Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
24. Nobody's Perfect



Asoka :


Kamu baik-baik saja kan?


Ada perasaan cemas yang Oka rasa seharian itu, diawali dengan mengantar Arunika pulang takut sesuatu yang buruk kembali terjadi pada Arunika saat dirinya tak ada di samping gadis itu.


Arunika :


Aku berusaha untuk baik-baik saja, walaupun ini berat.


Aku tahu ini sudah menjadi nasib dan garis hidupku.


Mau tidak mau, suka tidak suka aku harus menerimanya, jadi … aku akan belajar untuk menerima itu.


Oka menghela napas membaca pesan Arunika. Bersyukur karena karena tidak ada lagi kejadian buruk menimpa Arunika, tapi juga sedih karena tahu kalau gadis itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Asoka :


Mau berkeliling dengan si merah?


Arunika :


Mauuu.


Asoka :


Pakai jaket dan celana panjang.


Aku tunggu di luar.


Oka tersenyum melihat lantai atas di mana kamar Arunika berada. Di balik jendela dengan heboh gadis itu melambai-lambaikan tangan, matanya membulat tak percaya.


Beberapa menit kemudian Arunika berlari ke luar rumah, masih dengan senyum lebar dan pandangan tak percaya.


“Abaaang!”


Oka menjulurkan tangan menghentikan tubuh Arunika yang hampir saja memeluknya membuat bibir gadis itu mengerucut, tapi hanya sebentar sebelum senyum lebar kembali menghiasi wajahnya.


“Iiih, Abang, sweet banget sih, Bang, ngasih kejutan seperti ini.” Arunika menatap Oka gemas dengan senyum lebar di wajahnya.


Seandainya semalam Oka tak melihat langsung, mungkin Oka tak akan percaya kalau orang di hadapannya adalah orang yang sama dengan yang semalaman menangis, terpuruk dan hancur. Namun Oka tahu di balik senyumnya saat ini, hati Arunika masih terluka.


“Sudah makan?”


Arunika menggelengkan kepala.


“Mau makan apa?”


“Apa saja yang penting sama Abang,” jawab Arunika sambil memakai helm yang diserahkan Oka.


“Ckk! Naik!”


Dengan senyum lebar Arunika langsung naik ke atas si merah dan memeluk Oka kencang.


Oka hanya melihat jalinan tangan Arunika di atas perutnya, sebelum akhirnya membawa si merah melaju meninggalkan komplek perumahan elit di bilangan Cibubur, Jakarta Timur. Seperti biasanya jalan Alternatif Cibubur selalu padat oleh kendaraan, si merah yang selalu terdepan kini harus ikut antri dalam kepadatan itu, sampai akhirnya Oka membelokkan si merah ke arah kanan di pertigaan Cibubur Junction kemudian belok kiri dimana sepanjang jalan depan kavling DPRD Jakarta kini telah dipenuhi oleh tenda-tenda kaki lima yang menjual berbagai macam khas kuliner malam.


“Aku kira kita mau pergi jauh.”


Mereka kini duduk di dalam tenda penjual nasi goreng.


“Sudah malam, nanti ada yang laporin polisi.”


Arunika mengambil menu dan membacanya.


“Tadi hanya ada kak Sisil yang sedang menelpon suaminya. Kak Athar mungkin di kamar, jadi abang tak perlu khawatir dilaporin polisi, aku sudah pamit sama kak Sisil … mau makan apa?”


“Nasi goreng.”


“Nasi goreng apa? Sea food, ati ampela, atau yang special? Jangan yang special deh. Kalau Abang mau yang special, aku mau kok menjadi yang special buat Abang.”


“Ati,” jawab Oka tak memedulikan ucapan Arunika.


“Nasi goreng saja pakai hati, Bang. Apa lagi aku pakai hati, jiwa dan raga.”


“Hahaha, mbak nya lucu ya… ehm!” pelayan yang dari tadi berdiri di samping meja Oka dan Arunika langsung menutup mulut sambil menunduk setelah mendapat pelototan Oka.


“Cepetan mau pesan apa?” Oka menatap Arunika yang menahan senyum menatapnya.


“Nasi goreng ati ampela dua, yang satu pades yang satu sedang, minumnya …”


“Teh hangat.”


“Siap, Mbak!”


Oka mengambil kerupuk udang dalam toples yang tersaji di meja, membuka plastiknya lalu memakannya tak memedulikan ucapan Arunika yang tersenyum menggoda.


“Aku pikir kamu akan menangis seharian.”


Sebetulnya tanpa bertanyapun Oka tahu kalau Arunika pasti sudah menangis seharian, matanya yang masih bengkak menjadi bukti itu.


