Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
30. Kang Es



“Akhir-akhir ini publik dibuat penasaran oleh sosok putra pendiri salah satu partai terbesar di Indonesia yang terlibat dalam kasus korupsi proyek pembangunan jalur kereta cepat yang akan menghubungankan Jakarta – Surabaya. Belum diketahui siapa sosok itu, namun beberapa nama sempat muncul ke permukaan salah satunya adalah …”


Bentari dengan cepat turun dari lantai dua, di pundaknya tersampir tas Hermes coklat muda, dengan mengenakan celana kulot linen hijau army, atasan blus putih, rambutnya dibiarkan terurai, dan make up tipis terkesan natural membuat Bentari terlihat cantik dan segar.


Dia menyalami bu Mega yang sedang bersiap untuk menonton drama korea kesukaannya.


“Pergi dulu ya, Mah.”


“Pergi sama siapa jadinya?”


“Kak Siska sama Kayas.”


“Ya sudah hati-hati.”


“Iya, assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam,” jawab bu Mega sambil memindahkan saluran televisi ke saluran berbayar yang menayangkan drama Korea kesayangannya.


Bentari ke luar rumah kemudian masuk ke dalam mobilnya, duduk di belakang kemudi, dia bersiap dengan kacamata hitam sebelum kemudian menyalakan mobil dan melaju untuk menjembut Siska juga Kayas.


Hari ini rencanya mereka akan pergi untuk mencari souvenir pernikahan Siska ke pasar Jatinegara.


“Bi, nanti tas kamu taruh di mobil jangan di bawa.”


“Kenapa?”


Saat ini mereka telah melewati stasiun Jatinegara dan hanya perlu lurus saja untuk sampai ke pasar Jatinegara.


“Kita ke sini buat nyari souvenir yang murmer. Nah apa jadinya kalau pedagangnya lihat calon pembelinya bawa tas Hermes seharga mobil?”


“Kalau kak Bi sih tidak usah bawa tas Hermes juga wajahnya sudah nunjukin kalau dia kaya, tidak seperti kita, muka-muka memelas.” ucap Kayas yang langsung disambut tawa Siska.


“Hahaha, bener-bener. Pokoknya nanti tas kamu tinggal di mobil, dompet sama HP satuin saja di sini.” Siska menepuk tas yang tergemblok di depan dadanya.


Mobil Bentari kini sudah memasuki gedung pasar Jatinegara, mereka sedikit kesulitan mendapatkan tempat parkir dan setelah berputar-putar akhirnya mereka mendapatkan tempat parkir di lantai 1, sedangkan tempat souvenir ada di basement alhasil mereka bertiga turun dua lantai menggunakan tangga.


“Kita keliling dulu, cari yang bagus tapi murah!” Siska memberikan interuksi ketika mereka sampai di lantai basement yang langsung disuguhkan oleh toko-toko yang menjajakan aneka souvenir, dari mulai yang murah sampai dengan yang elegant tapi dengan harga terjangkau lengkap ada di sini.


“Oke!” Bentari dan Kayas yang memang baru pertama kali datang ke sini hanya bisa mengangguk setuju mengikuti Siska si palugada yang bersama Kirana sudah beberapa kali datang ke sini untuk mencari souvenir ketika ada tetangga mereka yang hajatan.


Mereka mulai berkeliling tempat yang memang terkenal sebagai salah satu grosir souvenir dengan harga murah di Jakarta. Awalnya Siska tertarik untuk membeli gelas sablon, tapi kemudian dia bimbang dengan mangkuk yang harganya selisih 1000 lebih murah dari gelas, namun begitu dia masih ingin berkeliling lagi siapa tahu ada yang lebih murah lagi.


Kayas dan Bentari hanya bisa pasrah mengikuti Siska berkeliling, dan tebak setelah berkeliling dari depan sampai belakang, tengah semua sudah mereka datangi Siska kembali ke toko yang pertama, karena ternyata di sanalah yang paling murah!


“Ya ampun, kalau tahu akhirnya ke toko itu juga kita tak perlu keliling dulu sampai kaki gempor kayak gini,” ucap Bentari sambil duduk selonjoran di atas karpet rumah Kirana.


