Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
Extra Part 1



Assalamualaikum, selamat siang


Bonus cuanki dari abang, buat semuanya 😍😘😘


***


Beberapa bulan berlalu setelah rujuknya kembali bu Mega dan ayah Andi, dan sudah selama itu pula bu Mega tinggal di Surabaya ikut sang suami. Tidak ada kesulitan yang berarti selain sedikit terkendala bahasa dimana sebagian besar dari asisten rumah tangganya berbahasa Surabaya yang memiliki sedikit perbedaan dengan bahasa Jawa pada umumnya. Namun bukan bu Mega namanya kalau tidak bisa mengambil hati orang-orang di sekelilingnya.


Mayang yang anggun dalam prilaku juga bertutur kata berbeda dengan bu Mega yang ceria dan tak pernah mau diam. Semenjak kedatangan bu Mega sudah banyak perubahan yang dirasa di dalam rumah itu, salah satunya yang menonjol adalah adanya area hydroponic di taman belakang yang sengaja dibuatkan Andi Santoso.


“Anak yang kelebihan energi itu harus disalurkan energinya biar anteng, emak-emak juga sama. Jadi biar kamu anteng aku bikin ini buat kamu.”


Bu Mega tersenyum puas ketika beberapa pekerja sibuk membuat media hydroponic. Memang bu Mega sempat merasa bosan ketika pertama pindah ke Surabaya. Di Jakarta, dia tinggal di komplek biasa yang antar tetangga sudah seperti saudara, saling berkunjung, bertukar masakan, belum lagi gibah bareng di grobak sayur mas Jarwo, tapi di Surabaya dia harus tinggal di komplek elit yang menjungjung tinggi privasi kalau tidak ingin dibilang individualistis, belum lagi sebagaian besar penghuni komplek adalah ekspatriat membuat bu Mega semakin tak memiliki teman.


Yang menjadi teman bu Mega hanya para asisten serta penjaga rumahnya saja, untung saja seminggu sekali bu Mega akan datang ke pengajian mingguan yang diadakan di masjid besar yang tak jauh dari komplek bersama dengan bulek Lastri, istri paklek Wahyu, dari pengajian inilah bu Mega mengenal teman-teman baru. Seperti saat ini, bu Mega dan ibu-ibu yang lainnya baru saja keluar dari masjid ketika matanya melihat mobil yang sangat dia kenali terparkir di depan masjid. Bukan mobil yang biasa mengantarnya kemanapun dia pergi, melainkan mobil yang biasa dipakai suaminya yang kini tengah duduk di bawah terpal biru milik pedagang bakso gerobak yang mangkal di depan masjid.


“Yugo kulo gansal, ingkang bajeng sampun SMP kelas setunggal, paling alit nembeh umur kale tahun (Anak saya lima, yang paling besar sudah SMP kelas satu, yang paling kecil baru 2 tahun),” ucap seorang pria dengan kaos partai yang sudah lusuh sambil meracik mie bakso ke dalam plastik-plastik bening.


“Hebat sampeyan duwe anak lima (Hebat kamu punya anak lima),” ujar pak Andi yang duduk di bangku plastik berwarna merah, di dekat kakinya tergeletak sebuah mangkuk bakso yang yang sudah kosong, tangan kirinya memegang botol air mineral yang tinggal setengah sedangkan di jari telunjuk dan tengah tangan kanannya terselip sebatang rokok yang dia hisap perlahan.


“Lah pripun, Pak, dawuhe tiang sepuh, katah anak katah rezeki, inggih pun kulo gas poll mawon mumpung taseh sanggup (Kata orangtua kan banyak anak banyak rezeki, Pak, jadi saya hajar terus mumpung masih sanggup),” ujar si pedangan sambil terkekeh.


Andi Santoso ikut tertawa sambil mengangguk.


“Kulo naming saget dungo, mugi-mugi dodolan kulo lancar saget nyekolahaken bocah-bocah sampek kuliah, ben dados tiang sukses. Boten koyok bapake cuma lulusan SMP akhire dodolan bakso (Saya cuma berdoa mudah-mudahan jualan saya lancar jadi bisa menyekolahkan anak-anak sampai kuliah jadi orang sukses, jangan seperti bapaknya yang hanya lulusan SMP, akhirnya jualan bakso).” Penjual bakso itu kembali terkekeh namun kini dengan suara miris tak seriang tadi.


