Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
43. Level



“Andi Santoso benar-benar menutupi informasi pribadi tentang keluarganya. Tak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadinya, jadi sedikit sulit untuk mendapatkan informasi mendalam tentang keluarga Andi Santoso.”


Sigit terdiam mendengarkan salah satu orang kepercayaannya yang tengah memberikan informasi tentang Andi Santoso.


“Sebelum pernikahan yang sekarang Andi Santoso pernah menikah dan memiliki seorang putri yaitu Kirana, istri dari Caraka Benua, sedangkan Anggi Santoso adalah putri satu-satunya dari pernikahannya yang sekarang. Namun dari beberapa informasi yang saya dapatkan ternyata Anggi Santoso bukanlah putri kandung Mayang.”


Sigit mengerutkan keningnya. “Maksudnya Anggi Santoso adalah anak angkat?”


“Bukan, Anggi adalah putri kandung Andi Santoso dari pernikahannya yang pertama. Ada kemungkinan setelah bercerai, Kirana ikut dengan ibunya sedangkan Anggi ikut dengan ayahnya.”


Sigit mengangguk pelan, ada kelegaan dalam dirinya mengetahui Anggi Santoso bukanlah anak angkat.


“Yang menarik adalah ada yang mengatakan kalau Andi Santoso ternyata memiliki seorang putra.”


“Putra?”


“Iya, tapi saya tidak bisa menemukan identitasnya, jadi informasi ini masih belum bisa kita yakini kebenaranya.”


Sigit terlihat berpikir, jari telunjuknya mengetuk meja hingga menimbulkan suara konstan untuk beberapa saat sebelum dia menatap orang kepercayaannya.


“Apa mungkin putranya itu hasil perselingkuhan Andi Santoso?”


“Tidak. Andi Santoso benar-benar bersih, tidak ada perempuan lain ataupun sesuatu yang cacat dalam bisnisnya.”


“Tidak, tidak mungkin dia sebersih itu.” Sigit kembali terlihat berpikir. “Apa kamu memeriksa data keluarganya?”


“Iya, yang terdata di dalam data keluarga Andi Santoso hanya Anggi sebagai putri kandungnya.”


Sigit mengangguk-anggukan kepala paham, bibirnya menyunggingkan sedikit senyum sinis. Sigit berpikir Andi Santoso seperti dirinya, laki-laki tetaplah laki-laki pasti menyimpan rahasia yang hanya diketahui sesama lelaki. Kalaupun ‘putra’ itu memang ada, tapi kemungkinan kedudukannya tidak akan kuat karena bagaimanapun dia pasti hanya anak dari perempuan simpanannya.


“Bagaimana dengan kehidupan Anggi? Apa ada yang perlu kita khawatirkan?”


“Anggi Santoso adalah sosok putri manja yang menggunakan kekayaan orangtuanya untuk bersenang-senang, tapi itu dulu … sekarang kehidupannya menjadi lebih sederhana. Saat ini Anggi bahkan merintis wedding organizer miliknya sendiri. Banyak yang bilang perubahan sikap Anggi dikarenakan kekasihnya yang memang dari kalangan biasa saja.”


Sigit kembali terlihat berpikir. Birendra Abhimana, kekasih Anggi Santoso yang mungkin akan menjadi penghalang untuk rencana Sigit.


“Ada informasi penting tentang pengacara itu?”


“Tidak ada. Keluarga Birendra hanya keluarga sederhana yang tinggal di Semarang, mereka memiliki toko oleh-oleh khas Semarang. Tidak ada yang special tentang keluarganya.”


“Bagaimana tentang kehidupannya? Apa ada sesuatu yang bisa kita gunakan?”


“Birendra adalah sosok yang sangat tertutup, dia dianggap pengacara muda yang handal dan memiliki masa depan cerah dengan karirnya. Telah banyak kasus yang dia menangkan bahkan saat ini dia menjadi penasihat hukum bagi beberapa orang berpengaruh di Surabaya, salah satunya adalah Andi Santoso.”


“Aku tidak bertanya tentang kelebihannya. Cari kelemahannya!”


Birendra sepertinya akan menjadi penghalang untuk rencana Sigit menjodohkan Bentari dengan Atharya, tetapi bukankah setiap orang memiliki kelemahan? Maka Sigit akan mencari kelemahannya untuk memisahkan dengan Bentari.


Sebetulnya mendengar latar belakang Birendra membuat Sigit di atas angin, tentu saja latar belakang keluarga Sigit jauh lebih baik daripada Birendra yang hanya pemilik toko oleh-oleh, dan itu cukup untuk meyakinkan Andi Santoso untuk menjadi besannya. Akan tetapi melihat sudah hampir setahun hubungan Birendra dan Bentari membuat Sigit kembali berpikir, mungkin saja Andi Santoso adalah tipe orangtua yang menyerahkan masalah pasangan kepada anak-anaknya apalagi karir Birendra tidaklah buruk, jadi Sigit harus memiliki rencana cadangan untuk menyingkirkan Birendra.


***


“Abang!”


Oka tersenyum melihat Arunika yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Saat ini Oka sedang berada di perpustakaan mengerjakan tugas analisis struktur metode matriks.


