Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
59. Life



Setahun lalu tak pernah terpikirkan oleh Bentri hubungannya dengan Birendra pada akhirnya berada pada tahap yang lebih lanjut. Setahun lalu Birendra pergi menorehkan luka yang mendalam, namun kembali dengan cinta dan kerinduan yang semakin besar.


Tak pernah terbayang oleh Bentari, keluarga Birendra akan mengetuk pintu rumahnya untuk meyakinkan orangtuanya tentang keseriusan Birendra dalam menjalin hubungan dengan Bentari, sekaligus mengikat mereka berdua untuk selangkah menuju gerbang pernikahan.


Semua orang memiliki jalan kehidupan sendiri, memiliki cerita yang ditulis dengan bahasa masing-masing, yang akan kembali dibuka dan dibaca ketika mereka menua, dan mungkin akan menjadi pembelajaran untuk yang lainnya.


Seperti kisah cinta Bentari – Birendra yang awalnya harus berpisah, sebelum akhirnya sebuah musibah kembali menyatukan keduanya, musibah yang berhasil menarik Birendra dari dunianya yang kelam, memberinya keberanian untuk ke luar dari trauma yang mengikat dirinya. Sebuah musibah yang bukan hanya menyatukan kembali Birendra dengan perempuan yang dia cintai, namun juga menyatukan ikatan darah yang sempat tercerai berai, menghapus segala kehilapan juga kesalah pahaman selama puluhan tahun.


Berbeda dengan kisah sang kakak, kisah sang adik, Asoka Danubarata … kisahnya masih berlanjut, karena cerita cintanya baru saja diuji. Arunika menghilang tanpa pamit meninggalkan sang Pangeran BUMI dalam kekalutan. Rumah Arunika kini telah kosong karena ditinggalkan penghuninya. Sigit dan Arum telah pindah ke Kalibata, dimana rumah dinas sang politisi berada.


Oka bahkan mendengar kalau Arunika telah mengurus transfer nilai kuliahnya semakin memastikan kalau gadis ceriwis itu sudah benar-benar pergi dari kehidupannya. Oka kembali mengenakan topeng dalam kesehariannya, hanya karena tak ingin orang-orang di sekitarnya mengkhawatirkannya.


Lain halnya dengan kisah Siska yang telah menemukan kebahagian. Akhirnya perempuan mandiri yang luar biasa itu telah sah menjadi istri dari Aldo, pemilik salah satu toko pakaian di tanah abang. Pernikahan Siska membuat haru keluarga, dan dirayakan suka duka oleh sang sahabat, Kirana, mereka berdua bersyukur karena akhirnya terbebas menjadi trending topic gossip emak-emak komplek di gerobak sayur mas Jarwo, menyerahkan tongkat estapet itu kepada Bentari yang kembali menaiki podiam di posisi pertama karena masih melajang walaupun wajahnya cantik jelita.


Tidak jadi masalah untuk Bentari berada di puncak pergosipan emak-amak. Dia tak memedulikan hal itu, karena kini kebahagiannya seolah tengah menyelimuti dirinya. Selain memiliki tunangan yang sangat mencintainya, keluarga Birendrapun menerimanya dengan tangan terbuka, menjadikan kebahagiannya hampir terasa lengkap.


Namun tak ada yang bisa menebak jalan takdir yang telah disiapkan Allah untuk semua umatnya. Seperti tak ada yang bisa menebak akan datangnya hujan di saat matahari bersinar terik. Di antara kebahagian yang dirasa Bentari akhir-akhir ini, datanglah sebuah berita yang membuat dunianya seolah porak poranda. Sang Ibu, Mayang, masuk rumah sakit karena kanker rahim stadium akhir yang dideritanya.


Ya … perempuan sholehah nan luar biasa itu kini diambang kematian setelah dokter memvonisnya dengan kanker rahim stadium 4. Bentari, Kirana bahkan Oka menangis dalam pelukan perempuan yang duduk lemah di atas kasur rumah sakit, dengan selang inpus terpasang di tangan juga oksigen di hidungnya.


