Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
53. The Man Behind The Gun



“Dengan adanya saksi kunci yang menyaksikan langsung saat kejadian yang kami cross check dengan hasil penyelidikan 10 tahun lalu, maka bisa dipastikan kalau Salsabila Saraswati meninggal karena kecelakan. Dan atas dasar itu maka kasus meninggalnya Salsabila Saraswati akan segera di SP3 kan …”


Berita tentang penghentian penyidikan oleh pihak berwenang atas kasus meninggalnya Salsa cukup meredakan berita tentang Birendra, beberapa orang mulai curiga kalau berita tentang Birendra sengaja dihembuskan karena kepentingan beberapa golongan untuk mengalihkan issue atau menjatuhkan Birendra yang akhir-akhir ini mendapat perhatian publik sebagai calon menantu crazy rich Surabaya.


“Mas bicara apa sama ayah tadi? Ayah tidak bicara yang aneh-aneh, kan?”


“Tidak, hanya bicara tentang kasus kemarin saja.”


Bagaimana Bentari tidak curiga kalau setelah bertemu dengan ayahnya, Birendra berubah menjadi lebih diam dan terlihat murung. Bahkan selama dalam perjalanan dari rumah Andi Santoso di Graha Family ke sebuah resto n café di daerah Mulyorejo yang memakan waktu hampir sejam, Birendra hanya diam dengan pikirannya sendiri.


“Apa yang ayah katakan?” tanya Bentari ketika mereka sampai di restoran dengan nuansa alam dan duduk di salah satu gazebo, sambil menunggu Fahmi dan Doni yang sengaja mereka undang untuk makan siang.


“Hmmm … rahasia.”


“Mulai rahasia-rahasiaan.” Bentari memberengut yang malah membuat Birendra tersenyum. “Mas, tadi ngobrolin apa sama ayah sih?”


Birendra terdiam, kepalanya berputar mengingat kembali pembicaraannya dengan Andi Santoso tentang siapa orang di balik pemberitaan tentang dirinya akhir-akhir ini.


“Ayahmu memberitahu tentang siapa orang di balik pemberitaan kemarin.”


“Siapa?” Bentari menatap Birendra dengan mata bulat penasaran.


Birendra menatap Bentari dengan wajah serius sebelum dia akhirnya berkata,


“Ferdi Izam.”


Bentari menganga, terkesiap, tak percaya dengan apa yang dia dengar.


“Ferdi?” Birendra mengangguk. “Kenapa … bisa dia?” Bentari masih belum sembuh dari keterkejutannya mendengar Ferdi adalah dalang dari berita yang tersebar.


“Ayahnya Salsa memang seorang bajingan, tapi seperti yang kamu curigai, darimana dia punya uang untuk membayar pengacara seperti Sultan? Aku pun mulai mencari tahu, tapi orang-orang di sekellilingnya tidak ada yang memiliki kekuasaan ataupun uang berlebih. Aku akhirnya mencari tahu di mana bapaknya Salsa di penjara dan saat itulah aku mengetahui kalau Ferdi dipenjara di tempat yang sama. Tetapi aku tak memiliki bukti apapun yang menghubungkan mereka selain mereka berada di penjara yang sama, apa lagi … Ferdi sudah bebas sebelum bapaknya Salsa bebas.”


“Iya, Ferdi sudah bebas beberapa bulan lalu.”


Jantung Bentari terasa dicengkram mendengar berita itu.


“Tapi … bagaimana bisa?”


“Apalagi selain uang.” Birendra menghela napas mengingat kejadian dua tahun lalu. “Jaksa menuntutnya hanya dua tahun penjara dan hakim bahkan memberi hukuman lebih ringan … 1 tahun 7 bulan dengan uang denda yang bagi mereka tak ada artinya.”


Bentari memijat keningnya yang terasa pening mendengar hal itu.


“Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah mamah dan teteh rasakan.”


“Karena itulah pak Andi, kakang, dan aku … memberi perhitungan padanya."


Mata Bentari membulat menatap Birendra yang menghentikan sejenak penjelasannya karena seorang pelayan datang dengan membawa pesanan minuman mereka.


“Ayahmu menghentikan kerjasamanya dengan Hadian Izam untuk pembangunan jalan trans Kalimantan, selain itu Rudi Mahesa juga menghentikan investasinya membuat Hadian Izam mengalami kerugian cukup besar. Sedangkan aku menghentikan usaha Ferdi untuk menjadi pemilik agen resmi salah satu merk supercar di Indonesia, yang sekarang dipegang oleh Candra.”


“Candra adiknya kakang?”


“Iya, Candra Mahesa. Setelah putusan pengadilan, kakang marah besar merasa tidak puas dengan hukuman yang diberikan hakim walaupun ayahnya juga ayahmu sudah bertindak, tapi tetap saja itu tidak bisa meredakan amarahnya, sampai akhirnya aku memberitahu kakang tentang usaha Ferdi itu dan saat itulah kakang memiliki rencana untuk mengambil hal itu dari tangan Ferdi. Dia memintaku untuk mengurus segala perizinannya, Candra dan teman-temannya yang memang menyukai otomotif dengan senang hati membantu kakang mengambil alih hak ekslusif itu.”


“Dan Ferdi marah gara-gara itu?”


