Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
64. Epilog



“Ini gara-gara, Mas, kita jadinya telat.”


“Tidak telat, itu bisnya masih nungguin kita.”


Bentari memberengut menatap suaminya yang berjalan dengan wajah tanpa dosa. Ini adalah hari terakhir mereka di Santorini sebelum nanti sore kembali ke Athena dan besoknya pulang ke Indonesia.


Rencannya hari ini mereka akan mengikuti tour keliling Santorini menggunakan kapal yang tiketnya sudah mereka pesan jauh-jauh hari, namun hampir saja terlambat karena ulah Birendra. Bentari bahkan tak sempat mengeringkan —lagi— rambutnya, karena mereka harus buru-buru kalau tidak ingin ditinggalkan oleh rombongan yang terdiri dari kurang lebih 10 orang yang rata-rata adalah pasangan pengantin baru, jadi mereka memaklumi ketika Birendra mengucapkan maaf terlambat dengan rambut keduanya yang masih basah semua orang hanya tersenyum menggoda membuat pipi Bentari memerah.


Sudah seminggu mereka berada di Yunani, menikmati bulan madu di negara dengan julukan negri para dewa itu, menyusuri hampir semua tempat yang menjadi destinasi para wisatawan. Mereka mendatangi Acropolis untuk melihat Parthenon, kuil yang dibangun untuk Dewi Athena di atas ketinggian (Acropolis) dan menjadi landmark Yunani menjadi tempat yang paling Bentari ingin sekali datangi. Bangunan klasik yang biasanya dia lihat di film-film bertemakan dewa, dari mulai film kartun Hercules sampai Dewa Zeus kini berdiri megah di hadapannya.


Mereka juga mendatangi taman nasional Parnassos untuk melihat Delphi theatre, sebuah area dengan pemandangan pegunungan yang indah. Seperti Acropolis, Delphi theatre juga sering muncul di film-film kolosal kerajaan-kerajaan Yunani, sama-sama masuk dalam situs warisan UNESCO dan merupakan tempat yang dikeramatkan.


Birendra yang melihat antusiasme sang istri ketika mendatangi tempat-tempat bersejarah itu akan mengabadikannya di dalam lensa kamara, selain itu dia jadi mengetahui sisi lain dari seorang Sagita Bentari yang menyukai tempat-tempat klasik dengan nilai sejarah daripada tempat-tempat yang glamor modernisasi.


Sebetulnya bagi Birendra pergi bulan madu ke mana saja tidak masalah, yang penting judulnya BULAN MADU BERSAMA ISTRI. Jadi ketika Bentari lebih memilih Yunani dari pada Paris, itu tidak jadi masalah bagi Birendra yang penting bisa berduaan dengan perempuan yang telah dia cintai sejak lama. Tapi jujur saja Birendra kurang menyukai tempat ini … bukan karena tempatnya tidak bagus, malah sangat bagus. Yang tidak Birendra sukai adalah karena malamnya lebih pendek dari pada siangnya.


Jam 8 malam di Yunani itu matahari masih bersinar terik, dan selama langit masih terang benderang Bentari lebih memilih mendatangi setiap jengkal kota itu dari pada pulang ke hotel untuk melakukan aktifitas yang paling penting saat bulan madu. Dan biasanya untuk menebus malam yang pendek, Birendra akan melakukan shift pagi juga yang akhirnya membuat mereka hampir terlambat seperti tadi.


Dua hari terakhir mereka mendatangi Santorini, sebuah pulau cantik nan eksotis dan menjadi salah satu tempat teromantis yang menjadi tujuan para pengantin baru untuk berbulan madu. Sebuah kota yang dibangun di atas kaldera (fitur vulkanik yang membentuk kawah gunung berapi) dengan dominasi cat warna putih dan langsung menghadap laut biru nan jernih menjadi daya tarik tersendiri.


“Bagaimana? Beneran air panas?” Bentari bertanya penasaran dengan hot spring, sebuah area air panas di antara air laut yang dingin.


“Tidak begitu panas,” jawab Birendra dengan tubuh menggigil. “Itu lebih ke warm spring dari pada hot. Dan sebelum sampai sana, airnya dingin banget,” lanjut Birendra sambil memakai handuknya.


