Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
42. Bi … aku rindu!



“Mas Abhi mana?” Bentari bertanya ketika Oka masuk ke dalam rumah


“Sudah balik ke hotel. Aku suruh bawa mobil kakak.” Oka menjawab sambil berjalan ke arah lemari pendingin


Bentari mengangguk cepat, seolah tak peduli mobilnya dibawa pergi orang lain.


“Kamu tadi tidak bicara macam-macam kan?”


Oka menghela napas, matanya menatap tajam Bentari yang terlihat penasaran.


“Aku tahu kakak akan segampang ini luluh kembali.”


“Kakak hanya memberi kesempatan kedua, bukankah setiap orang berhak untuk itu?” Bentari mencoba memberikan argumennya. “Aku dan papah pernah melakukan kesalahan fatal, tapi kalian semua memberikan kami kesempatan kedua. Kenapa aku tidak bisa memberikan itu untuk mas Abhi.”


“Karena dia orang lain. Dia bukan keluarga kita. Kita tidak tahu dia seperti apa. Kita juga tidak tahu alasan di balik kelakuannya selama ini menyakiti kakak, dan yang pasti … apa kakak siap untuk kembali terluka?”


Bentari terdiam mendengar ucapan Oka yang kali ini terlihat serius, bukan seperti Oka yang biasanya terlihat cuek dan iseng. Oka berjalan kemabli ke ruang keluarga dengan Bentari mengekor di belakangnya.


“Apa tadi kakak tanya alasannya dia menghilang dan meninggalkan kakak dulu?”


“Iya.”


“Dia memberi tahu kakak yang sebenarnya?”


Melihat Bentari yang terdiam membuat Oka menghela napas berat. Mengerti arti diamnya Bentari.


“Tapi dia bilang suatu hari nanti akan memberitahuku.”


“Kalau begitu, kakak tunggu saja sampai dia berkata jujur kepada kakak. Kita beri dia kesempatan hanya untuk membuktikan kata-katanya, tapi … kakak harus bisa menahan diri, jangan segampang ini luluh padanya, minimal … sampai dia bisa berkata jujur tentang alasannya meninggalkan kakak dulu. Aku tahu kakak begitu menyukainya, dan mungkin dia juga memiliki rasa yang sama. Hanya saja apa artinya sebuah hubungan kalau kalian belum saling percaya, tidak saling jujur yang kedepannya hanya akan menjadi akar dari permasalahan.”


Oka menatap Bentari yagn duduk terdiam di sampingnya.


“Aku hanya takut … takut kakak kembali terluka. Kalau sampai itu terjadi, mungkin kali ini akan semakin sulit bagi kakak untuk kembali bangkit, bahkan mungkin kakak tak akan percaya lagi akan cinta.”


Bentari terdiam karena tahu apa yang dikatakan Oka itu benar. Suatu hubungan tanpa kejujuran, itu bukanlah hubungan. Di dalam hubungan diperlukan kepercayaan, kejujuran serta keterbukaan satu sama lain. Bentari juga menyadari kalau Birendra belum begitu memercayainya untuk berbagi semua masalah yang dia pendam selama ini.


Namun selain kepercayaan, kejujuran, dan keterbukaan, diperlukan juga usaha untuk mencapai itu semua, bukan? Seperti halnya Birendra yang saat ini sedang berusaha untuk membuktikan ketulusannya perasaannya, maka Bentaripun akan berusaha untuk membuat Birendra memercayainya hingga mereka bisa berbagi semua masalah, saling menguatkan dan menopang satu sama lain.


Oke! Pertama-tama yang harus dilakukan Bentari adalah mengajarkan Birendra bagaimana cara menjalin sbuah hubungan jarak jauh.


***


“Semua pelaku korupsi dan kejahatan lainnya harus ditindak sesuai hukum yang berlaku di negri ini, tanpa terkecuali! Jangan sampai hukum kita runcing ke bawah.”


“Ini yang menjadi tersangka adalah putra dari pendiri partai yang akan mengusung Anda nanti ke bursa pilkada. Apa Anda tidak takut kalau mereka tidak jadi menduung Anda?”


“Tidak, saya rasa mereka juga memiliki visi dan misi yang sama dengan saya dalam memberantas korupsi. Kalau misalnya memang terbukti bersalah, ya harus dihukum. Proses hukumnya pun sedang berjalan bukan? Jadi saya harap masyarakat umum bisa mengawal kasus ini, jangan sampai issue-issue penting negri ini teralihkan hanya karena sebuah … skandal artis misalnya.”


“Jadi Anda pun berpikir kalau kasus salah satu selebgram tanah air yang kebetulan katanya the real crazy rich Surabaya itu hanya pengalihan issue dari kasus korupsi BS ini?”


“Untuk masalah itu saya kurang paham juga, saya kurang mengikuti berita gossip artis. Hanya saja akhir-akhir ini saya lihat di berita online maupun televisi, ko’ sepertinya lebih banyak berita yang menayangkan tentang berita artis atau selebgram ini ya dari pada kasus yang betul-betul perlu kita kawal dan kita pantau.”


Elektabilitas Sigit Suwarno meningkat setelah menjadi tamu di salah satu acara bincang politik di televisi, membuat wajah Sigit semakin sering wara-wiri di televisi dan kasus Bima Seno pun kembali mendapat sorotan publik, begitupun dengan Anggi Santoso atau Bentari yang kini medapat sorotan publik karena rasa penasaran masyarakat atas hubungannya dengan Birendra.


