
Sepanjang jalan pintu masuk terpasang umbul-umbul bertuliskan, ‘BUMI BUILD THE WORLD WITH HEART’, ‘BUMI CILEUNGSI CITY’, ‘BCC’, dan masih banyak slogan untuk memperkenalkan kawasan perumahan yang akan di bangun di daerah perbatasan Cileungsi dan Jonggol. Di bagian dalam area tanah seluas 500 hektar yang masih berupa hamparan tanah luas belum dibangun apa-apa, hanya sebuah marketing galeri yang hari ini dipenuhi tamu undangan.
Sebuah spanduk besar bertuliskan ‘Groundbreaking Bumi Cileungsi City (BCC)’ semakin mempertegas acara hari ini. Peletakan batu pertama mega proyek BUMI yang dihadiri kontraktor, supplier, investor, pemegang saham dan tentu saja Andi Santoso sebagai pemilik saham terbesar dari BUMI developer di bidang property yang namanya sedang naik daun di kalangan pengusaha property lainnya.
Hari ini ada yang berbeda dengan kehadiran Andi Santoso, yang bisanya hadir hanya dengan orang-orang kepercayaannya namun kali ini berdiri di sampingnya Caraka Benua, sang menantu yang namanya sudah dikenal di kalangan pebisnis negri ini, dan juga seorang pria muda yang terlihat tampan dengan mengenakan celana khaki dengan kemeja putih, rambut gondrongnya diikat rapih, tubuh tinggi, kulitnya putih, dan paras rupawannya menarik perhatian dan penasaran semua orang yang hadir.
“Ini putra bungsu saya. Asoka, calon insiyur hebat negri ini.” Begitu Andi Santoso mengenalkan Oka dengan bangga kepada rekan-rekan bisnisnya yang secara tak langsung mengenalkan Oka sebagai penerusnya, dan itu membuat Oka merasa sedikit tidak nyaman.
Mungkin kalau statusnya masih sama seperti dulu, saat ini orang-orang itu tidak akan menyadari keberadaannya, atau mungkin hanya akan menganggapnya sebagai karyawan biasa, atau mahasiswa yang sedang PKL, atau bahkan sebagai kuli bangunan … ya, paling nanti jadi viral ada kuli bangunan gantengnya tak kalah dengan artis.
Tapi lihatlah sekarang! Semua orang menatapnya dengan pandangan berbeda. Tersenyum ramah, mencoba mencari perhatian dengan menyapa atau berusaha mengajaknya berbicara. Hal itulah yang membuat Oka akhirnya melarikan diri ke luar dari marketing galeri dan bersembunyi di belakang excavator yang terparkir di antara alat berat lainnya di depan tempat seremonial tadi di laksanakan.
Oka membuka ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk dari teman – temannya, juga dari Arunika.
Arunika :
Abaaaang, tadi aku sama ka Athar ke rumah, tapi abang tidak ada.
Kak Athar mau bilang terimakasih karena malam itu abang sudah menyelamatkanku.
My future husband is my super hero 😘😘
Oh iya, tadi bertemu dengan kak Kirana, kak Bi, dan kak Siska, mereka lucu banget masa ngira kak Athar sopir, hahahaha.
Udah gitu kak Athar dicuekin, mereka malah heboh sendiri, hahahaha.
Kasian kak Athar untuk pertama kalinya ketampanannya tidak berpengaruh kepada cewek-cewek, hahahaha.
Pas pulang kak Athar sampai nanya, Ra, memangnya kak Athar ada tampang-tampang sopir ya? Hahahaha, kasian kak Athar sampai syok dia.
Asoka :
Hahahaha, kak Athar baru sekali bertemu mereka bertiga sudah syok, apa kabar aku yang seumur-umur jadi objek keisengan mereka.
Arunika :
Hahaha, lebih baik menjadi bahan keisengan, Bang, daripada tidak dianggap.
Oh iya, abang lagi di mana ini?
Asoka :
Lagi nemenin ayah sama kakak ipar ada acara.
Arunika :
Bagaimana acaranya?
Seru?
Asoka :
Membosankan
Arunika :
Hahaha, membosankan karena tidak ada aku di sana.
Coba ada aku, abang pasti seneng 😍😍
Asoka
😪
Arunika
😂😂😂
Oka tersenyum membaca pesan terakhir Arunika. Kini Oka menyadari kalau Arunika bukan seorang gadis manja seperti yang dia kira selama ini. Arunika adalah seorang gadis yang luar biasa. Setelah kenyataan pahit yang harus dia hadapi, Arunika masih sanggup berdiri tegar, masih bisa tersenyum di depan semua orang walau hatinya hancur. Menyembunyikan perasaannya yang hancur di balik topeng senyuman.
