Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
33. Trending Topik



Biro Psikologi Cendana, sebuah biro psikologi yang bertempat di daerah Dharmawangsa, Surabaya. Berada di dalam sebuah komplek perumahan yang asri dan tenang. Caraka turun dari mobil yang dikendari oleh Pak Supri, memasuki halaman yang terlihat bersih dan nyaman, begitupun ketika Caraka memasuki bangunan rumah berlantai dua sepertinya kenyamanan benar-benar menjadi prioritas utama bagi siapapun yang mendatangi kantor yang berisi para psikolog itu.


“Selamat pagi.” Seorang wanita berhijab hijau lumut dengan kacamata menyapa ramah. Yuni, nama yang tertulis di atas nametagnya.


“Selamat pagi, saya Caraka sudah ada janji dengan pak Fahmi.”


Yuni kemudian menekan extension telepon.


“Cak, Pak Caraka sudah datang … baik.”


Yuni menutup kembali teleponnya kemudian berdiri dan mengantar Caraka menuju area belakang rumah dimana terdapat sebuah kolam ikan dengan air mancur di tengahnya yang memberi suara menenangkan, terdapat beberapa ruangan di depan kolam itu dimana Caraka kini berdiri di depan salah satunya.


“Cak Fahmi, pak Caraka sudah datang,” ucap Yuni setelah mengetuk dan membuka pintu ruang kerja Fahmi.


“Pak Caraka, halo apa kabar, Pak?” Fahmi berjalan sambil menyapa Caraka yang memasuki ruang kerja Fahmi.


Ruangan dengan nuansa putih dan hijau yang menyejukan mata. Dindin bercat putih, sofa putih yang nyaman dengan bantal-bantal sofa berwana hijau daun. Jendela kaca cukup besar memerlihatkan taman kecil yang sangat terawat dimana terdapat pohon bugenvil dengan bunga-bunga berwarna ungu yang bermekaran.


“Baik,” jawab Caraka sambil menyalami Fahmi yang menyapanya ramah.


Fahmi. Pria berusia awal tiga puluhan dengan kulit sawo matang, rambutnya sedikit keriting, dengan jenggot tipis di dagunya, tubuhnya kurus, dengan tinggi jauh di bawah Caraka. Namun begitu wajah Fahmi memancarkan aura ramah juga menyenangkan. Beberapa saat mereka berbincang ringan, sampai Caraka hampir lupa tujuannya datang ke sana hari itu.


“Sebetulnya kedatangan saya hari ini ke sini bukan saya yang perlu bantuan Cak Fahmi.” Di awal perbincangan mereka, Fahmi meminta Caraka untuk memanggilnya cak Fahmi bukan pak Fahmi, agar lebih akrab. “Saya sangat mencintai istri saya, dan saya datang ke sini atas permintaannya.”


Fahmi terlihat bingung dengan ucapan Caraka.


“Istri saya sangat menyayangi adiknya yang memiliki masalah dalam hubungan asmara … dulu adik ipar saya ini pernah menyukai seseorang, suatu hari kekasihya tiba-tiba menghilang sebelum akhirnya datang kembali hanya untuk meninggalkannya. Namun sampai sekarang adik ipar saya itu belum bisa melupakannya. Selama ini kami mengira kalau pria ini telah menikah, tapi ternyata dia belum menikah, dan saya bisa pastikan kalau pria ini masih memiliki perasaan yang sama dengan adik ipar saya.”


Fahmi terdiam, menyimak cerita Caraka.


“Dan alasan saya menemui Cak Fahmi adalah untuk mengetahui alasan kenapa pria itu sempat menghilang dan apa alasan dia meninggalkan adik ipar saya.”


“Saya?”


“Tidak – tidak! bukan Cak Fahmi, tapi seseorang yang Cak Fahmi kenal.” Fahmi mengerutkan alisnya bingung. “Birendra. Cak Fahmi mengenalnya kan?”


Fahmi terdiam mengamati Caraka yang juga tengah mengamatinya.


“Dan adik ipar Mas Caraka adalah …”


“Bentari, tapi hampir semua orang mengenalnya dengan nama Anggi Santoso.”


Fahmi terdiam sesaat kemudian mengangguk-anggukan kepala.


“Cak Fahmi mengenal adik ipar saya?”


“Tidak, tapi istri saya penggemar adik ipar anda,” ucap Fahmi dengan senyumannya. “Tapi … mohon maaf sebelumnya karena sepertinya saya tidak bisa membantu Mas Caraka. Saya tidak tahu alasan Birendra memutuskan adik ipar anda, ataupun alasannya menghilang dulu.”


Caraka sudah mengira kalau tidak akan mudah untuk mendapatkan jawaban atas alasanan menghilangnya Birendra dulu, namun yang pasti apapun itu berhubungan dengan keputusan Birendra memutuskan Bentari.