Sebetulnya Bentari yang penasaran dengan hot spring ini, bagaimana bisa area air panas yang sedikit tidak tercampur dengan air dingin yang seluas lautan? Disinilah salah satu kekuasaan Allah terlihat, yang tidak mungkin bagi manusia, menjadi hal yang mungkin bagi Sang Maha Kuasa.


“Panasan mana sama yang di Welirang?” tanya Bentari sambil menggandeng Birendra berjalan menuruni tangga menuju kamar mereka yang tersedia di dalam kapal.


Birendra terlihat berpikir sejenak sebelum dia mengedikkan bahu. “Aku belum pernah ke sana.”


“Belum pernah?” Birendra mengangguk sambil membuka pintu kamar mereka, kemudian menguncinya. “Nanti aku ajak ke sana. Waktu aku kecil, eyang sering mengajakku mandi air panas di sana … Mas, ih, mandi dulu!”


“Nanti saja mandinya, dingin,” ujar Birendra dengan suara parau sambil terus menciumi pipi, leher dan terus ke bawah.


“Mas, ih, bajuku jadi basah.”


“Buka saja biar tidak basah.”


“Maaas!!”


“Ya, Sayang?” Seolah tak mendengar protesan Bentari, Birendra terus melanjutkan aksinya. “Setelah ini kamu mau ke mana lagi?” tanya Birendra tanpa menghentikan apapun yang ingin dia lakukan.


“Aku … mau … Mas!” Birendra tiba-tiba mengangkat tubuh Bentari dan membaringkannya di atas kasur sebelum dia ikut bergabung di sana.


“Ya, Sayang?”


“Diam dulu!”


“Kalau diam, nanti aku malah tambah kedinginan.”


Bentari hanya bisa terkekeh mendengar jawaban Birendra. Gini nih, nasib punya suami pengacara, selalu saja pintar mencari jawaban terutama untuk hal – hal seperti saat ini.


Mungkin di antara mereka berdua, Birendralah yang lebih semangat pergi bulan madu dari pada Bentari. Bukan karena dia mau pergi ke Yunani, tapi lebih karena dia bebas melakukan hobi barunya yaitu ‘mengganggu istrinya’. Sebelum pergi bulan madu karena keinginan Bentari untuk menunda momongan sampai bulan madu, Birendra harus sangat berhati-hati, bahkan dia rela menggunakan pengaman jadi saat inilah yang ditunggu-tunggu Birendra, mengatakan bye-bye pada pengaman, tidak lagi ada menahan hasrat yang ada, hajar terus mumpung masih bulan madu. Hei, itukan salah satu fungsi bulan madu???


***


Grup Penghuni BUMI calon SURGA


Kirana


Gud mowniiiing, selamat pagi brotheh n sisteh


Yang di Yunani apa kabar? Masih kuat jalankaaaan?


Bentari


😟


Caraka


Abhi … awas pulang-pulang ngesot


Kirana


🤣🤣🤣


Bentari


😭😭😭


Birendra


😚😍


Asoka


BERISIIIIIIK!!!


Kirana


Jomblo bapeeer.


Caraka


😂😂


Bentari


🤣🤣🤣🤣🤣


Birendra


😆😆


Asoka


😤😤😤😤


Bentari


Jangan ngambek dong, Dek, nanti kakak bawain oleh-oleh.


Asoka


🤑🤑🤑🕺🕺🕺🕺


Kirana


Dasar matre!!


Caraka


Ngomong-ngomong Abhi nyogok apa sama kamu, Ka, biar sah?


Dulu kakang sampai ngasih si putih lho.


Bentari


Asoka


Hah! Si putih dari ayah?


Waaaah, Kakang, ya!


Berarti si putih nggak sah ya, Kang,


Caraka


Yaaah, Bi, kok dikasih tahu sih, Bi? Jadi ketahuankan🤦‍♂️


Bentari


Ops, keceplosan🤭😏


Asoka


Tenang, Kang, nggak perlu mobil, si putih DARI AYAH saja cukup kok


Motor ya, Kang, ya???


Si merah sudah mulai udzur nih


Caraka


Dari ayahnya tdk perlu capslock kali, Ka 🙄


Kirana


Yang kemarin minta si merah saja siapa coba?


Lunas nggak pake nyicil!


Berarti sah dong.


Asoka


Ooooh, tidak, Sistah!


Kakang sama teteh beda dong


Masa pewaris Mahesa group ngasihnya motor matic, second lagi … ckk-ckk-ckk. BIG NO! 🙅‍♂️🙅‍♂️🙅‍♂️


Bentari


Kakang ngasih motornya


Aku helmnya saja ya, Ka


Ditambahin jaketnya deh.