“Bagaimana tidak marah, dia sudah menghabiskan banyak uang untuk memuluskan langkahnya dan ketika tinggal menunggu hasil, kami menjegalnya, mengambil hak itu.”


Bentari mengangguk mengerti atas kemarahan Ferdi.


“Ferdi tahu kalau, Mas Abhi, di belakang gagalnya usaha dia jadi mau membalas Mas Abhi lewat bapaknya Salsa?” tanya Bentari sambil mengaduk-aduk jus melonnya dengan sedotan.


Bentari mengangguk sambil menyeruput jus melaonnya pelan.


“Bagaimana dengan perempuan yang sekarang menghilang itu?”


“Saat itu Yanti tengah kesulitan, terlilit hutang cukup besar. Dengan iming-iming sejumlah uang untuk membayar semua hutangnya jadi sangat mudah bagi Ferdi untuk menyakinkan Yanti.”


Uang … sekuat itulah uang hingga bisa membuat orang lupa akal pikiran, bahkan sebagian orang rela menggadaikan nyawanya kepada iblis demi uang.


“Apa Yanti juga yang memberitahu tentang masa lalu Mas Abhi?” Bentari bertanya ketika mengingat berita pertama yang beredar sebelum semakin bergulir tak tahu arah seperti bola liar. "Bagaimana dia bisa tahu tentang masa lalu Mas Abhi?"


“Itu …” Wajah Birendra berubah seketika membuat Bentari semakin penasaran.


“Hai, maaf kita datang terlambat.”


Pembicaraan keduanya terhenti ketika Fahmi bersama istri dan bayi mereka yang baru berusia beberapa bulan datang dengan senyum cerah.


“Kalau mau ngajak bayi ke luar ya gini … ribet, harus siapin ini itu, cuma mau ngajak makan siang di luar saja bawaannya sampai setas.”


“Ngeluh, tapi mukanya kok bangga gitu.”


“Hahaha.” Fahmi tergelak mendengar ucapan Birendra."Makanya kalian cepat nyusul, biar tahu rasanya ribet yang menyenangkan," ucap Fahmi sebelum mengenalkan seorang perempuan berhijab dengan senyum ramah dan seorang bayi yang tengah terlelap dalam gendongannya.


“Aslinya jauh lebih cantik,” ucap Sarah, istri Fahmi, sambil menyalami Bentari.


“Terimakasih, Mbak Sarah juga cantik … bayinya lucu banget, siapa namanya? Berapa bulan, Mbak?”


Bentari dan Sarah langsung terlihat akrab membicarakan segala hal, tak lama kemudian Doni datang seorang diri dan mereka bertiga larut dalam nostalgia masa remaja layaknya teman lama yang baru saja bertemu, melupakan masalah di masa lalu.


***


“Setelah polisi menyatakan SP3 terhadap kasus Birendra semua orang mulai curiga kalau semua pemberitaan itu tidak benar, dan kini berbalik mendukungnya.”


Sigit terdiam tanpa ekspresi mendengar laporan dari salah satu orang kepercayaannya.


“Hubungan antara Anggi Santoso dan pengacara itupun tidak ada masalah, bahkan sepertinya Andi Santoso ada di balik penyelesaian masalah ini.”


Sigit membuang napas kasar harapannya untuk menjodohkan Atharya dengan Anggi Santoso sepertinya semakin tipis.


“Kalau, Bapak, masih berniat untuk menjalankan rencana awal menjodohkan Anggi Santoso dengan Atharnya, kenapa kita tidak coba dengan mengutarakan langsung saja kepada Andi Santoso?”


“Maksudmu?”


“Ini.” Pria bertubuh sedikit gemuk itu menyerahkan sebuah undangan merah marun dengan tulisan berwarna gold. “Pesta ulang tahun pernikahan Rudi Mahesa yang akan dilangsungkan sabtu besok.”


Sigit membuka undangan yang terlihat mewah itu dengan sedikt harapan yang kembali hadir.


“Keluarga Andi Santoso dipastikan hadir mengingat mereka kini menjadi keluarga. Bapak bisa datang bersama Atharya dan saat itulah Bapak bisa mengenalkan keduanya, dan mungkin Bapak bisa bicara secara langsung kepada Andi Santoso tentang niat Bapak.”


Itu mungkin bisa menjadi solusinya. Jika dibandingkan dengan keluarga Birendra jelas saja latar belakang keluarga Sigit Suwarno jauh lebih menggiur bagi sebagian orang.


Sebetulnya bisa saja Sigit menjodohkan Atharya atau Arunika dengan yang lain, namun kali ini pilihan terbaiknya adalah Anggi Santoso. Selain karena latar keluarga Andi Santoso yang pengusaha dan besan dari Rudi Mahesa, latar belakang Anggi Santoso sebagai public figure pun menjadi bahan pertimbangan tersendiri.


Dengan mendapatkan Anggi Santoso sebagai calon menantu itu berarti mendapatkan dukungan dari Andi Santoso sang pengusaha, dan Sigit pun bisa memanfaatkan nama Anggi Santoso di media sosial yang kebanyakan pengikutnya ada di usia yang memiliki hak untuk memilih pada pemungutan suara nanti.


Itu akan sangat meguntungkan baginya nanti. Namun yang tidak dia duga adalah seseorang mendengarkan pembicaraan itu di balik pintu dengan tubuh gemetar dan jantung yang detak kencang.


*****