Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
23. Parent's Sin (Dosa orangtua)



Arunika hanya duduk terdiam selama di perjalanan. Pikirannya berkecamuk begitupun hatinya, ada perasaan kecewa, sedih, juga takut untuk pulang. Bagaimana orang-orang rumah akan berlaku padanya sekarang? Apa bundanya kini akan semakin dingin karena merasa tidak ada lagi yang harus disembunyikan? Atau bahkan mengusirnya karena dia memang tak pantas berada di rumah itu?


Oka menghentikan si merah di depan rumah Arunika yang dengan malas turun begitupun Oka yang langsung membuka helmnya lalu berdiri di depan Arunika.


“Mau ditemanin?”


Arunika menggeleng. “Tidak, lebih baik Abang cepat pergi nanti terlambat.”


Oka terdiam, matanya menatap Arunika yang tertunduk, terlihat jelas kekalutan yang dirasa gadis itu, matanya bengkak sisa menangis semalam, wajahnya pun terlihat pucat.


“Semua akan baik-baik saja.” Tangan Oka terulur untuk mengelus kepala Arunika. “Jangan takut … ada aku. Kalau ada apa-apa hubungi aku, oke!”


Arunika mengangguk, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum.


“Abang ternyata takut kehilangan aku ya.”


Oka tersenyum mendengar ucapan Arunika yang berusaha menyembunyikan kekalutan hatinya.


“Iya soalnya nanti tidak ada lagi yang cerewet, jadi … jangan pergi kemanapun tanpa sepengetahuanku,” ucap Ok sambil memakai helm dan kembali menaiki si merah.


“Hehehe, tenang saja aku tak akan kemana-kamana.”


Oka mengangguk. “Sekarang masuk. Keluargamu sudah menunggumu, semalaman mereka pasti cemas.”


Arunika terdiam sebelum akhirnya mengangguk. Dengan diawasi Oka, Arunika masuk bersamaan dengan sorang satpam yang membukakan gerbang.


“Ya Allah, Non! Alhamdulillah, Non baik-baik saja kan? Semalaman kita semua nyariin Non Ara, sampai den Athar dan non Sisil datang.”


Arunika sedikit kaget mendengar kedua kakaknya pulang ke rumah karena mengkhawatirkannya. Dengan perasaan bercampur aduk Arunika kembali berjalan melewati halaman rumah yang terawat dan cukup luas, kakinya kini sudah menginjak marmer putih teras rumahnya, tangannya walau ragu perlahan terangkat memegang gagang pintu, dadanya berdetak lebih cepat, beberapa saat dia mengatur napas sebelum menguatkan tekad untuk membuka pintu dan masuk ke dalam rumah tempat selama ini dia bernaung.


“Assalamualaikum.”


Semua orang yang berada di ruang keluarga seketika terdiam dengan mata terbelalak, mereka menatap ke arah suara dimana Arunika berjalan memasuki ruang keluarga.


“Ara!”


Sigit, Sisil, dan Atharya berdiri dengan perasaan lega, kecuali Arum yang masih duduk di atas sofa berwarna krem.


“Darimana kamu semalam, hah?” Sigit terlihat emosi karena semalaman harus merasakan kecemasan memikirkan anak bungsunya, dia bahkan hampir saja melaporkan kehilangan Arunika kepada polisi. “Apa kamu tidak tahu bagaimana kami khawatir mencarimu semalaman?”


Arunika hanya terdiam tertunduk menerima murka sang ayah.


“Laki-laki itu ... kamu pergi bersama laki-laki itu kan? Lihat saja, papah akan melaporkannya ke polisi karena membawamu!”


Kepala Arunika perlahan terangkat ketika sang ayah mengungkit-ungkit laki-laki yang tak lain tak bukan adalah Oka.


“Abang tidak membawa Ara pergi. Abang yang menyelamatkan Ara tadi malam. Kalau tidak ada abang yang menyelamatkan Ara, mungkin saat ini yang pulang adalah mayat Ara.”


“Ara!” Seru Atharya.


Arunika menatap Atharya yang menatapnya penuh rasa simpati.