“Aamiin.” Andi Santoso mengamini doa penjual bakso yang ramah itu.


“Ayah, kok ada di sini?”


Andi Santoso menatap istrinya yang terkejut melihatnya berada di sana di jam – jam kerja.


“Lagi makan bakso,” jawab Andi Santoso santai sambil membuang rokoknya kemudian menginjaknya.


“Dikirain jemput Mamah.”


Andi Santoso hanya tersenyum melihat Bu Mega yang kini duduk di sampingnya.


“Iki garwoku (Ini istri saya).” Andi Santoso mengenalkan bu Mega kepada penjua bakso yang terlihat penasaran dengan perempuan yang masih terlihat cantik di usia yang tak lagi muda.


“Oala … ibu niki sering maem bakso datang mriki kalean ibu-ibu pengajian (Oala ... ternyata ibu. Ibu ini sering makan bakso di sini sama ibu-ibu pengajian.”


Bu Mega tersenyum mendengar ucapan si pedagang bakso yang kini tengah memasukan plastik -plastik berisi bakso ke dalam dua kantung kresek besar.


“Wes? Piro kabeh?” Andi Santoso berdiri sambil mengeluarkan dompetnya.


“Sampun, Pak, sedoyo Rp 85.000.”


Tanpa banyak bicara pak Andi memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan membuat si penjual terlihat bingung.


“Niki …”


“Ambil ae, rezeki sampeyan gawe anak, bojo neng omah (Ambil saja, rezeki kamu buat anak, istri di rumah).”


Sesaat si pedagang bakso terdiam, tangannya sedikit gemetar, matanya yang berkaca-kaca menatap sepasang suami istri yang bersiap pergi dengan dua plastik kresek besar berisi 10 bungkus bakso.


“Alhamdulillah … matur nuwun sanget, Pak, mugi-mugi Gusti Pangeran bales sedoyo kesaenan Bapak lan Ibu (Terimakasih banyak, Pak, mudah-mudahan Gusti Allah membalas kebaikan Bapak sama Ibu).”


“Aamiin,” jawab Andi Santoso dan bu Mega sebelum berjalan menuju parkiran mobil.


“Banyak banget.”


“Nanti minta tolong mbak Sumi bagiin ke yang lain, kalau masih ada lebih suruh Manto kasih ke satpam komplek.”


Bu Mega mengagguk mengerti, sudah menjadi kebiasaan Andi Santoso dari dulu untuk berbagi dengan para pekerja yang ada di rumahnya juga satpam komplek, karena itulah para pekerja merasa betah bekerja di sana.


Mereka baru saja akan masuk ke dalam mobi ketika seseorang memanggil mereka. Seorang perempuan dengan tergesa-gesa turun dari motor yang dikendarai seorang perempuan muda yang terlihat cantik dengan gamis hijau pupus. Bulek lastri dan Salwa. Dengan sopan dan ramah kedua perempuan yang menjadi keluarga Birendra selama ini menyapa dan memberi salam sebelum pamit pergi.


“Salwa cantik ya, Yah,” ucap bu Mega ketika mereka berbelok ke kiri melewati Nasional Hospital, sebuah rumah sakit yang berada di dalam komplek perumahan mereka tinggal.


“Terus?” tanya Andi Santoso terlihat santai di belakang kemudi Mercy S class-nya, kali ini Andi Santoso memutuskan untuk menyetir sendiri tanpa sopir untuk menjemput sang istri dari masjid yang hanya berjarak kurang lebih 1 KM dari komplek mereka.


“Cantik, baik, sopan, sholehah, seneng deh ngelihatnya.”


“Ayah nggak mau.”


“Nggak mau apa?”


“Ngejodohin Oka sama siapapun, trauma.”


“Tenang saja Mamah sudah pastiin, Salwa bukan anak kandung kita.”


Andi Santoso terkekeh sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan istrinya. Mereka kini melewati area golf yang merupakan salah satu fasilitas komplek selain tempat gym, plaza kuliner dan berbagai macam fasilitas nomer satu lainnya. Sepanjang jalan komplek ditanam pohon-pohon besar nan rindang untuk memberi kesejukan bagi rumah-rumah megah dengan halaman yang luas di kanan kirinya.