Arunika masih bersikap biasa di depan semua orang layaknya gadis yang ceria, tapi berbeda ketika di depan Oka, dia akan menumpahkan kekalutannya dan Oka akan mendengarkannya. Kalau sudah seperti itu biasanya Oka akan mengajaknya berkeliling naik si merah entah kemana, atau pergi makan hanya untuk membuat perasaan gadis itu menjadi lebih baik. Setelah Arunika kembali dalam mode manja yang menyebalkan, barulah Oka akan merasa tenang dan mengantarnya pulang. Namun Oka kini menyadari Arunika dalam mode manja yang menyebalkan itu ternyata lebih baik daripada melihatnya terdiam, dengan pandangan kosong.
“Malah ngumpet di sini.”
Oka menatap ke arah suara dimana Caraka berdiri sambil menyulut rokok.
“Males … Kakang, ngapain di sini?”
Oka tersenyum maklum melihat Caraka menghisap rokok. Semenjak Kirana hamil dan Danish lahir, Caraka sudah mengurangi merokok apalagi kalau di rumah. Sudah benar-benar berhenti kalau tidak mau dipelototin Kirana dan berakhir dengan ceramah panjang lebar. Jadi saat berada di luar seperti inilah dia mencuri-curi kesempatan untuk merokok.
“Bagaimana rasanya dikenalkan secara resmi oleh ayah?”
Oka terdiam sebelum mengherdikkan bahunya membuat Caraka tersenyum kemudian ikut duduk di roda excavator.
“Lama-lama kamu akan terbiasa dengan hal seperti ini. Anggap saja sekarang kamu ini lagi training sebelum nanti benar-benar terjun masuk ke dunia kerja yang sesungguhnya.”
Oka terdiam memainkan ponselnya.
“Jadi apa kamu sudah memutuskan untuk menjadi penerus ayah?”
Oka menghela napas berat.
“Apa salah kalau aku ingin berjalan di jalanku sendiri? Maksudku … aku ingin dikenal sebagai diriku sendiri, bukan karena ayah.”
“Tidak. Tentu saja tidak salah… dulu aku pun merasakan hal yang sama.” Caraka menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya pelan. “Mungkin kalau kamu masih ada waktu untuk itu, berbeda denganku yang dari kecil sudah didoktrin sebagai penerus. Suka atau tidak aku harus melalui jalan ini … jadi yang ku lakukan adalah melakukan yang terbaik, perlahan semua orang mengakui kemampuanku dan akhirnya aku terlepas dari bayang-bayang nama besar orangtuaku.”
Oka terdiam menatap Caraka yang kembali menghisap rokoknya.
“Memangnya bidang apa yang ingin kamu ambil?”
Oka terdiam berpikir, “Ya … bidang kontraktor?”
Caraka mengangkat alisnya kemudian tersenyum.
“Itu masih ada hubungan erat dengan usaha ayah.” Caraka membuang puntung rokok lalu menginjaknya. “Kamu bisa menjadikan itu sebagai pengembangan dari usaha ayah.”
“Tapi aku ingin usaha sendiri, tanpa sangkut paut dengan usaha ayah.”
Caraka terdiam memandang Oka. keras kepala, persis kakaknya.
“Kamu tahu … dulu Kirana pernah bilang. Orang bodoh kalah dengan orang pintar, orang pintar kalah dengan orang yang memiliki koneksi, dan orang yang memiliki koneksi kalah dengan orang yang beruntung. Aku memiliki 3 dari itu … pintar, koneksi dan beruntung. Kita belum tahu soal keberuntunganmu jadi kita lupakan dulu itu, tapi kamu memiliki koneksi dan juga pintar. Jadi … kenapa kamu tidak manfaatkan apa yang kamu miliki sekarang?”
“Maksudnya aku harus memanfaatkan statusku sebagai putra dari Andi Santoso?”
“Kenapa tidak? Tidak ada yang salah dengan itu.” Caraka menatap Oka serius. “Selama kita mampu, tidak ada yang salah kalau kita memanfaatkan hal yang kita miliki. Istilahnya nih kita sudah punya modal awal yang kuat kenapa kita tidak manfaatkan itu?”
Oka terdiam berpikir.