Asoka


Kenapa nggak sekalian aja helm sama jaketnya yang ada tulisannya “Selalu di depan”😠😠😠


Bentari


Deal!


Birendra


Deal!


Caraka


Gak adiiil!


Kirana


#Googling motor matic 2nd


Bentari tertawa membaca isi percakapan di grup chat, dimana kini Oka tengah merajuk kalau kali ini dia tak mau motor matic second, tapi dia mau motor moge! Yang langsung dapat penolakan plus omelan dari Kirana. Setelah bu Mega menikah dan pindah ke Surabaya begitu juga dengan Bentari, maka tinggalah Oka sendiri di Cibubur.


Seminggu sekali Kirana akan datang ke Cibubur untuk mengawasi orang yang bertugas membersihkan rumah sambil membawa berbagai makanan untuk adik kesayangannya itu, begitu juga bu Mega dan ayah Andi yang minimal sebulan sekali akan ke Jakarta untuk memasok semua kebutuhan si bungsu, tetapi kekhawatiran itu selalu ada membuat mereka membentuk grup chat Untuk mengawasi Oka, memastikan dia baik-baik saja, sudah makan atau belum, tak kekurangan apapun, walaupun lebih banyaknya grup ini dipakai untuk menggoda putra satu-satunya Andi Santoso itu.


Di sisi lain Birendra yang selama ini hidup layaknya sebatang kara, kini hidupnya lebih berwarna. Untuk pertama kalinya dia merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara, merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang adik yang walaupun telah dewasa tetaplah seorang adik yang sering menjadi bahan godaan kakak-kakaknya.


Ada perasaan senang ketika untuk kali pertama Oka meminta sesuatu darinya, membuatnya dengan semangat langsung menuju laman pencarian.


“Lagi lihat apa? Serius banget sih.” Bentari menoleh ke arah Birendra yang terlihat serius menatap ponselnya.


“Lagi lihat-lihat harga moge,” jawab Birendra tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.


“Lihat apa?!” Bentari yang tadi sedang tertawa sambil berbalas pesan seketika menjauhkan ponselnya dan dengan cepat merebut ponsel Birendra. Betul saja Birendra tengah membuka situs salah satu merk moge ternama dunia yang membuat Bentari menganga dengan mata membulat.


“Ini … jangan bilang Mas mau beliin Oka moge?”


Birendra dengan wajah datarnya mengangguk. “Bukannya tadi dia bilang mau moge? Tapi aku tidak bisa membelikannya yang mahal-mahal, biar yang mahal itu kakang yang beliin saja, aku paling beliin yang …”


“Tidak perlu!” Seru Bentari memotong ucapan Birendra yang menatap Bentari sambil membetulkan kacaramatanya.


“Tapi tadi …”


“Tidak-tidak! Uang dia itu jauh lebih banyak daripada kita. Udah kita belikan dia helm saja sama jaket.”


“Tapi, Sayang …”


“Mas, kita masih punya waktu beberapa jam sebelum ke bandara,” ucap Bentari dengan mata menatap manik hitam Birendra dengan senyum menggoda,berusaha mengalihkan suaminya dari pikiran untuk membelikan adiknya yang matre itu moge. “Mas yakin cuma mau menghabiskan waktu terakhir kita di Athena hanya dengan melihat-lihat gambar moge? Tidak mau lihat yang lain gitu?” Bentari berusaha menggoda sambil memainkan ujung rambut hitamnya yang sedikit bergelombang.


Melihat kode yang diberikan sang istri tentu saja tak disia-siakan Birendra yang langsung tersenyum, membuka kacamata menaruhnya di atas meja kecil samping tempat tidur dan siap beraksi. Sepertinya Birendra sudah tahu akan memberi apa untuk adik ipar kesayangannya itu. Yang pasti bukan moge, tapi … keponakan.


****



Parthenon (Acropolis)



Delphi theatre



Santorini



Hot spring Santorini, yang warnanya coklat itu area hot springnya, jd untuk sampai sana Birendra harus berenang dulu melewati air dingin ... apa sih yang enggak demi sang istri, berenang lewati air dingin mah gampaaang ... yang penting setelahnya ya, Mas Abhiii 😍😍😍