“Sebentar ya,” bisik Oka yang mendapat anggukan serta senyuman dari Arunika yang juga mengeluarkan laptopnya, mereka berdua pun larut dalam tugas kuliah masing-masing sampai sore hari.


“Bagaimana sudah dapat tempat untuk PKL?” Arunika bertanya ketika mereka berdua sudah duduk di tenda pecel ayam setelah sebelumnya mereka shalat magrib di masjid kampus kemudian pulang sambil mencari makan malam.


“Baru masukin proposal kemarin, mudah-mudahan saja diterima.”


“Aamiin … perusahaan mana, Bang?”


“BUMI.”


Arunika mengangkat alisnya kemudian tertawa sambil menggeleng.


“Mereka akan kaget kalau tahu siapa yang mengajukan PKL.”


“Makanya mereka jangan sampai tahu, biar tidak kaget. Terimakasih.”


“Haahaha… terimakasih.”


Seorang pelayan memberikan mereka sepiring nasi uduk, pecel ayam lengkap dengan irisan timun, kemangi, dan potongan kol yang tersaji di atas piring tanah liat.


“Aku kebayang sih, kalau sampai karyawan BUMI tahu siapa Abang. Apa lagi karyawan perempunnya mereka pasti akan menggoda Abang… tidak-tidak-tidak!” Arunika menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bisa gawat kalau mereka sampai tahu.”


Oka hanya tersenyum melihat tingkah Arunika sambil mulai makan.


“Sekarang saja aku sudah banyak saingan gara-gara Abang bawa si putih ke kampus waktu itu, apalagi kalau tahu Abang adalah putra dari pemilik BUMI.” Arunika menggeleng sambil menghela napas berat membuat Oka mendengkus tertawa.


“Abang … iiiih, malah tertawa!”


“Makan, nanti keburu dingin.”


Arunika cemberut, tapi menuruti perkataan Oka dan mulai makan.


“Bukan kamu yang perlu khawatir, tapi aku.”


“Abang? Kenapa?” Arunika bertanya dengan mulut penuh.


“Sebentar lagi aku pasti sibuk PKL, tidak ada yang mengawasimu di kampus. Pasti banyak yang akan mendekatimu.”


Senyum Arunika tiba-tiba terbit. “Iiiih Abang, sweet banget siiiih! Abang tidak perlu khawatir, pokoknya Abang fokus PKL saja, aku akan setia menunggu Abang.”


“Ckkk!”


“Serius, Abaaang, pokoknya Abang the one and only deh. Cuma Abang jodoh dunia akhiratku.”


“Hahaha.”


“Hahaha.”


“Iiih, Abang. Aamiin gitu.”


“Iya ... aamiin.”


“Hehehe … semoga disegerakan ya, Bang.”


“Hahahaha.” Oka kembali tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Arunika yang dengan wajah bersemu merahnya melanjutkan makannya.


Arunika yang ceria memberi warna sendiri dalam hidup Oka, selalu membuatnya tertawa, menghilangkan penat di antara setumpuk tugas kuliah yang membuatnya terkadang sampai harus begadang bahkan lupa makan. Dan saat masalah Bentari kemarin support dari Arunika lebih dari cukup membuat Oka menyadari arti penting kehadiran gadis ceriwis itu dalam hidupnya.


Malam itu setelah makan, Oka mengantarkan Arunika pulang. Namun kali ini ada yang berbeda ketika mereka sampai di depan rumah Arunika.


“Mas Oka, ditunggu bapak di dalam.”


“Saya?”


“Iya, tadi bapak titip pesan kalau Non Arunika pulang sama Mas Oka, diminta suruh masuk dulu.”


Oka dan Arunika saling pandang. Ini adalah kali pertama Sigit Suwarno, ayah Arunika, menyuruh Oka masuk ke dalam rumahnya. Sebelumnya Oka pernah beberapa kali tanpa sengaja bertemu dengan sang politisi ketika mengantarkan Arunika, biasanya hanya pandangan tidak suka yang ditunjukan pria itu tanpa sepatah katapun.


Oka duduk di ruang tamu yang megah. Tak semegah rumah ayahnya di Surabaya, tapi yang pasti jauh lebih megah daripada rumah yang dia tempati di Cibubur. Sofa yang dilapisi kulit berwarna merah terasa sangat nyaman untuk diduduki. Vas bunga kristal berisi tangkai-tangkai bunga tulip dari kaca, lukisan abstrak yang pasti memiliki nilai seni dan harga tinggi terpasang di salah satu dinding, berbeda dengan rumahnya yang hanya terpasang lukisan hasil karya Oka untuk tugas kesenian ketika masih duduk di bangku SMA.


“Siapa namamu?” tanya Sigit memecah keheningan juga kegugupan yang dirasa Oka dan Arunika yang dari tadi duduk di depan Sigit dan Arum yang menatapnya penuh penilaian.


“Asoka. Oka.”


“Kamu kuliah di tempat yang sama dengan anak saya?”


“Iya, berbeda jurusan. Saya di teknik sipil, semester lima.”


