
“Asoka Danubrata, Sarjana Teknik.”
Oka berjalan menaiki podium seperti wisudawan yang lainnya, mengenakan baju toga hitam dengan kerah kuning ciri khas universitas berlist biru sewarna dengan kalung yang menjadi warna identitas fakultas teknik. Prosesi diawali dengan pemindahan tali topi toga oleh Rektor universitas sebagai symbol kelulusan, dilanjut dengan penyerahan tabung dan map yang semakin mempertegas kelulusan seorang Asoka Danubrata.
Sorot mata bangga terpancar dari mata para orangtua dan wali wisudawan yang hadir, termasuk pak Andi dan bu Mega. Bagaimana mereka tidak bangga ketika mengetahui sangat susah untuk bisa masuk maupun lulus dari salah satu universitas terbaik negri ini, namun putra mereka berhasil melewati itu semua. Apalagi kini di bahu Oka tersampir selendang dengan tulisan cumlaude yang semakin melambungkan rasa bangga keduanya.
“Hebat!” Andi Santoso memeluk Oka dengan bangga, begitupun dengan bu Mega yang memeluknya dengan mata berkaca-kaca ketika prosesi wisuda berakhir.
Mereka kini sudah ke luar dari Bailairung, tempat iconic yang menjadi salah satu landmark universtas dimana kini hampir semua orang berfoto di depan bangunan berbentuk pagoda itu. Begitupun dengan Oka bersama kedua orangtuanya dengan Wempi sebagai tukang foto dadakan.
“Bukan kami yang bodoh, tapi putra Bapak sama Ibu saja yang sombong karena mau lulus lebih cepat,” ujar Wempi memberi alasan ketika bu Mega bertanya kenapa Wempi tidak pakai baju toga.
Alasan Wempi itu berhasil membuat mereka tertawa. Memang benar di antara teman-temannya Oka dan Kemal memang yang paling cepat lulus, sedangkan Wempi dan Mantir masih berkutat dengan tugas skripsi mereka.
“Alasan, itu karena mereka pacaran mulu bukannya ngerjain skripsi.”
“Cieee sirik! Percuma muka ganteng, otak encer, tapi pas wisuda gak ada yang damping.”
“Hahahaha.” Mantir dan Wempi tertawa terbahak-bahak begitupun dengan pak Andi dan bu Mega yang ikut tertawa, berbeda dengan Oka yang berdecak kesal belum memutar bola matanya sambil menghela napas ketika mendengar suara yang sangat dia kenal.
“Adeeek!” Dengan usia kehamilan yang sudah menginjak bulan ke 7 Bentari tetap terlihat modis, semakin cantik dan bersinar.
“Sayang, jalannya pelan-pelan!” Seru Birendra ngeri melihat Bentari yang hanya cengengesan terlihat tak sabar untuk memeluk adik kesayangannya kemudian mencium kedua pipinya yang mendapat perhatian dari banyak orang.
Sebagian besar dari mereka tak begitu familiar dengan wajah Andi Santoso sang konglomerat, beda dengan Bentari yang wajahnya dikenal khalayak umum hingga mereka kini menjadi perhatian sebagian besar yang ada di sana. Tatapan penasaran juga tak percaya tergambar jelas, mereka mulai bisik-bisik apa lagi setelah mendengar panggilan Bentari kepada Oka yang selama ini mereka anggap mahasiswa sederhana.
“Ini ngidamnya sampai kapan sih?” tanya Oka terlihat putus asa yang malah membuat Bentari terkekeh sambil merangkulnya. “Lagian kenapa ke sini sih, Kak, bukannya nunggu di rumah saja sama teteh.”
“Kan pengen lihat adik kesayangan diwisuda. Tadi dari bandara langsung ke sini, tapi macet banget di depan, untung saja belum pada pulang.”
“Dari kemarin dia tidak sabar ketemu kamu,” ucap Birendra membuat Oka menghela napas pasrah.
Entah kenapa semenjak kehamilan Bentari jadi lebih posesif dengan adik kesayangannya itu, setiap hari dia akan video call, bukan hanya sekali bahkan sampai berkali-kali. Tidak lama hanya untuk melihat wajah Oka (yang cemberut) di layar ponsel, itu sudah cukup membuat moodnya menjadi lebih baik. Dan Oka hanya bisa pasrah saja setelah dapat bujukan kalau setelah Bentari lahiran Birendra janji membelikan Oka motor.
Suka cita benar-benar kental terasa, kebahagiaan terpancarkan dari wajah semua orang yang hadir dan rasa itu berlanjut hingga rumah. Kirana telah memersiapkan aneka macam hidangan yang telah dia pesan sebelumnya, tetanggga dekat dan sahabat datang untuk mengucapkan selamat.
Namun ada yang kurang … seseorang yang Oka harap kehadirannya tak ada di sampingnya, hatinya terasa hampa walau dia berada di antara hingar bingar keramaian. Waktu berjalan, dan gadis yang dia tunggu kehadirannya tak kunjung datang bahkan sampai malam menjelang.
Oka kini duduk di balkon lantai dua, satu kaleng minuman soda menemaninya malam itu diiringi lagu Bruno Mars “Talking to the moon” yang mengalun lembut seolah menyerukan isi hatinya.
