
Entah apa yang mendorong Arunika berani masuk ke dalam ruang kerja ayahnya, mungkin keingin tahuan yang begitu besar hingga membuatnya melakukan hal yang selama ini tak pernah dia bayangkan sekalipun.
Setelah mendengar percakapan Sigit dengan salah satu ajudannya, perasaan dan pikiran Arunika benar-benar tak menentu. Ayahnya akan menjodohkan Atharya dengan Bentari hanya untuk memuluskan jalannya menuju pilkada membuat hati Arunika hancur. Bagaimana bisa ayahnya bersikap egois seperti itu?
Melihat berita tentang Birendra yang tiba-tiba saja muncul akhir-akhir ini ditambah dengan apa yang Arunika dengar tentang niat sang ayah, membuat Arunika mulai menduga-duga keterlibatan sang ayah atas berita yang beredar. Sekuat apapun Arunika mencoba menyangkal, tapi rasa curiga atas keterlibatan ayahnya dalam kasus Birendra semakin hari semakin mendera hingga membuatnya nekad masuk ke dalam ruang kerja sang ayah untuk mencari kebenarannya, berharap kalau kecurigaannya salah.
Namun harapan tinggalah harapan ketika Arunika membuka map-map yang isinya membuat hatinya hancur … bukti keterlibatan sang ayah dalam berita Birendra. Bukan hanya hasil penyelidikan masa kecil Birendra yang sempat depresi, tapi juga penyelidikan tentang keluarga Andi Santoso yang lebih menitik beratkan kepada Bentari atau Anggi Santoso, bahkan ada laporan tentang asset keluarga miliki sang pengusaha property yang membuat jantung Arunika mencelos, tubuhnya gemetar, dan dadanya sesak karena perasaan kecewa kepada sang ayah.
Dengan tangan gemetar Arunika kembali membuka amplop terakhir yang masih tertutup rapat.
“Astagfirullahadzim.” Air mata tanpa Arunika sadari mulai bergulir, hatinya seketika hancur ketika melihat informasi menganai Asoka terpampang di hadapannya.
“Ara … apa yang kamu lakukan di sini?”
Kepala Arunika terangkat memerlihatkan wajahnya yang basah oleh air mata kepada sang ayah yang berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. Perlahan Arunika berdiri, berjalan mendekati Sigit dengan tangan gemetar memegang berkas yang membuat dunianya terasa jungkir balik.
“Papah bisa jelaskan apa ini? Kenapa ada informasi mengenai keluarga abang di sini?”
“Kamu sudah lancang masuk ke sini!” Dengan cepat Sigit merampas berkas di tangan Arunika yang terdiam menatap ayahnya dengan sorot mata terluka.
“Jadi itu benar? Papah yang berada di balik kekisruhan pemberitaan Birendra?”
Arunika menatap Sigit dengan tajam.
“Kenapa, Pah? Apa sepenting itu sebuah jabatan hingga Papah tega menghancurkan hidup orang lain? Hidup orang yang bahkan Papah tidak kenal? Orang yang tidak pernah menyinggung Papah, tapi Papah tega menguak masa lalunya yang kelam hanya karena sebuah obsesi?”
Sigit hanya bisa terdiam mendengar semua ucapan Arunika yang penuh emosi dan air matanya.
“Kenapa Papah diam saja? Seharusnya Papah menyangkal Ara, kenapa hanya diam?” Air mata Ara semakin deras mengalis seiring diamnya Sigit.
“Papah melakukan itu bukan hanya untuk Papah, tapi untuk kita … untuk keluarga kita!” Suara Sigit menggelegar seolah mengeluarkan emosi yang dari tadi dia tahan. “Apa kamu pikir yang akan menikmati segala kemudahan di masa depan itu hanya Papah? Tidak! kamu, ibumu, kakak-kakakmu akan merasakan semuanya! Jadi, jangan pernah menyalahkan papah kalau kamu sendiri masih menikmati itu semua!”
Arunika tak bisa berkata-kata lagi, hatinya benar-benar remuk redam, tubuhnya kini seolah tak bertulang lunglai di atas lantai, air mata terus mengalir walau tanpa suara.
Arum yang mendengar teriakan Sigit dengan tergopoh-gopoh menuju ruang kerja suaminya. Matanya membulat ketika melihat Arunika duduk di atas lantai dengan airmata yang terus mengalir. Dengan cepat dia merengkuh tubuh putrinya yang lemah.
“Ada apa ini?” tanya Arum, matanya menatap Sigit yang berjalan mundar-mundir dengan rahang mengeras dan wajah semerah tomat. “Ara, ada apa?” Tahu tak akan mendapat jawaban dari suaminya, Arum mencoba bertanya kepada Arunika yang kini menatapnya dengan mata yang memancarkan kesedihan yang teramat sangat.
“Apa yang harus Ara lakukan sekarang, Bun? Bagaimana Ara menghadapi abang dan keluarga abang,” ujar Arunika dengan airmata berderai membuat Arum kembali memeluknya mencoba memberi sedikit ketenangan dalam dekapan seorang ibu.
***
Oka menatap ponselnya, sesekali dia menghela napas berat melihat tak ada satupun pesan yang dibalas Arunika, ponselnya bahkan tidak aktif.
Sudah sebulan setelah identitas Oka diketahui oleh Sigit, dan sudah sebulan pula Oka tak mengetahui kabar Arunika. Oka sempat ke rumahnya, tapi satpamnya mengatakan kalau Arunika sedang pergi berlibur bersama kakak dan ibunya. Entah kemana.
