Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
55. Better late than never



Hening …


Suasana canggung benar-benar menguar mengisi udara kamar berukuran 4x5 itu. Birendra berdiri menatap sosok pria tua yang duduk di atas tempat tidur dengan sandaran tumpukan beberapa bantal. Sosok pria yang dulu tak berani dia pandang langsung karena rasa takut namun kini sosok itu hanya terkulai lemas, sorot matanya yang dulu selalu menatapnya dengan rasa benci yang berkobar-kobar kini telah meredup berganti dengan sorot mata penuh penyesalan, mulutnya yang sedikit tertarik ke kanan sedikit bergetar entah karena menahan tangis atau karena penyakit yang dideritanya.


Di sisi lain, Wati hanya berdiri dengan wajah tertunduk, kedua tangannnya bertaut memainkan kuku-kuku jarinya.


Tangan Birendra terulur meraih tangan kanan bapaknya yang sudah tak berfungsi dengan baik. Ya, stroke telah melemahkan fungsi bagian kanan tubuh Karno. Sesaat Birendra terdiam menatap tangan yang dulu pernah mencengkram kerah bajunya hingga tercekik tetapi kini terlihat tak berdaya, jari-jarinya sedikit tertekuk kaku ke dalam dengan kulit kering dan keriput. Waktu telah mengambil arogansinya membuktikan kalau tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kekuatan juga kekuasaan.


“Bapak apa kabar?” tanya Birendra memecah keheningan. “Maaf saya baru pulang sekarang.”


Seketika tangisan sang ayah pecah mendengar ucapan Birendra yang menatap matanya teduh.


“Bapak rajin terapi kan?” Birendra duduk di samping ayahnya yang masih tergugu. Kepala Karno mengangguk sebagai jawaban dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.


“Bapak harus nurut sama ibu, nanti bapak hanya hidup berdua dengan ibu. Alika sebentar lagi menikah, dia harus ikut suaminya. Yudis masih harus kuliah, sedangkan saya … saya bukan anak berbakti.”


Tangisan Karno semakin pecah, dia menggeleng-gelengkan kepala dengan tangan kirinya yang masih berfungsi normal Karno menarik Birendra dalam pelukannya. Walau tanpa suara air mata Birendra pun luluh lantah … tiga puluh tahun, Birendra harus menunggu tiga puluh tahun untuk merasakan pelukan seorang ayah.


Mereka menangis sambil berpelukan selama beberapa saat, mengeluarkan semua emosi yang seelama ini tertahan dan terpendam.


“Saya bukan anak pembawa sial.” Tangisan Karno semakin menjadi mendengar ucapan Birendra dengan suara tercekat. “Ibu meninggal bukan karena saya.” Karno mengangguk-anggukan kepala di bahu Birendra, tangan kirinya terus mengelus punggung Birendra yang bergetar. “Saya hanyalah seorang bayi yang tak mengerti apapun, bagaimana bisa saya membunuh ibu.”


“Maaf.” Walau pelafalannya tak jelas, tapi Birendra bisa mengerti ucapan ayahnya yang masih tergugu dalam pelukannya. “Kamu … anak … baik,” ucap Karno terbata. Karno meregangkan pelukan mereka. “Bapak …” dengan tangan kirinya Karno memukul dadanya sendiri. “Salah … bapak yang salah … kamu, tidak salah apapun. Maafkan bapak.”


Birendra kembali memeluk ayahnya erat. Selama ini, seumur hidupnya sesungguhnya Birendra hanya perlu pengakuan itu dan sebuah kata maaf yang tulus dari ayahnya bukan dari orang lain, tapi dari ayahnya yang telah menanamkan rasa traumatis yang mendalam.


Namun sungguh Birendra beruntung dipertemukan dengan orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Bentari, perempuan yang membuat Birendra memiliki alasan untuk sembuh hingga memutuskan untuk terapi dengan seorang psikolog yang tak lain dan tak bukan adalah Fahmi, sahabatnya sendiri, yang dengan sabar mengurai simpul yang mengikat kuat jiwa Birendra hingga menyisakan satu simpul dan Birendra baru saja melepaskannya membuat jiwanya lepas, bebas, merasakan kelegaan yang teramat sangat ketika kita bisa memaafkan dengan tulus.


