
Meyakinkan orang yang membenci kita untuk memberi kesaksian yang meringankan kita tidaklah mudah, itu pula yang dirasakan Birendra. Penolakan demi penolakan Birendra dapatkan dari Doni, namun begitu Birendra tidak menyerah. Hampir setiap hari Birendra datang untuk meyakinkan Doni walaupun terkadang hanya ucapan sinis yang diterima Birendra.
“Untuk apa datang lagi?” Doni berkata dengan mata dingin menatap Birendra.
“Bisa bicara sebentar?”
“Apa? Minta aku bersaksi?” Doni mendengkus sinis. “Jangan harap!”
“Don!” Birendra menahan pintu yang hendak di tutup Doni. “Kamu yang tahu kebenarannya, apa Salsa kecelakaan atau bunuh diri, kamu yang tahu itu.”
“Kamu ingin aku bersaksi?! Oke! Aku akan bersaksi dan bilang kalau Salsa bunuh diri karena kamu … bagaimana, puas?”
Segala macam emosi berkecamuk di sorot mata Doni yang menatap Birendra tajam.
“Kalau itu memang kenyataannya … silahkan.” Jeda. “Kamu paling tahu bagaimana kehidupan Salsa dulu dan di antara kita, kamu yang paling menyayanginya, kalaupun ada yang paling peduli menegakkan keadilan untuk kematiannya … itu kamu. Jadi aku yakin kamu akan melakukan hal yang benar demi Salsa.”
Rahang Doni mengeras, tangannya mengepal, dengan cepat dia membanting daun pintu hingga tertutup dengan kasar dan suara menggema tepat di depan wajah Birendra yang hanya terdiam sebelum akhirnya berbalik pergi dengan sedikit harapan ketika mendengar teriakan mengeluarkan amarah yang sudah terpendam selama sepuluh tahun.
***
Fahmi berjalan dengan dua cangkir kopi di tangannya, dia menyerahkan satu cangkir kepada Doni yang dari tadi duduk terdiam di taman belakang kantornya yang terasa nyaman dengan pohon jambu batu, bugenvil, dan beberapa tanaman hijau lainnya.
“Gila bukan?” ucap Fahmi setelah mengintip apa yang Doni baca di ponselnya. “Dari dulu ayahnya hanya memanfaatkan Salsa saja, bahkan sampai sekarang ketika dia sudah meninggal pun sama saja.”
Doni menghela napas berat sambil memasukkan ponselnya ke saku kemeja.
“Dia … datang lagi.”
“Siapa? Ayahnya Salsa? Ngapain?”
“Bukan.”
“Bukan? Jadi siapa yang datang?”
“Bajingan.”
Fahmi terdiam dengan alis berkerut. “Bajingan, tapi bukan ayahnya Salsa?”
Doni menggeram, matanya melotot menatap Fahmi yang menatapnya tanpa dosa.
“Birendra.”
“Aaaah, Birendra,” ucap Fahmi dengan senyum santai sambil menyeruput kopinya.
Doni berdecak kemudian menyeruput kopinya karena tahu temannya yang psikolog itu hanya pura-pura tak mengerti saja.
“Jadi rupanya kalian sudah berbaikan.”
Doni hampir saja menyemburkan kopinya mendengar Fahmi yang malah tertawa terbahak-bahak.
“Sudah sewajarnya juga kalian berbaikan,” ucap Fahmi setelah berhenti tertawa. “Sudah lebih dari sepuluh tahun kan?”
Doni hanya menghela napas berat.
“Sepuluh tahun ini kalian berdua sudah sama-sama menderita. Birendra, dia harus hidup dalam trauma yang membuatnya menutup diri sampai akhirnya seorang perempuan hadir dan berhasil menariknya dari kegelapan itu, dan kamu …” Fahmi menatap Doni lembut. “Selama ini kamu harus hidup dengan rasa bersalahmu.”
Doni tertunduk menatap cairan hitam dalam cangkir yang kini dia genggam dengan kedua tangannya.
“Kecelakaan itu bukan salah kalian berdua. Kalian harus berdamai dengan masa lalu kalian.”
Doni masih tertunduk, terdiam sesaat sebelum akhirnya dengan suara lirih dia berkata,
“Seharusnya aku tak memiliki perasaan apapun pada Salsa.”
