
Birendra duduk di belakang meja kerjanya, matanya terlihat serius menatap dokumen yang terbuka, sesekali matanya beralih ke layar LED komputer, tangannya dengan lincah menari di atas keyboard sebelum matanya kembali ke lembaran kertas yang dari tadi menjadi perhatiannya.
Getaran ponsel yang tergeletak di atas meja tak membuat konsentrasi Birendra teralihkan, sampai akhirnya dia menggeram kesal ketika ponselnya terus bergetar. Dia hampir saja menyemburkan kekesalannya kepada siapapun yang berani mengganggu dia bekerja, tapi sepertinya dia harus menelan kekesalannya ketika meliha nama si penelpon.
“Halo.”
“Halo, lagi tidak sibuk kan, Bi? Aku lagi di Surabaya dan bosan sekali karena seharian harus rapat, jadi temanin aku ngopi, oke?”
Caraka Benua dengan nada memerintah walau terkesan santai membuat semua orang tak akan berani menolaknya, termasuk Birendra yang semua orang tahu akan langsung bertaring dan bertanduk kepada siapapun yang berani mengganggunya ketika dia bekerja.
“Tidak, aku sedang tidak sibuk,” jawab Birendra dengan mata memindai tumpukan dokumen juga layar komputernya.
“Bagus! Kalau begitu aku tunggu di Sky sekarang.”
“Sekarang?”
“Iya, atau kamu masih ada pekerjaan?”
“Tidak, aku akan ke sana sekarang.”
Birendra menyimpan file yang baru dia kerjakan, mematikan komputer, membereskan dokumennya kemudian pergi ke resto dimana Caraka telah menunggu dengan secangkir espresso dan sebatang rokok. Mata Caraka terlihat sibuk mengetik sesuatu di ponselnya tak memedulikan beberapa perempuan yang dari tadi mencuri lirik ke arahnya.
Ayolah siapa yang tidak akan tertarik melihat seorang pria dewasa, dengan penampilan dan wajah paripurna seperti Caraka Benua yang sepertinya semakin dewasa malah semakin paripurna saja.
“Maaf menunggu lama.”
“Tidak, aku juga belum begitu lama,” jawab Caraka sambil membuang abu rokok ke dalam asbak. “Lagi sibuk dengan kasus apa sekarang, Bi?”
“Baru saja menyelesaikan sebuah kasus perampokan, dan rencananya ingin cuti dulu untuk beberapa waktu.”
Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan Birendra yang tengah menyalakan rokoknya. Surabaya sore itu sudah tak begitu terik, beberapa orang terlihat duduk santai sambil menikmati secangkir kopi juga makanan ringan sambil bercakap-cakap seperti Birendra juga Caraka yang kini tengah membicarakan pekerjaan masing-masing dengan secangkir kopi juga rokok, duduk di area rooftop dengan semilir angin dan pemandangan Surabaya di sore hari.
“Bagaimana keadaan mbak Kirana?” Birendra menyeruput es americano miliknya.
“Baik, dia sedang sibuk mengejar Danish yang sudah belajar berjalan.” Caraka tersenyum lebar ketika membicaraka istri dan putranya. “Kamu belum pernah melihat Danish kan?” Caraka mengeluarkan ponselnya. “Dia sangat menggemaskan … seperti bapaknya.” Caraka tersenyum bangga sambil menyerahkan ponselnya kepada Birendra.
Mata Birendra melembut melihat video Danish yang sedang berjalan di rerumputan terlihat sangat lucu dan menggemaskan, sesekali Danish akan terjatuh, tapi kembali bangkit dan tertawa yang membuat Birendra ikut tersenyum. Terdengar suara Kirana yang memanggil-manggil nama Danish membuat anak kecil yang masih belajar berjalan itu menolah ke arah kamera dan tersenyum, sampai akhirnya jalanan sedikit landai hingga Danish berjalan dengan cepat tak bisa menahan lajunya.
