Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
56. The real prince



Ada yang terlihat berbeda dengan kediaman Rudi Mahesa hari ini, rumah megah yang biasanya sepi kini dipenuhi oleh tamu-tumu undangan dari kalangan pebisnis juga pemerintahan negri ini. Acara ulang tahun pernikahan sang konglomerat kali ini diisi oleh pengajian dan santunan anak yatim yang diadakan tadi pagi, dan siangnya khusus buat tamu undangan dari relasi dari yang punya hajat.


Pesta kebun menjadi tema kali ini. halaman luas kediaman Rudi Mahesa benar-benar disulap seperti taman bunga dengan bunga warna-warni di dekor sedemian rupa di beberapa sudut halaman. Buffet yang menyajikan berbagai macam makanan, dari mulai makanan nusantara sampai Eropa mengisi sisi teras rumah, di sisi lain stand makanan kecil tak kalah menggoda, dari mulai jajanan pasar dalam bentuk mini sampai dengan aneka cake dengan penampilan menarik, buah-buah potong juga berbagai macam minuman mengisi gubukan-gubukan yang memanjakan para tamu yang tersebar di seluruh taman, sebgaian duduk di kursi-kursi yang mengelilingi meja bundar dengan tutup kain satin putih dengan buket bunga berwarna lilac cantik.


Terlihat Rudi Mahesa beserta istrinya berkeliling menyalami tamu undangan yang hadir. Andi Santoso hadir bersama Mayang yang kini sedang berbincang dengan beberapa kolega mereka. Bentari, Kirana, Arleta, membentuk kelompok kecil dengan beberapa perempuan muda yang menjadi tamu undangan, begitu juga dengan Caraka yang membentuk kelompok sendiri dengan sahabat-sahabatnya.


Sigit memasuki tempat acara dan langsung mendapat perhatian dari tamu lain yang menyalaminya. Sigit menatap sekeliling dan kembali tersenyum ramah ketika akhirnya bertemu dengan tuan rumah yang tengah duduk bersama Andi Santoso dan Mayang.


“Selamat, Pak Rudi, Bu Widya, mudah-mudahan tambah langgeng dan semakin diberi banyak cucu.”


“Aamiin, mudah-mudahan anak saya semakin giat bikin cucu buat kami.”


“Lho ya, putra panjenengan enak cuma nanam saham, putri saya yang merasakan sakit melahirkan,” seloroh Andi Santoso membuat Rudi Mahesa tergelak.


“Hahaha.”


“Nanti kalau Danish sudah besar bolehlah nambah lagi, mudah-mudahan dapatnya yang cantik seperti mamahnya,” ucap Mayang dengan senyum lebar yang mendapat anggukan setuju dari Widya.


“Yang ganteng lagi seperti kakeknya juga tidak apa-apa,” ucap Andi Santoso yang kembali membuat mereka tertawa.


“Hampir lupa! Pak Sigit, perkenalkan ini besan saya, Andi Santoso.” Andi Santoso mengulurkan tangan yang disamput Sigit dengan senyum lebar. “Ini sudah tahu dong? Sigit Suwarno, calon DKI 1.”


“Hahaha, aaminn, bisa saja Pak Rudi ini.”


“Ibunya tidak ikut, Pak?” tanya Widya setelah hanya melihat Sigit seorang diri.


“Istri saya sedang kurang enak badan, dia titip salam, maaf tidak bisa datang. Hari ini saya datang dengan putra saya yang nomor dua, Atharya.” Sigit menatap ke arah Atharya yang sedang berbincang dengan Bentari, Kirana juga Caraka yang sudah berdiri di samping Kirana sambil menggendong Danish.


“Dan ternyata anak-anak kita saling mengenal,” ucap Sigit dengan suara ramah.


“Benar kah?” tanya Andi Santoso sambil memerhatikan kumpulan dimana Bentari berada yang kini sedang tertawa bersama yang lainnya.


“Iya, tadinya Athar sempat malas menemani saya ke sini, tapi lihatlah! Sekarang sepertinya dia lebih menikmati pesta ini daripada saya … maklum namanya juga anak muda.”


“Hahaha.”


Sigit terlihat puas melihat Andi Santoso yang tengah memerhatikan Atharya. Atharya memiliki kulit sawo matang dengan tubuh terpahat sempurna hasil kerja kerasnya di gym selama berjam-jam, walaupun tak setampan Caraka, tapi dia juga memiliki paras cukup menarik, itu semua menjadi nilai lebih selain latar belakang keluarga yang merupakan putra dari Sigit Suwarno, Atharya juga memiliki bisnis yang dia rintis sendiri, tentu saja hal itu semakin membuat Atharya memiliki nilai tinggi untuk menjadi calon menantu idaman.


Di sisi lain, Andi Santoso yang melihat reaksi Sigit atas kenyataan tentang Atharya dan Bentari yang saling mengenal … kini Andi Santoso mendapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini, yaitu … apa motif seorang Sigit Suwarno mengungkit masa lalu Birendra?


Ya, dalang di balik munculnya berita tentang depresinya Birendra adalah Sigit Suwarno. Ferdi Izam hanyalah orang yang ikut memperkeruh suasana dengan mengungkit kematian Salsa.


