
Oka duduk di pinggir kolam ikan yang berada di salah satu rumah makan khas sunda di daerah Depok, tak jauh dari kampusnya. Sesekali tangannya menabur makanan ikan membuat ikan-ikan di dalam kolam berkerumun berebut jatah makan. Tak jauh dari tempatnya saat ini terdengar canda dan tawa dari keluarganya. Terasa lengkap, layaknya gambaran keluarga bahagia pada umumnya. Kedua orangtuanya duduk dikelilingi anak dan cucu, tertawa, bercerita segala hal.
Hampir seumur hidupnya Oka hanya tinggal bersama dengan ibu dan kakaknya saja. bertiga, tanpa sosok ayah yang menemani. Sering kali gambaran seperti hari ini menjadi khayalan Oka kecil, merasa iri dengan teman-teman yang memiliki keluaga utuh. Tentu saja dia tidak kekurangan kasih sayang, Oka tumbuh dengan kasih sayang melimpah dari ibu dan kakaknya, tapi tetap saja … dia ingin merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah.
“Bagaimana kuliahmu? Sudah mau PKL kan?”
Oka menatap ke arah samping. Andi Santoso berdiri di sana, kedua tangangnya di dalam saku celana, matanya menatap kerumunan ikan yang masih kelaparan.
“Iya, beberapa bulan lagi”
“Sudah dapat tempat untuk PKL?”
Oka terdiam memikirkan ide Caraka kemarin untuk PKL di BUMI tanpa memberitahu ayahnya.
“Belum, mencari tempat PKL ternyata tidak segampang yang aku bayangkan.”
Jujur saja Oka belum memasukan proposal PKL kemana pun, tapi mendengar keluhan teman-temannya yang harus menerima penolakan dari beberapa perusahaan membuat Oka mengetahui kalau mencari tempat PKL sama sulitnya dengan mencari pekerjaan.
“PKL itu adalah gambaran kita ketika turun ke dunia kerja nanti. Dari mulai mencari tempat pekerjaan yang tak mudah karena harus bersaing dengan para pencari kerja lainnya, dan ketika kita sudah diterima kita akan di hadapkan dengan permasalahan nyata dalam dunia kerja. Tidak akan ada dosen yang membimbing kita kalau kita salah, yang ada adalah teguran bahkan mungkin makian dari atasan, belum lagi harus menghadapi rekan kerja yang tak bisa diajak kompromi … di sinilah diperlukan mental yang kuat.”
Oka menganggukkan kepala paham dengan hal itu.
“Sudah berapa tempat yang menolakmu?”
“Hmmm … aku belum memasukan satu pun.”
Alis Andi Santoso terangkat mendengar jawaban Oka.
“Jangan dianggap enteng. Masukkan dari sekarang, jadi kalaupun nanti kamu ditolak masih ada waktu untuk mencari tempat lain. Jangan sekarang kamu santai-santai pas waktunya sudah mepet baru kelabakan.”
Oka menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil nyengir mendengar teguran dari ayahnya.
“Atau kamu berharap masuk ke BUMI dengan mengandalkan posisi ayah?”
“Tidak! Tentu saja tidak!”
“Bagus! Karena ayah tidak akan membantumu.”
Oka menatap Andi Santoso tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Kamu boleh memasukan proposal PKL ke BUMI, tapi jangan harap akan ayah bantu. Kamu usaha dulu sendiri, lakukan yang terbaik yang kamu bisa. Kalau sudah mentok baru kamu hubungi ayah … paham?”
“Iya, lagian siapa juga yang mau minta tolong ayah.”
Andi Santoso tersenyum melihat Oka yang cemberut sambil kembali memberi makan ikan.
“BUMI dan semua harta ayah tentu saja itu untuk kamu dan kakak-kakakmu. Tapi sebagai seorang lelaki kamu harus punya sikap pantang menyerah, pekerja keras, ulet, tekun dan yang utama tanggung jawab, juga jujur. Ayah tidak akan munafik suatu hari nanti ayah akan memberikan BUMI di bawah pimpinanmu.”