“Ya anggap saja misalnya tujuan kita itu mau ke Bandung. Kamu punya kendaraan nyaman yang bisa kamu pakai untuk menuju ke sana, jadi kenapa kamu harus repot-repot naik kendaraan umum dimana kamu harus berebut dengan penumpang lainnya, belum tentu juga kita kebagian kursi, atau menggunakan si merah yang tidak bisa melewati jalan tol jadi harus jalan memutar dan tidak menutup kemungkinan bisa mogok di tengah jalan.”
Pikiran Oka mulai sedikit terbuka, yang dikatakan Caraka mungkin ada benarnya.
“Tapi bukankah itu akan membuat orang melihat kita hanya memanfaatkan nama besar orangtua kita?” Oka menatap Caraka tak kalah serius. “Itu yang tidak aku inginkan, menjadi bayang-banyang dari nama besar ayah.”
Jujur saja tadi Andi Santoso mengajaknya ke acara hari ini, Oka hampir saja menolak, tapi pelototan dari kakak-kakaknya juga cubitan dari ibunya membuat Oka ciut dan akhirnya setuju untuk ikut.
“Dan apa kamu pikir kalau kamu usaha sendiri kemudian sukses, orang-orang tidak akan menyangkut pautkan ayah dengan usahamu? Tidak!” Caraka menggelengkan kepala. “Orang - orang akan berkata … ya, pantas saja dia bisa sukses, ayahnya saja bla-bla-bla, pasti modalnya kuatlah, pasti ada bantuan ayahnya di belakang suksesnya, dan masih banyak lagi. Kalau kita mendengarkan perkataan orang mah tidak akan selesai-selesai.”
Caraka terdiam sesaat menatap Oka yang sepertinya sudah mulai paham dengan maksud ucapan Caraka sampai kapanpun kita tidak akan lepas dari nama keluarga kita, dan kita tidak akan bisa meyakinkan semua orang.
“Atau gini saja deh. Sebentar lagi kamu harus PKL kan?” Oka mengangguk. “Kamu masukkan proposal PKL mu ke BUMI, dengan catatan ayah harus merahasiakan identitasmu dari karyawan BUMI.”
“Seperti di drama korea yang sering ditonton mamah.”
“Hahaha … Sepertinya aku sudah tertular kakak dan mamahmu yang kadang imajinasinya mengalahkan naskah drama korea.”
“Hahaha.” Oka mengangguk setuju. “Tapi ayah tadi sudah mengenalkanku, dan sebagian dari mereka itu adalah karyawan BUMI.”
“Yang datang hari ini hanya para petinggi saja, mereka tidak akan ikut campur soal PKL. Pak Haris itu orang yang dipercaya ayah untuk proyek BUMI di Jawa Barat dan Jakarta, kamu bisa memercayai beliau. Tapi nanti kamu masukan proposal lewat jalur pada umumnya jangan sampai ayah dan pak Haris tahu dulu. Kita lihat apa kamu bisa masuk BUMI tanpa bantuan ayah atau orang dalam? Anggap saja kita sedang mengukur kemampuanmu secara pribadi.”
Oka terdiam, memikirkan rencana itu.
“Nah biasanya dari PKL kalau kerja kita bagus kita akan ditawarin kerja, kamu bisa coba itu. jadi kamu mulai benar-benar dari bawah, dengan syarat itu tadi … jangan ada yang tahu statusmu sebagai putra bungsu Andi Santoso, jadi kamu bisa mengukur kemampuanmu sendiri, sambil belajar juga. kamu mau jadi kontraktor? Belajar dari kontraktor yang bekerja dengan BUMI, lihat bagaimana mereka bekerja. Karena teori di kampus terkadang berbeda dengan praktek di lapangan, jadi cari dulu pengalaman dan ilmu sebanyak-banyaknya sampai nanti ketika kamu merasa siap untuk membuat usaha kontraktor sendiri dasar kamu sudah kuat.”
Oka mengangguk-anggukan kepalanya mulai sedikit paham.
“Kalau sekarang kamu maksa mau bikin usaha tanpa dasar yang kuat hanya karena ingin terlepas dari nama ayah, yang ada modal kamu akan habis. Selain cerdas, kita juga harus cerdik melihat peluang usaha, jangan hanya mengandalkan ego dan harga diri.”
Yang dikatakan Caraka benar, selama ini Oka terlalu menggebu ingin memiliki usaha sendiri hanya karena ingin terlepas dari nama besar sang ayah, tanpa dasar sama sekali dan buta tentang bisnis. Saran dari Caraka mungkin pilihan terbaiknya, merahasiakan identitas sebagai anak Andi Santoso untuk mengukur kemampuan diri tanpa terbebani oleh status sebagai putra sang pemilik perusahaan.
*****