
Bentari memutar bola mata ketika melihat Oka berdiri di depan rumah, matanya menatap tajam ke arah kendaraan yang dibawa Birendra, seperti seorang ayah yang menunggu putrinya telat pulang.
“Jalannya macet!” ujar Bentari sebelum Oka membuka mulut untuk bertanya kenapa pulang larut malam.
Sebetulnya ini belum begitu malam, baru pukul 10 malam lewat sedikit. Wajarlah untuk perempuan seusianya pulang kencan jam segitu. Maksudnya Bentari sudah berumur 26 tahun bukan anak kecil lagi yang masih memiliki jam malam bukan?
Namun Bentari lupa dia memang tidak memiliki jam malam, hanya saja dia memiliki adik yang posesif.
“Mamah sama ayah mana?” tanya Bentari.
“Mamah sudah tidur, kecapean jalan seharian sama tante Mayang dan teteh. Ayah sudah kembali ke hotel karena ini sudah ma-lam.” Oka menekankan kata malam sambil menatap Birendra yang membuat Bentari kembali memutar bola matanya.
“Kalau begitu aku juga kembali ke hotel sekarang.”
“Bisa kita bicara dulu sebentar?” tanya Oka dengan raut wajah seirus.
“Ka …”
“Cuma ngobrol doang sebentar. Mending kakak masuk ke dalam, nonton tv sambil maskeran seperti biasa.”
Birendra menepuk bahu Bentari kemudian mengangguk membuat Bentari menghela napas lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan para lelaki duduk di teras depan.
“Saya langsung saja,” ucap Oka dengan sorot mata serius menatap Birendra yang duduk dengan wajah tanpa ekspresinya. “Saya minta Mas Birendra jawab dengan jujur.”
Birendra terdiam kemudian mengangguk setuju.
“Mas Birendra melakukan ini karena pekerjaan, atau karena Mas Birendra memang menyukai kakak?”
Birendra menyadari pertahanan yang harus dia tembus untuk mendapatkan Bentari bukanlah Andi Santoso yang sudah memercayainya selama ini, juga bukan Bentari yang sepertinya memang masih menyimpan rasa yang sama dengan Birendra, tapi sang calon adik iparlah benteng pertahanan yang harus dia lewati untuk mendapatkan Bentari.
“Kalau aku bilang … aku melakukan ini karena menyukai kakakmu, apa kamu akan percaya?”
“Kalau Mas Birendra menyukai kakak, kenapa Mas Birendra meninggalkan bahkan melukainya dulu?”
“Aku menyesal karena pernah meninggalkan dan menyakitinya, tapi … aku harus melakukan itu.”
“Kenapa? Kalau memang dulu Mas Birendra harus meninggalkannya, kenapa sekarang Mas Birendra kembali lagi padanya?”
Birendra lupa, saat ini dia bicara dengan Asoka, adik dari Kirana yang sangat pintar dalam memutar balikan perkataan. Tak akan mudah untuk meyakinkah seorang Asoka, tapi tak mungkin juga Birendra berkata dengan jujur walaupun mungkin Andi Santoso sudah mengetahui kebenarannya. Terlihat dari tak pernah sekalipun pria yang masih terlihat gagah diusia setengah abad itu bertanya tentang alasan Birendra meninggalkan putrinya dulu.
“Aku harus menyelesaikan sesuatu dulu.”
“Dan itu berhubungan dengan kakak?”
Birendra mengangguk pelan. “Bisa jadi, kalau aku mendiamkannya mungkin suatu saat nanti Bentari yang akan terluka.”
Oka terdiam mencoba memahai ucapan pria yang terdiam menerawang.
“Apa sekarang masalah itu sudah selesai?”
Oka tak tahu masalah apa itu dan sepertinya Birendra tak ingin menceritakannya. Oka tak akan memaksa. Mendengar ucapan ayahnya yang sepertinya sudah mengetahui masalah Birendra dan kembali percaya padanya, membuat Oka akan ikut memercayai keputusan yang diambil sang ayah, hanya saja Oka ingin memastikannya sendiri.
