
“Mau nonton apa?”
Tidak ada film hantu? Ckk coba kalau ada kan bisa modus, apalagi kalau nonton di ruangan velvet, modusnya bisa … astagfirullahaladzim! Nyebut, Bi, nyebut!
“Apa saja.”
“Yakin?”
“Iya.”
Brendra mengangguk. “Ruanganya … sweetbox atau … velvet?”
Velvet!!! Tapi tidak, itu tidak baik untuk kesehatan jantungku. Lagian kami mau nonton bukan mau tidur.
“Sweetbox.”
Bentari pikir sweetbox akan aman buat jantungnya, tapi ternyata salah! Ya, bagaimana jantung Bentari tidak koprol ketika dia duduk berdua Birendra di sofa mini yang nyaman tanpa sandaran tangan yang memisahkan keduanya dengan penghalang pinggir hingga membuat mereka serasa berada di dalam ruangan berdua saja.
Jangan tanya bagaimana kabar jantung Bentari saat ini, yang pasti berdebar tak karuan. Dia bahkan tak berani melirik ke arah Birendra yang duduk dengan wajah serius menatap layar, dimana filim Venom tengah diputar. Dan, kenapa tiba-tiba makhluk hitam menjijikkan itu menjadi terlihat seksi ketika menjularkan lidahnya? Aaah, ternyata nonton berdua Birendra film apapun itu benar-benar tidak baik untuk jantung Bentari.
“Suka filmnya?”
Bentari semakin mematung, jantungnya bukan lagi koprol, tapi mulai kayang, bahkan rambut halus di tengkuknya malah ikut meremang ketika mendengar bisikan Birendra tak jauh di telinganya.
Bentari meraup popcorn dalam pelukannya kemudian menyuapnya sambil mengangguk menjawab pertanyaan Birendra, padahal Bentari tak tahu jalan cerita film yang dia tonton saat ini selain makhluk hitam yang hobi menjulurkan lidah. Ya, karena dari tadi Bentari sibuk menenangkan jantungnya yang hari ini benar-benar berulah dengan berdebar tak karuan.
Namun jantungnya kembali tenang setelah mereka ke luar dari gedung bioskop. Awalnya Birendra mengajak makan malam di salah satu restoran yang ada di Pacific Place, tapi Bentari menolaknya. Bukan apa-apa, jantungnya baru saja kembali bersikap normal, Bentari khawatir suasana restoran yang tenang, makan yang tersaji dengan cantik ditambah latar lagu yang mendukung suasana romantis malah membuat jantung Bentari kembali berulah.
Jadi demi kesehatan jantungnya, Bentari lebih memilih makan seafood di pinggir jalan, dengan latar deru kendaraan yang lalu lalang, denting suara peralatan masak, juga musik pengiring dari pengamen jalanan yang menyanyikan lagu-lagu 90an.
“Aku tidak tahu kamu suka makan di tempat seperti ini,” ucap Birendra sambil menatap sepiring kerang dara saus padang, kepitang lada hitam, ikan baronang bakar, cah kangkung, es teh manis dan dua piring nasi.
“Semenjak tinggal di Jakarta, Oka suka mengajakku makan di tempat-tempat seperti ini. Dan ternyata soal rasa tidak kalah lho sama restoran-restoran mahal.”
Birendra tersenyum mendengar Bentari bercerita sambil mulai makan kepiting.
“Oka … sepertinya dia sedikit posesif kepadamu.” Birendra mengambil sepotong ikan baronang bakar kemudian menaruhnya ke atas nasi. Seperti Bentari dia mulai makan tanpa menggunakan sendok.
“Bukan sedikit, tapi dia benar-benar sangat posesif!” Bentari memutar bola matanya sambil menggeleng, tapi Birendra bisa melihat senyum bahagia di wajahnya.
“Sangat menyenangkan bukan mendapat perhatian dari saudara sendiri?”
Bentari mengangguk, mulutnya kini sibuk mengunyah daging kepiting yang berhasil dia ambil dari cangkangnya.
“Ya, sangat menyenangkan memiliki saudara walau terkadang kami bertengkar hanya karena hal-hal sepele.” Bentari kini mengambil potongan ikan bakar seperi Birendra sambil kembali bercerita.
“Awalnya aku tak percaya ketika teteh cerita kalau dulu dia sering bertengkar hanya karena berebut remot televisi, rebutan ke kamar mandi duluan, berebut makanan, atau karena hal-hal sepele lainnya, bahkan mereka sampai jambak-jambakan. Tapi kini aku mengalaminya sendiri, hehehe.”
Bentari menyuap makannya sambil tersenyum lebar. Birendra ikut bahagia melihat Bentari yang sudah banyak sekali berubah. Birendra tidak tahu bagaimana rasanya semua yang dirasakan Bentari saat ini tentang berebut remot dengan saudara atau apapun itu karena selama ini Birendra selalu sendiri, kesepian. Akan tetapi melihat Bentari bisa tersenyum lebar hanya karena menceritakan pertengkaran dengan saudaranya membuat Birendra merasakan kebahagiaan itu.
“Tapi kamu bahagia kan walaupun harus saling jambak?”
“Hahaha … iya.” Bentari meneguk es teh manisnya kemudian menatap Birendra juga tengah menatapnya disela-sela makan. “Selama ini aku selalu tinggal sendiri tanpa kesulitan yang berarti, tapi hidupku terasa monoton, hanya pesta dan bersenang-senang. Namun kini berbeda, hidupku lebih berwarna. Mas Abhi mungkin tak percaya … tunggu! Mana ya?”
Bentari mencari sesuatu di kedua lengannya sampai akhirnya matanya membulat bahagia.
