
“Selama ini aku tak mengetahui alasan kenapa bunda memerlakukanku berbeda dengan saudara - saudarku yang lain. Bunda tidak memerlakukanku dengan kejam seperti halnya ibu tiri di film-film. Semua kebutuhanku tetap terpenuhi, tidak ada yang dibeda-bedakan. Hanya saja … bunda terkesan dingin, tidak sehangat ketika berbicara dengan kakak-kakakku.”
Antara percaya dan tidak Oka mendengarkan Arunika yang mulai bercerita, sesekali gadis itu akan menerawang mencoba mengingat masa lalunya.
“Aku berpikir apa karena aku tak sepintar kak Sisil yang sering menjadi juara umum?” Arunika menatap Oka seolah dia bertanya pada lelaki di hadapannya. “Aku belajar mati-matian berharap bunda akan bangga dan memujiku. Walau tak berhasil menjadi juara umum, tapi aku berhasil ranking satu. Namun yang ku dapat hanya sejumlah uang … tak ada pujian apalagi pelukan.”
Arunika menyeruput coklatnya berusaha menenangkan dirinya kembali.
“Apa karena aku tidak cantik? Apa karena aku gendut? Apa karena aku kurus? Apa karena aku bukan anak baik? Dan banyak lagi berbagai macam alasan logis yang coba ku cari dari alasan sikap bunda kepadaku. Setiap aku mau melakukan sesuatu aku akan ragu dan bertanya pada diriku sendiri … bagaimana kalau bunda tidak menyukainya? Bagaimana kalau bunda semakin kecewa padaku? Bagaimana kalau bunda semakin menjauhiku? Hingga pada satu titik aku merasa insecure dengan diriku sendiri … kepercayaan diriku hilang.”
Oka hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar. Arunika yang selama ini terlihat baik-baik saja, terlihat ceria hingga bisa menularkan keceriaannya kepada orang-orang di sekitarnya pernah merasa insecure terhadap dirinya sendiri. Mirisnya penyebab itu semua bukan karena perundungan dari pihak luar, tapi dari keluarganya sendiri.
“Kak Athar, orang yang menyadari perubahan sikapku mencoba mengembalikan kepercaya dirianku. Kak Athar akan menghabiskan waktu bermain denganku, membawaku ke tempat-tempat menarik, dan setiap aku tertawa kak Athar akan memujiku … kamu cantik kalau tertawa seperti itu. Ketika aku berhasil melakukan sesuatu walau hal kecil, kak Athar akan mengatakan … keren! Hebat kamu bisa melakukan itu.”
Bibir Arunika sedikit tertarik ke atas hingga membentuk sebuah senyum manis walau sorot matanya masih menunjukan kesedihan.
“Hal sederhana bukan? Hanya sedikit pujian dari keluargaku sendiri perlahan memunculkan lagi rasa percaya diriku. Walau bukan dari bunda.”
Arunika kembali menghela napas berat.
“Papah dan kak Athar benar-benar memanjakanku, berbeda bunda yang selalu bersikap dingin, sedangkan kak Sisil … terkadang dia biasa saja, terkadang juga dia seperti bunda yang bersikap dingin padaku dan menatapku dengan pandangan benci. Aku pernah bertanya kepada kak Athar kenapa bunda dan kak Sisil seperti itu kepadaku? Saat itu kak Athar bilang karena kak Sisil itu mirip bunda, yang tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang. Sedangkan aku mirip dengan kak Athar, yang suka bersenang-senang. Klise dan sederhana, tapi bagiku yang saat itu masih berusia 10 tahunan, itu seperti sebuah jawaban dari soal yang tak pernah ku tahu jawabannya.”
“Mulai saat itu setiap bunda atau kak Sisil berlaku dingin padaku. Diam-diam aku akan tertawa dan mengatakan, iya, mereka memang mirip, tak tahu bagaimana bersenang-senang dan kak Athar akan setuju denganku.”
Arunika kembali tersenyum mengingat dulu ketika ibu dan kakak sulungnya bersikap dingin padanya, dia akan lari ke kamar Atharya sambil membawa banyak makanan seolah itu adalah tempat persembunyiannya. Di dalam kamar mereka berdua akan menghabiskan makanan itu sambil bermain permainan apa saja, kemudian tertawa berdua.
“Aku pikir setelah pernikahan kak Sisil dan kepindahannya ke Makasar, aku akan semakin dekat dengan bunda mengingat di rumah itu hanya tinggal aku yang tinggal dengan kedua orangtuaku, tapi aku salah. Bunda malah semakin bersikap dingin, sekuat apapun aku mencoba dekat dengannya … itu tak pernah berhasil. Bunda benar-benar membangun dinding yang sulit ku tembus. Sedangkan kak Athar, orang yang selama ini selalu berada di sampingku karena pekerjaannya harus pindah rumah dan jarang pulang. Aku benar-benar merasa sendiri. Sampai akhirnya Abang hadir, dan aku seolah kembali memiliki seorang tempatku bergantung.”
