
“Jadi kakang belum tahu alasan kenapa mas Abhi menghilang dulu?”
“Belum, tapi yang pasti bukan karena perempuan,” jawab Kirana sambil makan pempek.
Saat ini Kirana sedang berada di Cibubur memberikan oleh-oleh dari tante Mayang yang dititipkan kepada Caraka.
“Jadi mas Abhi belum nikah, Teh?”
“Belum, dan bisa dipastikan dia tidak dekat dengan perempuan manapun.”
Bentari terdiam dengan mangkuk pempek di tangannya. “Jadi kenapa dulu dia bilang mau nikah ya?”
“Karena dia tidak suka sama kakak, aduh!” Kirana langsung menjitak Oka yang duduk di sampingnya. “Iiih, udah punya anak masih saja bar-bar.”
“Justru karena sudah punya anak jadi tambah bar-bar!” Kirana menyuap pempeknya sambil mengangkat alis matanya yang mendapat delikan dari Oka yang kembali menyuap pempek.
“Sudahlah, Bi, tak perlu kamu dengerin si Tarjo yang satu ini, otaknya suka loading lama kalau soal cinta-cintaan.”
Oka kembali mendelik ke arah Kirana dengan mulut penuh pempek.
“Iya dia memang lemot, masa sampai sekarang belum nyatain juga.”
“Hei! Anak orang itu, jangan digantung.”
“Siapa yang ngegantung sih, emang jemuran digantungin.”
“Nah itu tahu, terus kenapa sampai sekarang belum nyatain juga?”
“Penting mana ucapan atau tindakan?”
“Dua-duanya!” seru Kirana dan Bentari berbarengan, membuat Oka berdecak sambil menaruh mangkuknya yang sudah kosong.
“Dengar ya, Bambang, untuk seorang perempuan status itu perlu, hukumnya mutlak tidak bisa diganggu gugat.”
“Untuk apa? Hanya untuk membenarkan tindakan seperti peluk dan cium? Dosa, hukumnya itu.”
Kirana dan Bentari saling pandang.
“Ya bukan untuk itu juga, itu sih tergantung isi kepala masing-masing orang, tergantung kepada niat awalnya.”
Bentari mengangguk setuju dengan Kirana.
“Kayak kasus kakak sama mas Abhi nih. Kakak tahu kok kalau mas Abhi juga punya perasaan yang sama, terlihat dari gestur tubuhnya, terlihat dari perlakuannya. Saat itu kakak pikir ya mungkin mas Abhi adalah tipe yang lebih mengutamakan tindakan daripada ucapan, tapi ternyata kakak salah, komitmen itu tetap perlu, jadi setidaknya kakak bisa menghajarnya ketika dia bilang akan menikahi perempuna lain.”
“Sekarang paham kan kenapa sebuah komitmen penting dalam sebuh hubungan? Bukan sebagai legalisir melakukan tindakan di luar norma, tetapi sebagai pegangan untuk kita … bukan hanya untuk perempuan, tapi untuk laki-laki juga. siapa bilang laki-laki tidak memerlukan kepastian? Kita itu sama saja, perlu kejelasan dalam hal apapun bukan hanya dalam sebuah hubungan,” ucap Kirana yang dari tadi mendengarkan Bentari sambil menghabiskan pempeknya.
Oka terdiam mencerna ucapan kedua kakaknya yang memang ada benarnya.
“Bukannya aku tidak memberinya kepastian, aku memberitahunya kalau aku menyukainya.”
“Terus-terus-terus!”
“Kamu ditolak?"
“Asoka Danubrata mana ada yang nolak!”
“Sombong!”
“Hahaha, intinya aku sudah bilang kalau … aku juga menyukai dia.”
“Cieeee …. Jadian dong?”
“Tidak. Aku tak tahu hubungan kami ini apa namanya, tapi yang pasti aku sudah mengatakan padanya kalau aku suka dan sebaliknya.”
“Aaaaaahhhh hahaha.”
Kirana dan Bentari saling pukul gemas sedangkan Oka kembali melanjutkan ceritanya tanpa memedulikan kehebohan kedua kakaknya.
“Aku tak mau menyebutnya pacaran … aku takut kalau kami memiliki status itu, maka tindakan seperti peluk cium menjadi sebuah kebenaran … ya wajarlah namanya juga pacaran, ya tidak apa-apa kali sama pacarnya ini.” Oka menggelengkan kepala. “Itu tidak wajar, itu naf*su bukan cinta ... aku lelaki normal dan takutnya menjadi kebablasan, maka dari itu aku mencoba membatasi diri. Cukup kami saling mengetahui perasaan kami, jadi kami bisa saling menjaga hati dan perasaan masing-masing walaupun tanpa status pacaran, kami hanya ingin menjaga diri kami berdua dari naf*su dunia sambil saling memantaskan diri.”