“Tentu saja aku menangis, tapi tadi di rumah ada kak Athar jadi aku merasa kalau aku tak sendiri … kak Athar meyakinkanku kalau aku tetaplah bagian dari keluarga itu, kalau aku adalah adik kak Athar dan kak Sisil ... tapi sekarang aku tak berani untuk menatap bunda atau duduk di satu ruangan yang sama dengan bunda karena kini aku tahu kalau aku adalah … sumber ketidak bahagiaan bunda.”


Arunika terdiam bahkan tangannya yang hendak membuka plastik kerupuk ikut terdiam. Oka mengambil alih plastik kerupuk dari tangan Arunika, membukanya lalu memberikannya kembali.


“Anak-anak itu sumber kebahagiaan orangtua, begitupun kamu … kamu itu bukan sumber ketidak bahagiaan, tapi sumber kebahagiaan bagi orangtua kamu … hanya saja mungkin, bunda kamu itu tidak tahu bagaimana mengekspresikan diri.”


Arunika terdiam menatap Oka.


“Abang tidak tahu kan bagaimana bunda bersikap dingin padaku? Beda saat bunda bersama kak Sisil atau kak Athar.”


“Coba kamu ingat-ingat, apa bunda selalu bersikap dingin padamu? Pernah tidak bunda bersikap hangat padamu? Sekali saja.”


Arunika mencoba menggali ingatannya. Sikap bundanya selama ini padanya memang bersikap dingin, tapi … Arunika terdiam, ingatnya dilempar ke masa SMP saat dia terkena cacar dan harus di isolasi kerena takut menularkan kepada yang lain. Saat itu hanya Arum yang menemaninya, merawatnya siang malam dengan telaten, mengelusnya sepanjang malam karena rasa gatal yang dirasa Arunika, hingga Arum sendiri kurang tidur, bahkan Arum menyeka tubuh Arunika dengan hati-hati memastikan tak ada yang pecah agar tidak berbekas.


“Ada kan?” Oka bertanya setelah melihat perubahan wajah Arunika.


Arunika mengangguk, menatap Oka dengan mata berkaca-kaca.


“Mulai sekarang jangan mengingat sikapnya yang dingin kepadamu, tapi ingat kebaikan-kebaikannya. Kita tidak tahu apa yang dirasakan bundamu." Oka mengunyah kerupuknya kemudian kembali berkata, "Bu Mega, ibuku … sang drama queen.”


Arunika tersenyum mendengar panggilan Oka kepada ibunya.


“Dulu aku dan teteh sering sekali dimarahin, dan setelah marah-marah mamah akan terlihat sedih. Kata mamah, setiap orangtua akan merasa menyesal setelah memarahi anaknya. Pernah sekali mamah marah sampai memukulku … karena aku bandel tentu saja.”


Arunika tersenyum membayangkan Oka kecil yang bandel dan harus diomelin bu Mega.


“Seharian itu aku tak mau ke luar kamar bahkan ketika mamah manggil untuk makan, aku cuekin. Mamah ngomel-ngomel, kalau tidak mau makan yang rugi aku bukan mamah, yang ngerasa lapar kan aku bukan mamah. Mendengar itu aku semakin tak mau makan hanya untuk membuktikan kalau aku kuat tidak makan, dan menunjukan kalau aku kecewa sama mamah karena memukulku, walaupun tak begitu sakit, tapi itu kali pertama mamah memukulku.”


Pelayan datang membawa nasi goreng pesanan mereka membuat Oka menghentikan ceritanya.


“Terus?” Arunika terlihat penasaran, sambil menyendok nasi gorengnya.


“Setelah beberapa jam, perlahan ku dengar pintu kamarku terbuka dan aroma masakan tercium. Aku tahu itu mamah yang menaruh makanan di atas meja belajarku. Walau lapar, tapi karena gengsi aku pura-pura tidur. Perlahan ku rasa tempat tidurku sedikit bergerak, kemudian mamah memelukku, dan perlahan ku dengar isak tangis mamah membuatku terkejut. Aku langsung membuka mata dan melihat mamah menahan tangis. Sakit? Itu yang mamah tanya pertama kali setelah mata kami saling tatap, aku hanya menggelengkan kepala terlalu terkejut melihat mamah menangis. Mamah semakin memelukku erat, dan terus mengucap kata maaf, membuatku ikutan menangis dan balik memeluk mamah.”


Untuk sesaat mereka terdiam, yang terdengar hanya suara desisan kompor gas penjual nasi goreng, dentingan sendok yang beradu dengan piring dari meja sebelah, dan sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas.