“Tidak ada yang bisa mengontrol perasaan. Kapan dan kepada siapa kita jatuh cinta, tidak ada yang bisa mencegahnya.”
“Seandainya hari itu aku tetap diam menyimpan perasaanku, mungkin dia masih hidup.”
“Kematian itu rahasia Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana kita akan meninggal. Bagaimana kamu yakin kalau hari itu kamu diam maka dia akan tetap hidup? Kalau sudah takdirnya harus mati dalam kecelakaan hari itu, maka tanpa kamu dan Birendra pun, malaikat maut pasti akan menjemputnya kalau memang sudah takdirnya.”
Doni kembali terdiam, selama ini dia selalu menyalahkan dirinya dan Birendra atas kecelakaan yang menimpa Salsa. Setahun lalu ketika dia tahu Birendra menjalin hubungan dengan Anggi Santoso, kemarahan menyeruak, bagaimana mugkin Birendra bisa bahagia dengan perempuan lain di saat Salsa meninggal dalam keadaan patah hati, dan Doni sendiri masih berkubang dalam rasa bersalah tak berkesudahan.
Jahat, Doni sadar itu ketika dia menjerumuskan kembali Birendra dalam trauma masa kecilnya. Doni paling tahu bagaimana Birendra dulu, dan hari itu ketika mereka bertemu di restoran Doni tak menyangka kalau Birendra semakin parah dengan traumanya.
Sempat merasa bersalah ketika melihat bagaimana tubuh Birendra gemetar dengan keringat dingin dan wajah pucat, tapi lagi-lagi dia berusaha mencari pembenaran dengan mensugesti dirinya sendiri kalau Birendra berhak mendapatkan itu semua karena telah menyebabkan Salsa meninggal.
“Sudah pernah membaca ini?”
Doni kembali dari lamunannya, dia melihat Fahmi mengulurkan ponselnya yang Doni ambil setelah menaruh cangkir kopinya.
Sesungguhnya Fahmi sudah menyadari kalau Doni sudah memaafkan Birendra, hanya saja dia memerlukan kambing hitam untuk menutupi rasa bersalahnya. Namun begitu dengan akhir-akhir ini dia datang sendiri ke kantor Fahmi walau hanya untuk diam, mendengarkan Fahmi yang secara perlahan menyentil alam bawah sadarnya seperti kepada Birendra dulu, keingian Doni untuk berdamai dengan masa lalu juga Birendra sudah ada hanya tinggal menunggu waktunya saja untuk Doni membuka hatinya sendiri.
“Namanya Trey Relford,” ucap Fahmi setelah melihat kerutan halus di kening Doni. “Dia adalah seorang pembunuh yang mendapat hukuman 31 tahun penjara karena membunuh seorang pria bernama Salahudin. Kamu tahu apa yang terjadi sebelum hakim memutuskan hukuman untuk Relford? Ayah dari Salahudin meminta waktu untuk berbicara dengan orang yang telah membunuh anaknya itu, tentu saja hakim tidak mengizinkan pada awalnya karena takut ayah Salahudin melampiaskan amarahnya kepada tersangka, tapi ternyata yang dikatakan ayah Salahudin ini membuat semua yang ada di pengadilan menangis termasuk hakim yang tak bisa menahan tangis hingga melakukan reses.”
Fahmi menatap Doni yang tertunduk menatap ponsel seolah tak mampu untuk membaca berita itu.
“Yang dikatakan oleh ayah Salahudin adalah sebuah kata sederhana … maaf. Ya, ayah hebat itu memaafkan orang yang telah membunuh anaknya. Membunuh, Don, bukan kecelakaan, tapi membunuh anaknya.” Jeda saat. “Ayah hebat itu berkata … saya tidak menyalahkanmu, saya tidak marah kepadamu, demi Allah sama memaafkanmu.”
Doni semakin tertunduk, tanpa dia bisa tahan air matanya menetes membasahi tangannya yang gemetar.
Tanpa suara airmata Doni terus menetes tak bisa dibendung mengeluarkan emosi yang selama ini dia tahan.
***
“Kapan kamu pulang ke Jakarta?”
“Mas Abhi tidak suka aku tinggal di Surabaya?”
“Bukan begitu, tapi bukankah kamu sedang mengurus pesta pernikahannya Siska?”
