Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
Extra Part 2



Sttt .. ada bonus dari abang buat yg belum tidur 🤭


*****


Surabaya kini sudah menjadi rumah keduanya, hampir sebulan sekali Oka akan datang ke kota Pahlawan untuk menemui kedua orangtuanya. Namun beberapa bulan terakhir ini Oka disibukan dengan skripsi dan persiapan sidang.


Kuliah, PKL, skripsi dan persiapan sidang cukup menguras waktu dan pikiran Oka, jadi selama itu pula dia tak pulang ke Surabaya, gantian ibu dan ayahnyalah yang pulang ke Jakarta. Selama ayahnya sibuk dengan proyek di daerah Jawa Barat juga Jakarta, ibunya akan sibuk memastikan anak bungsunya makan dengan teratur.


Kali ini adalah kali pertama Oka kembali ke Surabaya setelah dia dinyatakan lulus sidang skripsi dengan nilai memuaskan. Ya, waktu berlalu dengan cepat, rasanya baru kemarin seorang Asoka Danubrata menjadi mahasiswa baru, dan kini dia hanya tinggal menunggu hari wisuda untuk mensahkan gelarnya sebagai sarjana teknik. Selain sebagai seorang sarjana Oka juga kini resmi menjadi staff estimator di BUMI.


Awalnya Oka mengira ada campur tangan ayahnya dalam tawaran dari pihak BUMI untuk Oka mengisi salah satu posisi staff di sana, namun ayahnya memastikan kalau dia tak ada sangkut pautnya sama sekali, bahkan dia baru mengetahui tentang hal itu dari Oka sendiri.


“Recruitment staff tidak ada urusannya dengan ayah, itu kewenangan kepala bagian masing-masing bagian. Ayah hanya menerima laporan kerja bukan laporan keluar masuk karyawan, itu urusannya HRD.”


“Tapi ayah yakinkan tidak ada yang tahu tentang statusku?”


Andi Santoso mengangguk. “Kalau mereka tahu, mereka pasti akan bertanya kepada ayah untuk memastikan itu, tapi pak Hadi tidak mengatakan apapun.”


Oka terdiam, memang dulu ketika Oka masih bekerja magang di BUMI, dia tak pernah sekalipun bertemu Hadi Iskandar, Direktur yang menjadi orang kepercayaan Andi Santoso untuk memegang proyek di Jakarta dan Jawa Barat. Setelah memastikan kalau dia diterima karena kemampuanna sendri akhirnya Oka memutuskan untuk menerima tawaran dari BUMI. Bukan hanya Oka, tapi Kemal pun mendapat tawaran yang sama hanya berbeda divisi. Oka menjadi staff estimator sedangkan Kemal staff drafter.


“Kita sudah sampai, Mas.”


Rumah Yatim dan Duafa, itu tulisan yang ada di papan nama yang terpasang di gerbang masuk tadi.


“Terimakasih, Pak Yanto.”


“Sami-sami, Mas.”


Oka ke luar dari mobil yang menjemputnya dari bandara tadi. Bu Mega memang sudah memberi tahu Oka kalau nanti dari bandara, Yanto, sopir yang bertugas menjemput Oka akan langsung membawanya ke tempat acara 4 bulanan Bentari.


Setelah menunggu setahun lebih Bentari akhirnya hamil anak pertamanya, dan hari ini adalah acara syukuran 4 bulan kehamilan Bentari. Tidak ada ngidam yang aneh-aneh, selain Bentari tambah manja yang tentu saja tak jadi masalah bagi Birendra yang sangat mencintai istrinya, Bentari juga tidak tahan dengan bau daging merah, dia jadi lebih menyukai sayuran dan buah-buahan.


“Masih untung yang Bi nggak kuatnya nyium bau daging. Lah, waktu Kirana hamil Danish masa dia tak tahan sama bauku sampai tiga bulan lebih,” ucap Caraka ketika mereka sedang membicarakan kehamilan Bentari yang langsung mual muntah setiap mencium bau daging. Tentu saja hal itu tidak disia-siakan yang lain dan menjadi bahal olok-olokan di grup chat penghuni BUMI calon SURGA.


“Mas Oka!” Mbak Sumi, asisten rumah tangga Andi Santoso dengan tergopoh-gopoh mendekati putra majikannya yang baru saja datang itu.


“Sudah mulai dari tadi, Mbak?”


“Sudah, Mas, sebentar lagi selesai. Mas Oka mau masuk atau …”


“Saya nunggu di luar saja.”


“Inggih, Mas (Baik, Mas). Mbak Sumi tinggal dulu, Mas, mau siapin bingkisan.”


Oka menangguk sambil menatap ke arah pavilion dimana tadi mbak Sumi berada, terlihat beberapa orang sibuk memersipkan bingkisan yang akan dibagikan nanti. Oka melihat seorang perempuan muda dengan gamis peach menatap ke arahnya sebelum tertunduk dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Oka berjalan menuju kursi kayu yang berada di bawah pohon jambu, duduk di bawah naungan rindangnya pohon jambu, dari dalam bangunan terdengar suara pengajian yang didominasi oleh suara anak-anak dan perempuan. Sambil menunggu membuka ponselnya dan saat itulah dia mengingat perempuan muda tadi. Salwa, perempuan yang sempat mau dikenalkan bu Mega padanya, tapi dengan berbagai alasan Oka akhirnya terbebas dari perkenalan itu.