“Kakak …” Arunika sudah mulai berkaca-kaca melihat kakak yang menjadi tempatnya berlindung dari dulu. “Bunda sama kak Sisil benci sama Ara bukan karena bunda dan kak Sisil tidak tahu bersenang-senang, Kak, tapi … ini salah Ara, Kak!” Tangis Arunika pecah. “Ara anak haram, Kak! Ara bukan putri kandung bunda, bukan adik kandung kak Sisil dan Kak Athar.”


Tangis Arunika semakin menjadi membuat Atharya dengan cepat berlari ke arahnya kemudian memeluk tubuh adik kesayangannya.


“Ara anak haram, kak … Ara hasil dari sebuah dosa, Kak.”


“Kamu anak cantik, anak baik, anak sholehah, adik yang paling kakak sayangi.”


Tangisan Arunika semakin menjadi. “Ara tidak mau jadi anak haram … Ara mau jadi anak kandung bunda …”


Atharya semakin erat memeluk Arunika yang terisak dalam pelukannya, di sisi lain Sisil terlihat menghapus airmatanya melihat Arunika yang terlihat hancur, begitupun Sigit yang tak bisa berkata apa-apa selain sorot mata penyesalan. Sedangkan Arum … dia hanya tertunduk sebelum pergi masuk ke dalam kamarnya yang langsung disusul oleh Sisil.


Di ruang keluarga Arunika masih menangis dalam pelukan Atharya. Semalam dia memang banyak menangis dalam pelukan Oka, tapi rasanya berbeda ketika menangis di dalam pelukan keluarga.


***


Beberapa saat kemudian Arunika yang sudah tenang kini duduk di samping Atharya di halaman belakang.


“Kakak tahu dari dulu kalau Ara …”


Atharya tersenyum lembut yang dibalas Arunika walaupun hanya samar sebelum dia kembali larut dalam lamunannya.


“Semalam Ara benar-benar merasa hancur ketika mendengar kebenaran itu. Ara berjalan tak tahu arah tujuan … hujan, dingin, dan gelap, sampai akhirnya abang menyelamatkan Ara. Kalau tidak ada abang, Ara tak tahu apa yang akan terjadi pada Ara."


“Ingatkan Kakak untuk berterimakasih padanya karena telah menyelamatkanmu.”


Arunika sedikit tersenyum kemudian mengangguk. Pikirannya kembali berkelana, saat ini dia masih belum bisa mempercayai apa yang sedang terjadi. Arunika berharap saat ini dia sedang tertidur dan hanya bermimpi buruk, berharap akan segera bangun dalam keadaan seperti biasa.


Selama hidupnya Arunika mengira kalau dia adalah putri bungsu dari Sigit dan Arum, namun dalam seper sekian detik itu semua berubah. Dia ternyata anak di luar nikah, dan yang lebih miris adalah hasil perselingkuhan sang ayah dengan seorang perempuan yang telah menghancurkan hati perempuan lainnya. Arum. Perempuan yang yang selama ini dia kenal sebagai ibu kandungnya.


Ibu kandung ...


“Apa kakak tahu siapa ibu kandung Ara?”


Atharya terdiam menatap Arunika yang menatapnya dengan mata sembab, terlihat lelah karena terlalu banyak menangis.


“Kamu mau mencarinya?” tanya Atharya yang langsung mendapat gelengan dari Arunika.


“Tidak!” jawabnya tegas. “Mungkin … nanti Ara akan mencarinya, tapi tidak sekarang. Ara hanya ingin tahu apa dia masih hidup?”


Atharya mengangguk mengerti.


“Mengenai ibu kandungmu, papah yang lebih tahu. Nanti kalau kamu sudah siap, kamu bertanya kepada papah saja, karena kakak tak begitu mengenalnya. Saat itu kakak juga masih kecil, jadi tidak paham apa-apa selain merasa senang memiliki seorang adik karena kak Sisil tidak menyenangkan, dia terlalu serius dan hobi belajar. Aneh bukan?”


Arunika kembali sedikit tersenyum dan mengangguk pelan. Sisil memang terkesan serius dan lebih suka belajar daripada bermain bersama teman-temannya. Berbeda sekali dengan Atharya dan Arunika yang kebalikan dari Sisil, lebih suka bermain daripada belajar.