“Mungkin saat ini bundamu juga sedang sangat menyesali ucapannya semalam padamu, bahkan mungkin menyesali semua sikapnya kepadamu. Selama ini kamu sudah tinggal dan tumbuh besar dalam pengawasan dan didikannya, pasti sudah tahu bukan sifat bunda seperti apa?”


Arunika terdiam tertunduk, tangannya mengaduk-aduk nasi goreng di hadapannya.


“Aku tidak tahu bagaimana bundamu, tapi … bagaimana dia membesarkanmu selama ini, terlepas dari yang katanya bersikap dingin, bunda pasti orang yang baik dan sabar karena mau membesarkan anak hasil selingkuhan suaminya tanpa membedakan dengan anak kandungnya.”


Arunika semakin tertunduk, tenggorokannya mulai memanas. Oka mungkin benar, selama ini dia hanya melihat sikap dingin Arum saja, tanpa menyadari pengorbanan yang telah Arum lakukan untuknya. Dan kini setelah mengetahui statusnya yang bukan anak kandung Arum, Arunika menyadari kalau selama ini mungkin bundanya jauh lebih menderita karena harus membesarkan putri dari perempuan lain yang menjadi selingkuhan suaminya. Dan mungkin setiap melihat wajah Arunika, Arum akan kembali diingatkan kepada pengkhianatan suaminya hingga menghasilkan seorang anak.


“Aku rasa bundamu bukan tidak menyayangimu. Dia hanya kecewa bukan kepadamu, tapi kepada ayahmu yang telah mengkhianatinya … kalau dia membencimu, mungkin sudah dari dulu dia akan bersikap kasar atau bahkan mungkin menolak untuk membesarkanmu, tapi tidak kan? Walau bersikap dingin, tapi dia tetap berada di sampingmu, memberimu yang terbaik, diam-diam memerhatikan, juga peduli padamu.”


Arunika menghapus air matanya yang tanpa bisa dia cegah lolos dari pelupuk matanya.


“Jadi jangan menganggap kamu itu tidak berharga atau sumber ketidak bahagian orang lain … karena itu salah.” Oka mengelus rambut Arunika lembut.


Arunika kembali menghapus air matanya, yang dikatakan Oka benar Arum memang luar biasa karena mau menerima anak hasil selingkuhan suaminya yang belum tentu bisa dilakukan semua perempuan.


“Apa aku juga sumber kebahagiaan, Abang?”


Oka terdiam sesaat.


“Habisin makannya!”


Tanpa menjawab pertanyaan Arunika, Oka mulai melahap nasi gorengnya tak memedulikan Arunika yang mendelik, tapi sejurus kemudian tersenyum karena tak peduli apapun jawaban Oka, bagi Arunika kedekatan dan perhatian Oka padanya selama ini … itu sudah cukup sebagai jawaban, mengingat dia sangat tahu bagaimana pria di hadapannya itu biasa bersikap kepada perempuan.


Malam itu Arunika kembali bisa melihat sisi lain dari seorang Asoka Danubrata, selain ketampanan secara fisik, kecerdasan secara intelektual (IQ), Oka juga memiliki hati yang tak kalah tampan, juga kecerdasan emosi (EQ) yang tak kalah cemerlang. Terlihat dari bagaimana Oka bisa menerima, menilai, mengelola dan mengontrol emosi hingga menyadarkan Arunika untuk melihat sisi lain dari masalah yang kini sedang dia hadapi.


Terlepas dari sikap Oka yang cuek, tidak peka, sering bikin kesal, kalau ngomong kadang bikin nyelekit, jutek, malas mandi, dan masih banyak lagi sederet kekurangannya, tapi Oka bisa Arunika andalkan karena selalu ada dalam keadaan terburuk dalam hidupnya.


Begitupun Arum, bundanya. Walau Arum terkesan dingin seolah tak peduli, namun tak bisa dipungkiri telah banyak pengorbanan yang dia lakukan untuk membesarkan Arunika yang bukan darah dagingnya sendiri. Bukan hanya pengorbanan secara fisik, tapi psikis dengan mengesampingkan rasa sakit hati, kecewa, amarah, perasaan dikhianati, bahkan mungkin jiwanya terasa akan hancur setiap melihat Arunika karena akan terbayang suami yang selama ini dia percayai, dia cintai menyentuh perempuan lain di belakangnya.


Namun Arum bertahan selama ini, dia besarkan anak hasil pengkhianatan suaminya, dia penuhi semua kebutuhannya memastikan tak kekurangan apapun, mengabaikan segala sakit hati juga kekecewaan yang dirasa.


Tak ada manusia yang sempurna, jadi jangan menuntut kesempurnaan dari sesama manusia. Namun di balik ketidak sempurnaan manusia pasti bisa memberikan minimal satu manfaat kebaikan bagi manusia lainnya.


*****