Bentari dan Kirana terdiam terkejut mendengar pemikiran Oka sebelum akhirnya mereka berdua memeluk Oka sambil berseru.
“Adek gue udah gede!!! Gue nggak ikhlas!” seru Kirana sambil memeluk Oka yang berontak dalam pelukannya.
“Dek! Kakak baru ketemu sebentar, jangan dulu gede, Dek!!!”
“Ini apaan sih!? Lepasin nggak!!!” setelah memberontak akhirnya Oka bisa melepaskan diri dari dekapan kedua kakaknya yang menatapnya haru. “Lebay banget sih!”
“Adek gue keren banget sih pemikirannya.”
“Sudah dari lahir kali kalau keren.”
“Nyesel deh muji!”
“Hahaha.”
“Eh, tapi bener deh kalau dipikir-pikir Teteh juga nggak pacaran dulu sama kakang?”
“Masa sih? Kakang tidak pernah nyatain?” tanya Bentari penasaran.
“Nyatain sih, tapi saat itu aku tidak percaya diri. Jadi yang aku lakukan adalah sibuk berusaha sekuat tenaga untuk memantaskan diri sambil mencari kamu dan ayah, tapi kakang tahu perasaanku, pun sebaliknya, jadi yang kita lakukan adalah saling percaya saja.”
Kirana dan Bentari mengangguk-anggukan kepala setuju, sebelum akhirnya Bentari terdiam dan helaan napas lolos dari bibirnya.
“Seandainya mas Abhi berpikiran seperti itu. Maksudku mas Abhi jujur saja kalau aku memang tak pantas untuknya , jadi aku akan berusaha memantaskan diri untuk dia, bukannya malah pergi seperti ini.”
Kirana dan Oka saling pandang sebelum akhirnya berkata.
“Hubungan itu bukan hanya sepihak. Kalau hanya satu orang yang berusaha tidak akan ada artinya, nanti kamu malah capek sendiri.”
“Aku bahkan belum mulai berusaha, Teh, tapi sudah kalah duluan.”
“Mungkin karena tuh beruang kutub memang tak layak buat Kakak.”
“Atau mungkin Birendra saat ini lagi berusaha memantaskan diri seperti yang si kutu kupret ini lakukan saat ini.”
“Sorry, Sistah, aku memantaskan diri bukan menyakitinya. Nah kalau tuh beruang kutub dalam freezer kan sudah jelas-jelas bikin Kak Bi sakit hati. Makanya lupain saja dia, Kak, memangnya cowok cuma dia saja.”
“Diam dulu!” Kirana memukul Oka dengan bantal Sofa. “Kita tidak tahu apa yang menjadi alasan Birendra seperti itu, jadi sebelum kita tahu cerita dari sisi Birendra lebih baik kita tidak menerka-nerka.”
“Yaelah, Teh, kejadiannya sudah lama juga kali. Siapa tahu tuh beruang kutub memang sudah lupa sama kak Bi.”
“Belum, dan dia masih suka sama kamu Bi.”
Giliran Oka dan Bentari yang kini menatap Kirana berharap penjelasan.
“Aku sudah janji tidak memberitahu ini pada kalian, terutama kamu, Bi."
“Apaan?”
“Ayo cepatan cerita! Janji kita akan pura-pura tidak tahu di depan kakang.”
Bentari mengangguk semangat setuju dengan Oka membuat Kirana menatap keduanya kemudian menghela napas berat.
“Waktu di Surabaya kakang bertemu dengan Birendra. Mereka tidak membicarakanmu, Bi, tapi kakang memerlihatkan video Danish … yang ada kamunya. Dan kakang bilang dengan melihat reaksi Birendra, dia sangat yakin kalau Birendra masih merindukanmu … sampai sekarang.”
Hati Bentari bergetar mendengar kalau pria yang juga dia rindukan selama ini masih merindukannya, tapi …
“Kalau dia masih merindukan kak Bi, kenapa dia meninggalkannya dulu?”
Oka menyerukan apa yang ada dalam pikiran Bentari.
“Mungkin seperti kamu dan Arunika saat ini, atau teteh dan kakang dulu, mungkin Birendra juga tengah memantaskan diri.”
“Memantaskan diri bukan berarti harus melukai dan meninggalkan kan?”