“Kenapa anda tidak bertanya langsung kepada Birendra?”


“Hahaha … dan apa dia akan mudah memberitahu alasannya? Adik ipar menjulukinya kang es, bahkan terkadang freezer karena sikapnya yang dingin, jadi saya sudah bisa menebak kalau Birendra hanya akan diam dengan wajah menyebalkannya itu.”


“Hahaha.” Fahmi tertawa sambil mengangguk setuju.


Sesaat mereka terdiam sampai akhirnya Fahmi berkata, “Saya tidak bisa membantu apapun karena memang saya tidak tahu dan yang seperti Mas Caraka bilang tadi Birendra tidak akan mudah untuk menceritakan masalahnya. Kalau pun saya tahu … maafkan saya tidak bisa memberitahukan hal itu kepada Mas Caraka karena sumpah dan kode etik kami.”


Caraka terdiam mencoba mengolah kalimat yang sepertinya mengandung makna tersirat.


“Namun … bisa saya minta tolong sampaikan pesan saya kepada adik ipar anda?” Caraka mengangguk. “Bersabarlah, tunggu sebentar lagi … Birendra insyaallah akan kembali padanya.”


Ucapan Fahmi itu cukup menguatkan prediksi Caraka kalau Birendra sedang memiliki masalah yang sepertinya perlu penanganan ahli, dan Fahmi sedang melakukan itu walaupun mungkin saat ini Birendra masih menutup diri.


***


Kampus tempat Oka menuntut ilmu saat ini terjadi kehebohan, lebih tepatnya di gedung PSJ dimana sedang diselenggarakan seminar umum. Asoka Danubrata yang selama ini datang ke kampus dengan menggunakan si merah, hari ini datang dengan menggunakan … si putih.


Ya, akhirnya si putih ke luar kandang karena si merah mogok sedangkan Oka harus cepat-cepat pergi ke kampus kalau tidak ingin terlambat ikut seminar. Alhasil kehebohan terjadi … bukan hanya karena mobil fantastisnya, tapi juga siapa yang tiba-tiba ke luar dari dalamnya.


“Wiiiih … Pangeran sudah selesai menyamarannya?” Goda Kemal yang hanya dapat decakan dari Oka.


“Kalau ada yang nanya bilang saja itu mobil ... investor gue.”


Gara-gara kejadian saat OSPEK dulu, semua orang kini mengetahui kalau Oka memiliki seorang investor yang akan menanam modal padanya untuk sebuah proyek, yang Oka sendiri belum tahu proyek apa itu.


“Siap! Tapi posisi buat gue aman kan?”


“Aman!” jawab Oka sambil berjalan dengan cepat menuju gedung dimana seminar akan diselenggarakan.


Tentu saja perjalanan Oka dari parkiran menuju gedung kali ini mendapat perhatian lebih dari para mahasiswa yang datang untuk mengikuti seminar.


Sebetulnya bukan hanya Oka saja yang memakai mobil dengan harga fantastis ke kampus, mobil-mobil Eropa, sport dengan harga fantastis berseliweran di kampus Oka. Namun yang menarik perhatian kali ini adalah karena siapa yang mengendarainya. Seorang mahasiswa yang selama ini terkesan sederhana, tiba-tiba datang ke kampus mengendarai seri terbaru dari Range Rover yang harganya mencapai 4 milyar.


Dan berita tentang Oka yang mengendarai mobil mewah ke kampus sampai juga ke telinga Arunika yang baru saja datang dengan diantar supir. Kemarin Oka memberitahu kalau hari ini ada seminar, jadi Arunika memutuskan untuk meminta antar sopir dan pulangnya dia akan menunggu Oka sambil mengerjakan tugas.


Berita tentang Oka terus bergulir semakin besar dengan segala asumsi. Mulai dari Oka yang ternyata anak haram pejabat negara, pengedar narkoba, sampai simpanan tante-tante. Jujur saja, semua itu membuat Arunika merasa gerah. Ingin rasanya Arunika mengungkap kebenarannya, tapi selama ini Arunika tahu bagaimana Oka menyembunyikan identitas yang sebenarnya, jadi tak mungkin kalau Oka tiba-tiba saja mengungkapkan kebenarannya begitu saja. Karena alasan itulah Arunika lebih baik diam, dan menghindar setiap ditanya, selain takut salah juga bukan kewenangan Arunika untuk mengungkapkan identitas Oka yang sebenarnya.


Arunika merasa sedikit kehebohan dengan seseorang menyebut nama Oka membuat Arunika membuka earphone dan menengadah mengalihkan tatapannya dari laptop. Dan benar saja, Oka tengah berjalan sambil sesekali tersenyum ketika ada yang menyapanya, dan itu membuat Arunika sedikit kesal.