“Oka masih muda, kuliah saja belum lulus. Biarkan saja di cari pengalaman, cari teman yang banyak.”


“Ih si Ayah mah ya, siapa juga yang mau Oka nikah. Jangan dulu ah!”


“Itu tadinya mau jodohin Oka sama Salwa.”


“Bukan jodohin, cuma mau kenalin saja.” Bu Mega menatap suaminya dengan serius. “Oka sepertinya belum bisa move on dari Arunika, nah siapa tahu kan kalau sudah kenal Salwa minimal bisa move on, tidak bagus lama-lama terpuruk karena putus cinta.”


“Mereka sudah kenal, tidak perlu dikenalin lagi.”


“Memang mereka sudah kenal?”


“Waktu resepsi Bi kan mereka ketemu.”


Bu Mega tediam kemudian mengangguk, “Ketemu, tapi …”


“Mah, besok temanin Ayah ya.”


“Kemana?”


“Lihat proyek ke Yogya.”


“Okey! Sekalian Mamah mau nyari batik Yogya, terus …”


Dalam hati Andi Santoso tersenyum karena berhasil mengalihkan perhatian bu Mega dari rencananya untuk mengenalkan Oka kepada adik sepupu Birendra yang tak bisa dipungkiri memang terlihat cantik, anggun, juga sholehah. Namun belajar dari pengalaman dahulu ketika dia mencoba menjodohkan Bentari, jadi kali ini untuk urusan pasangan Andi Santoso akan menyerahkan sepenuhnya pada anaknya sendiri.


Akan tetapi tanpa sepengetahuan Andi Santoso, bu Mega masih giat mencari informasi tentang Salwa kepada Birendra, dan menyuruh Bentari untuk merahasiahkan niatnya mengenalkan Oka sama Salwa.


Sepertinya bu Mega lupa, kalau tidak pernah ada yang namanya rahasia.


Grup penghuni BUMI calon SURGA


Bentari:


ADEEEEK, kapan ke Surabaya?


Ditungguin Mamah tuh, mau dikenalin sama cewek cantik, sholehah, hihihi.


Kirana:


HAH!!! SERIUS???


Aduh kok trauma ya, jangan-jangan masih saudara kita.


Bentari:


🤣🤣🤣🤣🤣


Tenang kali ini aman, Teh.


Eh, tapi saudara iparku sih.


Kirana:


Caraka:


Birendra:


Kirana:


Abhi ngak tahu?


Bentari:


Mas Abhi, nggak tahu?


Birendra:


Enggak


Alika kan sudah nikah


Masa Mamah mau ngenali sama Yudis?


Asoka:


Aku masih normal ya!!!! 😤😤😤


Kirana:


🤣🤣🤣🤣🤣


Makanya cepet move on


Kenalin cewek sama mamah biar mamah gak berpikir aneh-aneh.


Tahu sendiri ibu kita tercinta itu, drama queen banget.


Caraka:


😂😂😂


Birendra:


😄😄😄


Asoka :


😠😠😠😠


Bentari:


Bukan Yudis, Mas, tapi Salwa.


Birendra:


Oh, Salwa


Pantesan tiap ketemu Mamah nanya-nanya Salwa mulu.


Kirana:


Salwa yang mana?


Bentari:


Sepupunya Mas Abhi, anaknya paklek Wahyu


Waktu resepsi datang, Teh.


Kirana:


Mana ada fotonya ngga?


Caraka:


Mana kirim sini.


Bentari:


Sebentar


Bentari:


Nih waktu resepsi kemarin



Kirana:


Okaaaa, cakep, Ka!!!


Cus Surabaya!!!


Caraka:


Aku sponsorin tiket pesawatnya deh.


Mau pergi kapan? Sekarang? Atau besok?


Bentari:


Tuh, Ka, ada yang mau beliin tiket pesawatnya.


Asoka:


Motor dulu mana motor?


Tiket pesawat mah gampang


Yang penting motor


Caraka:


Aku pamit ya, mau meeting


Birendra:


Aku juga, ada klien


Kirana:


Danish rewel nih


Bye


Bentari:


Aku … mau luluran dulu


Bye


Asoka:


😑😑😑😑


*****