“Ada teteh yang handle, sudah 80% tinggal sisanya saja, yang penting-penting sudah selesai semua hanya tinggal perintilannya saja.”
Birendra mengangguk mengerti, tangannya mengelus rambut Bentari yang tiduran di pangkuannya. Saat ini mereka tengah nonton televisi di apartemen Birendra.
“Kasus Mas Abhi bagaimana? Sudah berhasil meyakinkan saksi kuncinya?”
Birendra terdiam mengingat penolakan yang selalu dilakukan Doni.
“Sebentar lagi, aku yakin dia pasti mau bersaksi untukku.”
“Kenapa Mas Abhi bisa yakin?"
“Karena dia …” Birendra menghentikan ucapannya ketika terdengar bel apartemennya berbunyi.
“Makanannya sudah datang!” Seru Bentari sambil bangun dengan wajah sumringah.
Kemampuan memasak Bentari memang tidak ada kemajuan, jadi mereka lebih sering memesan makan atau makan di luar untuk keamanan lidah dan perut mereka walaupun Birendra tak akan berkomentar apapun selain alisnya yang sedikit berkerut setiap menyuap masakan Bentari.
Birendra berjalan untuk membuka pintu, dan sesaat tubuhnya terdiam melihat Doni yang berdiri di depan pintu apartemennya. Sesaat mereka hanya terdiam, tak ada kata yang terucap dari keduanya sampai akhirnya terdengar seruan dari dalam apartemen.
“Mas, cepat, aku sudah lapar!”
“Apa aku mengganggu kalian?”
“Tidak.”
“Aku akan datang lagi nanti.”
“Masuk, Don, kami hanya sedang menunggu delivery dari restoran bawah.” Birendra membuka pintunya semakin lebar meminta Doni masuk yang walau terlihat ragu namun akhirnya masuk juga.
“Ko la … ma.” Bentari berdiri bingung menatap seorang yang belum pernah dia temui masuk bersama Birendra.
“Bi, ini Doni, temanku … Don, ini Bentari, kekasihku.” Birendra mengenalkan keduanya.
“Hai!” Bentari mengulurkan tangan yang dengan ragu diterima Doni dengan alis berkerut. “Anggi Santoso, tapi karena temannya, Mas Abhi, boleh memanggilku Bentari seperti teman-temanku yang lainnya.” Bentari menjelaskan perihal namanya setelah melihat Doni terlihat bingung.
“Doni.”
Rasa canggung jelas sangat kental terasa, ini bukan seperti pertemuan dua teman lama hingga Bentari bisa merasakan hal itu.
“Silahkan duduk, mau minum apa?” Bentari coba memecah keheningan.
“Tidak usah, terimakasih,” jawab Doni sambil duduk.
“Bi, kami harus bicara berdua, apa kamu tidak keberatan kalau menunggu di kamarku dulu?”
“Oh iya, tentu.” Walau terkejut karena harus masuk ke dalam kamar pria selain kamar Oka, tapi mau tidak mau Bentari meninggalkan kedua pria yang sepertinya perlu menyelesaikan masalah mereka.
Hening …
Sepeninggalan Bentari kedua pria itu hanya terdiam, seolah keduanya menunggu siapa yang akan berbicara lebih dulu, dan itu adalah Doni.
“Aku akan bersaksi untukmu,” ucap Doni tanpa basa basi.
Birendra menatap Doni dengan mata penuh kelegaan.
“Aku akan menceritakan semua yang ku lihat hari itu.”
Birendra mengaggukkan kepala pelan.
“Kematian Salsa tidak pantas dimanfaatkan oleh siapapun, termasuk ayahnya sendiri.”
Birendra kembali mengangguk.
“Salsa … kecelakaan. Dia meninggal karena kecelakaan … bukan salah kita.”
Birendra tersenyum sambil berkata, “Iya, bukan salah kita.”
Doni ikut tersenyum sambil mengangguk. “Itu … takdirnya.”
“Iya, takdirnya,” ucap Birendra sambil menepuk pundak Doni.
Mereka saling tatap dengan senyum di keduanya, tak ada lagi amarah dan dendam di dalam sorot mata keduanya. Tanpa terucap mereka saling memahami kalau mereka berdua kini telah saling memaafkan, berdamai dengan masa lalu yang lebih penting … berdamai dengan diri mereka sendiri.
****