“Iya, sudah selesai.”
Oka kembali terdiam sesaat mencoba menilai.
“Selama ini saya menjadi saksi bagaimana terlukanya kakak, dan saya tidak ingin melihat itu kembali. Kakak walaupun terlihat tegar di luar, tetapi di dalamnya sangat rapuh apalagi setelah masalah bertubi-tubi yang harus dia lewati.”
Oka terdiam menatap Birendra dengan sungguh-sungguh.
“Jadi … jangan sakiti kakak lagi, jangan membuat dia menangis, sudah cukup dia menangis selama ini. Kalau Mas Birendra kembali hanya untuk menyakiti kakak, atau mendekati kakak karena kasus ini dan kembali hanya memberi harapan palsu… lebih baik Mas Birendra mundur saja. Biar saya yang melindungi kakak.”
Walau Oka baru mengenal Bentari sebagai saudara perempuannya belum lama ini, namun saudara tetaplah saudara. Meski sering bertengkar, jarang tegur sapa, terkadang saling membenci, tapi saudara akan menjadi orang pertama yang melindungi dan membela kita, tak akan membiarkan siapapun menyakiti saudaranya.
“Aku tahu, mungkin saat ini kamu tidak akan dengan mudah mempercayakan kakakmu kepadaku setelah apa yang ku lakukan padanya. Namun aku akan membuktikan kalau aku benar-benar tulus kepada kakakmu dan layak untuk mendapatkannya. Kalau aku kembali menyakiti Bentari, kamu tahu kemana mencariku untuk menghajarku.”
Birendra berkata tanpa keraguan sedikitpun membuat Oka terdiam sebelum akhirnya mengangguk pelan.
***
“Kita tidak bisa lagi menggunakan Anggi Santoso, publik mulai percaya kalau kasus Anggi hanya pengalihan issue dari kasus BS.”
“Santoso sudah jelas karena dia adalah ayah dari Anggi, yang kita tidak perhitungkan adalah Mahesa.”
Semua orang yang berada di ruangan itu menganggukkan kepala setuju, kecuali satu orang yang duduk di kursi kebesarannya dalam ruang kerja miliknya.
“Jadi sebaiknya kita melepaskan diri dari partai Matahari.”
“Maksud kau, aku juga harus menyerah dalam pilkada tahun depan?”
Sigit Suwarno yang dari tadi diam mendengarkan laporan tim suksesnya kini berkata dengan suara dingin membuat ruangan tiba-tiba diliputi ketegangan selama beberapa saat.
“Tidak. Bukan menyerah, tapi kita lepaskan mereka.”
“Tapi partai Matahari adalah yang terbesar saat ini.”
“Kepercayaan masyarakat kepada mereka sudah mulai berkurang karena kasus BS, kalau kita lanjut dengan mereka itu malah akan membuat nama Bapak ikut terseret.”
Semua orang terdiam mengakui kebenaran ucapan seorang pria akhir tiga puluhan, salah satu tim sukses Sigit Suwarno.
“Justru kalau kita ambil sikap mendukung pengungkapan kasus korupsi BS dan meminta masyarakat untuk mengawal kasus ini sampai tuntas, jangan sampai mereka teralihkan oleh kasus-kasus lain. Dengan seperti itu masyarakat akan melihat kalau Bapak memiliki sikap tegas anti korupsi.”
“Dan akan lebih baik lagi jika kita bisa membawa Anggi Santoso ke sisi kita, dengan begitu kita akan mendapat dukungan dari keluarga Santoso juga Mahesa, jadi tidak menutup kemungkinan para pengusaha lainnya akan ikut mendukung kita.”