Oka benar, Kirana akui itu … tapi saat ini dia ingin sekali menjambak rambut gondrong adiknya itu karena tak bisa menjaga mulutnya. Bukan apa-apa, karena Kirana tidak mungkin memberitahu Bentari tentang prediksi Caraka tentang Birendra yang memiliki trauma di masala lalu sampai memerlukan pertolongan seorang psikolog.
Selain karena belum pasti, walaupun pak Supri sudah menemukan fakta baru mengenai masalalu Birendra, tapi itu belum pasti. Masih terlalu dini untuk meyakini hal itu, selain itu … yang paling berhak untuk memberi tahu Bentari mengenai masa lalu dan trauma Birendra adalah Birendra sendiri, jadi saat ini Kirana lebih memilih untuk menjambak Oka dari pada mengakui kalau dia menyetujui ucapan adik bungsunya itu.
“Kakang juga bertemu dengan teman Birendra yang sepertinya mengetahui tentangmu, Bi, dan dia titip pesan untukmu … bersabarlah, mungkin sebentar lagi Birendra akan kembali datang kepadamu.”
“Telat! Sudah setahun nih, selama ini kemana saja … aaaw! Teh … teteh sakit, lepasin!”
“Nih ya mulutnya dijaga dikit ya! Aaaw! Kampret, lepasin, rontok rambut gue!”
Bentari hanya terdiam tak peduli dengan Oka dan Kirana yang kini tengah saling menjambak. Hatinya kembali bergetar, jantungya bedesir mendengar ucapan Kirana. Ada asa yang kembali hadir mengisi jiwanya … menunggu. Jangankan hanya sebulan dua bulan, setahun dua tahun Bentari akan menunggu seperti saat ini. Walaupun hatinya tak dipungkiri pernah merasa sakit, kecewa dan terluka, tapi sampai saat ini dia masih menunggu hingga sosok Birendra kembali hadir dalam hidupnya.
***
Surabaya,
Entah berapa kali Birendra memutar video dalam ponselnya, hanya untuk melihat senyum wanita yang sangat dia rindukan. Hanya video itu yang menemaninya dikala senggang atau malam menjelang tidur seperti sekarang.
Dia terbaring di atas sofa apartemennya dengan ponsel yang memutar video Bentari di tangannya, sunyi-sepi hanya suara dan tawa Bentari yang ke luar dari audio ponsel, namun hal itu cukup membuat Birendra tersenyum sampai akhirnya sebuah panggilan masuk. Fahmi. Orang yang akhir-akhir ini cukup dekat dengannya, dengan malas Birendra menerima panggilan itu.
“Kamu sudah sampai apartemen?” tanya Fahmi tanpa basa basi tak seperti biasanya, suaranya terdengar sedikit buru-buru.
“Iya.”
“Nyalakan televisi, Bi, saluran berita, sekarang!”
Birendra mengerutkan kening mendengar nada cemas dari Fahmi, walau begitu dengan cepat dia meraih remot televisi dan menekan saluran berita yang kini menayangkan tentang kasus korupsi yang akhir-akhir ini menarik perhatian masyarakat luas.
“Bima Seno, putra kedua politisi ternama tanah air dipastikan sebagai salah satu orang yang menerima suap proyek kereta cepat Jakarta – Surabaya …”
Narasi berita tentang pemanggilan putra kedua seorang politisi ternama negri ini terus berlanjut. Berita ini sebetulnya bukan berita baru, Birendra sudah melihat berita ini tadi siang namun kali ini berbeda, bukan hanya kasus korupsi yang disorot oleh media, tapi kehidupan pengusaha muda dari kalangan berpengaruh negri ini.
Berbagai macam foto yang diambil dari media sosial ikut ditampilkan, kehidupan glamor, pesta pora yang salah satunya adalah foto sebuah pesta kaum borjuis, dan yang membuat jantung Birendra berdetak menggila adalah salah satu foto yang menampilkan Bentari di dalamnya.
“Bi … aku memiliki firasat buruk," ucap Fahmi dengan suara berupa bisikan.
Birendra terdiam dengan jantung semakin berdetak menggila bahkan tubuhnya bergetar … bukan tanpa sebab Birendra seperti itu, karena dia sudah sangat hafal dengan apa yang terjadi selanjutnya, dan mungkin saat ini Bentari dalam bahaya.
Tidak! Dia tidak boleh membiarkan Bentari terluka! Dia tak akan membiarkan senyum yang masih berputar di ponselnya itu menghilang bergantikan air mata. Tidak! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Tunggu, aku akan melindungimu dari apapun juga!
*****