
Dari balik jendela lantai dua Oka mengamati keadaan di bawah, lebih tepatnya dia tengah memerhatikan Sigit Suwarno yang kini tengah berbincang dengan Rudi Mahesa, sepertinya dia pamit pulang karena kini Oka melihat sang politisi dengan tergesa-gesa berjalan meninggalkan pesta yang masih berlangsung.
Tadi Oka tentu saja menyadari kehadiran Sigit, apalagi setelah bertemu dengan Atharya yang pernah dikenalkan oleh Arunika. Tatapan menilai dari Atharya tentu saja ada ketika awal mereka bertemu, dan itu dianggap wajar oleh Oka. Sebagai saudara lelaki yang menyayangi saudara perempuannya, Oka sangat paham akan hal itu, bukan tatapan merendahkan tetapi hanya untuk menilai apa laki-laki itu pantas mendapat amanah untuk menjaga saudara perempuannya? Dan itu juga yang dilakukan Atharya sebelum akhirnya dia mengucapkan terimakasih karena telah menolong Arunika di malam ketika pergi dari rumah.
Berbeda dengan tatapan merendahkan yang Oka terima dari Sigit. Seandainya Sigit hanya menatapnya penuh selidik seperti yang dilakukan Atharya, Oka akan memakluminya, akan tetapi yang dilakukan Sigit adalah merendahkan dan menghinanya sedemikian rupa. Apa saat itu Oka sakit hati? Tentu saja, tapi bagaimana pun Oka menghargai Sigit sebagai ayah dari perempuan yang saat ini dekat dengannya.
Maka dari itu tadi ketika Oka merasakan tatapan dari seseorang yang ternyata adalah Sigit, Oka tak lagi menutupi identitas dirinya. Oka tidak akan sesumbar tentang siapa dia sebenarnya, dia juga tidak akan menyangkalnya jadi biarlah Sigit tahu dengan sendirinya siapa sebenarnya Asoka Danubrata yang pernah dia hina dan usir.
“Kamu tidak akan datang ke nikahan adiknya Birendra besok?”
“Pengen, Teh, tapi kan malu masa tiba-tiba datang sendirian.”
Oka membalikan badan menatap kedua kakaknya yang duduk santai di atas sofa. Tadi setelah mengucapkan selamat kepada yang punya hajat Danish mulai rewel karena mengantuk, beralasan itu Oka, Bentari dan Arletha ikut kabur dari pesta menuju lantai dua mengikuti Kirana yang hendak menidurkan Danish.
“Kan ada Birendra di sana, nanti kamu minta dia jemput di bandara.”
“Tapi malu sama keluarganya. Bagaimana kalau orangtuanya tidak menyukaiku? Bagaimana kalau adik-adiknya menyebalkan seperti Oka?”
“Aku tidak menyebalkan.” protes Oka. “Aku ini saaangat menyenangkan, baik hati, tidak sombong, dan jangan lupa … sangat tampan.”
“Aku bingung. Pergi jangan ya?” ujar Bentari seolah tak peduli dengan ucapan Oka yang kini ikut duduk bergabung dengan tiga orang perempuan yang dari tadi membahas tentang pernikahan adiknya Birendra.
“Nggak usah pergi kalau ragu,” ucap Kirana sambil menepuk-nepuk pantat Danish yang mulai terlelap walau mulutnya masih aktif menyedot susu dalam botolnya.
“Tapi mau.”
Oka memutar bola matanya mendengar Bentari yang masih gamang.
“Ada apa dengan perempuan? Kenapa tidak bisa langsung memutuskan iya atau tidak? Pasti muter-muter dulu kayak sinyal telepon di pedalaman.”
“Ada apa dengan laki-laki yang tak pernah memahami perempuan?” Semua orang kini menatap Arletha yang terlihat santai makan anggur hijau. “Mas Birendra kan bisa saja telepon trus ngeyakinan Kakak kalau keluarganya pasti nerima kakak, bilang jangan khawatir ada dia jadi Kakak tidak galau seperti sekarang ini.”
“Nah bener tuh!” Kirana setuju dengan ucapan adik iparnya.
“Ya jangan melototnya ke aku dong! Tuh, yang di Semarang yang harus dipelototin.”
“Hehehe … ngomong-ngomong soal melotot … tadi itu bapaknya Arunika bukan sih?”
“Iya,” jawab Oka singkat sambil mengelurkan ponselnya.
“Ketemu calon mertua ko’ nggak nyapa sih, Ka? Awas lho nggak direstuin,” goda Bentari yang membuat Oka menghela napas.
