian itu. Aku sempat mendengar kalau kamu memiliki kekasih.”
Birendra mengerutkan alisnya menatap Fahmi yang tersenyum menggoda.
“Anggi Santoso. Hebat kamu bisa dapatkan dia … bangga aku dadi koncomu (bangga aku jadi temanmu).”
“Kata siapa?”
“Makanya kamu masuk ke grup biar tahu kabar yang lainnya juga.”
Birendra hanya terdiam sambil kembali menghisap rokoknya,
“Siapa yang dulu melihatmu jalan sama Anggi, ya? Lupa aku. Yang pasti dia bahkan kirim foto kalian berdua.”
Seseorang melihat Birendra bersama Bentari dulu? Apa mungkin Doni mengetahui tentang hubungan Birendra dengan Bentari dari foto itu?
“Jadi, bagaimana rasanya menjadi kekasih dari crazy rich Surabaya?”
“Kami tidak memiliki hubungan apapun.”
Fahmi menatap Birendra yang tengah mematikan rokoknya.
“Kanapa? Jangan bilang kamu memutuskannya karena … traumamu?”
Birendra terdiam membuat Fahmi terbelalak tak percaya.
“Kamu takut untuk sesuatu yang belum terjadi … dan itu sangat konyol.”
“Aku hanya menghindarkannya dari bahaya.”
“Bahaya apa?”
“Bahaya karena dekat denganku.”
“Siapa kamu hingga bisa membuatnya dalam bahaya?”
“Anak pembawa sial, semua orang mengatakan itu.”
Fahmi terdiam menatap Birendra penuh dengan simpati. Dia tahu kalau Birendra tidak dalam keadaan baik-baik saja, dia butuh pertolongan, tapi Birendra terlalu menutup diri hingga sulit bagi siapapun untuk menjangkaunya.
“Kamu itu lho ya kepedean,” ucap Fahmi membuat Birendra mengangkat alisnya bingung. “Iya, kamu itu terlalu pede menganganggap semua orang yang dekat atau menyukaimu akan dalam bahaya. Memangnya kamu itu mafia yang banyak musuhnya, atau orang penting yang jadi incaran para penjahat?”
Fahmi mendengkus sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
“Tidak semua orang yang dekat denganmu terluka dan dalam bahaya. Aku … aku baik-baik saja. Ah! Kamu ingat Fina, yang pernah menyukaimu dulu? Dia juga baik-baik saja, dia bahkan sudah menikah dan memiliki dua orang anak, dan … Mbak Jum, penjaga kantin di sekolah dulu yang suka ngasih bonus padamu? Sampai sekarang dia masih hidup, sudah punya cucu malah.”
Fahmi tersenyum lebar membuat Birendra ikut tersenyum walaupun samar. Melihat Birendra yang mulai sedikit tenang membuat Fahmi lanjut menceritakan kehidupan teman-temannya yang lain untuk sedikit meyakinkan Birendra kalau begitu banyak orang yang mengenal dan dekat dengannya, mereka baik-baik saja sampai sekarang.
“Anggi Santoso pun sepertinya dia baik-baik saja sampai sekarang.” Fahmi mengeluarkan ponselnya. “Istriku sangat menyukai gaya berpakaian Anggi Santoso, makanya dia sampai mengikuti media sosialnya, dan aku ketularan.” Fahmi tersenyum sambil membuka media sosialnya. “Istriku bilang, Anggi sudah banyak berubah, sudah tak pernah lagi mengupload kehidupan glamornya, sekarang Anggi lebih terkesan sederhana, membuat istriku semakin menyukainya.”
Fahmi kini memberikan ponselnya kepada Birendra. Tentu saja Birendra sudah melihat postingan itu, dimana Bentari terlihat sedang memilah souvenir pernikahan di pasar Jatinegara.
“Keren bukan? Walaupun putri dari seorang pengusaha sukses, tapi dia tidak hanya ongkang-ongkang kaki menikmati kekayaan orangtuanya, dia memiliki bisnis WO sendiri, jadi ya wajar saja kalau dia kaya.”
Birendra terus menatap ponsel Fahmi, menggulir setiap foto yang diupload Bentari, perubahan ekspresi Birendra jelas terlihat walau samar. Mata tak bisa berbohong. Mata Birendra melembut, ada kerinduan di sana dan itu tidak lepas dari pengamatan Fahmi.
Awalnya Fahmi hanya mencoba berharap bisa menemukan sedikit celah untuk bisa menyelami Birendra, tapi dia tak akan mengira kalau akan menemukannya secapat ini … Bentari, itu titik kelemahan Birendra sekaligus kunci untuk menolangnya.
***