Arunika menatap Oka dengan senyum lembut.
“Ya, walaupun Abang juga bersikap cuek, tapi Abang tak pernah bersikap dingin padaku. Abang akan membiarkanku menceritakan apapun, dan mendengarkanku tanpa mengeluh. Karena itulah aku gembira ketika hari itu bertemu Abang di TSM … hari dimana untuk pertama kalinya aku mengetahui alasan bunda bersikap dingin selama ini kepadaku.”
Senyum yang tadi sempat muncul kini kembali hilang. Wajah Arunika kembali terlihat sendu dan dengan suara lirih dia kembali bercerita.
“Akhir-akhir ini papah selalu memintaku untuk berkenalan dengan putra petinggi salah satu partai terbesar negri ini. Partai yang akan mengusungnya dalam pilkada nanti. Tentu saja aku menolak walaupun papah selalu mengatakan kalau kami hanya berkenalan, berteman saja, tapi aku tak sebodoh itu. Aku tahu kemana perkenalan itu akan berakhir. Dan untuk pertama kalinya bunda membelaku. Dia menentang keinginan papah, dan itu membuatku gembira karena untuk pertama kalinya aku merasa kalau bunda peduli padaku. Namun ternyata alasannya menentang papah adalah karena aku tak pantas untuk bersanding dengan putra salah satu putra pejabat negara itu … anak haram, anak hasil hubungan gelap, itu yang bunda ucapkan.”
Suara Arunika tercekat mengingat lagi hari dimana untuk kesekian kalinya Sigit Suwarno meminta Arunika berkenalan dengan putra politisi ternama yang akan mengusung Sigit dalam bursa pilkada DKI nanti.
“Mereka tak mengetahui kalau aku mendengar pertengkaran mereka di ruang kerja papah. Aku menguping di luar, saat itulah bunda mengatakan bagaimana kalau sendainya mereka mengetahui identitasku yang sebenarnya kalau aku hanya anak haram, anak dari hubungan gelap papah dengan salah satu staffnya.”
Suara Arunika mulai bergetar, air mata perlahan mulai bergulir membuat Oka menggenggam tangannya memberi kekuatan.
“Saat itu aku langsung lari ke luar rumah, terus berlari tanpa arah tujuan dengan pikiran kacau. Satu sisi aku berharap kalau aku salah dengar, tapi di sisi lain aku meyakini kalau itu benar mengingat perlakuan bunda kepadaku selama ini. Pikiranku benar-benar kacau, dadaku terasa sesak, hingga tak terasa berjalan tanpa arah tujuan sambil menangis seperti orang gila. Setelah lelah berjalan dan menangis, aku ragu untuk kembali ke rumah, takut kalau apa yang tadi ku dengar merupakan sebuah kebenaran.”
“Namun … aku tak ingin sendiri. Aku tak ingin berada dalam keheningan yang membuatku kembali mengingat ucapan bunda. Aku ingin berada di keramaian yang membuatku bisa melupakan sebentar tentang kejadian itu, karena itulah aku memutuskan menghabiskan waktuku di TSM, berjalan menyusuri setiap lantai, memasuki satu toko ke toko lain hanya untuk mengalihkan pikiranku. Untung saja saat itu aku tak membawa dompet, kalau tidak … aku yakin akan menghabiskan bayak uang untuk membeli sesuatu yang tak penting hanya sebagai pengalih perhatianku saja. Aku bahkan berkenalan dengan beberapa orang pria, mereka mengajakku pergi untuk melepas stress dan aku hampir saja setuju seandainya aku tak melihat Abang memasuki supermarket saat itu.”
Oka terkejut mendengar Arunika bahkan sampai nekad mau pergi dengan orang yang baru dikenalnya. Beruntung Oka berada di sana saat itu, kalau tidak? Mungkin apa yang ditakutkan Bentari dan Oka akan terjadi, atau mungkin jauh lebih berbahaya mengingat orang yang mengajak Arunika pergi adalah orang asing.
“Hari itu aku benar-benar bersyukur karena bertemu Abang dan bisa mengalihkan pikiranku dari masalah rumah. Ketika pulang keadaan di rumah terlihat seperti biasanya. Aku ingin menyangkal semua yang tadi ku dengar, dan melihat kedua orangtuaku yang bersikap seperti biasanya, itu menjadi pembenaran atas penyangkalan. Kalau aku hanya salah dengar saja. Namun ternyata aku salah … karena tak pernah ada rahasia yang abadi, cepat atau lambat semua akan terbongkar. Dan malam ini adalah waktunya.”