Apa mungkin ini seperti yang ditakuti oleh Oka? Arunika pergi menjauh darinya. Bahkan Oka tak bisa menemui Arunika di kampus. Pikiran Oka benar-benar terpecah antara Arunika, kuliah juga PKL yang sedang dia jalani. Sesungguhnya dia ingin sekali berbicara dengan seseorang tentang masalah ini, namun dia tak tahu harus berbicara kepada siapa? Tak mungkin Oka menceritakan masalahnya kepada keluarganya karena dia tak ingin mereka tahu penghinaan yang sempat dia terima dari Sigit. Yang bisa dia lakukan hanya memendamnya sendiri, berharapa Arunika akan kembali untuk membicarakan masalah ini secara baik-baik.
“Bagaimana kuliah dan PKL nya lancar?” tanya Andi Santoso sambil duduk di sampingnya di pinggir kolam renang rumahnya di Surabaya.
Saat ini mereka semua sedang ada di Surabaya setelah sebelumnya Birendra memberi kabar kalau keluarga Birendra akan datang untuk ‘mengetuk pintu’ atau berkenalan dengan keluarga Bentari sebelum nanti pada akhirnya akan diputuskan kelanjutan hubungan Birendra dan Bentari.
“Lancar.”
Andi Santoso menganggukkan kepala, matanya menatap Oka yang kembali menghela napas dengan mata masih menatap ponsel.
“Teleponnya kenapa? Rusak?”
“Yah, coba miscall Oka, Yah.”
Andi Santoso berdecak, tapi tetap menuruti perintah putra bungsungnya. Seketika lagu dear God milik Avenged sevenfold terdengar.
“Bisa,” ucap Oka sambil kembali menghela napas.
“Kenapa? Arunika tidak menghubungimu?”
Oka mentapa Adni Santoso yagn terlihat santai menyulut rokoknya.
“Katanya lagi berlibur. Mungkin tidak ada sinyal.” Oka menyandarkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya.
“Bukan karena ayahnya melarang dia menghubungimu?”
Oka menatap Andi Santoso yang tengah mengembuskan asap putih.
“Bagaimana Ayah tahu kalau bapaknya Arunika tidak menyukaiku?”
“Dulu... dulu dia tidak menyukaimu karena belum tahu siapa kamu, kalau sekarang ayah yakin dia akan dengan senang hati menerima hubunganmu dengan Arunika.”
Oka kini duduk tegak menatap ayahnya dnegan mata membulat.
“Ayah tahu?”
Andi Santoso mengangguk. “Sangat mudah menebaknya setelah melihat reaksinya di Menteng kemarin.”
“Jadi karena itu Ayah memaksaku datang kemarin? Agar dia tahu siapa Oka sebenarnya?”
Andi Santoso menghisap rokoknya sebelum menjawab pertanyaan Oka.
“Sangat mudah menebak karakter orang seperti Sigit. Dia terlalu mendewakan posisi dan jabatan, dan ayah bisa menebak orang seperti apa yang akan dia terima untuk dekat dengan anak-anaknya. Wajar sebetulnya, semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya termasuk pasangan. Yang salah adalah kalau sampai dia merendahkan orang lain, dan sepertinya itu yang dia lakukan kepadamu. Benar?”
Oka hanya bisa terdiam sambil menghela napas.
“Jadi itu benar,” ucap Andi Santoso sambill kembali menghembuskan asap rokok.
“Apa ayah juga akan seperti itu dalam mencari pasangan untuk aku dan kakak?”
Sesaat Andi Santoso terdiam menatap Oka yang menatap matanya.
“Bagaimana kalau calon pasangan Oka … memiliki kekurangan.”
“Anak laki-laki dan perempuan itu berbeda. Ketika anak perempuan mengenalkan calon pasangannya, ayah harus melihat apa dia bisa melidungi putri ayah? Apa dia bisa membimbing putri ayah menjadi lebih baik? Apa dia bisa membahagiakan putri ayah? Dan ayah beruntung karena Kirana menemukan Caraka yang ayah tak akan ragukan lagi, begitu pula Birendra. Ayah telah memerhatikan Birendra sejak lama, walaupun memiliki cerita keluarga yang cukup berliku, tapi Birendra memiliki karakter kuat dan ayah yakin dia bisa membahagiakan Bentari.”
Andi Santoso terdiam sesaat untuk emnghisap rokoknya sebelum dia melanjutkan kembali ucapannya.
“Sedangkan kamu, seorang laki-laki … maka kamulah yang harus ayah siapkan agar bisa membimbing pasanganmu menjadi lebih baik, menjaga pasanganmu dengan baik, dan bisa membahagiakan pasanganmu lahir dan batin. Karena itulah ayah memersiapkanmu dari sekarang, karena sebagai laki-laki kita harus memikul tanggung jawab itu. Selain itu … agar nanti ketika calon pasanganmu mengenalkanmu kepada orangtuanya, ayahnya tak akan ragu untuk menyerahkan putrinya kapadamu, seperti ayah yang tak ragu menyerahkan Kirana kepada Caraka, dan Bentari kepada Birendra.”
Andi Santoso menepuk bahu Oka sambil berkata,
“Jadi kalau pasanganmu memiliki kekurangan, tanggung jawabmulah untuk mengisi kekurangan itu. Ayah percaya kamu tidak akan memilih perempuan yang salah untuk menjadi pasanganmu.”
Oka tersenyum, hatinya terasa hangat mendengar ucapan sang ayah. Bisa dipastikan ayahmu mungkin sudah tahu mengenai latar belakang Arunika, dan secara tak tersirat beliau mengatakan tak masalah dengan itu, jadi yang harus Oka lakukan adalah meyakinkan Arunika kalau kekurangannya tidak akan jadi masalah bagi hubugan mereka.
*****