“Kenapa Mamah tidak memberi tahu, Bi? Mamah mau Bi menyesal seumur hidup karena tidak bisa merawat Mamah saat sakit?”


Mayang tersenyum lemah tangannya terulur untuk menghapus air mata putri aygn sudah dia besarkan dan sayangi sedari kecil.


“Mamah tidak apa-apa. Mamah hanya merasa lelah.” Bentari kembali tersedu dalam pelukan Mayang.


Sesungguhnya Mayang dan Andi Santoso telah mengetahui tentang penyakit yang menyerang Mayang sudah lama. Mereka sudah mencoba berbagai macam metode pengobatan yang disarankan dokter. Sempat dikira sudah sembuh, namun ternyata sel kanker itu hanya tertidur sementara sebelum kembali menyerang dengan lebih ganas, dan satu bulan terakhir sel mematikan itu menyerang organ lain, otak, salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia.


Tak ingin terlihat lemah dan sakit di depan anak-anaknya menjadi salah satu Mayang mengizinkan Bentari tinggal di Jakarta dengan Mega, ketika ketiga anaknya pulang ke Surabaya sebisa mungkin dia terlihat sehat walaupun Bentari sempat curiga melihat tubuh Mayang yang semakin kurus.


Mega mengetahui tentang penyakit Mayang karena itu dia sering menyuruh ketiga anaknya untuk datang ke Surabaya hanya agar menjadi sedikit obat untuk kesembuhan Mayang.


“Saya tidak takut meninggal, Mbak, semua orang sudah pasti akan meninggalnya, hanya kapannya kita tidak tahu,” ucap Mayang ketika dia datang ke Jakarta dan mereka berbicara berdua di kamar Mega. “Yang saya takutkan, saya tidak sempat melihat Bentari menikah dan menjadi seorang ibu.”


“Kita sama-sama berdoa, semoga kita berdua masih bisa menyaksikan anak-anak kita hidup bahagia.” Mega menggengam tangan kanan Mayang yang kini telah berurai air mata dengan senyum simpul karena dia tahu hal itu hanya akan menjadi sebuah keajaiban baginya.


“Saya bahagia karena masih bisa menyaksikan … kalau umur saya tidak sampai melihat mereka semua benar-benar bahagia … saya titip kebahagian mereka di tangan Mbak, juga … saya titip Mas Andi.”


“Mayang …”


“Saya bahagia bisa melihat Kirana menikah dengan Caraka dan memiliki putra, dia telah bahagia dengan keluarga kecilnya. Bentari walaupun belum menikah, tapi saya bisa tenang karena Birendra akan selalu menjaganya, sedangkan Oka, saya yakin ayahnya akan memersiapkanya menjadi seorang lelaki sejati, namun bagaimana dengan mas Andi, Mba? Saya takut, Mbak, takut.” Air mata Mayang berderai semakin deras. “Saya takut Mas Andi akan hidup selibat di sisa hiupnya, tidak ada yang menemani di hari tuanya … saya mohon, Mbak, kembali dengan mas Andi ya?”


Hari itu Mega hanya bisa memeluk Mayang yang tersedu tanpa menjawab permintaan Mayang yang juga sudah diketahui oleh Andi Santoso.


“Kalau berat bagi kamu untuk kita kembali rujuk … jangan dipaksa, jangan hanya karena permintaan Mayang, kamu mau kita kembali bersatu,” ujar Andi santoso ketika mereka berdua berbicara di kantin rumah sakit meninggalkan Mayang bersama ketiga anaknya.


Andi Santoso menghela napas berat, gurat letih dan sedih terpancar jelas di wajahnya.


“Tidak ada harapan, dokter meminta kita untuk menyiapkan diri.”


Kesedihan kembali menyergap Mega. Sosok Mayang yang penyayang, penyabar, serta lembut dalam bertutur kata dan bertindak membuat Mega menyayangi Mayang layaknya saudara sendiri, dan kini dia harus kembali menyiapkan diri untuk kehilangan sosok penyabar itu, meninggalkan sebuah amanah yang cukup berat.


“Bagaimana dengan kamu, Mas? Apa kamu bersedia kembali rujuk denganku?”


