Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
27. Mr. Freezer



Wanita cantik dengan hijab merah muda serasi dengan gamis yang dia kenakan ke luar dari lift dengan tas belanjaan besar di kanan kirinya, tubuhnya yang mungil terlihat kerepotan dengan bawaannya ketika dia harus memijit angka kunci pintu apartemen di hadapannya.


“Huuuft!” Seketika dia menghela napas ketika masuk ke dalam apartemen dan melihat sekeliling yang berantakan, gelap, serta udara yang terasa pengap.


Setelah menaruh tas belanjaannya di dapur, dia membuka gorden dan jendela hingga udara segar masuk menggantikan udara pengap. Dia kembali menghela napas melihat kondisi apartemen yang jauh lebih berantakan dari yang dia kira sebelum akhirnya menyingsingkan lengan baju, mengambil plastik sampah, sapu juga lap. Tangan mungilnya dengan lincah membersihkan seisi apartemen dan setelah satu jam berlalu tempat itu menjadi jauh lebih bersih dan nyaman.


Setelah selesai membuat ruang apartemen menjadi layak untuk ditinggali, dia kini berkutat di dapur. Mengeluarkan semua belanjaan dari dalam tas yang dia bawa tadi, sambil bersenandung dia memasukannya ke dalam lemari pendingin. Telur, frozen food, minuman bervitamin, apel, mangga, pir, tanpa sayur karena percuma, itu hanya akan membusuk di dalam lemari pendingin, sebagai gantinya dia telah memasakan beberapa lauk yang nanti tinggal dihangatkan ke dalam microwave.


Untuk siang ini dia memindahkan sup yang dia bawa ke dalam panci, menghangatkannya kemudian menggoreng ayam yang tadi dia telah ungkep dan dimasukan ke dalam kulkas, serta sambal dalam sebuah toples kecil yang dia simpan di atas meja. Sambil menunggu nasi matang, dia membuat kopi lalu berjalan ke arah satu-satunya kamar yang ada di dalam apartemen itu.


Seorang pria tertidur dengan posisi tengkurep, terlihat damai membuat perempuan berhijab itu ragu untuk membangunkannya, tapi matahari sudah hampir berada di atas pucuk kepala yang artinya orang-orang di luar sana sudah beraktifitas dari tadi.


“Mas, bangun, Mas!”


Hanya terdengar gumaman dari Birendra yang mengubah posisi tidurnya menjadi miring.


“Mas, bangun, sudah siang!”


“Hmmm.”


“Mas, Anggi Santoso upload foto di medsos!”


Mata Birendra terbuka, dia menatap perempuan yang juga menatapnya sambil mengulum senyum.


“Iya, dia up foto banyak, emange Mas gak lihat ta semalam?” Perempuan mungil itu bertanya sambil membuka gorden jendela kamar membuat Birenda memicingkan mata mencoba beradaptasi dengan cahaya matahari yang terang benderang.


Perlahan Birendra duduk di tepi tempat tidur, terdiam, masih belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya. Setelah beberapa saat kesadarannya mulai terkumpul dia mengambil kacamata yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur, memakainya, mencopot ponsel yang terhubung dengan kabel pengisi daya lalu berjalan ke luar kamar meninggalkan gadis mungil berkerudung merah muda yang dengan sigap membereskan tempat tidur.


Birendra berjalan menuju dapur sambil menyalakan ponsel yang semalam kehabisan daya. Duduk di kursi meja makan depan cangkir berisi kopi yang masih mengepulkan asap panas. Sambil membuka media sosial, Birendra menyeruput kopi hitam membuat kesadar kembali sepenuhnya.


Yang dikatakan Sifa, adik sepupunya, benar. Bentari memposting beberapa foto semalam. Foto Bentari bersama keluarganya. Birendra melihat ada dua orang yang wajahnya ditempel stiker yang bisa Birendra tebak adalah Asoka dan Danish, putra Caraka dan Kirana.


Birendra teringat pertemuannya dengan Asoka dan Bentari di bandara ketika dia ke Jakarta. Freezer, itu yang pria muda penerus Andi Santoso katakan padanya dulu. Melihat bagaimana gestur juga sorot mata Asoka hari itu, Birendra bisa menebak kalau Bentari telah menceritakan apa yang terjadi di antara mereka kepada adiknya yang kini berperan sebagai bodyguard-nya.


Ada perasaan tenang ketika mengetahui hubungan Bentari dengan adiknya kini sudah jauh lebih baik, setidaknya akan ada seseorang yang menjaga dan melindunginya, tugas yang sebenarnya akan dengan senang hati dia emban, namun terlalu takut dengan segala resiko yang harus dia bayar untuk itu.


