Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
44. The Mask



Siapa bilang hanya manusia antagonis yang bermuka dua? Siapa bilang hanya orang-orang munafik yang selalu mengenakan topeng? Percayalah setiap manusia pernah dalam hidupnya bermuka dua, atau mengenakan topeng walau hanya sekali dalam hidupnya.


Seperti misalnya … pelajar akan bersikap baik di depan gurunya karena takut diberi nilai jelek, tapi mungkin di belakang mereka akan membicarakan sang guru karena terlalu banyak memberi tugas. Istri akan merayu suaminya dengan segala pujian supaya dibelikan tas baru, namun mungkin ketika dia berkumpul bersama bersama ibu-ibu lainnya dia akan menceritakan bagaimana kebiasaan tidur sang suami yang mengorok hingga mengganggu tidur sang istri.


Terkadang disaat hati kita terasa sakit sampai dada ini sesak, kita gunakan topeng untuk menutupi luka hati kita dengan tertawa, menyembunyikan kesedihan hanya karena tak ingin membuat orang lain khawatir. Atau orangtua yang perutnya keroncongan, bahkan sampai cacing di dalam perutnyapun ikut berdemo karena kelaparan, tapi masih tersenyum dan mengatakan “sudah kenyang”, agar anak-anaknya bisa makan dengan tenang.


Jadi … jangan heran lagi ketika masa-masa sudah mendekati pemilu atau pilkada akan banyak orang yang mengenakan topeng warna-warni cantik, hingga kita tak tahu wajah asli di balik topeng itu. Seperti halnya yang dilakukan Sigit akhir-akhir ini, mengenakan berbagai topeng dalam kesahariannya yang diabadikan di dalam kamera.


Terkadang terlihat Sigit tengah duduk berbincang dengan para pedagang kaki lima sambil tak lupa membeli dagangan mereka. Hari berikutnya Sigit mendatangi salah satu rumah warga, seorang nenek tua renta yang hidup bertiga dengan kedua cucunya di sebuah rumah gubuk di pinggiran kali Ciliwung, ketika hendak pulang tak lupa Sigit memberikan bantuan sejumlah uang untuk sang nenek juga peralatan sekolah untuk kedua cucunya. Dan banyak lagi kegiatan Sigit akhir-akhir ini yang beredar di televisi ataupun media sosial.


“Itu bapaknya Arunika?” tanya bu Mega yang duduk manis dengan secangkir kopi sambil nonton televisi dimana tengah memberitakan Sigit yang memberi santunan kepada Yayasan yatim piatu.


“Iya.” Oka mendongak sesaat sebelum kembali berkutat menalikan sepatunya.


“Calon besan mamah tuh,” goda Bentari tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, terlihat dia tersipu malu ketika membaca pesan dari Birendra.


“Kamu pernah ketemu?” Oka mengangguk sambil berdiri, merapihkan pakaiannya. “Aslinya baik juga?”


“Oka hanya bertemu sebentar, hanya menyapa, belum pernah ngobrol panjang,” jawab Oka sambil sibuk membetulkan posisi ransel di punggungnya sebelum kemudian mencium tangan bu Mega. “Berangkat dulu ya, Mah, assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam,” jawab bu Mega dan Bentari yang masih asik dengan ponselnya.


“Jangan pacaran mulu!” Oka menarik rambut Bentari yang langsung mengaduh.


“Aww! Okaaa, awas ya!!”


“Hahaha.”


Oka hanya tertawa mendengar ancaman Bentari, namun sesampainya di teras rumah tawa dan senyum Oka langsung menghilang. Dia mengambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, sebelum akhirnya dengan menaiki si merah Oka pergi meninggalkan rumah.


Tak ada yang tahu tentang penghinaan yang Oka terima dari Sigit. Sakit hati tentu saja, siapa yang tak sakit ketika dapat penghinaan seperti itu, hanya saja Oka menjadikan itu sebagai cambuk dirinya untuk membuktikan diri agar bisa sukses di atas kakinya sendiri. Tak terbayang apa yang akan dilakukan kedua kakak juga ayahnya kalau sampai tahu Sigit menghinanya, maka dari itu Oka lebih baik menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Selain itu ada Arunika yang harus dia yakinkan kalau ini bukan salah gadis itu.


Malam itu Arunika menyalahkan diri sendiri atas sikap Sigit kepada Oka, walau berulang kali Oka mengatakan kalau itu bukan salahnya, tapi Arunika yang memang merasa bersalah tetap menyalahkan dirinya sendiri menjadikan gadis itu lebih pendiam, membuat Oka sedikit khawatir dengan perubahan sikapnya itu.


Rasa percaya diri Arunika belum kembali seutuhnya karena statusnya sebagai anak di luar nikah, dan kini ditambah lagi dengan sikap Sigit kepada pria yang dia sayangi, membuat kepercaya diriannya di depan Oka kembali menurun, dan akhirnya Arunika memutuskan untuk mulai menjaga jarak dari Oka.


Berbeda dengan Oka dan Arunika yang tengah mengalami masalah, Bentari dan Birendra tengah merasakan manisnya sebuah hubungan walau jarak memisahkan mereka.


Birendra :


Bi … aku rindu


Bentari :


Hahahaha, Mas, tidak ada kata-kata lain apa selain itu?


Birendra :


Aku memang merindukanmu.


Bentari :


Kenapa tidak ke sini kalau memang Mas Abhi rindu.


Birendra :


Iya, ini sebentar lagi sampai.


“Hah!” Bentari melonjak kaget membaca pesan Birendra. Tak berapa lama terdengar mesin mobil yang berhenti di depan rumah, membuat jantung Bentari berdetak tak karuan.


“Tidak, tidak mungkin.” Bentari menggelengkan kepala.