Ya … karena sekiranya memaafkan adalah untuk ketenangan jiwa kita sendiri, melepaskan segala belenggu yang memenjara jiwa kita. Memaafkan memang tidak akan bisa merubah masa lalu, namun sekiranya dengan maafkan akan mempermudah langkah menuju masa depan.


***


“Bagaimana rasanya pulang?”


“Lega … aku bersyukur karena memutuskan pulang.” Birendra duduk dengan sebatang rokok terselip di jari telunjuk dan tengahnya, tangan kirinya memegang ponsel yang kini tengah terhubung dengan Bentari.


“Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya.”


Birendra tersenyum sambil membuang abu rokoknya ke dalam asbak. Saat ini dia tengah duduk di dalam kamar dengan jendela kamar terbuka lebar.


“Aku sempat ragu untuk pulang … takut kalau keluargaku akan kembali menolakku, tapi ternyata yang terjadi antara aku dan kedua adikku hanya masalah komunikasi.”


“Makanya, Mas, jangan seperti patung es … ngobrol dong ngobrol.”


Birendra terkekeh sambil menghembuskan asap rokok


.


“Keadaan bapak bagaimana?”


“Sudah lebih baik.” Birendra menghisap rokok kemudian menghembuskan asapnya perlahan. “Harus rajin terapi.”


“Alhamdulillah, mudah-mudahan cepat bisa kembali pulih.”


“Aamiin.”


“Aaaah, aku ikutan lega dan senang mendengar keluarga Mas Abhi sudah bisa menerima Mas Abhi.”


“Aku harus berterima kasih kepada ayahmu, kalau bukan karena ayahmu aku tak akan berani pulang dan mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.”


“Iya ayahmu …”


Tok-tok-tok!


Birendra berjalan menuju pintu, dia sedikit terkejut ketika membuka pintu mendapati Wati berdiri dengan secangkir kopi.


“Aku … membawakanmu kopi.”


“Terimakasih.” Birendra mengambil cangkir kopi itu setelah menaruh rokoknya di atas asbak.


“Apa kamu mau makan lagi? Atau mau makan sesuatu?”


“Tidak, terimakasih.” Wati mengangguk lalu dengan ragu dia berbalik. “Bu!” Birendra menghentikan langkah Wati. “Bisa kita bicara sebentar?”


Sesaat Wati terdiam sebelum akhirnya mengangguk.


“Bi, aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku harus berbicara dengan Ibu.” Birendra memutuskan panggilan setelah mendapat persetujuan dari Bentari sambil berjalan mengikuti Wati menuju ruang keluarga yang sepi.


“Alika sedang melakukan perawatan di kamar, dan Yudis sedang mengantar bude Wiwik pulang.” Wati memberi penjelasan setelah melihat kondisi rumah yang sepi berbeda dengan tadi dimana dipenuhi hiruk pikuk orang-orang yang membantu acara pengajian sebelum besok siraman.


Birendra hanya mengangguk dan mereka pun terdiam terlihat larut dalam kecanggungan untuk beberapa saat.


Birendra mengetahui dari Andi Santoso kalau Wati telah membelanya habis-habisan ketika seseorang tengah mencari tahu tentang masa lalu Birendra dimana salah satu tetangganya membocorkan perihal depresi dan percobaan bunuh diri Birendra. Saat itu Wati pasang badan bahkan sampai bertengkar secara fisik dengan tentangganya hingga harus dipisahkan oleh RT dan tetangga yang lainnya. Bahkan ketika Pak Supri dan Danang datang, Wati yang mengira mereka datang untuk mencari kelemahan Birendra, mengusir Supri dan Danang dengan menyiram keduanya.