Andi Santoso mengangkat tangan ketika melihat Oka yang bersiap menolak rencananya itu.
“Tapi … bukan berarti lulus kuliah kamu akan langsung menduduki posisi management atau bahkan direksi. Tidak. Jangan harapkan itu.” Andi Santoso menatap Oka serius. “Kamu akan masuk BUMI dengan usahamu sendiri, dari posisi terbawah sebagai Asoka Danubrata, seorang fresh graduate tehnik sipil. Bukan sebagai Asoka Danubrata, putra pemilik perusahaan.”
Yang dikatakan ayahnya hampir sama dengan apa yang dikatakan Caraka kemarin. Bekerja di BUMI dengan menyembunyikan identitasnya.
“Kamu harus memulainya dari bawah. Belajar dari mereka yang selama ini telah setia bekerja untuk kita. Cari apa yang selama ini menjadi kendala mereka dan kamu pikirkan solusinya, tunjukan kemampuan terbaikmu. Jadi ketika suatu saat nanti kamu menempati posis atas, kamu tahu apa saja yang harus diperbaiki, apa saja yang kurang, apa yang harus dipertahankan dan ditingkatkan, dan yang pasti … tidak akan ada yang meragukan kemampuanmu, kamu juga tidak akan mudah dibodohi oleh anak buahmu sendiri karena semua orang sudah tahu kalau kamu mampu.”
Untuk kali pertama Oka setuju dengan ucapan Andi Santoso.
“Membuat usaha itu gampang, bermodalkan nekad pun bisa. Yang sulit itu membangun dan mempertahankannya. Ayah bisa saja langsung memberikan BUMI untukmu, tapi ayah tidak mau perusahaan yang sudah ayah rintis dari awal hancur dengan sesaat. Tidak, bukan ayah tidak mempercayaimu. Kamu anak ayah, tentu saja ayah yakin dengan kemampuanmu … hanya saja saat ini ilmu dan pengalamanmu masih kurang, kamu masih harus banyak belajar. Suatu hari nanti ayah yakin kamu akan menjadi orang hebat.”
Ada perasaan hangat yang dirasa Oka ketika mendengar ayahnya yakin dengan kemampuannya … sebuah pujian secara tak langsung dari ayahnya.
Beberapa saat mereka kembali terdiam sampai akhirnya suara tawa terdengar dari gubuk yang mereka tempati.
“Apa dia kekasihmu?”
Oka dan Andi Santoso menatap ke arah gubuk yang tempati keluarga mereka. Terdengar suara tawa di sana, sepertinya Arunika tengah menjadi objek keisengan kedua kakak dan ibunya. Sedangkan tak jauh dari tempat Oka saat ini, terlihat Caraka yang tengah memangku Danish sambil memberi makan ikan seperti yang tadi dia lakukan.
“Bukan.” Andi Santoso manatap Oka dengan sebelah alis terangkat tak percaya. “Belum,” lanjut Oka sambil kembali memberi makan ikan berusaha menutupi wajahnya yang sedikit memerah, membuat Andi Santoso mengulum senyum.
“Ajak Arunika! Awas kalau enggak. Nggak boleh makan!”
Mau tak mau Oka akhirnya mengajak Arunika yang untung saja kuliah mereka sudah selesai. Awalnya Arunika terlihat tegang ketika mengetahui ada Andi Santoso, juga Caraka di sana yang memang belum pernah dia temui, tapi hanya sebentar sebelum akhirnya Kirana dan Bentari mampu mencairkan suasana membuat Arunika tenang walau harus pasrah menjadi korban keisengan kedua kakaknya, dengan menggodanya habis-habisan.
“Kenapa belum?”