Sejak awal Andi Santoso curiga tentang keterlibatan orang-orang terdekat Birendra atas munculnya berita tentang masa lalu Birendra yang sempat depresi hingga upaya bunuh diri, hal itulah yang membuat Andi Santoso diam-diam mengutus pak Supri juga Danang ke Semarang. Saat itulah diketahui kalau yang membocorkan informasi tersebut adalah salah satu tetangga orangtua Birendra, dari sana pula pak Supri dan Danang mengantongi nama si pencari informasi yang semakin ditelusuri akhirnya berujung pada nama Sigit Suwarno.


Masih belum menemukan titik terang dengan alasan Sigit mengungkap masa lalu Birendra, muncul berita tentang kematian Salsa yang membuat Birendra semakin terpojok. Awalnya Andi Santoso sempat curiga kalau Sigit jugalah yang mendalangi itu, namun setelah Yanto, mantan residivis juga ayah dari Salsa muncul, membuat Andi Santoso mengalihkan penyelidikannya hingga muncullah nama Ferdi Izam yang sempat satu sel dengan Yanto.


Ferdi yang memang tengah berencana untuk balas dendam kepada Birendra dan Caraka, melihat kesempatan itu dan tidak menyia-nyiakan berita yang bereder tentang Birendra. Ferdi bahkan rela mengeluarkan uang tak sedikit untuk menyewa jasa pengacara ternama yang cukup kontroversial untuk menjadi pengacara Yanto.


Andi Santoso tentu saja tak tinggal diam mengetahui menantunya. Caraka. Dan salah satu orang kepercayaannya menjadi target balas dendam Ferdi Izam membuat Andi Santoso merencakan perhitungan dengan putra Sultan dari Borneo itu. Dan orang yang bisa mengendalikan Ferdi hanyalah sang ayah, Hadian Izam.


Pada akhirnya Andi Santoso pun melibatkan Hadian Izam untuk ‘mengikat’ Ferdi agar tak berani menyentuh kelaurganya.


Caranya? Tentu saja uang … Andi Santoso kembali menyetujui untuk kerja sama dengan Hadian untuk trans Kalimantan, namun kali ini bukan Rudi Mahesa yang menjadi investor melainkan Caraka dan Andi Santoso sendiri yang memakai nama Asoka. Hal itu Andi Santoso lakukan semata-mata agar tak ada yang berani menyentuh Caraka juga Oka, sebagai putra satu-satunya Andi Santoso.


“Mamah!”


Sigit mengerutkan alis ketika seorang perempuan terlihat anggun dengan hijab warna peach serasi dengan gamis yang dikenakan.


“Mamah kok baru datang?” Kirana bertanya sambil memeluk bu Mega.


“Nih, gara-gara dia!”


Bu Mega mengedik ke belakang dimana berjalan dengan santai seorang pria muda dengan rambut gondrong yang terlihat tampan dengan kemeja biru muda. Sesaat Sigit mengerutkan alis memerhatikan pria muda yang langsung mendapat perhatian lebih dari Kirana dan Bentari.


Wajahnya terasa tak asing bagi Sigit? Tapi siapa dan dimana dia melihatnya? Sigit mencoba menggali ingatannya sampai akhirnya dia melihat Atharya menyalami pria muda itu, seketika mata Sigit membulat ketika mengenali pria muda yang kini berjalan mendekati tuan rumah yang berada tak jauh darinya sambil tertawa bersama Bentari dan Kirana. Sigit membalikkan tubuh berusaha menyembunyikan diri, walaupun telinganya dia fokuskan mendengar perbincangan mereka.


“Ya, salah Mamah kenapa tidak mau diajak naik si merah, udah tahu macet malah mau naik si putih coba kalau naik si merah, pasti wus-wus-wus, semakin terdepan.”


“Daaaan, kamu mau Mamah yang cetar ini bakal hancur karena asap knalpot?”


“Tuh dengerin Teteh! Mamahkan udah cetar gini masa naik si merah. Kamu mah ada-ada saja!”


“Di sini nggak ada Lee Min Ho, Mah, percuma dandan juga … tuh adanya kakek-kakek!”


“Siapa yang kakek-kakek?” Andi Santoso bertanya dengan mata menatap Oka tajam, membuat kedua kakaknya terkikik.


“Bukan Ayah … Ayah mah masih ABG, seumuran lah sama Oka, cuma sudah sering encok saja.”


“Dasar anak nakal!”


“Hahahaha.”


Semua orang di dalam kelompok itu tertawa mengundang rasa penasaran dari tamu yang hadir.


“Selamat ya, maaf saya datang terlambat, ini nih nunggu sopirnya lama.” Bu Mega menyalami pemilik acara diikuti oleh Oka yang menalami keduanya.


“Om, Tante, selamat ya.”


“Tuan muda rupanya sudah turun gunung,” canda Rudy Mahesa sambil menepuk bahu Oka.


“Waaah apa itu benar? Pangeran BUMI akan membuka identitasnya?” tanya Caraka dengan senyum menggoda.


“Enggalah, pangeran apaan sih, Kang, yang ada aku tuh kayak Cinderella dengan dua orang ibu dan dua kakak kandung rasa kakak tiri.”


“Cinderella kebagusan! Lebih cocok jadi kereta labunya!”


“Tuh kan, dengarkan tuh! Istri Kakang, tuh!”


Mereka kembali tertawa, begitu juga Andi Santoso yang diam-diam memerhatikan Sigit Suwarno yang wajahnya kini sepucat mayat.


Sepertinya Sigit baru menyadari siapa pria muda yang selama ini mengantar jemput putri bungsungnya menggunakan motor matic berwarna merah.


***