
Salsabila, perempuan dengan kulit kuning langsat dan pemilik senyum manis. Salsa biasa gadis itu dipanggil, merupakan sahabat Doni dari kecil. Seperti halnya dengan Doni, Ivan, Fahmi dan Birendra, Salsa juga memiliki nasib yang sama, kurang beruntung dengan orangtuanya. Ibunya meninggal ketika Salsa masih duduk di sekolah dasar, sedangkan ayahnya adalah seorang pemabuk dengan hutang dimana-mana hingga dikejar-kejar rentenir.
Merasa memiliki nasib yang sama, Doni dan Salsa yang bertetangga akan saling melindungi, saling menghibur, dan selalu ada satu sama lain. Bagi Doni, Salsa adalah segalanya. Doni yang diam-diam mencintai Salsa mengenalkan gadis itu kepada tiga sahabatnya dan terkadang ikut berkumpul bersama mereka.
Birendra yang pendiam terkesan dingin, namun baik hati juga pintar membuat Salsa menaruh hati. Salsa akan betah berlama-lama memandangi wajah Birendra yang tanpa ekspresi, walau tak mendapat tanggapan dari Birendra, tapi hal itu tak jadi masalah bagi Salsa. Setiap hari Salsa akan dengan senang hati membawakan Birendra bekal makanan yang dia masak sendiri. Bahkan di sekolah sudah menjadi rahasia umum kalau Salsa menyukai Birendra, gadis itu tak segan-segan akan mengikuti kemanapun Birendra pergi.
Birendra yang memang tak banyak bicara hanya akan diam, tak menolak atau pun menerima, ini yang membuat Salsa salah paham, padahal Birendra melakukan itu karena menganggap Salsa hanya teman dari Doni, bagian dari teman-teman yang memiliki nasib yang sama dengannya.
Perasaan Salsa kepada Birendra semakin hari semakin dalam, berbanding terbalik dengan Doni yang semakin hari semakin menjaga jarak, menghindari Birendra. Ketika Doni, Fahmi, dan Ivan berkumpul tertawa kemudian Birendra datang bergabung, Doni akan pergi dengan berbagai alasan, perubahan itu tentu saja dirasakan Birendra.
Birendra yang memang hanya menganggap Salsa sebagai teman akhirnya mulai mengambil sikap. Birendra menolak makanan yang dibawakan Salsa untuknya, menolak ketika Salsa memintanya mengajari pelajaran bahasa Inggris dan menyuruhnya meminta bantuan kepada Fahmi, menolak ketika gadis itu memintanya mengantar pulang, bahkan untuk menghindari Salsa, Birendra menjadi jarang ikut bergabung bersama teman-temannya.
Sikap Birendra yang berubah membuat Salsa menjadi murung. Doni yang sangat menyayangi Salsa walau hatinya sakit cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi lebih menyakitkan bagi Doni melihat cinta pertamanya terluka.
“Aku tak memiliki perasaan kepada Salsa, hanya menganggapnya sebagai teman,” ucap Birendra ketika Doni memintanya untuk menerima perasaan Salsa.
“Kamu akan menyukainya nanti! Dia perempuan baik, akan mudah untuk menyukainya.” Birendra terdiam menatap Doni yang seperti putus asa. “Terima perasaannya, hanya itu yang bisa membuatnya bahagia.”
“Bagaimana dengan perasaanmu?”
Doni menggelengkan kepala. “Aku tak peduli dengan perasaanku, aku hanya ingin melihatnya bahagia dan hanya kamu yang bisa membuatnya bahagia.” Birendra kembali terdiam. “Ya? Terima dia, Bi … lakukan ini untukku … sebagai teman.”
Birendra melihat bagaimana terlukanya Doni ketika harus memohon kepada pria lain untuk menerima perasaan perempuan yang sudah dia cintai dari dulu. Mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan orang yang dia cintai.
“Aku tak bisa. Aku benar-benar tak memiliki perasaan apapun kepada Salsa selain teman. Kalau aku memaksakan diri menerimanya bukan hanya aku yang terluka, tapi dia, juga kamu akan terluka.”
Doni terlihat semakin putus asa.