“Bi! Bi! Danish, Bi!” terdengar teriakan panik Kirana, begitupun Birendra yang berhenti tersenyum dan jantungnya berdetak kencang ketika melihat Bentari berlari untuk menangkap Danish sambil tertawa terbahak.
“Kamu mau bikin aunty dan mamahmu jantungan ya!” ucap Bentari sambil menciumi Danish yang malah tertawa. “Kalau sampai kamu luka, nanti papah sama mamahmu bisa dicoret dari daftar ahli waris Sultan Menteng.”
“Emak sama bapaknya dicoret dari daftar ahli waris, tapi anaknya nanti yang gantiin.”
“Hahaha, iya, nanti ini nih si little prince yang bakal masuk kandidat ahli waris. Dari kakeknya dapat, dari bapaknya juga dapat … menang banyak nih si little prince. Bikin little princes dong, Teh, biar ditambah sayang sama mertua ma suami.”
Bentari kini telihat menggendong Danish duduk di ayunan.
“Nanti dulu lah! Dikira ngurus anak itu gampang. Kenapa tidak kamu saja yang bikin little princes, kebayang kan ayah, mamah, sama tante Mayang bakal senengnya seperti apa kalau ada Bentari junior.”
“Mau bikin Bentari junior bagaimana, Teh. Kan teteh tahu sendiri calon bapaknya kabur ke kutub utara. Kalau anak ada di playstore sih aku download, Teh.”
“Hahahaha … makanya move on, masa sudah ditinggal setahun belum move on juga.”
“Dikira move on itu gampang … pindah rumah saja susah harus nyari rumah yang cocok buat kita, apa lagi hati … atau jangan-jangan aku trauma ya teh.”
“Maksudnya?”
“Gara-gara kang es yang dinginnya ngalahin freezer itu aku jadi susah lagi dekat sama cowok … kenapa, Baby?”
Terlihat Danish yang merengek minta digendong Kirana, untuk sesaat video bergerak tak fokus sampai akhirnya kini terlihat Kirana yang sedang menggendong Danish duduk di ayunan dengan sebotol susu. Birendra sedikit kecewa karena tak lagi melihat wajah Bentari, tapi untunglah dia masih bisa mendengarkan suaranya.
“Ya intinya gitu lah, Teh.”
“Gitu gimana? Yang jelas dong kalau ngomong.”
“Ya intinya, sekarang aku takut kalau mau menjalin hubungan dengan seorang pria. Aku takut kalau dia juga ninggalin aku kayak dia.”
“Dia siapa?”
“Kang es, Teteh, iiiih!”
“Hahaha.”
“Tidak Teteh, tidak Oka, pada nyebelin deh.”
“Hahaha.”
“Sudah ah! Eh, Danish tidur.”
Mata Danish sudah terpejam, walau mulutnya masih sibuk menyedot susu dalam botolnya.
“Ya sudah, matiin saja kameranya.”
“Lapor, Papah Bos.” Terlihat jelas wajah Bentari di layar membuat jantung Birendra kembali berdebar kencang. “Hari ini aku telah menjadi babysitter little prince merangkap menjadi cameraman buat Permaisuri. Little prince nya sudah tidur, sedangkan permaisuri dan babysitternya sudah saaangat lelah, jadi laporan untuk hari ini tentang aktifitas pangeran kecil juga permaisurinya sudah dulu ya. Jangan lupa bayaran sesuai dengan yang dijanjikan ya.”
Bentari tersenyum lebar sebelum kamara kembali mengarah kepada Kirana.
“Hati-hati di sana, Sayang. Jangan macam-macam ya! Salam buat tante Mayang sama ayah. Love you … mmm…”
“Sudah cukup-cukup, nggak usah love you sama kiss-kiss an segala, ingat masih ada yang jomblo di sini.” Kamera kembali mengarah ke Bentari meninggalkan Kirana yang tertawa. “Sudah ya, Papah Bos, bye!”