Andi Santoso terdiam sesaat. Sebelumnya ketika Mayang mengemukan hal ini, seperti halnya Mega, diapun sempat menolaknya walaupun hal itu mau tidak mau menjadi bahan pikirannya yang pada akhirnya menghasilkan sebuah keputusan.


“Kalau setelah kepergian Mayang, Allah akan kembali memberiku seseorang untuk menemaniku di hari tua … aku berdoa, itu kamu.”


Mata mereka saling mengunci, walau bibir mereka tertutup rapat, tapi sepertinya keduanya telah mengambil sebuah keputusan yang sama.


***


Semakin hari kondisi Mayang semakin memprihatinkan. Mega, Bentari dan Kirana sementara tinggal di Surabaya, sedangkan Caraka dan Oka harus kembali ke Jakarta karena ada pekerjaan juga kuliah yang tidak bisa ditinggal dan setiap jumat sore mereka akan kembali ke Surabaya karena tak ingin menyia-nyiakan waktu yang masih diberikan Allah untuk berkumpul dengan Mayang.


“Mamah berdoa semoga Allah memberi mamah sedikit waktu lagi agar bisa melihat kamu menikah,” ucap Mayang lemah membuat tenggorakan Bentari memanas.


“Mamah mau lihat Bi, menikah?” Bentari menggenggam tangan Mayang yang tersenyum lemah. “Kalau begitu Mamah harus sembuh, Bi yakin kalau Mamah pasti bisa melawan kanker sialan ini, Mamah kan perempuan kuat.”


Mayang kembali tersenyum lemah.


“Mamah ingat dulu Mamah sering membaca dongeng ketika Bi mau tidur? Nanti kalau Bi punya anak, Mamah harus membaca dongeng juga buat anak Bi, ya?” Bentari mencoba tersenyum walau suaranya tercekat menahan tangis. “Mamah sudah bacain Danish dongeng, solawatan buat nidurin Danish, mamah juga harus melakukan itu sama anak Bi dan Oka biar mereka tidak iri, masa cuma Danish saja yang lainnya tidak.”


Airmata Mayang bergulir mendengar suara Bentari yang bergetar sekuat apapun dia menahannya.


“Mamah menyayangi cucu-cucu mamah sama besarnya, seperti mamah menyayangi kalian.” Bentari dengan cepat menghapus air matanya dan tersenyum sambil mengangguk. “Kalau mamah tidak sempat bertemu mereka, tolong ceritakan kepada mereka tentang mamah. Agar mereka tahu kalau mereka mempunyai eyang putri yang sangat menyayangi mereka.”


Kirana yang dari tadi hanya mendengar keduanya kini memeluk Caraka berusaha meredam suara tangisnya agar tak terdengan Mayang, di sisi lain Oka mendongakkan kepala menatap langit-langit kamar agar air matanya tak ikut jatuh.


“Bi akan menceritakan kalau mereka mempunyai seorang eyang putri yang sangat cantik, baik, dan menyangi mereka.”


Mayang kembali tersenyum sambil mengangguk lemah, dia kini menatap Birendra yang dari tadi berdiri di samping Bentari, memberi kekuatan. Mengerti dengan bahasa mata Mayang membuat Birendra mendekat dan menggenggam tangan Mayang.


“Titip Bi,” suara Mayang yang lemah kini bergetar karena tangis. “Jangan lagi kamu meninggalkannya.” Birendra mengangguk yakin. “Tugas mamah hampir selesai, Mamah percayakan putri kesayangan mamah sama kamu.”


Betari tak bisa lagi berpura-pura tegar, dia terguguk dalam pelukan Mayang yang semakin lemah.


“Mamah jangan tinggalin, Bi, Mamah jangan pergi dulu sebelum melihat Bi menikah, Mamah harus menyaksikan pernikahan Bi!”


Kirana tak bisa lagi memendam suara tangisnya, dia melepaskan pelukan Caraka dan berlari ikut memeluk Mayang sambil terguguk, begitupun Oka yang air matanya akhirnya tumpah juga walau tanpa suara.