
Stasiun Tawang Semarang dipadatai oleh para penumpung kerata api dari Surabaya yang baru saja tiba, termasuk Birendra yang berjalan dengan ransel tersampir di pundaknya. Sesaat dia hanya terdiam menatap sekeliling yang ramai.
Jantungnya selalu berdebar kencang setiap dia menginjakkan kaki di kota kelahirannya, kota yang seharusnya menjadi tempatnya pulang dengan segala kenangan masa kecil yang bahagia, namun yang dia ingat setiap kali datang ke Semarang adalah kenangan buruk, dan perasaan itu masih dia rasakan sampai sekarang walaupun tak separah dulu.
Kali inipun dia datang bukan untuk melepas rindu dengan keluarganya, tapi untuk menuntaskan masalah di masa lalu yang belum berakhir sampai saat ini.
Jarak dari stasiun Tawang ke rumahnya di daerah Mataram tidaklah jauh, hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit Birendra sudah sampai di depan rumahnya dimana telah berdiri tenda yang dipenuhi ibu-ibu yang tengah mengadakan pengajian. Rumah yang tak pernah dia datangi selama beberapa tahun ini.
“Mas Abhi!” Seorang lelaki muda setengah berlari dari dalam menghampirinya dengan senyum lebar dan mata terbelalak tak percaya. “Mas Abhi kenapa tidak menghubungi Yudis? Yudis kan bisa jemput, Mas, di Tawang.”
“Mas pikir kamu masih di Malang.”
“Yudis sampai kemarin sore, Mas,” ucap Yudis sambil mengambil alih ransel Birendra kemudian berjalan memasuki pekarangan rumah.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah melalui pintu samping menuju dapur dimana beberapa orang tengah sibuk menata makanan di piring-piring kecil yang langsung terdiam menatap Birendra yang hanya menganggukkan kepala sambil terus berjalan ke dalam meninggalkan kasak-kusuk di belakang.
Yudis mengajak Birendra masuk ke dalam kamarnya, setelah sebelumnya dapat tatapan tak percaya dari Alika, juga ibu sambungnya.
“Bapak di kamar,” ucap Yudis ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar. “Mas sudah tahu bapak terkena stroke?”
“Paklek Wahyu memberitahu Mas.”
“Aku sedang ujian ketika mbak Alika memberitahu kalau bapak jatuh dan terkana stroke, jadi tidak bisa langsung pulang.”
“Kalau Mas tidak pulang karena tidak ada yang menghubungi Mas … Mas baru tahu akhir-akhir ini.”
Yudis hanya bisa terdiam menatap Birendra penuh simpati. Yudis tahu bagaimana bapak dan ibunya memerlakukan Birendra.
“Maaf bukannya aku sama mbak Alika tidak mau memberitahu, Mas, hanya saja kami tidak enak sama, Mas.”
“Tidak enak kenapa?”
“Selama ini kami tahu bagaimana bapak sama ibu memerlakukan, Mas. Mereka tak pernah sekalipun menghubungi Mas hanya untuk menanyakan kabar, jadi … bagaimana mungkin kami berdua berani menghubungi Mas hanya untuk meminta uang untuk berobatnya bapak. Kami terlalu malu dengan apa yang bapak ibu lakukan pada Mas.”
Yudis duduk bersila di hadapan Birendra yang duduk bersandar ke tempat tidur.
“Aku sering banget mau menghubungi Mas hanya untuk bercerita, tapi aku takut … takut kalau Mas tidak mau menerimaku.”
Tak pernah terpikir oleh Birendra adiknya punya pemikiran seperti itu. Selama ini dia berpikir kedua adiknyalah yang tak mau menerimanya sebagai kakak, namun ternyata dia salah. Selama ini Birendra terlalu larut dalam dunianya sendiri, menyalahkan diri sendiri, hingga tak peka dengan sekelilingnya.
“Mas Abhi!” Pintu kamar seketika terbuka memerlihatkan seorang gadis muda dengan gamis putih gading. “Ya Allah, Mas!” Alika menghambur ke pelukan Birendra yang terkejut mendapat sambutan seperti itu.
“Alika senang Mas Abhi pulang! Alika kangen banget sama Mas Abhi,” ucap Alika dengan air mata yang membasahi pundak Birendra yang tersenyum sambil mengelus punggungnya.
“Sudah mau nikah kok masih cengeng.”
Alika melepaskan pelukannya dengan mata yang masih basah Alika menatap Birendra yang tersenyum menatapnya.
“Kenapa Mas Abi baru pulang sekarang? Mas Abhi tidak kangen sama Alika? Mas Abhi benci sama Alika karena Alika dulu …” Suara Alika tercekat, air mata kembali membasahi pipinya. “Maafin Alika, Mas, seharusnya dulu Alika nurut sama Mas Abhi jadi Mas Abhi tidak … tidak …”
“Stttt … sudah!” Birendra menghapus air mata adiknya kemudian menangkup kedua pipi Alika yang memerah dan basah, matanya menatap mata Alika yang terus mengeluarkan airmata penuh penyesalan. “Bukan salah kamu.”