“Bukan kah kamu menyukainya dari dulu? Kamu yang bisa membahagiakannya bukan aku.”
“Tapi dia tidak menyukaiku!” Geram Doni. “Dia menyukaimu, Bi!”
“Dan aku tak menyukainya,” ucap Birendra masih dengan suara tenang dan wajah tanpa ekspresi, “Kenapa kamu tidak membuatnya mencintaimu? Menurutku akan lebih mudah membuatnya mencintaimu, daripada membuatku mencintainya.”
“Tidak semudah itu, Bi. Selama ini aku selalu ada di sampingnya, tapi dia tak pernah melihatku, tidak pernah menatapku seperti dia menatapmu.”
“Itu tidak benar kan?”
Birendra dan Doni mentap ke arah suara dimana Salsa berdiri dengan sorot mata terkejut menatap keduanya.
“Itu tidak benar bukan? Kamu tidak menyukaiku kan, Don? Katakan kalau kamu hanya bercanda!”
“Sa …”
“Jadi, kamu menolakku karena Doni?” Salsa tak memedulikan Doni, dia kini menatap Birendra yang masih berdiri tanpa ekspresi. “Doni hanya bercanda, dia tidak mungkin menyukaiku, kami sudah seeperti adik kakak.”
“Tidak, bukan karena Doni. Aku memang hanya menganggapmu sebagai teman, tidak lebih.”
“Tidak itu tidak mungkin! Aku tahu kamu pun menyukaiku, Bi. Kamu selalu makan apapun masakan yang aku masak untukmu, dan selalu memuji masakanku enak.”
“Masakanmu memang enak, sayang kalau tidak dimakan.”
“Kamu bahkan memujiku cantik ketika aku potong rambut.”
“Iya, Fahmi, Ivan dan yang lainnya pun bilang kamu cantik ketika potong rambut.”
“Kamu selalu mau mengantarku kemanapun aku pergi.”
“Karena kamu selalu memaksaku untuk mengantarmu.”
Salsa terdiam mendengar ucapan Birendra. Hatinya terasa sakit menyadari kalau selama ini dia salah menilai kebaikan Birendra sebagai rasa suka, tubuhnya gemetar, matanya mulai berkaca-kaca, kepalanya menggeleng mencoba menyangkal kenyataan kalau selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Sa!” Doni memanggil Salsa yang pergi dengan setengah berlari dan berurai airmata. “Bajingan!” Doni menarik kerah Birendra yang hanya terdiam. “Kamu bisa sedikit berbohong dan tidak melukai hatinya seperti itu!”
“Aaaarrrrggghhh!!!” Doni mendorong tubuh Birendra hingga tersungkur, dia berlari mengejar Salsa bersamaan dengan datangnya Fahmi dan Ivan.
“Onok opo iki? (Ada apa ini?)” tanya Fahmi setelah melihat Doni pergi dengan wajah marah dan Birendra tengah berusaha berdiri.
Birendra menggelengkan kepala sambil membersihkan debu di baju dan celana ketika terdengar suara decitan ban, dilanjutkan dengan debuman keras bersamaan dengan terikan Doni.
“SALSA!!!”
Birendra, Fami dan Ivan saling tatap dengan mata terbelalak seketika mereka berlari ke depan. Di pinggir jalan beberapa orang berkerumun, terdengar suara Doni yang gemetar memanggil-manggil nama Salsa.
Birendra, Fahmi dan Ivan membelah kerumunan, terlihat Doni berjongkok dengan tubuh gemetar di samping tubuh Salsa yang tak bergerak bersimbah darah. Fahmi dan Ivan langsung ikut berjungkok, membantu Doni mengangkat tubuh Salsa untuk dibawa ke rumah sakit.
Sedangkan Birendra hanya berdiri mematung, jantungnya berdetak menggila, napasnya mulai terasa sesak, dengan terengah-engah dan keringat dingin membasahi tubuh dia berjalan sempoyongan menjauh dari kerumunan sebelum akhirnya dia memuntahkan seluruh isi perutnya.