Video-pun berhenti dengan muka Bentari yang tersenyum sambil melambaikan tangan, sesaat Birendra masih terdiam menatap wajah yang sangat dia rindukan. Sudah sangat lama dia tak mendengarkan suara juga tawa renyah milik perempuan yang telah mencuri sebagian besar dunianya. Hatinya bergetar karena kerinduan yang samakin menjadi. Ingin rasanya dia putar video itu kembali hanya sekedar mendengar suara dan tawa perempuan yang sangat dia rindukan.
“Bukankah dia sangat lucu?” tanya Caraka sambil mengambil ponselnya dari tangan Birendra yang sepertinya tidak ikhlas mengembalikan benda itu kepada sang pemilik.
“Iya … sangat lucu,” jawab Birendra yang matanya masih belum lepas dari ponsel Caraka.
Sepertinya mereka berdua memiliki objek yang berbeda tentang siapa yang lucu.
“Sepetinya kamu sangat menyukai video tadi ya?” Caraka tersenyum menggoda Birendra yang kini menatapnya. “Sudah ku bilang Danish sangat mengggemaskan dan semua orang menyukainya. Aku akan kirim videonya kepadamu, jadi kamu bisa melihatnya setiap saat.” Caraka memberikan penekannya pada kata nya sambil mengirim video tadi kepada Birendra yang hanya terdiam. “Done! Enjoy, Bi!"
*****
“Bagaimana? Sudah bertemu Birendra?”
Wajah Kirana terpampang jelas di layar ponsel Caraka.
“Iya, tadi sore aku bertemu dengannya,” jawab Caraka sambil duduk berselonjor di atas tempat tidur kamar tamu rumah mertuanya.
Tadinya Caraka akan menginap di hotel selama tugas di Surabya, namun Mayang memaksa Caraka tinggal di rumahnya, alhasil sudah tiga hari Caraka tinggal di rumah keluarga Andi Santoso. Dan jangan ditanya bagaimana keduanya sangat gembira ketika Caraka memutuskan tinggal bersama mereka, Mayang bahkan akan menyiapkan sarapan dan makan malam khusus untuk menantu kesayangannya itu.
“Terus-terus?”
“Benar, Birendra belum menikah dan selama ini tak ada perempuan yang dekat dengannya kecuali adik sepupunya. Bi benar ketika menjulukinya freezer atau kang es, dia benar-benar seperti patung es yang sangat dingin kepada perempuan.”
“Benar kah?”
Caraka mengangguk. “Tapi dia berubah ketika melihat video itu.”
“Serius? Jadi Birendra masih menyukai Bentari?”
“100%!”
“Waaah hahahaha!” Kirana tertawa, terlihat dia bahkan menghentikan aktifitasnya ketika membersihkan muka dengan kapas yang sudah dibasahi toner wajah. “Tapi … kenapa dulu dia menjauhi Bentari.”
“Hmmm …” Caraka turun dari tempat tidur, berjalan ke luar dari kamar dengan rokok di sela bibirnya membuat Kirana langsung berdecak yang hanya dapat senyuman dari Caraka yang kini duduk di taman belakang sambil menyulut rokok.
“Pak Supri telah mengawasi Birendra akhir-akhir ini, dan dia mengatakan kalau selama ini Birendra terlihat sering bertemu dengan seorang pria bernama Fahmi.”
“Siapa dia?”
“Dari informasi yang pak Supri dapatkan Fahmi adalah teman SMA nya Birendra yang sekarang berprofesi sebagai psikolog.”
“*Psikolog*?” Kirana telah selesai membersihkan wajahnya dan kini tengah memakai serum wajah.
“Iya. mereka biasanya bertemu di tempat umum, hanya berbincang-bincang, tapi menurutku ada yang aneh dengan intensitas pertemuan mereka … cukup sering dan biasanya Fahmi akan membawa orang yang berbeda setiap bertemu dengan Birendra.”
“Perempuan?”
“Tidak selalu, kadang laki-laki, perempuan, orang yang lebih tua, lebih muda atau seumuran.”
Kirana mengerutkan alisnya, dia membawa ponselnya kemudian naik ke atas tempat tidur.