“Seandainya Alika tidak kecelakaan, bapak sama ibu tidak akan marah sama Mas Abhi … Mas Abhi tidak akan mencoba bunuh diri, itu salah Alika! Maafin Alika, Mas, maafin Alika.”
“Bukan! Itu bukan salah kamu.” Birendra mencoba kembali meyakinkan Alika yang masih tergugu menyesali diri sendiri. “Dengar! Itu kecelakaan, Al … tidak ada yang menginginkan sebuah kecelakaan. Sedangkan yang Mas Abhi lakukan dulu, itu karena kebodohan Mas Abhi sendiri bukan karena kamu. Kamu tidak salah.”
Alika semakin tergugu dalam dekapan Birenda yang terus mengatakan kalau itu bukan salahnya. Dulu Alika terlalu kecil untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, yang dia tahu setelah dia tersadar dari kecelakaan itu kakak kesayangannya sudah tidak ada lagi, pergi jauh dan tak pernah kembali. Kalaupun pulang hanya satu dua hari itupun Birendra habiskan dengan mengurung diri di kamar, sekuat apapun Alika dan Yudis mencoba mendekatinya dulu Birendra hanya akan semakin menarik diri sampai akhirnya dia tak pernah kembali lagi.
Hingga berita tentang Birendra yang depresi sampai pernah berusaha bunuh diri muncul ke permukaan. Alika mencari tahu kebenarannya, dan diapun tak bisa menutupi keterkejutannya mendengar alasan kakaknya depresi adalah dirinya. Penyesalan menghantuinya, saat itu juga ingin rasanya Alika pergi menemui kakaknya itu untuk meminta maaf, namun rencana pernikahannya membuatnya tak bisa melakukan hal itu. Hingga akhirnya tadi dengan mata tak percaya dia melihat sosok kakak yang sudah bertahun-tahun tak dia jumpai muncul. Ingin rasanya dia langsung berlari menyambutnya, namun sang ibu menahannya karena masih banyak tamu yang hadir.
Perlahan Birendra bisa meyakinkan Alika kalau itu bukan salahnya membuat Alika kembali tenang. Mereka bertiga masih mengurung diri di dalam kamar, Yudis menceritakan kegiatannya di kampus, lanjut dengan Alika yang malu-malu menceritakan calon suaminya yang anak pemilik sebuah toko oleh-oleh terkenal di Semarang. Birendra mendengarkan cerita keduanya dengan antusias, ada perasaan lain yang Birendra rasakan ketika mendengar Yudis dan Alika bercerita dengan semangat kepadanya, mengadukan satu sama lain kepada Birendra membuat hati Birendra diliputi rasa hangat. Penyesalan kembali hadir … seandainya dari dulu dia membuka diri kepada kedua adiknya, mungkin dia tidak akan hidup seorang diri dan kesepian.
Kesibukan masih terdengar di luar kamar mengiringi mereka bertiga yang seolah ingin membayar semua rasa rindu selama bertahun-tahun ini dengan bercerita segala hal, sampai tanpa mereka sadari di luar sudah hening. Seseorang mengetuk pintu sebelum akhirnya terbuka, memerlihatkan seorang perempuan berusia awal lima puluhan, dia adalah Wati, ibu sambung Birendra.
“Makan dulu,” ucapnya kaku membuat suasana canggung.
“Ayo, Mas, kita makan dulu! Mas Abhi belum makan kan?” Alika menarik Birendra berdiri mencoba untuk mencairkan kecanggungan.
Dengan diapit Alika, Birendra ke luar dari kamar menuju ruang makan dimana tersedia berbagai macam lauk pauk. Suasana kembali hening dan canggung ketika mereka berempat mulai makan. Birendra tak melihat ayahnya di sana.
“Bapak sekarang cepat lelah, tidak bisa duduk terlalu lama.” Alika yang memberi penjelasan, sedangkan Wati hanya tertunduk menghabiskan makannya tak terpengaruh dengan kedua anaknya yang kembali bercerita ini itu kepada Birendra.
“Ibu … sudah selesai, kalian lanjutkan saja makannya.” Wati meninggalkan meja makan dengan terburu-buru seoalah enggan untuk duduk satu meja dengan Birendra yang terlihat santai seolah tak terganggu dengan itu, berbeda dengan Alika dan Yudis yang merasa tak enak hati kepada Birendra atas sikap ibu mereka.
“Maafin ibu ya, Mas, mungkin ibu lelah.”
Birendra tersenyum sambil mengangguk santai. Lelah tentu saja bukan alasan ibu sambungnya bersikap seperti itu. Tetapi Birendra tak peduli, dia kembali melanjutkan makannya karena dia akan memerlukan energi yang cukup banyak untuk menghadapi akar dari traumanya selama ini … ayahnya.
Seperti yang menjadi rencananya, setelah makan Birendra berjalan menuju kamar ayahnya. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya dia ngetuk pintu kamar sang ayah yang terlihat sangat mengerikan bagi Birendra kecil. Perlahan pintu kamar terbuka, memerlihatkan Wati yang sepertinya sudah tahu kalau Birendra akan datang. Dia membuka pintu lebih lebar memersilahkan Birendra masuk, sebelum pintu itu kembali tertutup.
*****