I know you’re somewhere out there
(Aku tahu kau di sana)
Somewhere far away
(Di suatu tempat yang jauh)
I want you back
(Ku ingin kau kembali)
I want you back
(Ku ingin kau kembali)
My neighbours think I’m crazy
(Para tetangga mengira aku gila)
But they don’t understand
(Namun mereka tak mengerti)
You’re all I have
(Hanya kaulah yang ku miliki)
You’re all I have
(Hanya kaulah yang ku miliki)
Sulit bagi Oka untuk membuka hati kepada seorang perempuan, ketika dia memutuskan untuk membuka hatinya kepada seorang perempuan maka jangan ragukan lagi tentang kesetiannya, apalagi dia sudah berjanji. Janji yang mereka berdua ucapkan untuk saling memantaskan diri, menjaga diri untuk masa depan depan mereka. Jadi yang akan Oka lakukan adalah menepati janjinya untuk memantaskan diri sambil menunggunya kembali.
Tangannya mengambil kaleng minuman soda kemudian meneguknya, kepalanya menengadah menatap langit kelam malam itu. Hatinya bergetar, sedikit senyum terbit di wajahnya ketika melihat satu bintang bersinar terang di antara kegelapan langit.
Polaris … sang bintang utara masih bersinar di atas sana.
Saat ini Oka akan menepati janjinya … menunggu dan memantaskan diri. Namun apabila takdir berkata lain, Polaris membawanya kepada perempuan lain sebagai tempatnya untuk pulang … dia tak akan menolak, hanya akan menyerahkannya kembali kepada sang Ilahi.
Suara pesan masuk dari ponselnya membuat Oka tersadar dari kegalauan karena rindunya. Dia terdiam menatap nama sang pengirim pesan, sebelum akhirnya dibuka kemudian dibalasnya.
Salwa:
Assalamualaikum
Selamat atas wisudanya, Mas.
Mudah-mudahan ilmunya bermanfaat dan berkah, aamiin
Oka:
Wa’alaikumsalam
Aamiin yaa robbal’alaamiin
Terimakasih banyak.
Salwa:
Maaf tidak bisa datang
Lagi ada ujian, tidak bisa ditinggal
…
Percakapan mereka terus berlanjut mengisi keheningan malam, namun tak mengisi kerinduan di hati Oka.
Di belahan dunia lain, seorang gadis cantik dengan rambut panjang terurai tertiup angin duduk di bangku taman menghadap sebuah danau buatan. Tangannya yang cantik menggoreskan pensil di atas buku sketsa yang kini jadi teman setianya. Dia terlihat fokus berusaha memvisualkan imajinasinya selama beberapa menit terakhir sampai akhirnya tangannya berhenti, mata bulatnya menatap hasil goresan tanganya terlihat puas namun terlihat sendu.
Design sebuah kalung dengan tiga buah bintang sebagi lambang bintang utara tergambar dengan cantik. Beberapa saat dia terdiam menatap sketsa hasil karyanya sebelum dia menengadah menatap langit yang masih cerah, tapi dia tahu di seberang sana sang surya telah tenggelam digantikan rembulan.
Apakah dia kini tengah menatap langit seperti dirinya? Merasakan kerinduan yang menyesakan seperti dirinya? Dan … apakah Polaris masih bersinar di sana menunggunya pulang, atau bahkan mungkin seseorang sedang berjalan mengikuti sinar Polaris menggantikan dirinya?
Gadis itu mengembuskan napas perlahan mencoba mengeluarkan sesak yang terasa menghimpit dada menyadari kemungkinan seseorang mungkin sudah mengisi tempatnya. Dia membuka ponselnya yang langsung memerlihat foto monokrom seorang pria yang diam-diam dia ambil.
Dia terdiam sesaat menatap foto yang menjadi pengobat rindunya.
“Abang hebat, lulus dengan cumlaude ... keren!” tenggorokannya mulai memanas walau bibirnya berusaha tersenyum. “Aku banggaaa banget sama abang, tapi … maaf aku tidak bisa berada di samping abang. Aku …” Arunika menelan ludahnya yang terasa berat dan pahit. “Aku akan akan baik-baik saja di sini, jadi abang tidak perlu khawatir!”
Arunika tersenyum menatap foto hitam putih pria yang telah mengambil hatinya sejak lama.
“Abang harus bahagia di sana, jangan terlalu dingin lagi ke perempuan nanti mereka kabur. Aku yakin saat ini pasti sudah banyak perempuan yang berusaha mendekati abang kan?” Arunika kembali tersenyum. “Aku berdoa salah satu dari mereka akan ada yang terbaik untuk abang. Yang pantas berdiri di samping lelaki hebat seperti abang, yang akan selalu membuat abang tersenyum bahagia … aku dengan tulus mendoakan kebahagian abang.”
Arunika terdiam sesaat bibirnya dikatupkan berusaha menahan air mata yang dengan tak tahu malu tetap bergulir walau sekuat apapun menahannya.
“Maafkan aku karena telah mencintaimu. Selamat tinggal … Asoka Danubrata, my star … my Polaris.”
Arunika mematikan ponselnya, memasukkan buku sketsanya ke dalam tas kemudian berdiri, berjalan berusaha melangkah menuju masa depan, meninggalkan masa lalu dengan semua kenangannya.
*****