“Ini!” Bentari menjulurkan tangan kanannya ke arah Birendra. “Mas Abhi lihat ini! Ada titik coklat.” Birendra melihat titik coklat kecil yang sudah memudar di dekat pergelangan tangan Bentari yang putih mulus. “Ini terkena minyak ketika aku goreng ikan,” lanjut Bentari dengan bangga membuat Birendra ikut tersenyum bangga. “Sekarang aku bisa masak walaupun belum seahli mamah dan teteh.”
“Hebat! Nanti masakin aku … nasi goreng? Bisa kan?”
“Waaah, mukanya jangan meremehkan begitu dong, Mas, gampang itu.”
Suasana keduanya tidak lagi setegang tadi, mereka bercerita sambil menghabiskan makanan lebih tepatnya Bentari yang bercertita tentang kehidupannya selama ini, sedangkan Birendra mendengarkan dengan saksama, terkadang dia tersenyum ketika melihat Bentari tertawa saat menceritaka hal-hal yang lucu.
Selama ini Birendra hanya melihat dan mendengar tawa Bentari dari rekaman video saja, namun hari ini dia melihatnya langsung berbagai macam ekspresi dari perempuan yang sangat dia rindukan. cemberut, kesal, merona, tersenyum, bahkan tertawa seperti saat ini ketika dia menceritakan pertengkarannya dengan Oka sampai jambak-jambakan hanya karena berebut potongan martabak terakhir yang akhirnya dimenangkan oleh bu Mega yang tanpa berdosa mengambil martabak itu lalu memakannya sambil duduk manis di samping keduanya yang tengah berjibaku.
“Asliiii, kami berdua langsung diam melihat mamah yang dengan santainya makan martabak, terus mamah malah nanya. Mau? … lah kan martabaknya juga habis, pakai nawarin segala.”
“Hahaha … mamah kamu lucu.”
“Hahaha, memang. Mamah itu drama queen banget deh.”
Birendra tersenyum mendengarnya, matanya tak lepas dari Bentari yang tengah menghabiskan makanannya.
“Aku telah cerita tentang kehidupanku selama ini.” Bentari menatap Birendra dengan senyuman manisnya. “Sekarang giliran Mas Abhi cerita tentang kehidupan Mas Abhi selama ini.”
“Tidak ada yang menarik dalam kehidupanku, hanya kerja, kerja dan kerja.”
“Tidak ada ... perempuan?”
Bentari bertanya dengan nada santai, tidak ada intimidasi atau apapun itu. Bahkan Bentari bertanya sambil menyuap suapan terakhirnya akan tetapi Birendra tahu seserius apa pertanyaan itu.
“Selain rekan-rekan kerja dan sepupuku … tidak ada perempuan lain.”
Bentari mengangguk sambil menarik piring kerang dara mendekat.
“Mas tidak mau ini? Enak lho. Coba nih!” Bentari mengulurkan tangan dengan daging kerang yang sudah terlepas dari cangkangnnya membuat Birendra memakannya walau sedikit kepedasan. “Jadi alasan Mas Abhi waktu itu bilang kalau mau menikah itu bohong?” Bentari bertanya sambil mengambil daging kerang untuknya sendiri.
Birendra terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk sambil berkata lirih, “Iya, itu bohong.”
“Tapi kenapa?” Bentari kembali mengeluarkan daging kerang. “Kenapa Mas Abhi harus bohong?”
Birendra terdiam sambil kembali mengambil kerang yang diberikan Bentari, dia mengunyah kerang dengan mata menerawang sebelum akhirnya menatap bentari yang dari tadi memerhatikannya.
“Karena aku bodoh,” jawab Birendra dengan mata menatap Bentari serius.
“Bukan karena … Mas Abhi membenciku kan?”
“Bukan.” Kali ini Birendra menjawab dengan cepat. “Aku tidak membencimu, dari dulu sampai sekarang aku menyukaimu, sangat menyukaimu sampai rasanya hatiku sakit karena begitu menyukaimu. Namun dulu aku terlalu bodoh juga penakut, hingga aku lari menjauh darimu.”
Bentari terdiam mendengar pengakuan dari seseorang yang setahun ini dia benci, tapi juga dia rindukan. Pria yang telah menyakitinya dengan kata-katanya, namun kini membela dan melindunginya.
Ada apa dengan Birendra dan masa lalunya? Apa yang membuat lelaki itu pergi meninggalkan Bentari walaupun itu mungkin menyakiti dirinya sendiri. Bentari tahu kalau saat ini Birendra belum bisa terbuka tentang semua itu.
“Kali ini, apa Mas Abhi akan pergi lagi?”
“Tidak kali ini aku tidak akan pergi. Apapun alasannya aku tak akan pergi lagi meninggalkanmu.”
Sesungguhnya ingin rasanya Bentari menjaga hati agar tak semudah ini luluh, agar tak semudah ini bersorak ketika mendengar Birendra mengakui perasaannya dan tidak akan meninggalkannya. Namun hati tak bisa dibohongi hingga mengalahkan segala logika. Walau otak mengeluarkan sederet list panjang yang menguatkan logika, namun hatinya terlalu kuat hingga akhirnya mengalah.
Walau terlalu dini, Bentari akan memberikan kesempatan kedua kepada Birendra untuk menjaga hatinya kembali. Namun kali ini berbeda, kalau sampai pria itu menghancurkan hati Bentari maka dia tidak akan selamat karena kini Bentari tidak sendiri. Bentari memiliki adik yang akan mencari dan menghabisi siapapun yang berani menyakitinya.
*****
ruangan velvet yg tdk baik untuk kesehatan jantung Bentari dan Birendra 😍
Sweetbox yang ternyata bikin jantung Bentari koprol dan kayang tak karuan