
Bentari merasa tubuhnya menggigil, bukan karena udara puncak yang semakin dingin, tapi karena mendengar masa kelam dari seorang Birendra Abhimana yang selama ini terkesan dingin dan kaku ternyata memiliki masa kecil yang suram.
Membayangkan Birendra kecil duduk sendirian di dalam kamarnya seorang diri, tanpa kasih sayang dari orangtua.
Bagaimana saat Birendra sakit, apa ada seseorang yang merawatnya? Memberinya obat? Menyuapinya makan? Atau dia hanya akan tertidur di bawah selimbut lusuh sampai tubuhnya pulih dengan sedirinya?
Sungguh, dada Bentari sesak memikirkan hal itu.
“Mau jalan-jalan?”
Suara Birendra membuyarkan lamunan Bentari tentang Birendra kecil yang kesepian. Sesaat dia terdiam menatap Birendra sebelum mengangguk dengan senyuman walau tenggorokannya terasa panas menahan tangis.
“Mas Abhi pasti kesepian.”
Birendra mengangguk, matanya menerawang mengingat masa lalu. Saat ini mereka berdua berjalan di hutan pinus, terlihat beberapa pengunjung lainnya tengah melakukan foto-foto di antara pohon-pohon menjulang yang terlihat cantik.
Birendra terus berjalan dengan Bentari berdiri di sisinya, merangkul lengannya erat seolah mengatakan kalau kini Birendra tak sendiri lagi, akan selalu ada Bentari di sisinya.
“Aku sudah biasa dengan rasa kesepian itu.”
“Tidak.” Bentari menghentikan langkah mereka. “Mulai sekarang Mas Abhi tidak akan kesepian lagi, jadi mulai sekarang Mas Abhi harus terbiasa dengan adanya aku di sisi Mas Abhi. Aku tak akan membiarkan Mas Abhi kembali kesepian.”
Sesaat Birendra terdiam menatap Bentari yang menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Boleh aku memelukmu?”
“Hah?” Mata Bentari membulat antar bingung sekaligus terkejut dengan ucapan tiba-tiba Birendra.
“Aku ingin memelukmu,” ulang Birendra namun kali ini sambil menarik Bentari yang masih terkejut ke dalam pelukannya. “Aku ingin memelukmu, sebentar saja … ingin meyakinkan diriku kalau kamu memang nyata bukan hanya sebuah imajinas, juga meyakinkan diriku kalau sekarang aku memilikimu.”
Di dalam pelukan Birendra, Bentari tersenyum perlahan tangannya ikut memeluk balik Birendra.
“Selama ini entah sudah berapa ratus kali aku memimpikan memelukmu seperti ini, tapi itu semua hanya mimpi.”
“Selama ini Mas Abhi merindukanku?”
“Sangat.” Birendra mengeratkan pelukannya sebelum melapaskan dan menatap mata Bentari. “Aku sangat merindukanmu, setahun ini adalah setahun paling berat dalam hidupku karena merindukanmu.”
Bentari tersenyum mendengar ungkapan jujur Birendra.
“Kalau Mas Abhi akan sekesepian itu, kenapa dulu Mas Abhi meninggalkanku?”
Birendra menuntun Bentri kembali berjalan tak jauh dari mereka berada terdapat sebuah sungai kecil dengan bebatuan dan air jernih pegunungan yang mengalir. Mereka berdua duduk di salah satu batu sungai besar yang ada di sana.
“Karena aku takut,” ucap Birendra dengan mata menatap aliran sungai yang memberi ketenangan. “Aku takut kalau kamu akan terluka bahkan meninggal karena aku.”
“Kenapa Mas Abhi berpikiran seperti itu?”
“Kamu lupa kalau dulu aku dijuluki anak pembawa sial? Orang-orang yang menyanyangiku satu persatu terluka bahkan meninggal.”
“Mas, umur itu rahasia Allah, tidak ada yang tahu. Ketika ibu kandung Mas Abhi meninggal, Mas Abhi hanya bayi kecil yang tak tahu apa-apa, nenek Mas Abhi meninggal karena itu memang sudah waktunya, Alika kecelakaan bukan salah Mas Abhi, dia yang mengikuti Mas Abhi, mungkin dia tidak hati-hati ketika menyeberang, dan kemabli lagi … sudah takdirnya. Jadi jangan salahkan Mas Abhi atas apa yang menimpa mereka.”
“Didoktrin dari kecil sebagai anak pembawa sial, ditanamkan dalam pikiranku bahkan ketika aku belum tahu arti kalimat-kalimat itu membuatku tumbuh dengan kepercayaan itu. Sebagai anak pembawa sial yang bahkan karena melahirkan ku menyebabkan ibuku meninggal. Nenekku yang mengasuh, membesarkan, satu-satunya orang yang menyayangiku juga meninggal. Setelah pindah ke rumah bapak, Alika satu-satunya orang yang menganggapku ada pun mengalami kecelakaan. Jadi bagaimana dulu aku tak percaya dengan sebutan itu?”
Mata Birendra berubah sendu ketika kembali berkata, “Ketika aku pindah ke Surabaya dan hampir melupakan sebutan itu … seseorang kembali meninggal.”
“Seseorang meninggal di Surabaya?”
Birendra mengambil napas dalam-dalam sebelum mengangguk.
“Iya, seseorang yang juga menyayangiku kembali meninggal.”
