Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
45. Si anak pembawa sial



“Mas Abhi, mau cerita?” Bentari menyeruput kopi, matanya menatap Birendra yang juga tengah menatapnya.


Udara pegunungan yang sejuk, alam yang asri dengan pohon-pohon menjulang dan hamparan rumput hijau, ditambah suasana yang damai membuat semua orang terasa nyaman melupakan sesaat segala kepenatan dan masalah hidup … begitupula dengan Birendra.


“Apa yang mau kamu tahu?”


Ada kesungguhan dari pertanyaan itu seolah dia akan menjawab semua pertanyaan Bentari tentang masa lalunya, bertaruh dengan kepercayaan yang dia pegang untuk perempuan yang menatapnya lembut dengan senyum manis.


“Hmmm … apa, Mas Abhi, keberatan kalau aku bertanya tentang keluarga Mas Abhi?”


Keluarga … Birendra terdiam dengan pandangan menerawang sesaat sebelum dia kembali menatap Bentari dan mulai bercerita.


“Keluargaku tidak sehebat keluargamu. Mereka hanya pengusaha kecil yang memiliki toko oleh-oleh di daerah Pandanaran, Semarang.”


Sesaat Birendra menatap Bentari mencoba melihat reaksi gadis itu sebelum kembali melanjutkan kisahnya setelah melihat tak ada perubahan dari reaksi gadis yang mengenakan jaket warna mocca, sewarna dengan jaket parka yang dia kenakan.


“Mas Abhi punya saudara? Kakak atau adik?”


Birendra perlahan mengangguk. “Adik … laki-laki dan perempuan.”


Birendra menatap tetesan-tetesan ekstraksi kopi dari alat seduh kopi yang terpasang di atas cangkir, seolah tetesan-tetesan kafein itu memberikan ketenangan kepadanya untuk kembali bercerita.


“Yudis, dia paling kecil dan sekarang masih kuliah di Brawijaya, Malang. Adik perempuanku, Alika, dia yang membantu orangtua kami mengurus toko dan katanya akan menikah dua bulan lagi.”


“Waaah, Mas Abhi bakal dilangkah, hahaha.”


Birendra hanya tersenyum samar.


“Aku tak begitu dekat dengan keluargaku. Dari SMA aku ikut dengan pak lek Wahyu, adik ibu kandungku.”


Alis Bentari sedikit terangkat ketika mendengar kata ibu kandung.


“Ibu kandungku sudah meninggal ketika aku … bayi. Aku tak tahu wajah ibuku sampai akhirnya aku pindah ke rumah pakle Wahyu di Surabaya, saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat wajah ibu kandungku lewat foto tua.”


Sesaat keheningan menyelimuti keduanya, Bentari ingin kembali bertanya menuntaskan rasa penasarannya, tapi melihat raut wajah Birendra yang kembali tak terbaca membuat Bentari mengurungkan niatnya.


“Dari pada dengan kedua adikku, aku lebih dekat dengan Sifa, adik sepupuku.” Senyum kembali hadir di wajah Birendra ketika bercerita tentang adik sepupunya. “Waktu Sifa melihat konferensi pers, dia langsung menghubungiku dan heboh sendiri.”


Bentari tersenyum melihat Birendra yang menggelengkan kepala lemah sambil menghela napas mengingat kelakukan adik sepupunya itu.


“Sepertinya dia orang yang menyenangkan, Mas Abhi harus mengenalkan aku pada Sifa nanti.”


“Kalau kamu ke Surabaya, nanti aku kenalkan kepada keluarga pak lek Wahyu.”


Bentari mengangguk dengan senyum lebar, namun ada yang mengganjal dalam hati Bentari. Birendra akan mengenalkannya kepada keluarga omnya bukan keluarga Birendra sendiri. Apa hubungan Birendra dengan keluarganya sendiri tidak baik?


“Mas Abhi … suka pulang ke Semarang, bertemu keluarga Mas Abhi?” Bentari memberanikan diri bertanya, untuk sesaat Bentari menyesali pertanyaannya yang membuat senyum Birendra hilang.


Pria berkacamata dengan penampilan casual. Kaos putih, jeans hitam ditambah jaket parka warna mocca. Menyeruput kopinya berharap kafein bisa memberinya sedikit keberanian untuk bercerita.