“Mbak Anggi cantik ya, Mas?” Sifa sudah kembali ke dapur dan duduk di depan Birendra. “Aslinya bagaimana, Mas? Lebih cantik atau … cantiknya hanya efek kamera saja.”


Birendra menatap sang adik tajam yang hanya tersenyum. Salwa Assifa, adik sepupu yang sudah dia anggap adik sendiri yang berbeda usia cukup jauh. 8 tahun perbedaan usia mereka membuat Sifa yang anak tunggal sangat manja kepada kakak sepupunya walaupun sang kakak terkesan dingin.


“Iya, pasti mbak Anggi aslinya jauh lebih cantik kan?” Sifa tersenyum melihat Birendra yang menatapnya tajam karena mengatakan Bentari hanya cantik efek kamera saja. “Tapi itu siapa, Mas, yang wajahnya ditempelin stiker?”


“Asoka. Adiknya.”


“Lho, lapo raine ditempleki stiker?” (Lho, kenapa mukanya ditempelin stiker?)


“Privasi. Asoka tidak menyukai privasinya dilanggar.” Walau singkat, tapi Birendra bisa melihat sifat Oka yang low profile, dan tak suka identitasnya sebagai putra satu-satunya Andi Santoso diketahui khalayak banyak.


Sifa menganggukkan kepala paham.


“Bi,” ucap Birendra membuat Sifa menatap Birendra yang tengah menyeruput kopi walaupun matanya tak lepas dari ponsel menatap foto-foto Bentari. “Namanya Bentari. Bi. Bukan Anggi.”


Sifa mengangkat alis tak mengerti. “Wes ganti jeneng ta mbak Anggi iku?” (Sudah ganti nama ya mbak Anggi itu?)


“Dari lahir.”


Birendra membawa cangkir kopinya ke depan, duduk di atas sofa kemudian menyalakan televisi, tak memedulikan Sifa yang terlihat bingung tak mengerti. Setelah berganti-ganti saluran akhirnya Birendra memutuskan untuk menonton saluran yang tengah menayangkan berita korupsi yang menjerat salah satu staff pemerintahan kota Surabaya yang kini bergulir bak bola api yang semakin panas. Nama beberapa orang di pemerintahan pusat ikut terseret salah satunya adalah putra petinggi pendiri salah satu partai besar negeri ini.


“Hihihi, lucu ya, Mas.”


Birendra menatap Sifa yang sudah duduk di dekatnya dengan alis berkerut.


Jodoh? Pernah Birendra mengharapkan itu bahkan sampai sekarang, tapi sepertinya semesta tidak pernah berpihak padanya. Ketika dia sudah memutuskan untuk melangkah, jerat masalalu kembali hadir mengikatnya hingga sesak.


“Mas masih cinta mbak Bentari?”


Cinta … entah apa ini cinta, tapi aku sangat merindukannya hingga gila rasanya.


“Kalau, Mas, sebegitunya mencintai mbak Bentari, kenapa mas meninggalkan dia?”


Karena aku takut akan membuatnya terluka.


Mata Birendra fokus menatap layar datar, tapi telinganya menangkap dengan jelas pertanyaan Sifa.


“Mas, takut?” Sifa seolah bisa membaca pikiran Birendra. “Kalau tidak dijalani bagaimana Mas bisa tahu kalau dia akan terluka karena Mas?”


Tak perlu dijalani untuk mengetahui hal itu. Bukankah selama ini sudah ada bukti … si anak pembawa sial. Itulah aku.


“Mas … Mas Birendra harus ingat takdir seseorang itu bukan ditentukan oleh orang lain, tapi Qadarullah, semua sudah menjadi ketetapan Allah sehingga tidak perlu disesali atau dipertanyakan. Apalagi umur, semua orang sudah memiliki ketetapan sampai kapan umur kita di dunia ini.”


Birendra terdiam, matanya masih menatap layar datar yang menayangkan berita kemungkinan besar putra sang pendiri partai terlibat yang pasti akan mengguncang partai bahkan politik negri ini. Namun telinga Birendra mendengarkan setiap kata yang diucapkan Sifa yang tentu saja benar, hanya saja mimpi buruk itu selalu hadir, membuatnya kembali meyakini diri untuk menjauhi Bentari demi keselamatan gadis itu walaupun dia sendiri merasakan kesepian dan kerinduan teramat sangat.