Birendra menerawang melihat aliran sungai yang jernih hingga terlihat dasar sungai dengan pasir dan bebatuan.”
“Di Surabaya, untuk pertama kalinya aku merasakan penerimaan atas diriku. Paklek yang memang tak memiliki seorang anak laki-laki menganggapku sebagai anaknya sendiri, di Surabaya juga untuk kali pertama aku memiliki teman yang menerimaku tanpa peduli dengan masa laluku.” Birendra mulai kembali bercerita tentang masa lalunya.
Fahmi, Ivan, dan Doni adalah teman pertama yang dimiliki Birendra. Sebagai murid baru di SMA, Birendra tentu saja menarik banyak perhatian. Bukan hanya wajah dan sifat dinginnya yang menarik perhatian para siswi, kepintarannya juga menarik perhatian para guru. Seperti yang terjadi pada umumnya ketika ada murid baru yang menjadi idola baru di sekolah, maka akan ada beberapa orang yang tak menyukainya.
Menjadi target perundungan sebetulnya sudah biasa Birendra terima dari dulu, bahkan oleh keluarga terdekatnya sekalipun. Namun ada yang berbeda kini ketika beberapa orang memojokannya sepulang sekolah, keinginan Birendra untuk melawan menyeruak ke permukaan membuat perkelahian pun tak bisa dielakan lagi.
Satu lawan empat bukan pekara mudah, Birendra harus menerima pukulan juga tendangan sampai akhirnya seseorang berteriak menghentikan orang-orang yang sedang menjadikan Birendra sebagai samsak.
“Woi! Ojok main kroyokan, c*k! (Woi! Jangan main keroyokan lu!)”
“Aaah, dasar ja****, wanine kroyokan.”
Tiga orang dengan masih menggunakan seragam sekolah yang sama dengan Birendra jalan mendekati Birendra yang sudah ambruk dengan seragam yang sudah kotor dan luka di beberapa bagian tubuhnya.
“Gak usah melok-melok koen, C*k! (Gak usah ikut campur lo!)
“Ckkk.”
Mereka bertiga hanya berdecak sambil tersenyum sinis dan terus berjalan mendekati Birendra.
“Arek anyar, koen gak apa-apa ta? (Anak baru, lo gak apa-apa?)"
Birendra menatap ke samping ketika seseorang berjongkok di sampingnya. Birendra mengengguk, dia kemudian menatap dua orang yang berdiri membelakanginya seolah melindungi Birendra dari orang-orang yang tadi menghajarnya.
“Masih kuat ta?” tanya seseorang yang menengok ke belakang menatap Birendra yang tengah berdiri.
Lagi-lagi Birendra hanya mengangguk sebagai jawaban, ketiga teman baru Birendra tersenyum dan kembali bersiap menatap empat orang yang juga telah bersiap, dan pertarungan itu kembali terjadi, namun kali ini pertarungan imbang. Empat lawan empat. Walau hari itu keempatnya mendapat memar-memar, namun semenjak hari itu tak ada lagi yang berani macam-macam dengan Birendra.
Itulah kali pertama Birendra mengenal Fahmi, Ivan, dan Doni. Semenjak hari itu Birendra menjadi bagian dari lingkup pertemanan mereka. Birendra tentu saja tak semudah itu masuk ke dalam circle itu, namun ketiganya seolah tak lelah untuk mengajak Birendra, manariknya ke luar dari dunianya yang sepi untuk mengenalkan Birendra pada dunia remaja. Dunia yang penuh warna.
Suatu hari ketiganya bercerita kalau mereka didekatkan karena nasib yang sama. Doni dan Ivan dari keluarga broken home. Ibu Doni meninggalkannya ketika masih kecil karena bapaknya yang bekerja sebagai sopir angkutan umum dianggap tak mampu untuk mencukupi kehidupan mereka. Bapaknya Ivan pergi dengan wanita lain, sedangkan Fahmi adalah anak korban kekerasan dari bapaknya sendiri.
Menyadari kalau ketiga teman barunya itu memiliki nasib yang sama, membuat Birendra mulai membuka diri terhadap ketiganya. Walaupun tidak secara gamblang, Birendrapun menceritakan nasibnya hingga disebut sebagai anak pembawa sial.
“Orangtua kita, memang aneh!” seru Ivan. “Nikah berharap punya anak, setelah punya anak … ditinggalkan karena alasan uang atau perempuan lain, ada juga yang tega menyiksa anak yang katanya titipan Tuhan, dan sekarang lebih aneh lagi, menyalahkan kematian istrinya kepada bayi yang baru lahir tak ahu apa-apa.”
“Kamu itu bukan anak pembawa sial,” ucap Doni yang mendapat anggukan dari Fahmi dan Ivan.
“Kita ini hanya anak-anak kurang beruntung yang dilahirkan dengan orangtua seperti itu,” ucap Fahmi.
Saat itu mereka berempat sedang duduk di bawah pohon rambutan halaman rumah paklek Wahyu yang kini seolah menjadi markas keempatnya. Dan semenjak saat itu Birendra perlahan mulai membuka diri terhadap ketiga temannya.
Semua terasa sempurna. Birendra seolah menemukan dunia baru bersama ketiga temannya, merasakan pengalaman layaknya remaja lainnya, walaupun sifat Birendra tidak banyak berubah, tetap dingin dan menutup diri dari orang-orang yang baru dia kenal, termasuk dari Salsabila … perempuan yang akan mengembalikan rasa trauma Birendra.
*****