Birendra yang mendengar itu dari Andi Santoso hampir tak percaya kalau ibu sambungnya telah membelanya bahkan berani untuk pasang badan demi dirinya. Dengan berbekal informasi itu Birendra memutuskan untuk pulang karena memiliki sedikit harapan keluarganya akan menerima dirinya … dan itu terbukti.


“Terimakasih.” Wati yang dari tadi tertunduk kini mengangkat kepalanya menatap Birendra bingung. “Terimakasih karena telah membela saya.”


“Tak perlu mengatakan terimakasih, itu sudah kewajiban kami sebagai orangtua … kewajiban yang terlambat kami lakukan,” ucap Wati dengan suara lirih. “Saat itu … kamu depresi sampai melakukan … bunuh diri pun, itu karena kami. kesalahan kami sebagai orangtua yang tak bijaksana.”


Sambil tertunduk menatap kedua jarinya yang bertaut Wati melanjutkan ucapannya, melemparkan pada kenangan masa lalu yang kelam.


“Seharusnya sebagai orangtua kami, tidak menyalahkanmu atas sesuatu yang bukan salahmu. Kami sangat menyesal apalagi setelah melihatmu … hampir kehilangan nyawa.”


Wati mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.


“Bapak yang paling terpukul … melihatmu tak sadarkan diri membuat bapak menyalahkan dirinya sendiri sampai hampir gila rasanya. Dia hanya diam duduk di sampingmu yang tak sadarkan diri, tak makan atau minum, hanya diam menyiksa diri dengan rasa bersalahnya.”


Sesaat Wati terdiam, begitupun Birendra yang untuk kali pertama mendengar hal ini.


“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar namun kamu semakin manarik diri dari dunia sekitar, bahkan tak berbicara sepatah katapun, dan itu membuat bapak semakin larut dalam penyesalan. Takut kamu akan kembali terluka, maka bapak meminta paklek Wahyu untuk membawamu ke Surabaya, berharap di Surabaya kamu akan hidup dengan lebih layak.”


“Bapak yang meminta paklek Wahyu untuk membawaku?” Birendra sedikit terkejut mendengar kenyataan kalau bapaknyalah yang meminta Wahyu untuk membawanya ke Surabaya.


“Iya, sebetulnya ketika ibu kandungmu meninggal paklek Wahyu telah memintamu, namun nenek tak mengizinkan. Ketika nenek meninggal paklek Wahyu kembali memintamu, tapi bapak menolaknya … tetapi perbuatannya salah, membiarkanmu tetap berada di dekatnya malah membuatmu semakin terluka, walaupun sedikit terlambat namun pada akhirnya bapak menyadari kesalahannya, dan menyerahkanmu kepada paklek Wahyu.”


“Kalau bapak menyesal kenapa bapak tak pernah mencari saya?”


Wati sesaat terdiam menatap Birendra yang penasaran.


“Bukannya tak ingin, tapi bapak takut … dia seperti memiliki trauma, kalau dia mendekatimu maka kamu akan kembali terluka bahkan mungkin bisa meninggal.” Birendra terkejut mendegar ucapan Wati yang kembali berkata. “Kalau kamu pulang bukannya bapak tak ingin mendekatimu, tapi dia takut … takut kalau ucapannya akan kembali menyakitimu dan membuatmu melakukan tindakan itu, karena itulah setiap kamu pulang bapak lebih memilih untuk menghindarimu seolah dia tak peduli.”


Selama ini Birendra pikir kalau hanya dia yang memiliki ketakutan akan menyakiti orang-orang yang menyayanginya, namun ternyata bapaknya pun memiliki ketakutan yang sama. Takut kalau dia akan menyakiti putranya hingga memutuskan menjauh dari hidupnya, seperti yang dulu Birendra lakukan kepada Bentari.


Untung saja Tuhan masih memberikan mereka kesempatan untuk memperbaiki semuanya, hingga tak ada lagi kesalah pahaman dan memberi kesempatan untuk saling memaafkan sebelum semuanya benar-benar terlambat.


*****