Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
48. Kejutan?



Ketika masih kecil Oka iri dengan kehidupan orang dewasa yang seolah memiliki kebebasan untuk melakukan apapun. Bisa bermain sampai malam tanpa kena omel, uang jajannya lebih banyak, sekolah juga tidak harus pakai seragam, tidak perlu menghafal perkalian atau pembukaan UUD 1945, dan setiap senin tidak perlu panas-panasan untuk upacara.


Namun kini setelah menjadi mahasiswa, Oka berharap bisa kembali ke masa-masa disuruh maju ke depan kelas untuk menjawab soal merupakan hal terhoror yang dia rasakan. Menjadi orang dewasa ternyata tidak segampang yang dia bayangkan dulu. Oka memang tak perlu lagi menghafal perkalian juga pembukaan UUD 1945, tapi tugas dan tanggung jawab yang harus Oka emban sebagai orang dewasapun berlipat-lipat. Bukan hanya tugas kuliah yang seolah tak ada habisnya, ditambah PKL yang sudah mulai Oka jalani bersama beberapa orang temannya di BUMI, juga masalah pribadi yang cukup menyita pikirannya.


“Aku tidak menghindari Abang, aku hanya … perempuan yang pengertian.”


Kedua Alis hitam Oka terangkat mendengar ucapan Arunika.


“Aku tahu saat ini, Abang, lagi sibuk PKL, belum lagi tugas kuliah yang seolah tak pernah ada habisnya. Jadi aku hanya ingin, Abang, fokus dengan PKL juga kuliah Abang, tanpa harus ditambah lagi aku yang merengek minta diantar – jemput, atau ngambek karena Abang tak memiliki waktu lagi untukku.”


Oka menatap Arunika penuh selidik. Akhir-akhir ini Arunika memang lebih sering membawa kendaraan sendiri ke kampus atau memakai sopir, selalu menolak ketika Oka akan mengantar jemputnya. Sikapnya pun sedikit berubah tak lagi seceria dulu. Oka menyadari perubahan itu terjadi semenjak malam ketika Sigit menghina Oka.


“Bukan karena kejadian dengan papahmu kan?”


“Bukan, aku tahu Abang tidak akan meninggalkanku hanya karena papah menghina Abang.” Arunika tersenyum simpul menatap Oka. “Aku hanya banar-benar tak ingin mengganggu Abang saat ini, karena aku tahu Abang pasti sangat sibuk, capek harus PKL, ngerjain tugas kuliah, masa harus ditambah lagi sama aku yang merengek segala.”


Oka akhirnya bisa tersenyum setelah mendengar penjelasan Arunika.


“Benar ya karena alasan itu, bukan karena kejadian dengan papahmu kemarin?”


“Bukan, Abaaaang. Iiih, gak percayaan banget sih!”


Oka kembali tersenyum melihat Arunika yang pura-pura merajuk, cemberut.


“Bukan tidak percaya, hanya saja perubahan sikap kamu yang manja jadi super mandiri ini terjadi setelah malam itu. Aneh bukan?”


“Karena kebetulan saja Abang juga PKL setelah kejadian itu kan?” Arunika menggenggam kedua tangan Oka, matanya menatap Oka dengan senyum manis menghias wajahnya membuat Oka ikut tersenyum. “Abang jangan berpikiran macam-macam, cukup fokus sama PKL dan tugas kuliah. Demi masa depan kita!”


“Hahaha.”


Oka akhirnya tertawa, kedua tangan mereka yang berpegangan berayun-ayun ke kiri ke kanan, mata mereka saling mengunci, dan senyum menghiasi keduanya. Hari itu oka merasa sedikit bebannya terangkat, tanpa dia tahu kalau Arunika merasakan hal sebaliknya.


Melihat senyum Oka membuat perasaan bersalah Arunika semakin menjadi, mendengar Oka menceritakan tentang PKL nya di BUMI dimana tak seorang pun karyawan BUMI mengetahui status Oka sebagai anak pemilik perusahaan membuat Arunika semakin tak percaya diri berdiri di depan pria yang kini menatap lembut dirinya. Ya … setidak percaya diri itulah Arunika saat ini, hingga rasanya ingin menghilang dari hadapan Oka.


***


Memiliki hubungan dengan seorang public figure berarti harus siap dengan segala resiko, termasuk berkurangnya privacy kita. Begitu pula dengan Birendra. Publik seolah penasaran dengan kehidupan kekasih dari Anggi Santoso, calon menantu konglomerat Andi Santoso. Sederet fakta tentang Birendra kini dapat diketehui dengan hanya mengetikkan namanya di laman pencarian.


Tiba-tiba banyak orang yang mengaku mengenal Birendra muncul ke purmakaan, memberitahu informasi tentang Birendra dengan sukarela yang dimakan mentah-mentah oleh publik tanpa bersusah payah mencari kebenarannya terlebih dahulu, dan selama ini Birendra tak pernah ambil pusing dengan berita tentangnya yang beredar di internet. Birendra terlalu jatuh cinta untuk memikirkan berita tak benar yang beredar di internet.


“Aku ingin tahu bagaimana reaksi semua orang kalau tahu bagaimana aslinya Birendra.”


“Aslinya bagaimana? Itu memang Birendra,” ucap Fahmi sambil menatap Doni yang duduk di hadapannya sambil menggulir-gulir ponselnya membaca berita tentang Birendra.


Doni mengedikkan bahu, menaruh ponselnya di atas meja kemudian menyeruput kopinya. Saat ini mereka tengah berada di sebuah cafe.


“Semua akan terkejut kalau tahu dia pernah mencoba bunuh diri karena stress sampai harus mendapatkan penanganan psikolog.”