Sigit mengangguk-anggukan kepala.


“Sudah lama kenal dengan putri saya?”


“Abang dulu yang menjadi guru les Ara, Pah.”


Sigit menatap Arunika tak suka putrinya menjawab pertanyaan yang bukan ditujukan padanya, membuat Arunika langsung tertunduk diam setelah sebelumnya melihat Arum menggeleng pelan seolah memberi tahunya untuk diam.


“Kurang lebih dua tahun,” jawab Oka membuat Sigit kembali memfokuskan tatapannya kepada Oka.


“Apa kedua orangtuamu masih ada?”


“Alhamdulillah, masih ada.”


“Apa pekerjaan mereka?"


“Mamah pensiunan guru, ayah … wiraswasta.”


“Bidang apa?”


“Property.”


“Property?”


“Iya … jual beli rumah.”


Sigit mendengkus ketika mendengar jual beli rumah. Dalam pikiran Sigit, profesi ayah Oka hanyalah sebagai makelar saja.


Oka mengerutkan kening mendengar dengkusan menyepelakan dari Sigit, dan kerutannya semakin dalam ketika Oka melihat Sigit mengeluarkan amplop coklat lalu menaruhnya di atas meja di hadapan Oka.


“Ambil.”


“Maaf, tapi apa itu?” tanya Oka bingung menatap amplop dan Sigit secara bergantian.


“Itu sebagai biaya ojek putri saya selama ini.”


“Pah!” Pekik Arunika terkejut mendengar ucapan Sigit yang menghina Oka yang juga terdiam terkejut.


“Saya tahu selama ini kamu menjemput dan mengantar pulang putri saya. Saya tidak ingin semua orang berpikiran macam-macam tentang hubungan kalian, jadi anggap saja kamu sebagai ojek langganan putri saya. Dan saya minta mulai sekarang kamu tidak perlu melakukan itu lagi, Ara akan diantar jemput oleh sopir pribadi, tidak perlu khawatir saya beri tambahan pesangon, cukup untuk biaya kuliah kamu.”


“Pah! Abang bukan tukang ojek, Ara menyukai Abang!”


“Apa yang kamu harapkan dari seorang pria seperti dia!” ucapan Sigit terasa dingin menusuk hati Oka juga Arunika. “Kamu sadarkan saat ini kita semua sedang diawasi oleh publik. Apa jadinya kalau mereka mengetahui putri Sigit Suwarno memiliki hubungan dengan mahasiswa miskin yang masa depannya tidak jelas.”


“Abang tidak seperti itu! Abang putra …”


Arunika menghentikan ucapannya ketika dirasa tangan Oka yang dingin menyentuh tangannya. Arunika bisa merasakan tangan Oka sedikit gemetar menahan amarah, membuat Arunika semakin merasa bersalah.


“Kamu itu masih polos, tidak tahu apa-apa. Jangan hanya tergoda dengan wajah tampannya saja. Kita tidak tahu, mungkin saja dia memanfaatkan wajah tampannya untuk membuatmu jatuh cinta berharap akan menaikan status sosial keluarganya.”


“Abang tidak seperti itu. Ara yang mendekati Abang terlebih dahulu, bukan Abang yang menggoda Ara, tapi Ara yang menggoda Abang.”


“Ara!” Arum memohon arunika untuk diam melalui sorot matanya, karena dia tahu Sigit malah akan semain menjadi kalau mendapat bantahan dari setiap ucapannya.


“Tapi, Bun, Abang tidak salah.”


“Orangtua saya memang bukan politisi hebat seperti Bapak.” Oka akhirnya membuka mulut setelah dari tadi mencoba menahan amarah juga sakit hatinya. “Tapi mereka adalah orang-orang hebat. Mereka adalah orangtua paling luar biasa yang saya kenal, tidak perlu saya meningkatkan status sosial saya dan keluarga saya lewat nama besar keluarga Bapak.”


Oka mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali berkata.


“Saya menyukai putri Anda dengan tulus tanpa ada niat sedikitpun untuk memanfaatkannya, atau memanfaatkan nama besar Anda, karena saya sendiripun sedang berusaha merajut masa depan sendiri tanpa melibatkan nama orangtua ataupun nama siapapun. Jadi Bapak tidak perlu takut saya akan akan mendompleng nama besar Anda demi masa depan saya. Dan … sebaiknya anda simpan uang itu. Kalau hanya untuk biaya kuliah, saya masih mampu membayarnya, alhamdulillah saya memiliki sedikit tabungan yang cukup untuk untuk membayar kuliah.”


Sigit terdiam mendengar ucapan Oka yang terlihat tenang, walaupun Sigit tahu Oka mati-matian menahan amarahnya. Seandainya Oka memiliki latar belakang keluarga yang selevel dengannya, Sigit tidak akan keberatan Arunika menjalin hubungan dengan Oka karena Sigit bisa melihat potensi yang sangat besar dari diri pria muda di hadapannya.


Namun Sigit sepertinya memegang teguh peribahasa … antah berkumpul sama antah, beras berkumpul sama beras … perjodohan baru sempurna kalau sama tingkat derajatnya.


*****