Sigit menganggu-anggukan kepala dengan mata menerawang memikirkan masukan dari salah seorang tim suksesnya. Sebelum kasus BS mencuat kepermukaan, Sigit menghubungi partai Matahari. Partai yang akan mengusungnya dalam pilkada. Dia ingin memastikan apa dirinya akan aman dengan adanya kasus yang menyeret nama sang pendiri partai? Saat itulah dia mengetahui kalau mereka sudah memiliki rencana dengan Anggi Santoso sebagai pengalih issue.
Mereka bahkan sudah memikirkan secara jauh untuk menyeret Andi Santoso dalam kasus ini, mengingat selama ini Andi Santoso hanya dikenal sebagai nama saja dan jarang muncul ke hadapan publik maka akan sangat mudah untuk merekayasa sebuah skandal tentangnya.
Namun mereka tidak mengira kalau pihak Andi Santoso bisa bergerak secepat ini, hingga meruntuhkan semua rencana yang telah tersusun. Bahkan sekarang beberapa orang yang terlibat telah berhasil ditangkap pihak berwajib.
Andi Santoso …
Sigit hanya mendengar namanya saja sebagai the real crazy rich Surabaya.Selama ini Sigit tak pernah menyadari seberapa besar kekuasaan sang raja property itu, namun mengingat dia adalah besan dari keluarga Mahesa, maka sudah dipastikan dia tak bisa main-main dengan keluarga Santoso, terbukti dengan mereka bisa mematahkan rencana yang telah disusun rapi oleh tim partai Matahari.
“Papah tidak ada hubungannya dengan berita tentang Anggi Santoso kan?”
Sigit teringat pertanyaan Arunika hari dimana berita tentang Anggi sebagai pengalih issue Bima Seno tersebar.
“Apa maksud kamu?”
“Berita tentang kasus Anggi Santoso ini, bukan ide dari tim sukses Papah kan?”
“Memangnya kenapa?”
Seketika wajah Arunika memucat mendengar pertanyaan santai yang terlontar dari mulut ayahnya.
“Papah … terlibat dalam kasus ini?”
Sigit bisa melihat ketakutan, kekekcewaan, kesedihan dari mata putri bungsunya itu.
“Maksud kamu itu apa, Ra? Kenapa papah terlibat dalam kasus … siapa itu?” Mata Arunika menyelidik menatap manik ayahnya. “Apa dia artis? Apa hubungannya dengan papah?”
“Papah serius? Papah tidak ada hubungannya dengan kasus Anggi Santoso?”
Sigit terdiam sesaat sebelum akhirnya menggeleng. “Tidak. Tahu saja tidak, bagaimana bisa papah terlibat.”
Helaan napas lega terdengar jelas dari mulut Arunika.
“Kalau Papah terlibat dalam kasus kak Bi, maksud Ara, Anggi Santoso. Ara tak akan memaafkan Papah.”
Hari itu Sigit hanya mengira Arunika menyukai Anggi Santoso sebagai idola saja, tapi kini Sigit menyadari kalau selama ini Arunika tak pernah peduli dengan kehidupan artis manapun.
Apa mungkin Arunika mengenal Anggi Santoso secara langsung? Bukankah akan lebih baik kalau ternyata mereka saling berteman, jadi Sigit bisa menggunakan pertemanan mereka untuk semakin meyakinkan masyarakat kalau dirinya tidak ada hubungan apapun dengan pengalihan issue kemarin.
“Di, cari tahu semua tentang Anggi Santoso. Mulai orang-orang terdekatnya." Sigit memberi perintah kepada seseorang yang bisa dia percaya.
Alangkah lebih baik kalau Sigit bisa menyingkirkan pria yang saat ini mengaku sebagai kekasih Anggi Santoso, untuk akhirnya bisa dia jodohkan dengan Atharya. Sebelum itu dia harus memastikan kalau Anggi benar-benar bersih, tidak seperti Bima.
Sigit mungkin tidak berhasil menjodohkan Arunika dengan putra pemilik partai, tapi dia bisa menjodohkan putra satu-satunya dengan putri raja property. Bukan pilihan buruk kan?
*****