Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
62. God’s Secret



“Mas sudah sampai rumah?”


“Sudah, baru saja sampai.”


“Jangan lupa makan, tadi aku minta tolong mbak Sumi masak rawon kesukaan Mas.”


“Iya, mau mandi dulu terus sholat baru makan.”


“Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, ya?”


“Sebentar lagi, badanku rasanya capek banget, pegel-pegel.”


“Makanya jangan terlalu diforsir kerjanya, ingat umur Mas, ingat umur.”


“Hahaha, kamu lupa kalau kata Oka aku ini seperti seumuran sama dia …”


“Tapi sering encok, ditambah asam urat.”


“Hahaha … enak saja, aku ini tidak punya penyakit asam urat.”


“Ya sudah, Mas, pokoknya ingat umur ya Mas, jangan sampai nanti baru juga kita nikah, aku harus kembali jadi janda.”


“Naudzubillah, kalau ngomong tuh ya! Dari dulu nggak berubah.”


“Amit-amit, amit-amit!” Bu Mega mengetuk meja membuat Oka yang dari tadi duduk di sampingnya mengernyit melihat kelakukan ibunya. “Makanya jaga kesehatan, jangan kayak anak kecil yang apa-apa harus diingetin terus, eh tapi kalau sudah tua katanya kembali menjadi anak kecil ya.”


“Terus saja terus!”


“Hahahaha … ya sudah, mandi, sholat, terus makan dulu sana.”


“Ya, aku akan menghubungimu lagi nanti.”


“Iya, assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Setelah bu Mega pulang ke Jakarta menjadi rutinitas mereka untuk selalu berbicara di telepon setiap hari, atau hanya kirim pesan memberitahu kabar masing-masing. Biasanya bu Mega akan sangat cerewet mengingatkan ayah dari anak-anaknya itu untuk makan dan jangan sampai larut dalam pekerjaan. Setiap hari bu Mega juga akan menghubungi Bentari, memberi interuksi makanan apa saja yang harus disiapkan mbak Sumi, asisten rumah tangga Andi Santoso, untuk makan sang pengusaha property itu.


“Pacaran terooos!” Oka langsung dapat pukulan bantal sofa dari bu Mega.


Dari tadi Oka yang mendengarkan percakapan kedua orangtuanya hanya bisa menggelengkan kepala sambil memutar bola matanya.


“Kenapa mamah sama ayah tidak menikah saja sih, jadi tidak perlu tiap pagi telepon kakak atau mbak Sumi ngasih interuksi masak ini itu buat ayah, siapin itu buat ayah, dan malamnya teleponan sampai malam … ingat umur, Mah.”


Lagi, Oka mendapat pukulan bantal sofa dari ibunya yang malah terkekeh.


“Sirik saja kamu … ngomomg-ngomong soal pacaran, Arunika ke mana? Kok mamah tidak pernah melihatnya lagi?” Bu Mega menatap Oka penuh selidik. “Kalian berantem ya? Atau malah sudah putus? Dia juga tidak datang takjiah mamah Mayang ya?”


Oka yang dari tadi asik bermain game di ponselnya kini terdiam dengan mata sedikit menerawang sebelum suara permainannya kembali menyadarkannya.


“Dia pindah.”


“Pindah? Pindah ke mana?”


Oka mengedikan bahu sebagai jawaban. Bagaimana bisa Oka menjawab pertanyaan orang-orang ke mana Arunika pergi? Dia sendiri sampai sekarang tidak mengetahui kabar maupun keberadaan gadis ceriwis yang memberikan kecerian pada hari-hari Oka.


Kini harinya terasa berbeda, tak ada lagi gadis cantik yang selalu semangat menceritakan apapun yang selalu membuatnya tersenyum walau hanya mendengarkan suaranya, tak ada lagi yang memanggilnya abang dengan gaya yang khas dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat, tak ada lagi yang akan mengiriminya pesan bertubi-tubi hanya untuk menceritakan Alexander, kucing kesayangan Arunika, dan kini tak ada lagi yang akan menemaninya menaiki si merah berkeliling kota Jakarta seperti biasanya.


