
“Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK menyita uang sebesar 700 juta rupiah dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan tadi malam di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Disinyalir uang tersebut adalah uang untuk proyek …”
“Itu yang di dalam koper duit semua?” Siska bertanya sambil berdecak kagum melihat uang hasil sitaan KPK dalam OTT semalam.
“Iya, duit haram,” jawab Kirana sambil makan soto mie.
Saat ini Kirana, Caraka dan Danish sedang berada di rumah bu Mega yang langsung pergi membawa Danish untuk dia pamerkan kepada para tentangga. Caraka langsung pergi bersama Oka menemani Andi Santoso menghadiri acara peletakan batu pertama proyek BUMI. Tinggallah Kirana, Bentari dan Siska yang duduk di depan televisi sambil makan soto mie.
“Bisa ya buat modal gue nikah?”
“Bisa banget, masih ada sisa buat beli rumah, tapi tidak berkah, mau?”
“Amit-amit deh, mending duit hasil jualan kang mas Aldo yang walau recehan tapi halal berokah, daripada duit haram.”
“Naaah, bener tuh.”
“Tumben tuh hotel bisa kebobolan.”
Siska dan Kirana menatap Bentari yang masih menatap televisi dimana tengah menayangkan berita penangkapan salah staff pejabat daerah dalam operasi tangkap tangan oleh KPK semalam.
“Kamu tahu hotel itu?”
Bentari mengangguk dengan mulut penuh oleh mie dan daging sapi dengan kuah soto yang segar.
“Iya. Di sana ada club khusus untuk high class, dan tak sembarangan orang bisa masuk ke sana, hanya anggota saja. Biasanya sih aman, polisi saja tak berani masuk sana walaupun bukan rahasia lagi di tempat itu segala transaksi haram kaum atas terjadi, tapi ini kok bisa bocor ya? Secara keamanannya benar-benar ketat.”
Bentari terlihat bingung sambil menatap televisi dimana terlihat tiga orang tengah berbincang di studio televisi membahas tentang kemungkinan adanya pejabat yang akan ikut terseret dalam kasus ini, karena disinyalir uang yang telah digelontorkan bukanlah dalam jumlah kecil.
“Kamu suka ke sana?”
“Iya … dulu masa-masa jahiliyah.”
“Hahaha.”
Kirana dan Siska tertawa mendengar istilah Bentari.
“Jadi di sana itu ada ruangan – ruangan gitu. Naaah, biasanya ruangan itu diisi oleh pejabat, pengusaha, artis, atau yaitu para crazy rich yang sedang ‘pesta’ atau ‘transaksi’.” Bentari membuat tanda kutip dengan jari telunjuk dan tengahnya ketika mengucap kata pesta dan transaksi.
“Termasuk kamu?”
“Tidak, aku belum pernah memakai ruangan itu. Aku biasanya hanya duduk di area bar saja.”
“Ayah? Apa Ayah pernah memakai ruangan itu?”
Bentari menatap Kirana sesaat sebelum tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun, Teh. Jangankan memakai ruangan itu, tahu tempat itu saja tidak. Hahaha … ayah itu, namanya saja keren disejajarkan dengan nama-nama pengusaha ternama, tapi aslinya tidak gaul. Kerjaannya cuma rumah – kantor – proyek. Diwawancara oleh media saja tidak pernah mau, orang-orang cuma tahu nama Andi Santoso, tapi tidak tahu yang mana orangnya. Kalau soal itu, aku lihat Oka itu mirip ayah, mereka tidak suka hingar bingar ketenaran.”
Kirana mengangguk – anggukan kepala, ada perasaan lega ketika mengetahui kalau ayahnya tidak pernah terlibat dalam dunia seperti itu.
“Jadi Oka sudah punya pacar?” Kirana mengalihkan percakapan mereka dan terlihat penasaran dengan berita Oka memiliki seorang kekasih.
“Iya, namanya Arunika, anaknya lucu …”
Mereka bertiga lanjut membicarakan tentang Oka yang kini sudah memiliki kekasih. Walaupun belum benar-benar resmi pacaran, tapi berita Oka yang membawa pulang seorang perempuan ke rumah cukup membuat Kirana penasaran, mengingat selama ini tak sekalipun Oka terlihat dekat dengan perempuan manapun, selain Kayas, temannya dari kecil.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Siapa?” Kirana menatap Bentari yang mengendikan bahu kemudian berdiri dan berjalan menuju depan.
“Kak Bi!”
“Hei!”
Bentari menatap Arunika yang hari ini datang bersama dengan seorang pria dengan pakaian rapi.
“Siapa, Bi?” Kirana mengintip dari ruang keluarga terlihat penasaran mendengar suara ceria yang menyapa Bentari.
“Teh, sini!” Bentari dengan semangat memanggil Kirana, tangan kanannya menarik Arunika masuk tak memedulikan Atharya yang sudah membuka mulut untuk mengenalkan diri. “Ini Arunika.”