Arunika terdiam sesaat, matanya menatap tangannya yang berada dalam genggaman tangan Oka.
Arunika tertunduk antara malu bercampur dengan rasa bersalah mengingat kembali bagaimana ayahnya menghina Oka tanpa mengenalnya terlebih dahulu, menyebutnya sebagai lelaki yang tak memiliki masa depan juga tak pantas menjadi bagian keluarganya.
“Papah bilang kalau abang tak pantas untukku dan menjadi bagian dari keluarga kami. Saat itulah aku membalas perkataannya dengan mengatakan, bukankah aku juga tak pantas untuk menjadi menantu mereka? Bukankah aku hanya anak haram dari hubungan gelap papah?”
Arunika mengehela napas berat, seolah dengan melakukan itu sesuatu yang menghimpit dadanya hingga terasa sesak akan ikut ke luar.
“Aku harap mereka akan menyangkalnya, atau setidaknya berbohonglah untukku … katakan kalau aku salah, kalau aku adalah putri kandung bunda … tapi yang ke luar dari mulut papah adalah satu pertanyaan yang berhasil membuat duniaku hancur dalam sesaat … bagaimana kamu tahu?”
Saat itu tubuh Arunika taras lemas, dadanya sakit, kepalanya seolah berputar berusaha kembali menyangkal dengan air mata yang terus berderai.
Flashback.
“Jadi itu benar? Kalau aku bukan anak Bunda? Kalau aku hanya anak haram?”
“Bagaimana kamu tahu?” Sigit bertanya dengan mata membulat, sedangkan Arum hanya terdiam dengan keterkejutan yang sama besarnya dengan Arunika juga Sigit.
“Jadi ini alasan Bunda memerlakukanku berbeda selama ini? Karena aku bukan anak kandung Bunda?” Arum masih terdiam, begitupun dengan Sigit. “Tolong katakan kalau aku salah, katakan kalau aku adalah anak kandung Bunda.”
Arunika bersimpuh memegang tangan Arum dengan air mata terus berderai, dengan suara tercekat dia memohon.
“Bun … Bunda … Ara putri Bunda kan? Waktu itu Ara hanya salah dengarkan, Bunda? Iya kan Ara anak Bunda?”
Arum tetap bergeming membuat tangis Arunika semakin deras.
“Bunda … Bunda … Ara anak kandung Bunda kan? Iya kan Bunda? Papah tidak pernah selingkuh kan Bunda? Papah sangat sayang sama Bunda, jadi bagaimana mungkin papah selingkuh.”
“Itu benar.”
Arum membuka suaranya, matanya menatap mata Arunika yang memancarkan kesedihan juga kehancuran teramat dalam, namun itu tak menyurutkan Arum untuk mengungkap kebenaran yang selama ini mereka simpan rapat-rapat.
“Kamu bukan anak kandungku.”
“Arum!”
“Tidak, Bunda pasti salah.” Arunika masih mencoba berharap kalau itu tidak benar, walau tubuhnya kini seolah tak bertulang membuatnya langsung terduduk di atas lantai di depan kaki perempuan yang dia kira ibu kandungnya selama ini.
“Papahmu selingkuh dengan salah satu staffnya, dan kamu adalah hasil perselingkuhan itu.”
“Arum, cukup!”
Teriakan Sigit tak membuat Arum menghentikan ucapannya yang membuat Arunika seperti kehilangan jiwanya. Dia hanya terdiam dengan mata kosong yang terus mengeluarkan air mata menatap Arum yang menatapnya dengan penuh kebencian juga rasa sakit.
“Kamu bukan anak kandungku. Kamu adalah anak haram hasil dari perselingkuhan suamiku. Jelas?!”
Setelah mengatakan itu Arum berdiri meninggalkan Arunika yang masih bersimpuh di atas lantai dengan tubuh yang seolah tak memiliki jiwa lagi. Sigit pergi menyusul Arum masuk ke dalam kamar dan teriakan-teriakan kembali terdengar di sana.
Arunika tak memedulikan teriakan itu. Bersusah payah dia berdiri sampai akhirnya dengan terseok-seok dia berjalan ke luar rumah. Di bawah guyuran hujan malam itu dia terus berjalan tanpa arah, matanya yang kosong terus mengeluarkan air mata, dadanya terasa sakit juga sesak. Dia terus berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah, sampai akhirnya sedikit akal sehatnya kembali hadir. Dan orang yang pertama Arunika ingat adalah … Asoka Danubrata.
*****