“Hei!” sapa Oka sambil duduk di samping Arunika yagn kini tengah mengerjakan tugas di gaze fakultas FISIP. Ini bukan kali pertama Oka datang ke area FISIP untuk menjemput Arunika, tapi biasanya tak mendapat perhatian sebegini banyak.


“Abang tahu kalau hari ini Abang jadi trending topik di kampus?”


“Aku sudah biasa menjadi trending topik,” jawab Oka santai membuat Arunika berdecak sambil membereskan laptopnya kemudian memasukannya ke dalam tas.


“Nyebelin!”


“Nyebelin kenapa?” tanya Oka sambil membawa tas laptop Arunika dan mulai berjalan dengan Arunika di sampingnya.


“Karena semakin banyak yang suka sama Abang.”


“Oh ya?”


“Tuh kan nyebelin!”


“Hahahaha.”


“Abang, pria dengan wajah pas-pasan saja kalau mengendarai mobil mahal itu jadi kelihatan jauh lebih tampan, apa lagi cowok kayak Abang, bakal jauh – jauuh – jauuuh lebih tampan. Sainganku semakin banyak, Abang!”


“Terus kenapa kalau saingannya semakin banyak?”


“Abang tahu kan aku sedang tak percaya diri.” Mereka kini sudah ke luar dari area FISIP dan tengah berjalan menuju ke tempat parkir.


Beberapa orang menyapa Oka yang hanya Oka balas dengan senyuman membuat Arunika semakin cemberut.


“Tak perlu tak percaya diri. Bukan kah sudah ku bilang, yang perlu kita lakukan saat ini adalah saling memantaskan diri.”


“Iyaaa … tapi ... tetap saja.” Arunika berhenti melangkah, membuat Oka ikut menghentikan langkahnya. “Lihat saja, mereka masih bisa dengan bebas menggoda Abang, padahal aku ada di sini lho, Bang, aku jadi berasa jadi Casper.”


“Hahaha.”


“Malah tertawa!”


Arunika semakin merajuk dengan wajah cemberut, namun tiba-tiba matanya membulat ketika Oka tiba-tiba membungkukkan badannya hingga wajah mereka sejajar, yang semakin membuat jantung Arunika berdetak kencang adalah ketika Oka mencubit pipinya sambil tersenyum dan berkata,


“Lucu, kalau lagi cemberut gini.”


Arunika masih terdiam tak bergerak membuat senyum Oka semakin lebar, tak cukup sampai sana Oka kini merangkul bahu Arunika sambil melanjutkan perjalanan mereka menuju si putih yang dengan gagah telah menunggu mereka berdua. Tentu saja aksinya itu menjadi tontonan semua orang yang dari tadi memerhatikan mereka.


“Ini cukup untuk memberitahu semua orang arti kamu untukku. Jadi jangan pernah tak percaya diri lagi, oke!” ucap Oka sambil mengelus lembut rambut Arunika yang kini pipinya memerah.


“Abaaaang … aku deg-deg-degan!”


“Hahaha.”


Mereka kini telah masuk ke dalam si putih yang meninggalkan area parkir FISIP dan melewati tempat parkir mahasiswa Psikologi.


“Abang, aku lupa memberi tahu!”


“Apa?”


Mereka berbelok kiri menuju jalan Lingkar Utara.


“Abang ingat pria yang dulu sempat ayah ingin kenalkan padaku?”


Oka mengganggukkan kepala.


“Dan ternyata sepertinya dia terjerat kasus korupsi kereta cepat Jakarta – Surabaya.”


“Oh iya?” Oka menatap Arunika terkejut.


“Iya, aku tak sengaja mendengar ketika beberapa orang semalam datang untuk rapat di rumah. Sepertinya mereka tak bisa lagi menutupi kasus itu karena mendapat sorotan dari masyarakat.”


“Harus dong! Enak saja setelah memakan uang rakyat, mereka mau bebas, yagn benar saja!"


Arunuka mengangguk setuju.


“Tapi kayaknya orang itu kenal sama kak Bi,” ucap Arunika membuat Oka untuk sesaat mengalihkan pandangannya kepada Arunika yang duduk di sampingnya.


“Benar kah?”


“Aku belum tahu pasti sih, Bang, semalam aku mendengar mereka menyebut nama Anggi Santoso. Apa mungkin teman atau pacarnya kak Bi?”


Oka mengerutkan keningnya.


Apa mungkin Birendra? Apa mungkin ini alasan Birendra meninggalkan Bentari dulu?


“Siapa namanya? Nama pria yang dulu mau dijodohkan denganmu itu.”


“Hmm … Bima kalau tidak tdak salah, aku tak tahu nama lengkapnya siapa, terlalu malas untuk emncari tahu tentang pria itu.”


Oka terdiam berpikir … Bima … bukan Birendra Abhimana, tapi bisa sajakan Bima adalah nama kecil Birendra? seperti halnya Oka dari Asoka.


*****