“Tidak ada yang mengharapkan kepulanganku, jadi untuk apa aku pulang?” Terdengar nada getir dalam suara Birendra membuat Bentari semakin menyesal karena bertanya.


“Kalaupun aku pulang yang kuterima hanya perkataan yang menyakitkan juga tatapan kebencian … dari bapakku sendiri.”


Kalau bukan Birendra yang mengatakannya dengan sorot mata terluka, mungkin Bentari tak akan percaya seorang Birendra Abhimana dibenci oleh ayahnya sendiri.


“Ada kalanya orangtua marah sama anaknya, atau anak marah sama orangtua. Aku … aku pernah marah sama ayah dan mamah Mayang karena menyembunyikan identitasku, atau ayah yang marah karena pergaulanku dulu. Tetapi orangtua tetaplah orangtua yang akan memaafkan apapun kesalahan anaknya, yang akan membela kita walau harus dia yang menanggung kesakitan. Begitupun anak, semarah-marahnya pada orangtua, kita tetaplah anak yang akan merindukan kehadiran dan kasih sayang orangtua dalam hidup kita.”


“Sebagian orang memiliki keberuntungan itu, mendapat kasih sayang dari orangtua, merasa dilindungi dan disayangi walau apapun yang terjadi. Namun sebagian lagi merasa kalau kasih sayang orangtua adalah hal yang sangat mewah ... dan aku salah satu dari sebagian orang itu.”


Birendra kembali menyeruput kopinya, rasa pahit, manis dan hangat langsung terasa sedikit menghangatkan badan dari udara pegunungan sore hari yang semakin dingin, sedingin hatinya, akan tetapi melihat tatapan lembut Bentari membuat Birendra menyadari kalau kali ini dia tidak sendiri, ada seseorang yang berdiri di sampingnya.


“Mas Abhi bukan anak pembawa sial!”


Bentari tak menyukai panggilan itu. Bagaimana mungkin ada orangtua yang memanggil anaknya sebagai pembawa sial.


“Bertemu Mas Abhi adalah sebuah keberuntungan untukku. Mas Abhi menolongku ketika aku sendiri tak tahu harus bagaimana, bahkan ketika aku berada di ujung jurang keputus asaan, Mas Abhi tetap di sampingku, menyadarkanku, menolong dan membimbingku.”


“Tapi kemudian meninggalkanmu dan menyakitimu.”


“Namun Mas Abhi kembali!” Bentari menggenggam tangan Birendra berusaha meyakinkan kalau dia bukanlah seorang pembawa sial. “Mas Abhi kembali datang di saat yang tepat. Ketika aku lagi-lagi berada dalam masalah dan kali inipun Mas Abhi yang menolongku. Mas Abhi bukan orang pembawa sial, Mas Abhi adalah penyelamatku.”


Entah kenapa namun mendengar ucapan Bentari membuat hati Birendra terasa lega, seolah ada beban yang selama ini bercokol kini terangkat, hingga membuat Birendra balas menggenggam tangan Bentari kemudian tersenyum.


“Boleh aku tahu kenapa bapak Mas Abhi …”


“Menyebutku anak pembawa sial?”


Bentari mengangguk, tak kuasa dia menyebut kalimat tak pantas itu, apalagi ketika diucapkan oleh orangtua kepada anaknya.


“Ibu kandungku meninggal ketika melahirkanku.” Bentari kembali terkejut mendengar ucapan Birendra yang kali ini terlihat lebih tenang ketika bercerita. “Bapak yang tak terima kepergian ibu, menyalahkanku yang bahkan belum mengerti apapun atas kematian ibu.”


Birendra menyeruput kopinya yang sudah tak lagi panas, kembali mengisi keberaniannya lewat secangkir kafein ditambah semilir angin pegunungan membuat perasaannya menjadi ringan ketika bercerita tentang salah satu kisah terburuk dalam hidupnya.


“Dari bayi aku dibesarkan oleh nenek karena bapak menikah kembali dan dia tak ingin membawaku dalam keluarga barunya. Tapi ketika aku berumur 9 tahun, nenek meninggal. Satu-satunya orang yang menyayangiku akhirnya meninggalkanku untuk selamanya. Saat itulah mau tidak mau bapak membawaku tinggal bersama dengan keluarga barunya.”