Mereka kini sudah berada di rumah Kirana, tadi di jalan Kirana menelpon meminta mereka datang ke rumah karena ada titipan oleh-oleh dari ibu suri yang baru pulang dari Eropa untuk bu Mega.


“Kita itu harus menerapkan prinsip ekonomi.”


“Ya ampun, Kak, mangkuk itu bedanya cuma 500 dari toko itu sama toko yang lainnya.”


“Dengar ya, Markonah, Park Shin Hye kasih tahu … 500 rupiah kalau belinya satu memang tak berasa, nah kalau beli 500 biji kan lumayan. 500 kali 500, berapa tuh?”


“250 ribu,” jawab Kayas sambil menuang es buah yang disediakan Kirana ke dalam gelas.


“Nah, lumayan kan tuh uangnya bisa buat DP undangan.”


Bentari mengangguk-anggukan kepala paham.


“Tapi tadi lucu tuh yang tempat minum.”


“Itu sih nanti kalau kamu nikah, Bi, aku tak sanggup kalau souvenirnya itu.”


“Kalau Kak Bi nikah, souvenirnya mau apa, Kak?” tanya Kayas sambil menyuap es buah.


“Kalau Bentari nikah, jangan ditanya deh. Nih mangkuk souvenir gue bakal ngumpet dipojokan karena minder.”


“Tapi minimal lo bentar lagi nikah, jadi bebas dari gossip emak-emak komplek,” ucap Kirana yang duduk berselonjor bergabung dengan ketiga tamunya.


“Hahaha … Bi, saya serahkan posisi nomor satu padamu.”


“Yaaaah, memangnya tidak ada lagi apa yang bisa jadi bahan gossip ibu-ibu di tempat bang Jarwo?”


Kirana, Siska dan Kayas menggelengkan kepala sambil tertawa.


“Makanya cepat move on dong.”


Bentari menghela napas berat.


“Aku pikir akan gampang buat move on dari kang es itu. Ternyata susah.”


“Kalian tidak pacaran kan dulu?” tanya Siska penasaran.


“Justru karena tidak sempat pacaran, makanya masih penasaran.”


“Nah bisa jadi tuh.”


Bentari terdiam memikirkan ucapan Kirana.


“Sorry nih, Teh, tapi aku juga kan sama kakang tidak perah memiliki hubungan apa-apa, tapi tidak sampai seperti ini deh.” Bentari menyandarkan tubuhnya ke sofa di belakangnya. “Waktu kakang nolak perjodohan, aku hanya marah, bahkan ketika teteh sama kakang tunangan aku banar-benar merasa bahagia, tidak ada yang namanya sedih, tapi sekarang berbeda …”


Bentari menatap Kirana, Siska juga Kayas yang kini menatapnya serius.


“Di sini …” Bentari menepuk dadanya, “Sakiiit banget rasanya, padahal seperti yang tadi kak Siska bilang kalau kami tidak memiliki hubungan apapun, tapi tidak tahu kenapa aku begitu patah hati, dan tak bisa melupakannya.”


Sesaat mereka terdiam. Kirana tahu kalau Bentari selama ini belum bisa melupakan Birendra, tapi dia tidak tahu kalau Bentari ternyata sepatah hati ini.


Bentari menggelengkan kepala.


“Ayah bilang sampai saat ini dia belum mendengar kalau kang es menikah.”


“Ayah pasti tahu kalau memang kang es itu menikah, secara orang kepercayaan ayah.”


Bentari mengangguk.


“Waktu eyang meninggal kami sempat bertemu, dan dia tidak memakai cincin nikahnya. Apa mungkin dia memang belum menikah ya?”


“Ya bisa saja pernikahannya ditunda atau bahkan mungkin gagal.”


Bentari terdiam terlihat berpikir.


“Tapi nih ya, walaupun itu gagal atau ditunda pasti ayah tahu, minimal ayah akan mendengar rencana pernikahannya. Tapi ini tidak sama sekali.”


Kirana, Siska dan Kayas ikut berpikir.


“Benar juga sih. Apa mungkin dia sebenarnya tidak pernah berencana menikah?”


“Tapi kenapa saat itu dia bilang kalau dia mau menikah?”


“Mungkin dia mau putus dari kak Bi … aduh!!”


Kayas mengaduh setelah dapat pukulan bantal sofa dari Siska.