Kuliah dengan segala macam tugas, belum lagi tugas skripsi yang harus dia jalani setahun lebih ini benar-benar menguras waktu dan pikirannya, hingga tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk memiliki hubungan dengan perempuan manapun. Bukan tanpa alasan Oka menolak dikenalkan kepada Salwa, tak akan Oka pungkiri Salwa sosok yang cantik, anggun, dan terlihat sangat baik juga sholeha.


Namun Oka tak ingin menjadi seorang lelaki yang memberikan harapan kepada perempuan manapun, dia terlalu sibuk dengan tugas kulih, PKL, juga skripsinya, belajar mati-matian agar bisa lulus lebih cepat.


Benarkah Oka bekerja keras hingga lupa waktu karena ingin lulus lebih cepat? Bukan karena ingin melupakan seseorang yang dulu membuatnya betah berada di kampus walau tidak ada kuliah?


Oka menghela napas berat. Tangannya tanpa dikomanda bergulir menuju chat dia dengan gadis yang dulu memberi warna dalam hidupnya, hanya dengan membaca pesan-pesan absurd itu bisa sedikit mengurangi rasa rindunya. Tangan Oka berhenti bergulir ketika dia melihat foto yang dikirim Arunika. Foto dirinya juga Arunika yang sama-sama mengenakan kemeja putih, yang sengaja dia kolase secara berdampingan.



Arunika :


Abaaaaang, lihat wajah kita miripkan, bang?? 😍😍😍😍


Kata orang kalau wajahnya mirip itu jodoh, hihihihi🤭🤭


Saat itu Oka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala membaca chat itu. Apakah terlambat kalau dia mengamini doa itu saat ini?


Oka kembali menghela napas, sungguh rindu dia dengan tingkah Arunika yang kadang tak bisa Oka duga namun berhasil membuatnya tersenyum.


Oka menggulir pesan semakin ke atas, dia berhenti ketika melihat foto yang dia ambil ketika Arunika menemaninya mendorong si merah yang mogok.



Mereka berdua duduk di trotoar karena kelelahan, namun lihatlah gadis itu masih bisa tersenyum cerah menatapnya. Saat itu Arunika bahkan belum tahu siapa Asoka Danubrata, namun dia telah menyukainya tanpa syarat.


Di mana gadis itu sekarang? Sungguh Oka sangat merindukan keceriwisannya yang membuat harinya lebih berwarna.


“Oka, kapan sampai?”


Suara bu Mega menyadarkan Oka dari lamunannya, sambil tersenyum di berdiri untuk mencium tangan sang ibu kemudian memeluknya erat, membuat bu Mega mengerutkan alisnya heran dengan reaksi anak bungsunya yang tak biasa.


“Kenapa?”


“Kangen,” jawab Oka sambil cengengesan membuat bu Mega berdecak sambil tersenyum.


Oka kemudian menyalami Andi Santoso yang tersenyum sambil menepuk bahunya seperti biasa.


“Adeeek!”


Oka langsung memutar bola matanya mendengar suara Bentari yang berseru memanggilnya dengan panggilan yang membuatnya ingin sekali menjambak rambut kakaknya itu.


“Baru datang? Capek? Laper nggak?” tanya Bentari setelah memeluk dan mencium pipi Oka yang langsung Oka hapus pake telapak tangan.


Memang semanjak hamil, kakaknya yang satu ini selain manja juga bertambah centil, seneng banget dandan dan setiap melihat yang cantik atau ganteng matanya akan berbinar. Dan karena adiknya ini memang super tampan alhasil setiap pulang ke Surabaya, Bentari akan nempel terus sama adik kesayangan yang habis-habisan berusaha menghindar darinya.


“Kak, mending kakak ngidam mau beli apa gitu biar Mas Abhi beliin, daripada centil gini.”


“Ini bawaan bayi, Dek, tiap lihat yang ganteng sama yang cantik itu bawaannya pengen nempel saja.”


“Untuk pertama kalinya aku nyesel kalau aku ganteng.”


“Hahaha.”


“Ngomong-ngomong soal yang cantik … tuh yang cantik datang,” ucap bu Mega membuat mereka menatap paklek Wahyu yang berjalan mendekat bersama dengan istri dan putrinya.


“Paklek, sudah kenal belum sama adik Bi yang super ganteng ini?”


Oka hanya bisa mengehela napas pasrah mendengar ucapan Bentari yang membuat semua orang kembali tertawa.


“Paklek pernah lihat waktu resepsi dulu, tapi belum kenalan.”


Oka tersenyum sambil menjabat tangan paklek Wahyu dengan sopan.


“Asoka.”


“Namanya Asoka? Bagus banget namanya,” ujar bulek Lastri sambil menyalami Oka yang tersenyum ramah.


“Ini anak Paklek satu-satunya … Salwa.”


Salwa tersenyum simpul sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada yang dibalas Oka dengan gestur yang sama.


Sungguh Salwa adalah sosok yang cantik, juga anggun. Tetapi akankah bisa membuat hidup seorang Asoka Danubrata berwarna seperti dulu?


*****