Melihat tubuh Salsa yang bersimbah darah, kembali mengingatkan Birendra akan kejadian Alika. Tatapan semua orang seolah menatapnya dengan penuh kebencian. Rasa bersalah mulai menyeruak kepermukaan, seandainya tadi dia bisa berbohong kepada Salsa, seandainya dia menyetujui Doni untuk menerima perasaan Salsa, seandainya … kalimat seandainya terus mengisi kepala Birendra dan semakin menjadi ketika dokter mengabarkan kalau nyawa Salsa tidak dapat ditolong lagi.
Raungan kemarahan Doni yang menyalahkan Birendra semakin membuat penyesalan Birendra menjadi, panggilan anak pembawa sial kembali dia dengar. Birendra bahkan membiarkan Doni menghajarnya hingga babak belur di samping pusara Salsa.
Semenjak hari itu, Birendra kembali menjadi sosok yang menutup diri dari dunia luar, sekuat apapun Fahmi dan Ivan menarik kembali Birendra selalu mengalami kegagalan, pada akhirnya mereka pun menyerah. Birendra kembali menjadi sosok penyendiri, tanpa ketiga teman yang mulai telah terpecah belah.
“Sejak saat itu, aku kembali menutup diri. Aku bahkan memutus hubungan dengan teman-temanku, sampai akhirnya setahun lalu. Saat itu aku baru ke luar dari toko perhiasan ketika bertemu dengan Doni.”
Bentari merangkul lengan Birendra erat, masih dengan setia mendengarkan kisah masa lalu pria yang dia sayangi.
“Doni yang mengetahui hubungan kita, mengingatkanku akan nasib sialku yang melukai perempuan-perempuan yang menyayangiku. Hari itu kecemasanku kembali datang, bayangan Salsa dan Alika yang bersimbah darah, berganti denganmu … aku takut, takut kalau itu menjadi nyata … aku tak mau kamu terluka.”
Bentari melepaskan rangkulan di lengan Birendra untuk kemudian memeluknya erat.
“Karena itu Mas Abhi dulu meninggalkanku?”
Birendra mengangguk di bahu Bentari. “Aku tak mau kamu terluka, Bi.”
“Aku baik-baik saja.” Bentari merenggangkan tubuh mereka untuk menatap manik mata Birendra. “Kalaupun aku terluka, itu bukan salah Mas Abhi, itu semua terjadi atas kehendak Allah. Apa yang terjadi dengan ibu kandung Mas Abhi, nenek Mas Abhi, Alika, Salsa, itu semua terjadi karena sudah takdir mereka. Mas Abhi jangan menyalahkan diri sendiri lagi, oke?!”
Birendra melihat kesungguhan di dalam sorot mata Bentari membuat Birendra tersenyum kemudian mengangguk yang mendapat hadiah pelukan kembali dari Bentari.
“Mas Abhi tidak mau aku terluka?” Birendra mengangguk, tangannya memeluk Bentari erat. “Kalau begitu, Mas Abhi, harus bernjanji padaku tidak akan meninggalkanku lagi seperti dulu.”
Kali ini dengan penuh keyakin Birendra mengangguk, dia tak akan meninggalkan Bentari, berharap nasib baik akan menaungi mereka.
Semua orang memiliki takdirnya masing-masing, memiliki jalan hidupnya masing-masing. Semenjak dalam kandungan sudah tertulis umur, jodoh, takdir semua orang. Tuhan yang berkuasa atas semuanya, manusia hanya menjalankan takdirnya sendiri.
Jangan menyalahkan manusia atas nasib buruk seseorang karena mungkin itulah takdirnya, dan manusia tak memiliki kuasa untuk merubah itu.
***
“Bagaimana? Apa kamu menemukan sesuatu tentang pengacara itu?”
Seorang pria menyerahkan berkas hasil penemuannya kepada Sigit yang membacanya dengan serius, sebelum akhirnya seringai menghiasi wajah sang politisi.
“Lempar ini ke media, secepatnya.”
“Baik.”
Pria itu ke luar dari ruangan meninggalkan Sigit dengan segala rencana yang berputar di kepalanya.
Manusia boleh saja berencana, namun Tuhan yang menentukan apa rencana itu akan berhasil apa tidak?
*****