“Mas, bagaimana kalau Mas lanjutkan —”


“Masak apa? Lapar.” Birendra berdiri dan berjalan menuju dapur. Melihat itu Sifa hanya bisa menghela napas sebelum tersenyum dan ikut berjalan ke dapur.


“Tadi aku masak sayur sop, ayam goreng sama sambal.”


Sifa sangat mengenal kakaknya yang terkesan dingin, tapi sesugguhnya dia adalah seorang yang hangat dan penyayang, namun dia menyembunyikan itu semua di balik topeng dingin tanpa ekspresi yang dia kenakan.


Birendra Abhimana, seorang pengacara muda yang telah menangani kasus-kasus besar dan menjadi kepercayaan beberapa orang ternama untuk menangani permasalahan hukum mereka. Dengan karir cukup mapan dan wajah menarik, walaupun tak setampan para model, tapi Birendra memiliki aura karismatik yang kuat, dengan kacamata dan wajah dinginnya membuat Birendra terlihat misterius juga pintar pada saat bersamaan membuat beberapa orang perempuan sempat berusaha menarik perhatiaannya, tapi berakhir sia-sia. Birendra tak pernah menanggapi mereka sampai akhirnya Bentari hadir.


Bentari yang percaya diri, tak peduli dengan sikap dingin Birendra. Dia terus mendekat hingga akhirnya Birendra perlahan namun pasti mulai membuka diri, sebelum akhirnya seseorang dari masa lalu kembali datang membuat Birendra kembali manarik diri.


Sifa tahu Bentari memiliki arti lebih bagi Birendra karena kali ini Birendra berkali-kali terlihat lebih menderita dalam kerinduan yang dia ciptakan sendiri. Pengobatnya hanya foto-foto Bentari yang ada di sosial media juga yang memenuhi galeri ponselnya.


Ketika Birendra mengenal Bentari, Sifa bersyukur karena bisa kembali melihat senyum Birendra. Kakaknya itu terlihat lebih hidup seperti manusia pada umumnya, bukan robot tanpa ekspresi yang terkesan dingin tanpa perasaan.


Dulu Sifa berpikir kalau Bentari akan menjadi orang yang menarik Birendra dari mimpi buruknya. Namun entah apa yang terjadi hingga Birendra memutuskan untuk mundur, mengubur perasaan yang baru saja tumbuh dan kembali menjadi Birendra yang lebih dingin.


****


Haiiii ...


Yang kemarin nanyain Birendra manaaaa???? Sabar ya emak-emak, Birendra-Bentari pasti bakal hadir kalau sudah waktunya, jadi tolong bersabar yaaa 😁😁😁


Karena ini dalam satu novel jadi harap bersabar biar alurnya jelas, biar benang merahnya terlihat, jadi alurnya tidak lompat-lompat, dan yang pasti biar saya nulisnya tenang 😂😂😂


Karena judulnya juga PRINCE jadi kita bahas dulu tuh si pangeran matre yang gak peka, biar masalah yang sempat gantung di cerita Cinderella tentang Oka tdk gantung. Jadi kita urai masalahnya satu-satu ... bagaimana hubungannya Oka dengan H. Joko, Bentari, Mayang, dan tentu saja Andi Santoso sang ayah?


Satu-satu sudah kita bahas ... kita coba lihat dari berbagai sisi biar tdk terjadi salah paham lagi. Hubungan Oka dengan Bentari dan Mayang sudah baik, tinggal dengan Andi Santoso yang masih sedikit kaku, maklum saja namanya juga sama-sama laki" dgn sifat yang hampir mirip.


*Dan juga bagaimana p**enerimaan Oka tentang status barunya sebagai putra Andi Santoso, yang kemarin sudah dapat pencerahan dari Kakang si paket kumplit, jadiiiii ... masalah Oka tinggal hubungannya dengan sang ayah, setelah itu ... baru kita bahas soal masalahnya Birendra dan Bentari* ... dikit lagi bukan??? Bisa ya sabar 1-2 bab lagi sama si matre, setelah itu baru kita bahas si freezer, oke? 😍😍😍


Oh iya, terimakasih banyak untuk kopi dan bunganya buat abang ... kata abang, tenang nanti di traktir bakso cuanki... eh tapi, ga jadi katanya .. soalnya kemarin banyak yang selingkuh sama kak Athar, jadi si abang cuma mau traktir Arunika aja yang tetap setia walau naik si merah 🤭


Sekali lagi terimakasih & sabar ya yang nunggu Birendra ✌


LOVE


A.K