Seperti yang telah diperkirakan foto mereka kencan di Pacific Place hari itu tersebar luas, namun yang menarik perhatian adalah ada salah seorang yang memposting foto Birendra dan Bentari tengah makan malam di warung seafood pinggir jalan dengan senyum di wajah keduanya. Foto itulah yang membuat hampir semua orang percaya kalau Betari dan Birendra adalah sepasang kekasih. Sorot mata mereka ketika saling tatap, senyum yang terukir di wajah keduanya benar-benar menggambarkan perasaan keduanya. Hal itu membuat semua orang penasaran dengan hubungan keduanya.


Banyak pujian mengalir kepada Birendra karena dianggap sebagai orang yang berhasil mengubah gaya hidup Bentari dari glamor menjadi sederhana, dan tak sedikit pula yang penasaran dengan kelanjutan hubungan keduanya setelah kasus ini selesai. Apa akan ikut berakhir seperti kasusnya atau berakhir ke pelaminan?


Bentari :


Mas, sudah makan siang?


Jangan kerja terus!


Ingat makan!


Birendra :


Ini lagi makan.


Bentari :


No photo \= Hoax


Birendra menghentikan makannya, mengambil ponselnya kemudian mengirimkan foto bergambar soto Lamongan, nasi, dan air mineral.


Bentari :


Pinter!


Selamat makan, Mas Abhi.


Birendra :


Teman kantor


Sebentar!


Birendra menjulurkan tangannya yang memegang ponsel menjauh bersiap untuk wefie.


“Dre, geser! Tom, Gus, maju, Gus!” Birendra memberi perintah kepada temannya yang walaupun heran dengan tingkah teman mereka yang selama ini lebih seperti patung hidup, mereka menuruti interuksi Birendra. “Senyum! 1,2,3, udah!”


Birendra langsung mengirim foto keempatnya kepada Bentari.


Bentari :


👏👏👏👏


Mas Abhi paling kereeen!😍😍


Birendra tersenyum membaca pesan Bentari sebelum kembali melanjutkan makannya dengan damai tak memedulikan tatapan tak percaya ketiga rekan kerjanya.


“Opo isuk iki srengenge metu teko kulon? (Apa pagi ini matahari terbit dari arah barat?)”


“Tanda-tanda kiamat sudah semakin dekat … cairnya manusia es.”


“Mangkane nang cepet tobat! (Makanya cepet tobat!)”


Birendra tak memedulikan ucapan rekan-rekannya, dia lanjut menghabiskan makan siangnya sambil sesekali membalas chat dari Bentari.


Setelah pulang dari Jakarta, Birendra memang telah berjanji untuk melakukan sederet list yang diajaukan Bentari.


“Mas Abhi pokoknya harus memberi kabar kalau mau pergi ke mana. Aku tidak mau tiba-tiba tidak bisa menghubungi Mas Abhi, nanti aku bisa khawatir.”


Birendra mengangguk setuju.


“Mas Abhi juga kalau ada masalah cerita, aku mau kita saling terbuka. Aku mungkin tidak bisa menolong banyak, tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik dan kita bisa mencari solusi bersama-sama.”


Birendra kembali mengangguk setuju.


“Intinya komunikasi dua arah, jadi aku mau bukan hanya aku saja yang cerita ini itu, tapi Mas Abhi pun harus! Aku mau kita saling berkomunikasi tidak ada lagi yang dipendam sendiri, paham!”


Birendra mengengguk-anggukan kepala.


“Mas Abhi jangan cuma ngangguk-angguk saja. Bilang apa kek.”


“Apa?”


“Ya apa gitu, yang Mas Abhi pikirin.”


Birendra terdiam sesaat menatap Bentari. “Kalau aku bilang … aku rindu boleh?”


Bentari terbelalak sebelum akhirnya menunduk sambi menutup wajahnya yang memarah juga senyum malunya dengan sebelah tangan.


“Boleh?” Birendra kembali bertanya membuat senyum Bentari harus mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar bisa menahan senyum lebarnya.


“Boleh.”


“Bi, aku rindu.”


“Hahaha, Mas, Iiih!” Wajah Bentari semakin memerah, “Mas Abhi kan masih di sini.”


Saat ini Bentari mamang tengah mengantar Birendra yang akan kembali ke Surabaya, sedangkan Andi Santoso akan tinggal di Jakarta selama beberapa hari untuk mengecek proyek BUMI di Cileungsi.


Panggilan untuk penumpang tujuan Surabaya membuat Birendra dengan berat pergi meninggalkan Bentari setelah sebelumnya berjanji dia akan mengikuti apa yang Bentari ucapkan tadi. Bentari baru saja samapi ke parkiran ketika ponselnya berbunyi menandakan ada pesan aygn masuk.


Birendra:


Kalau sakarang sudah boleh bilang rindu?


Bi … aku rindu.


Bentari tertawa dengan pipi memerah membaca pesan Birendra yang walau terkesan cheesy, tapi mengingat wajah Birendra yang serius ketika mengatakannya membuat hati Bentari jumpalitan.


Tenang, lega ketika kita bisa mengatakan apa yang kita rasakan kepada orang yang dituju. Sama seperti halnya Birendra, setahun ini dia harus memendam rasa rindu dan kini dia bisa dengan bebas mengatakannya membuatnya tak bisa menahan diri lagi, Birendra ingin Bentari tahu kalau dia sangat merindukannya.


Birendra:


Bi … aku rindu


***