Jangan ditanya seberapa besar Oka merindukan Arunika … jawabnnya adalah sangat. Beberapa kali Oka mencoba mencari keberadaan gadis itu melalui teman-temannya maupun media sosial berharap Arunika meninggalkan sedikit jejak, dan berulang kali juga Oka datang ke rumahnya namun hasilnya selalu sama … nihil.


Wajarkah jika kini Oka sedikit merasa kecewa? Arunika pergi setelah dia berhasil membuka hati Oka, membiarkannya masuk dan bertahta di sana, namun kini dia pergi tanpa pamit meninggalkan hatinya dalam kekosongan, berbeda dengan orang-orang di sekeliling Oka yang seolah telah menemukan kebahagiannya masing-masing.


“Apa ayah dan mamah kembali rujuk hanya karena keinginan mamah Mayang?” tanya Oka di hari ketika keduanya memberi tahu niatan untuk rujuk di depan ketiga anaknya, dan di banding kedua kakaknya hari itu hanya Oka yang tak langsung memberi izin tak seperti Kirana dan Bentari yang langsung setuju mendengar mereka akan rujuk.


“Pada awalnya memang Mayang yang meminta kami untuk rujuk, tapi kami tidak akan mungkin kembali rujuk kalau itu hanya keinginan dari pihak luar.”


“Kamu ingat ketika kamu ke Surabaya dan mamah Mayang memberitahumu kalau beliau pernah meminta mamah untuk rujuk dengan ayahmu?” Oka mengangguk menjawab pertanyaan bu Mega. “Tapi saat itu kami berdua menolaknya, karena kami pikir cerita kami sudah berakhir sudah sejak lama.”


“Namun ketika Mayang sakit dan dia kembali mengemukakan keinginan untuk kami rujuk membuat kami berpikir berulang-ulang, shalat istikharah setiap malam meminta petunjuk apa yang sekiranya terbaik untuk kita semua. Ayah berpikir seandainya Allah akan kembali memberi ayah pasangan hidup, ayah berharap itu mamah kalian.”


Andi Santoso berbicara dengan tenang, matanya manatap ketiga anaknya yang duduk mendengarkan.


“Dulu kami pernah saling mencintai, perpisahan kamipun bukan karena kami tak lagi saling mencintai, tapi karena ego dan kebodohan ayah. Kali ini Allah seolah memberi ayah kesempatan untuk menebus kesalahan ayah di masa lampau kepada kalian terutama kepada ibu kalian, jadi ayah tak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan Allah kepada ayah untuk menebus kesalahan ayah. Selain itu … ayah sudah mengenal mamah kalian dan pernah sangat mencintainya sampai berani menentang orangtua ayah sendiri, jadi akan mudah bagi ayah untuk kembali mencintai mamah kalian, walaupun mungkin kali ini tidak akan sebesar dulu lagi karena di hati ayah kini ada Mayang. Walaupun dia sudah tiada, tapi dia memiliki tempat tersendiri di dalam hati dan kenangan ayah, seperti dulu mamah kalian selalu memiliki tempat dan kenangan tersendiri di hati ayah.”


Mega tersenyum sambil mengangguk mengerti, begitupun Kiran dan Bentari dan hanya Oka yang terdiam menatap kedua orangtuanya.


“Ah tentu saja mamahmu juga harus rela berbagi hatinya lagi dengan kalian bertiga juga cucu-cucu kami nantinya.”


Oka berdecih namun bibirnya menyunggingkan senyum membuat semuanya ikut tersenyum karena tahu si bungsu walaupun tak terucap telah memberikan izinnya.


Dan kini melihat senyum keduanya ketika telah sah kembali menjadi suami istri membuat Oka tak menyesali keputusannya memberi mereka izin untuk rujuk. Di sisi lain Oka melihat kedua kakaknya juga tengah tertawa bahagia dengan pasangan masing-masing, benar-benar gambaran keluarga lengkap yang bahagia.