Mata Kirana membulat mendengar nama gadis yang tadi tengah menjadi bahan obrolan mereka.
“Oooh, jadi ini yang namanya Arunika.”
Arunika menyalami Kirana walau dengan wajah bingung.
“Sudah lama kenal sama Oka?” tanya Kirana sambil mengajak Arunika duduk bersamaan dengan Siska yang ikut bergabung setelah dipanggil Bentari.
Alhasil saat ini Arunika duduk di kursi tamu di kelilingi Kirana, Bentari dan Siska yang terlihat antusias bertanya, sedangkan Atharya … masih berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung melihat kehebohan tiga orang perempuan yang mengerumi adiknya.
“Oka nyebelin kan?”
“Permisi,” Atharya coba menyapa tapi sepertinya tidak ada yang sadar akan keberadaan dirinya.
“Tidak peka kan?”
“Ngomel-ngomel mulu kan?”
“Ko mau sama Oka?”
Arunika menatap ketiganya yang bergantian memberikan pertanyaan yang lebih berupa pernyataan daripada pernyataan.
“Abang baik kok,” jawab Arunika dengan wajah polos.
“Abaaaaang … aaaaahhhh … hahahaha.”
“Halo!”
Ketiganya tertawa mendengar panggilan Arunika untuk adik yang selama ini menjadi objek keisengan mereka, bahkan tak mendengar suara Atharya yang berusaha menginterupsi dari tadi.
“Terus dia manggil kamu apa?”
“Ehm!”
“Sayang? Iiiih, kok gue merinding ya bayangin adek gue pacaran, terus manggil sayang gitu.”
“Ehm!”
“Hahahaha.”
“EHM!”
Semua orang kini menoleh ke arah pintu dimana sumber suara deheman berasal.
“Iya, mau mencari siapa?” tanya Kirana.
“Hmmm … tadi kita ke sini mau cari siapa, Ra?” tanya Atharya sambil menatap Arunika yang duduk manis di antara perempuan yang kini menatapnya.
“Abang Oka, Asoka Danubrata.”
“Saya mau mencari abang Oka, Asoka Danubrata.”
“Kamu mengenalnya?”
Arunika mengangguk. “Itu kakak saya.”
Kirana, Bentari, dan Siska saling pandang dengan mata membulat terkejut.
"Astagfirullah! Masuk - masuk, Mas, silahkan! Aduh maaf ya, adik saya tadi mungkin tidak melihat Mas nya,” ucap Kirana sambil berdiri di susul Bentari dan Siska yang kini pindah tempat duduk.
“Maaf saya kira tadi sopirnya Arunika,” ucap Bentari membuat Atharya terkejut karena untuk pertama kalinya dikira sopir.
“Hei, Maesaroh, mana ada sopir keren kayak gitu,” ujar Siska.
“Kamu kira kita lagi shooting sinetron cintaku kepentok sopir ganteng,” timpal Kirana membuat Bentari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Atharya kini duduk di samping Arunika, di hadapan mereka, Kirana, Bentari dan Siska duduk berjajar menatapnya penuh selidik, membuat Atharya yang hari itu terlihat tampan dengan kemeja navy dan celana coklat muda duduk dengan serba salah.
“Perkenalkan saya Athar, kakak Arunika.”
“Saya Kirana, kakak tertua Oka, dan ini adik saya Bentari, kakak kedua Oka, sedangkan ini Siska, dia …”
“Pengasuhnya Oka,” sambar Siska yang mendapat anggukan dari Kirana dan Bentari, sedangkan Arunika melihat ketiganya dengan takjub. Ini kali pertama dia bertemu dengan Kirana sang kakak tertua dan Siska sang pengasuh.
“Oka sedang pergi bersama suami saya, mungkin baru nanti siang atau sore pulangnya. Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya sama adik saya?”
“Jangan-jangan, dia mau minta pertanggung jawaban Oka!” bisik Siska membuat mereka semua termasuk Atharya menatap Arunika yang langsung menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak-tidak! Bukan untuk itu.”
“Aaaah, syukurlah, aku tidak mau dilangkah,” ucap Bentari serius.
“Nggak apa-apa kali dilangkah asal uang pelangkahnya okelah,” ujar Kirana realistis seperti biasanya.
“Eh, gue juga mau minta uang pelangkah ah sama si Oka, lumayan siapa tahu cukup buat nambah-nambah biaya kawin sama kang mas Aldo.”
“Yaelah, Munaroh, kawin mah gak perlu modal. Modal nekad juga jadi kalau kawin, yang perlu modal gede itu nikah. Sebenarnya sih nggak gede juga asal ada mas kawin sama buat bayar penghulu udah sah tuh, nah yang gedenya itu biaya resepsinya.”
“Tenang, nanti aku yang atur, harga nego deh buat Kak Siska.”
“Benar ya, Bi. Kalian kan tahu sendiri omset palugada gue lagi turun, toko kang mas Aldo di tanah abang juga lagi sepi.”