Birendra sedikit menyunggingkan senyum membuat Bentari ikut tersenyum.


“Walaupun mereka menganggapku tak ada, tapi aku tak peduli. Aku hidup di duniaku sendiri, aku pulang ketika menjelang malam, atau ketika di rumahpun aku akan mengurung diri di dalam kamar. Panggilan sebagai pembuat onar, pemalas, pembawa sial menjadi nama lainku ketika kecil.”


Birendra menggali memorinya kepada puluhan tahun silam ketika makian, bentakan dari orang yang seharusnya menjadi pelindung membuatnya menjadi pribadi yang tertutup. Senyum benar-benar sudah menghilang dari dunia Birendra kecil, merasa tak percaya diri dan juga tak diinginkan oleh dunia membuat Birendra kecil menutup diri dari dunia luar.


Bagi Birendra ketika dia sendiri, dunia terasa damai. Tak ada bentakan, caci maki, sebutan-sebutan yang membuatnya semakin merasa kerdil.


“Alika … mungkin di rumah itu hanya Alika yang menganggapku sebagai keluarga, sedangkan Yudis dia masih terlalu kecil belum mengerti apapun. Alika akan mengikutiku kemanapun aku pergi … Mas Abhi, dia memanggilku seperti kamu memanggilku.”


Bentari tersenyum melihat mata Birendra yang menatap teduh dan lembut.


“Saat itu aku sudah SMA kelas 1 dan Alika kelas 6 SD. Alika yang selalu ingin ikut kemanapun aku pergi, hari itu tanpa sepengetahuanku diam-diam mengikutiku sampai akhirnya ketika menyeberang jalan … sebuah angkutan umum menabraknya.”


Birendra masih ingat hari itu, hari terburuk dalam hidupnya.


“Dasar, go*blok! Anak pembawa sial!” Teriak Karno, ayah Birendra, seketika sampai di rumah sakit. “Tak cukup kau bunuh ibumu, sekarang kau mau bunuh adikmu!”


Karno memojokkan Birendra ke tembok, tak peduli wajah pucat dan tubuh putra sulungnya itu gemetar karena syok dengan pakaian kotor oleh noda darah Alika yang sepanjang jalan menuju rumah sakit dia peluk tak ingin melepaskannya .


“Ibu kandungmu, nenekmu, dan sekarang adikmu! Berapa orang lagi yang akan kau bunuh?!”


Tubuh Birendra semakin gemetar, napasnya terengah-engah, matanya tak sanggup menatap mata Karno yang menyorotkan amarah.


“Kalau sesuatu yagn buruk sampai terjadi pada Alika.” Karno mencengkram kerah baju Birendra menariknya hingga mencekik leher Birendra. “Aku yang akan membunuhmu sendiri, paham!”


Birendra yang memang sudah menutup diri semakin menutup diri dari dunia. Dia menyalahkan diri sendiri apalagi ketika mendengar Alika sempat kritis dan hampir tak bisa diselamatkan, penyesalan semakin menjadi hingga pada titik dia ingin bunuh diri. Berharap kematian akan memeluknya, memberinya sedikit kedamaian.


Malaikat maut hampir saja merenggut nyawa Birendra kalau saja pak lek Wahyu datang terlambat. Dia mendengar berita tentang Alika yang kecelakaan dan Birendra yang mengurung diri berhari-hari di dalam kamar, datang dari Surabaya dan langsung mendobrak pintu kamar Birendra. Matanya membelalak ketika menemukan tubuh Birendra yang terkulai di atas lantai kamar dengan beberapa bungkus obat sakit kepala yang telah kosong.


Pak lek Wahyu dengan cepat membawa Birendra ke UGD dan langsung mendapatkan penanganan. Untung saja Birendra masih bisa diselamatkan walau tidak sadarkan diri selama 2 hari. Setelah sadar pun Birendra seperti sebuah boneka yang tak bernyawa, hingga akhirnya pakle Wahyu memutuskan membawa Birendra ke Surabaya bersamanya.


*****