Fahmi menatap Doni sesaat.


“Itu masa lalu, Don. Birendra sudah sembuh sekarang.”


Doni menatap Fahmi curiga. “Jadi kamu memberinya terapi lagi? Hebat.”


Fahmi hanya terdiam menatap Doni. Dulu ketika baru datang ke Surabaya, Birendra memang pernah mendapatkan penanganan psikolog, tapi tidak selesai karena Birendra merasa kalau itu tidak ada artinya.


“Pengobatan, apapun itu tak akan berhasil kalau yang bersangkutan tidak ingin sembuh. Dulu mungkin Birendra tidak memiliki alasan kuat untuk sembuh karena itu dulu dia merasa kalau terapi tidak ada artinya. Namun kini berbeda, Birendra memiliki alasan kuat untuk sembuh. Cinta. Klise memang, tapi itulah yagn terjadi dengan Birendra. Keinginan untuk menyelamatkan perempuan yang dia cintai sangat tinggi, sehingga keinginan dari dalam dirinya untuk sembuhpun sangat kuat. Ini bukan karena aku, tapi karena keinginan dari dalam dirinya sendiri untuk sembuh.”


Doni terdiam menatap Fahmi yang terlihat santai menyeruput latenya.


“Miris. Dulu ada perempuan yang sangat mencintanya, tapi dia mengantarkannya pada kematian dan kini karena alasan cinta, dia menyelamatkan perempuan lain.”


Sesungguhnya bukan hanya Birendra yang harus berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu serta memerlukan pertolongan seorang ahli. Doni pun sama. Selama ini dia menyalahkan Birendra sebagai pertahanan dirinya karena rasa bersalah yang menderanya.


Di tempat lain, orang yang tengah menjadi objek pembicaraan Fahmi dan Doni juga para netizen tengah duduk santai di sebauh teras rumah dengan gaya tradisional khas Jawa yang sangat kental dengan bahan kayu jati yang mendominan serta halaman luas dimana berdiri dengan kokoh pohon rambutan, mangga dan nangka.


“Bapakmu sakit. Stroke, sudah hampir sebulan ini,” ucap Wahyu samblil menghembuskan asap rokok. “Awakmu gak kepingin moleh, niliki bapakmu ta? (Apa kamu tak ingin pulang untuk menjenguk bapak kamu?)”


Birendra hanya terdiam tertunduk memainkan jemarinya.


“Bagaimana pun dia tetap bapakmu, jangan sampai masa lalu membuatmu menyesal dikemudian hari.”


Benci? Birendra tak tahu apa yang dia rasakan kepada ayahnya. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia merasakan kasih sayang seorang ayah yang katanya saat ini sedang sakit stroke. Kasih sayang seorang ayah, dia hanya mendapatkan dari pakleknya yang sudah menyelamatkannya dari lubang hitam yang disebut rumah.


“Nanti, ketika Alika menikah saya akan pulang.”


Saat itu Birendra akan datang layaknya tamu undangan, sebelum pulang dia akan mampir sebentar untuk menjenguk ayahnya.


“Lapo gak moleh minggu mene? Sedilut ae. (Kenapa tidak minggu besok kamu pulang? Sebentar saja.)”


“Kalau mereka mengharapkan kedatanganku, mereka akan menghubungiku dan memintaku pulang. Tapi sampai saat ini tak ada seorangpun yang menghubungiku.”


Paklek Wahyu kembali menghembuskan asap rokok dengan pandangan menerawang mendengar ucapan Birendra. Tidak ada yang salah dengan ucapan Birendra karena selama ini keluarga Birendra seolah memutus semua komunikasi dengan Birendra.


Setelah Wahyu membawa Birendra ke Surabaya dalam keadaan depresi, tak pernah satupun keluarganya yang menghubungi Birendra, seolah Birendra telah mati bagi mereka. Karno hanya mendapat kabar dari Wahyu tentang Birendra, yang hanya akan diam tak memberi komentar apapun.


“Bagaimana hubunganmu dengan anaknya Andi Santoso itu?” Wahyu mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan mereka.


“Namanya Bentari.”


“Iya, Bentari.”


“Baik.”


Dalam hati Wahyu merasa bersyukur karena untuk pertama kalinya dia bisa melihat senyum di wajah keponakan yang sudah dianggap anak sulungnya itu.


“Jadi kapan kita harus ke rumah Andi Santoso untuk melamarnya.”


Mata Birendra membulat menatap pakleknya yang tersenyum menggoda.


“Paklek mau melamar Bentari untuk saya?”


“Kalau bukan paklek siapa lagi yang akan melakukanya?”


Senyum Birendra semakin lebar, dengan semangat dia mengangguk.


“Secepatnya, Paklek!”


“Saiki? (Sekarang?)”


“Ya, jangan sekarang juga, Paklek, saya belum ada persiapan apa-apa.”


“Hahaha, yo wis, kamu bilang saja kapan siapnya biar paklek nanti bilang sama bulekmu buat bikin hantaran. Calon mertuamu itu konglomerat, kata anak-anak sekarang crazy rich, kita harus memersiapkannya betul-betul … ojo sampek awakdewe iki isin (jangan sampai kita malu).”


Birendra mengangguk mengerti. Dalam hati dia sudah tak sabar untuk memberi tahu Bentari yang pasti akan terkejut tentang lamaran dadakan ini. Akan tetapi kejutan lain datang lebih dulu, ketika keesokan paginya sebuah berita online menghebohkan publik.


“BIRENDRA ABHIMANA, KEKASIH ANGGI SANTOSO, DEPRESI HINGGA MELAKUKAN UPAYA BUNUH DIRI.”


*****