Tidak mungkin itu Birendra kan? Birendra ada di Surabaya dengan jarak ribuan kilo dari Bentari berada saat ini.


“Apa yang tidak mungkin?” tanya bu Mega yang dari tadi duduk di samping Bentari sambil memindah-mindahkan saluran televisi.


“Mas Abhi ada di depan rumah kita? Tidak mungkin kan, Mah?”


“Ya mungkin saja, yang tidak mungkin itu kalau Lee Minho yang ada di teras rumah kita.”


“Iyalah tidak mungkin, lagian ngapain juga Lee Minho di teras rumah kita.”


“Hahaha, itu lebih tidak mungkin lagi.”


“Assalamuaikum.”


Senyum Bentari langsung menghilang, matanya membulat, kepala Bentari seketika menoleh ke arah depan ketika terdengar salam dari suara yang sangat dia hapal.


“Tuh kan, kalau Birendra sih mungkin,” ucap bu Mega dengan senyum lebar menatap Bentari yang masih mematung. “Malah diam, itu cepat bukain nanti keburu kabur lagi.”


Seperti robot Bentari langsung berdiri, dengan berdebar dia berjalan ke depan.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Bentari dengan gugup.


Tangannya perlahan membuka gagang pintu dan seketika matanya membulat, jantungnya semakin berdebar ketika melihat sosok Birendra berdiri di hadapannya dengan senyum miring dan mata lembut menatapnya.


“Mas Abhi? Kok bisa ada di sini?” Bentari masih menatapnya dengan tak percaya.


“Naik pesawat, terus naik taxi.” Birendra menjawab dengan wajah serius membuat Betari perlahan tertawa, tapi seketika wajahnya memerah ketika tangan Birendra mengelus kepala Bentari sambil berkata. “I miss you so bad.”


“Miss you too,” bisik Bentari dengan senyum manis membuat senyum Birendra ikut terbit.


***


“Kenapa Mas Abhi tidak memberitahuku kalau akan ke Jakarta, kan aku bisa jemput di Bandara.”


“Kejutan.”


“Hahaha, Mas Abhi ternyata bisa juga bersikap manis ya. Aku pikir Mas Abhi hanya bisa bersikap dingin saja.”


Birendra hanya tersenyum sambil menyeruput Vietnam drip, sedangkan di hadapan Bentari kini tersaji avocado coffee. Saat ini mereka tengah berada di Kopi Kabut Sevillage, sebuah coffee shop di daerah Puncak yang menyajikan pemandangan alam yang mempesona serta udara sejuk khas pegunungan.


“Aku sendiri tidak tahu kalau aku bisa seperti ini.” Birendra kembali tersenyum, sepertinya ketika bersama Bentari, Birendra bisa menanggalkan topeng esnya.


“Aku curiga jangan-jangan dulu ketika pacaran dengan perempuan lain pun Mas Abhi seperti ini kan?”


Wajah Birendra terlihat tegang untuk sesaat, namun itu tak luput dari perhatian Bentari.


“Mas Abhi tidak perlu tegang begitu, aku paham kok kalau dulu Mas Abhi punya pacar.” Bentari tersenyum sambil mengaduk kopi alpukatnya. “Yang penting kan sekarang, Mas, bukan dulu,” lanjut Bentari sebelum menyeruput minumannya.


Birendra terdiam, berpikir, apa kini saatnya dia berkata jujur kepada Bentari?


“Aku … belum pernah punya kekasih.”


Untung saja Bentari sudah menelan minumannya kalau tidak dia pasti akan tersedak mendengar ucapan jujur Birendra.


“Mas Abhi, bohon kan?”


“Tidak … aku memang belum penah memiliki kekasih.”


“Waaah, jadi aku kekasih pertama Mas Abhi?”


Birendra mengangguk. “Iya.”


Senyum Bentari semakin lebar dengan wajah memerah mendengar kalau dirinya adalah kekasih pertama sang pengacara.


“Tapi … dulu pernah ada yang menyukaiku.”


“Aku percaya. Siapa juga yang tidak suka sama lelaki seperti Mas Abhi … tampan, pintar, baik, ya walaupun kadang kalau bicara kayak cabe bubuk level 20, hihihi.”


“Aku tak sebaik itu, Bi.” Birendra menatap Bentari serius. “Kalau kamu tahu, mungkin kamu akan meninggalkanku.”


Sesaat mata mereka saling mengunci. Bentari bisa melihat kegalauan dari sorot mata Birendra.


“Dan aku tak sebodoh itu yang akan meninggalkan Mas Abhi hanya karena masa lalu. Mas Abhi paling tahu bagaimana masa laluku bukan? Buruk … sangat buruk. Namun semua orang memberi ku kesempatan untuk berubah. “Bentari menggenggam tangan Birendra dengan kedua tangannya. “Semua orang punya masa lalu, dan semua orang pernah melakukan kesalahan. Jangan hidup dalam kenangan atau rasa bersalah di masa lalu, sudah saatnya Mas Abhi melangkah, tinggalkan masa lalu. Kalau Mas Abhi takut …” Bentari mengeratkan genggaman tangannya. “Ingatlah ada aku, Mas, aku tak akan meninggalkan Mas Abhi sendiri.”


Birendra terdiam sebelum akhirnya perlahan seulas senyum muncul di wajahnya. Selama ini Birendra merasa kalau dunianya terasa sepi dan sendiri, namun kini terasa berbeda ketika orang yang sangat berarti dalam hidup kita mengatakan kalimat yang mungkin sederhana bagi orang lain, namun sangat berarti bagi seseorang seperti Birendra.


Apa ini saatnya Birendra menanggalkan semua topengnya? Membiarkan Bentari melihat wajah asli seorang Birendra Abhimana si anak pembawa sial?


******