Dulu ada kalanya Oka memimpikan keluarga seperti ini, tak dikira dia harus menunggu lebih dari dua puluh tahun untuk bisa memujudkan mimpinya, harus melewati berbagai cerita penuh drama dan air mata sebelum Allah mengabulkan doanya.


Oka menyadari ketika keinginan atau doa kita belum terkabul, hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama Allah tahu kalau itu bukan yang terbaik bagi kita, yang kedua Allah menunda mengabulkan doa kita hingga waktu yang tepat. Dan sekarang pastilah waktu yang tepat untuk keluarganya kembali berkumpul secara utuh.


Dan apa ini juga berlaku sama bagi pasangan?


Ketika sedang bersama Arunika, Oka berharap kalau dialah yang akan menjadi pasangan hidupnya di masa depan, tapi kini perempuan yang selalu Oka minta kepada Sang Pemilik di sela shalat nya kini menghilang entah ke mana.


Apa Allah sedang memberitahunya kalau Arunika bukan yang terbaik untuknya? Atau Allah sedang menunda doanya hingga mereka sama-sama siap, seperti yang sering mereka ucapankan untuk saling memantaskan diri?


Oka terdiam menyadari kemungkinan perginya Arunika saat ini adalah jalan yang Allah tunjukan karena ucapannya sendiri yang mungkin menjadi doa tersembunyi. Allah memberinya kesempatan untuk memantaskan diri untuk siapapun yang nanti akan menjadi pasangan hidupnya, kalaupun itu bukan Arunika, Oka yakin itulah yang terbaik untuknya.


Ponsel dalam sakunya bergetar menandakan ada sebuah notifikasi yang masuk. Sebuah pesan di media sosialnya. Oka berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan keluarganya yang sedang berbahagia. Oka menutup pintu kemudian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, tangannya mulai membuka media sosial untuk melihat pesan yang masuk, seketika dia kembali terduduk tegak dengan matanya terbelalak ketika melihat si pengirim pesan. Arunika.


Dengan tangan gemetar dan jantung berdegar cepat Oka membuka pesan itu dan mulai membacanya.


Assalamualaikum, Abang apa kabar? Maaf aku baru tahu berita tentang Tante Mayang, turut berduka cita ya, Bang. Tante Mayang adalah orang yang baik, insyaallah husnul khotimah, aamiin. Abang yang ikhlas dan kuat ya, Bang, sampaikan salam dan maafku untuk semuanya.


Abang … Abang pasti marah sama aku kan? Maaf karena harus pergi tanpa pamit, aku tak sanggup kalau harus bertemu dan berbicara dengan Abang. Aku takut kembali lemah dan akhirnya menyerah dengan tetap berada di samping Abang, sedangkan aku … aku ini bukan perempuan yang pantas untuk terus berdiri di samping Abang. Walaupun aku telah berjanji untuk memantaskan diri agar di masa depan Abang bisa dengan bangga mengenalkanku kepada keluarga sebagai calon pendamping Abang, tapi aku merasa tak sanggup karena sampai kapanpun aku tak akan pantas untuk bersanding dengan Abang.


Abang, carilah perempuan yang benar-benar pantas untuk mendampingi Abang.


Abang adalah lelaki yang sangat baik, tampan, dari keluarga yang sangat baik, akan mudah bagi Abang untuk mencari penggantiku.


Lupakan aku, tatalah masa depan seperti yang sering Abang impikan selama ini.


Terimakasih sudah menjagaku selama ini.


Terimakasih karena pernah berada di sampingku di saat-saat terburukku.


Terimakasih telah membuatku pernah merasakan menjadi perempuan paling beruntung karena memilikimu, dan pernah bermimpi untuk menjadi penadampingmu seumur hidupku.


Aku akan selalu mendoakan kebahagianmu.


Oka terdiam membaca pesan itu berulang-ulang, selama ini dia tahu kalau Arunika telah pergi meninggalkannya namun kini semua menjadi semakin jelas … Arunika telah benar-benar pergi.


*****