“Walaupun saat itu kakak berharap adik laki-laki supaya bisa diajak bermain bola, tapi kamupun menyenangkan. Kamu suka ikut apapun yang kakak lakukan. Kita sama-sama cerewet, kita sama-sama sering membuat bi Sumi pusing, kita suka makan pedas padahal tidak ada di keluarga kita yang suka pedas selain kita berdua, kita juga lebih suka laut dari daripada gunung, dan yang pasti kita sama-sama tampan dan cantik.”


Arunika tersenyum mendengar ucapan Atharya yang narsis.


“Lihat, kita sangat persis bukan?"


Arunika kembali tersenyum sambil mengangguk.


“Itu artinya kita memang saudara. Terlepas dari kamu adik kandung kakak atau bukan, tapi darah yang mengalir dalam tubuh kita sama. Jadi … jangan terlalu bersedih lagi, oke? Kamu harus ingat … kamu adik dari Atharya Arkana, lelaki bijaksana, tampan dan baik hati.”


“Ckkk.” Arunika bedecak sambil mendengus mendengar Atharya memuji dirinya sendiri. “Ada yang lebih tampan daripada kak Athar.”


Atharya membelalakan mata mendengar Arunika membuji lelaki lain di depannya.


“Siapa? Pacar kamu? Kamu masih kecil, tidak boleh pacar-pacaran!”


“Ara sudah besar, Kak, sudah jadi mahasiswi, jadi bolehlah pacaran.”


“Jadi benar dia pacar kamu?"


“Belum sih, tapi abang baik banget, Kak. Abang benar-benar jagain Ara.”


“Abang?”


“Asoka Danudrabata, namanya keren kan, Kak? Tapi Ara lebih suka memanggilnya abang."


“Waaah … kamu sudah berani memuji lelaki lain di depan kakak ya!”


“Iiih, jangan norak deh, Kak. Abang memang keren, dia sangat ... sangat ... sangaaat tampan, tubuhnya tinggi, hidungnya mancung …”


Arunika terus bercerita tentang Oka, Atharya terdiam mendengarkan Arunika yang sedikit teralihkan dari masalah statusnya ketika membicarakan tentang lelaki yang dia sukai, dan Atharya bersyukur untuk itu. Semalam ketika Sigit menghubunginya menanyakan apa Arunika menghubunginya? Kemudian memberi tahu kalau Arunika pergi dari rumah setelah mengetahui rahasia yang selama ini telah menjadi rahasia kelam dalam keluarganya.


Seperti orang gila semalaman Atharya berusaha menghubungi Arunika yang ponselnya tak bisa dihubungi, dan berulangkali dia menghubungi ayahnya untuk mencari kabar berharap Arunika sudah ditemukan, tapi sampai subuh Arunika masih belum ditemukan membuat pikiran buruk mulai menghapirinya. Tanpa menunggu lagi Atharya langsung pulang dari Bandung ke Jakarta dengan mengendari mobil seperti orang kesetanan.


Membayangkan adik kesayangannya menangis seorang dari di bawah guyuran hujan dalam pekatnya malam membuat perasaan Atharya ikut hancur. Seharusnya dia ada di sana, melindunginya, menghiburnya, dan mengatakan kalau dia memiliki seorang kakak yang selalu bisa dia andalkan.


Dari kecil Arunika hanya bergantung pada Atharya. Selisih umur meraka yang cukup jauh. 10 tahun. Membuat Atharya berperan sebagai kakak sekaligus ayah bagi Arunika, mengingat sang ayah selalu sibuk dengan karir politiknya, sedangkan sang ibu dan Sisil selalu memerlakukannya dengan dingin. Atharya tidak bisa menyalahkan perlakuan ibu dan kakaknya kepada Arunika, karena Arunika mengingatkan mereka semua dengan pengkhianatan sang ayah, begitupun dengan Atharya.


Namun rasa sayang Atharya kepada sang adik lebih besar daripada rasa kecewa pada sang ayah. Rasa kecewa itu tetap ada sampai sekarang, hanya saja … Arunika tidak bersalah, jadi kenapa harus dia yang dipersalahkan? Bukan kah anak tidak akan menanggung dosa orangtuanya, sedangkan orangtua akan menanggung dosa anaknya?


*****