“Kami kan tidak pacaran, ngapain minta putus?”


“Nah benar tuh!” Kirana setuju dengan Bentari.


“Iya kan? Misalnya anggap saja dulu aku yang terlalu PD kalau tuh si freezer punya perasaan yang sama denganku.”


“Jadi, dia freezer atau kang es?” bisik Siska kepada Kirana


“Kang es cendol yang manis-manis seger gitu,” jawab Kirana membuat Siska terkekeh.


“Teteh, Kak Siska ih serius!”


“Lanjutin, Kak, aku dengerin kok, biarin saja nenek-nenek dua ini mah … aduh!” Untuk kedua kalinya Kayas mendapat pukulan dari Siska. Kakaknya.


“Bukan cuma kamu saja Bi, yang kepedean soal perasaan Birendra. Teteh juga melihat kalau dia menyukaimu.”


“Nah iya kan, Teh … anggap saja kita salah. Anggap saja kita semua salah, dan dia benar-benar hanya menganggapku sebagai teman dan dia mau menikah … itu bukan berarti dia harus menjauhiku kan?” Semua mengangguk setuju. “Tapi dia menghidariku. Bukan hanya menghindar, dia bahkan pura-pura tak mengenaliku. Namun diam-diam dia juga menyelamatkanku waktu di bandara.”


Bentari menceritakan tentang pertemuannya dengan Birendra di mall juga bagaimana pria itu menyelamatkannya saat di bandara ketika pulang dari Surabaya.


Kirana terdiam terlihat berpikir, walau mulutnya sibuk mengunyah es buah.


“Sebelum dia bilang kalau dia mau menikah ada yang aneh tidak?”


Bentari terdiam berpikir, sebelum akhirnya dia mengingat sesuatu.


“Teteh ingat tidak ketika aqiqahan Danish, dia datang ke sini?”


Kirana mengangguk.


“Sebelum itu, dia sempat menghilang. Tak bisa dihubungi oleh siapapun, bahkan dia tidak pergi ke kantor, ke apartemennya pun tidak ada. Dia benar-benar menghilang, dan saat bertemu lagi itu waktu aqiqahan Danish bersamaan dengan dia bilang kalau dia mau menikah.”


“Aneh sih,” ucap Siska yang mendapat anggukan dari Kirana dan Kayas.


“Kamu tak mendengar informasi apapun soal menghilangnya dia?”


“Tidak, orang-orang di kantornya pun merasa khawatir karena itu kali pertama dia menghilang seperti itu.”


Semua kembali terdiam, menyadari ada yang salah dengan keputusan tiba-tiba Birendra yang menjauhi Bentari.


“Apa mungkin kayak di drama Korea gitu, orangtua kalian tidak setuju jadi mereka mengancam Birendra untuk menjauhi Bi?”


“Lo ketularan emak-emak kita … drama queen.”


“Lha emang lo kagak? Lo lebih parah, Maesaroh!”


“Masa sih? Eh iya sih, hidup dan jalan cerita cinta gue sudah mirip drama korea ya?"


“Iya, hahaha … kisah Song Song couple kalah deh sama kisah cinta kang kopi sama Teh Nana.”


“Hahaha.”


“Ayah sama mamah Mayang sangat menyukai Birendra, tidak mungkin mereka tidak setuju,” ucap Bi tanpa memedulikan percakapan Kirana dan Siska. “Lagian ayah sudah trauma soal perjodohan, jadi dia tidak akan menjodohkan anak-anaknya lagi.”


Kirana mengangguk setuju.


“Apapun alasannya, pasti ada alasan tentang keputusan Birendra untuk ninggalin kamu secara tiba-tiba.”


“Iya, tapi apa?”


Semua terdiam berpikir sampai akhirnya ponsel Kirana berbunyi membuat Kirana tersenyum.


“Aku tahu siapa yang paling pas untuk mencari tahu ini,” ucap Kirana sambil mengangkat ponselnya. “Assalamualaikum, Sayang …”


Kalau kang es menutup dari dari semua orang, tenang saja ada kang kopi yang bahkan berhasil meluluhkan hati perempuan realistis untuk menjadi Cinderella. Kalau hanya untuk mencari informasi soal itu mungkin bukan hal yang sulit bagi seorang Caraka Mahesa.


*****