“Sabar, biasanya kalau mau nikah itu ada saja godaannya, masalah keluargalah, masalah materilah, lo berdoa saja kang mas Aldo lo itu nggak selingkuh.”
“Aamiin, jangan sampai deh amit-amit … kalau dia sampai selingkuh gue nggak jadi kawin lagi dong.”
“Nikah, Juleha, nikah! Lo mah mikirnya kawin mulu.”
“Hehehe, maklum otak gue mikirnya udah kayak penganten baru saja ini.”
“EHM!” Atharya kembali berdehem dengan keras membuat ketiga perempuan yang dari tadi asik dengan dunia mereka sendiri kini menatapnya dan tersadar kalau saat ini mereka tengah ada tamu.
“Aduh maaf, Mas Athar, kita sampai lupa ini nggak ambilin minum.”
“Mau minum apa, Mas? Kasihan sampai gatal gitu tenggorokannya ya.”
“Tidak usah, terimakasih, tenggorokan saya baik-baik saja,” ucap Athar sambil mengelus lehernya lanjut ke dada. “Maaf saya juga tidak bisa lama, dan maksud kedatangan saya ke sini hari ini bukan untuk meminta pertanggung jawaban Oka.”
“Alhamdulillah,” ucap Kirana dan Bentari.
“Yaaah, gagal dapat uang pelangkah deh,” gumam Siska yang langsung disikut Kirana.
“Saya ke sini ingin mengucapkan terima kasih kepada Oka dan keluarga karena telah menolong Arunika, adik saya beberapa hari yang lalu.”
Kirana dan Siska yang tidak paham apapun, menatap Arunika yang kini tertunduk sambil memainkan kuku jari tangannya.
“Apa kamu baik-baik saja sekarang?” tanya Bentari membuat Arunika perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Bentari yang menatapnya lembut.
“Iya, Kak, sudah lebih baik.”
Bentari tersenyum mendengar jawaban Arunika.
“Kamu perlu ingat … kamu tidak sendiri, kalau ada masalah kamu boleh cari kakak di sini, kamu boleh cerita apapun, oke?”
Arunika terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum kemudian mengangguk semangat. Atharya yang melihat bagaimana Bentari bersikap kepada adiknya kini bisa sedikit tenang meninggalkannnya karena tahu adiknya ada di sekeliling orang-orang baik.
Semalam Sisil pun sudah berbicara dengan Arunika diakhiri dengan tangis berpelukan di antara keduanya. Sisil memberitahu Arunika bukannya dia tidak menyayangi dan tak peduli kepada Arunika, sebagai perempuan tentu saja Sisil lebih memahami bagaimana perasaan bundanya yang dikhianati, maka setiap dia bersikap hangat kepada Arunika, dia merasa bersalah kepada bundanya.
Namun hari dimana Arunika pulang setelah mengetahui kebenarannya, Sisil sadar kalau selama ini tanpa dia sadari telah menyakiti Arunika, anak yang tak tahu apapun. Begitupun Arum, malam itu Arum menangis di kamar menyesali ucapannya kepada Arunika, menyesali sikapnya yang dingin selama ini kepada anak yang telah dia besarkan selama ini.
Sisil meminta Arunika untuk tetap berada di samping Arum, untuk menyebarkan keceriaannya di rumah itu, meyakinkan Arum kalau Arunika menyayangi Arum dan tak akan meninggalkannya.
Sisilpun meyakinkan Arunika kalau Arum sebenarnya sangat menyayangi Arunika. Arum selalu memuji Arunika di depan teman-teman perkumpulannya, betapa cantiknya Arunika, betapa cerianya Arunika, betapa baiknya Arunika, bahkan ketika Arunika berhasil masuk universitas bergengsi, Arum mentraktik teman-temannya sebagai tanda syukur.
Mengenai perjodohan Arunika, Arum telah berulang kali menolak bukan karena status Arunika yang tak pantas untuk mereka, hanya saja Arum tak ingin Arunika menjadi mahar politik ayahnya sendiri. Tak tahu lagi harus bagaimana menolaknya, akhirnya terucaplah kata-kata kasar yang selama ini dipendamnya.
Jadi bukannya tak sayang, hanya saja selama ini kenapa Arum bersikap dingin di depan Arunika karena setiap melihat Arunika ingatannya akan dilemparkan kepada bagaimana suaminya mengkhianatinya dulu. Walaupun sudah memaafkan tapi Arum belum bisa melupakan pengkhiantan itu.
Perempuan itu pemaaf, tapi ingatannya sangat tajam. Saat seseorang yang dia cintai berhenti menyakitinya bukan berarti dia langsung bahagia, tapi ingatannya mengambil alih, menyakitinya dalam diam. Beberapa beruntung bisa mencapai titik ikhlas, sebagian besar terluka seumur hidupnya. (Naseeha.muslimah)
****