Oka hanya menghendikan bahu, membuat Andi Santoso kembali tersenyum dan ikut menatap ikan-ikan koi yang sepertinya tak ada kenyangnya berebut makanan.
“Perempuan itu butuh kepastian, dan seorang lelaki sejati harus memberikan itu.”
Tentu saja Oka tahu tentang hal itu, tapi untuk saat ini …
“Ayah dengar dia putri bungsu Sigit Suwarno?”
“Iya.”
“Apa dia tahu kalau kamu putra ayah?”
“Arunika baru mengetahui akhir-akhir ini, sedangkan ayahnya …” Oka menggelengkan kepala yang disambut anggukan mengerti dari ayahnya.
“Kamu kesulitan menghadapi keluarganya?”
Oka tersenyum. “Sedikit.”
“Tunjukan potensi yang ada pada dirimu, buktikan kalau kamu layak untuk mendapatkan putrinya.”
“Ya ampun, Yah, kami masih kuliah kali, santai saja.”
“Semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk pasangan walaupun itu masih dalam status pacaran. Jadi tidak ada salahnya setiap kita menjalin suatu hubungan kita lakukan yang terbaik.” Untuk kesekian kalinya Oka setuju dengan apa yang dikatakan ayahnya hari ini. “Kalau kamu sudah melakukan yang terbaik, tapi orangtuanya masih memandang remehmu … bilang pada ayah … giliran ayah yang maju dan memberi mereka semua pelajaran.”
Oka mentap Andi Santoso terkejut sebelum akhirnya tertawa terbahak.
“Hahaha.”
Aaah … mungkin ini rasanya didukung dan bela seorang ayah … sangat menyenangkan.
Selama ini Oka selalu bertanya bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah? Bagaimana rasanya di puji seorang ayah? Bahkan Oka penasaran dengan bagaimana rasanya marah seorang ayah?
Ibunya tentu saja sering kali memeluk, memuji, bahkan omelannya seolah menjadi makanan sehari-hari.
Namun dipercaya, dapat pujian sederhana, bahkan mungkin marahnya seorang ayah memiliki rasa berbeda. Sebuah tepukan di bahu dari seorang ayah, hampir sama rasanya dengan pelukan seorang ibu.
Ayah yakin kamu bisa, kamu putra ayah … sebuah pujian sederhana dan rasa percaya yang diberikan ayahnya, hampir sama rasanya seperti sederet list panjang pujian yang diberikan ibunya setiap hari.
Kalau mereka berani meremehkanmu, beritahu ayah akan ayah beri mereka palajaran … sebuah pembelaan terhadap seorang anak walaupun bukan lagi anak kecil yang patut dibela, tapi sampai kapanpun ayah akan selalu menjadi pahlawan bagi anak-anaknya.
Namun Oka juga yakin marahnya ayah yang selama ini hanya diam tak banyak bicara akan lebih menyeramkan daripada omelan seorang ibu yang biasa dia dengar setiap hari.
Itulah seorang ayah …
Yang lebih banyak berada di luar rumah bermandi peluh untuk mencari nafkah demi keluarga.
Yang diamnya memiliki beribu pikiran berkecamuk yang hanya bisa dia simpan seorang diri tak ingin menjadi beban bagi anak istrinya.
Yang manjadi tulang punggung menopang keluarga walaupun terasa lelah, sakit, tapi tak kuasa menyerah.
Yang walaupun tubuhnya terseok menentang angin badai, namun dia tetap berdiri melindungi keluarganya.
Yang mungkin selama ini kita kira diam, terlihat acuh tak peduli, namun diam-diam memerhatikan kita, mengawasi kita, melindungi kita, mendoakan kita dalam setiap helaan napasnya.
Bagi anak perempuan ayah adalah cinta pertama mereka, dan bagi anak laki-laki ayah adalah superhero pertama meraka.
Itulah ayah … yang kasih sayang dan pengorbanannya tak kalah dengan seorang ibu ... karena mereka adalah orangtua.
****