“Siapa mereka?”
“Entahlah.” Caraka menghembuskan asap rokok sebelum kembali berbicara dengan istrinya. “Awalnya aku pikir Fahmi mengenalkan klien kepada Birendra, tapi tadi aku coba memastikan itu dan ternyata Birendra sedang tidak mengurus kasus apapun bahkan dia berencana untuk cuti akhir-akhir ini.”
“Jadi mereka siapa?”
“Kata Pak Supri mereka terlihat akrab dengan Birendra, mungkin teman-temannya dulu.”
Kirana mengerutkan alisnya berpikir, begitupun Caraka yang terlihat menerawang sambil menghisap rokoknya.
“Kenapa, ada yang kamu pikirkan?” tanya Kirana membuat Caraka terdiam sesaat sebelum menjawabnya.
“Ini hanya pemikiranku saja, jadi jangan beri tahu ini kepada Bi untuk sementara waktu.”
Kirana mengangguk setuju.
“Aku pikir bukan Fahmi yang konsul masalah hukum dengan Birendra, tapi bagaimana kalau ternyata sebaliknya … Birendra yang memang perlu penanganan seorang psikolog?”
Kirana kini duduk dengan tegak, terlihat serius menatap layar posel.
“Maksudmu … ada masalah dengan Birendra?”
“Iya, tapi aku belum yakin. Kita tahu bagaimana sikap Birendra yang sangat tertutup, bahkan bukankah Bi cerita kalau Birendra sempat menghilang sebelum dia kembali muncul bersamaan dengan keputusannya untuk menjauh dari Bi?”
“Iya, itu yang aneh, dan itu yang aku minta tolong untuk dicari tahu. Alasan kenapa dia menghilang saat itu.”
“Pak Supri belum menemukan informasi apapun untuk masalah itu. Tapi bagaimana kalau misalnya … dia memiliki masalah di masa lalu yang membuatnya tertutup seperti sekarang, dan menghilangnya Birendra saat itu adalah karena masa lalunya kembali?”
“Kenapa itu berhubungan dengan Bi? Kenapa Birendra harus menghindari Bi karena masa lalunya?”
“Mungkin, masa lalunya adalah seorang perempuan yang membuat Birendra tak bisa mendekati perempuan manapun, termasuk Bi walaupun aku yakin kalau sampai sekarang dia masih menyukai Bi.”
Kirana terdiam berpikir kemudian mengangguk kecil.
“Mungkin saja, tapi apa pak Supri bisa mencari tahu tentang itu supaya lebih pasti?”
“Aku akan meminta pak Supri untuk mencari tahu masa lalu Birendra dan rencanya besok aku akan menemui Fahmi.”
“Untuk bertanya tentang Birendra? Sayang, kamu lupa kalau psikolog itu sama dengan dokter yang memiliki kode etik untuk tidak membocorkan rahasia pasien mereka?”
“Tenang saja, aku tak sebodoh itu untuk langsung bertanya secara langsung … kamu percaya saja sama suamimu yang tampan ini.” Caraka mengangkat alis matanya sambil tersenyum menggoda.
“Jangan lakukan itu!”
“Hahaha, kenapa? Kamu merindukanku.”
“Apa kamu tidak merindukaku?”
“Miss you so bad, Honey… besok aku pulang, Danish biar menginap sama eyangnya di Menteng, jadi kita bisa pacaran.”
“Hahahaha.”
Caraka kembali berjalan ke dalam kamar setelah menghabiskan sebatang rokok sambil berbincang ringan dengan Kirana seperti hari-hari kemarin, Caraka akan mematikan ponselnya setelah melihat Kirana terlelap. Persis seperti saat mereka pacarana dulu dan harus terpisah jarak Jakarta – Surabaya.
Besok, Caraka akan kembali melakukan misi rahasia terakhir dari istrinya selama perjalanan bisnis di Surabaya yaitu bertemu dengan Fahmi sang psikolog.
*****