“Pasti direstuinlah … putra satu-satunya the real Sultan Surabaya,” kata Arletha dengan senyum manisnya.
“Jelas dong.” Oka mengangkat alisnya lengkap dengan senyum jahilnya. “Tak usah peduliin soal aku, pasti direstuin … nah Kakak nih yang masih belum pasti, direstuin apa engga? Tapi kayaknya enggak sih.”
“Nih mulut ya, mulut!!!” Bentari langsung menutup wajah Oka dengan bantal sofa yang hanya terbahak tak memedulikan Kirana yang menyuruh mereka jangan berisik karena takut Danish bangun lagi.
Sesungguhnya bukan Bentari yang harus takut, tapi Oka merasakan hubungannya dengan Arunika lah yang akan menghadapi rintangan. Sigit memang sudah mengetahui siapa Oka sebenarnya, tidak menutup kemungkinan dia akan balik merestui hubungan Oka dengan putrinya, namun tidak dengan Arunika.
Selama ini Arunika cukup merasa insecure dengan statusnya sebagai anak di luar nikah, ditambah perlukan Sigit kepada Oka tempo hari, dan kini seandainya Arunika tahu alasan ayahnya tiba-tiba merestui hubungan mereka adalah karena status Oka sebagai putra satu-satunya Andi Santoso, maka Oka sangat yakin Arunika akan pergi menjauh.
***
Tubuh Sigit gemetar, jantungnya berdegup kencang, kepalanya bahkan ikut berulah dengan memberinya rasa sakit yang menusuk. Sigit mengingat salah satu orang kepercayaan telah memberikan laporan mengenai putra Andi Santoso, tapi saat itu Sigit terlalu percaya diri dengan prediksinya sendiri hingga tak menyentuh laporan itu dan membiarkannya tetap dalam amplop coklat di meja ruangan kerjanya di rumah.
“Wan, kamu masih ingat informasi yang kamu dapatkan tentang anak laki-laki Andi Santoso?”
“Saya sudah menyerahkannya kepada Bapak dua hari lalu,” jawab lelaki yang menjadi kepercayaan Sigit yang kini duduk di samping sopir.
“Dasar, gob*lok! Kalau saya sudah baca saya tidak akan nanya kamu!” Sigit mengeluar amarahnya membuat lelaki berusia empat puluh tahunan itu dengan cepat mengeluarkan tablet dari dalam tasnya kemudian membaca data pribadi Oka.
“Asoka Danubrata, seorang mahasiswa jurusan tehnik sipil putra dari Randi Prasetyo dan …”
“Randi … Prasetyo?”
“Iya, itu adalah nama kecil Andi Santoso. Itu juga yang membuat kita sedikit kesulitan untuk mencari tahu tentang putra bungsunya ini. Ternyata dari pernikahannya yang dulu Andi Santoso memiliki 3 orang anak yaitu Kirana, Bentari atau sekarang yang dikenal dengan Anggi Santoso, dan terakhir adalah Asoka."
“Jadi Anggi Santoso itu bukan anak dari pernikahannya yang sekarang?”
“Bukan, dari pernikahan yang sekarang Andi Santoso tidak dikaruniai keturunan.”
Sigit memijat pelipis kepalanya yang semakin berdenyut mendengar penjelasan tentang keluarga Andi Santoso.
“Tapi hubungan Andi Santoso dengan mantan istri juga ketiga anaknya masih terjalin dengan baik, bahkan informasi yang berhasil saya temukan kalau istrinya yang sekarang sangat menyayangi ketiga anak sambungnya, menurut gossip yang beredar dia bahkan memberikan deposito kepada Asoka dengan jumlah yang fantastis, tetapi informasi ini belum valid karena hanya berupa gosip di antara pegawai bank saja. Namun begitu sepertinya sudah dipastikan Asoka adalah penerus kerajaan bisnisnya Andi Santoso … belum lama ini Andi Santoso menandatangani kerja sama dengan Hadian Izam untuk pembangunan jalan trans Kalimantan dan yang menjadi investornya adalah Caraka Mahesa dan juga … Asoka, putra bungsunya.”
Kali ini sigit bukan hanya memijat pelipisnya, tapi juga memukul dada bagian kirinya yang tiba-tiba saja terasa sesak.
“Dan untuk memastikan kepemilikan ketiga anaknya atas perusahaannya, Andi Santoso telah memasukan ketiganya dalam daftar pemilik saham di BUMI.”
Sigit menjambak rambutnya sendiri setelah merasakan pusing teramat sangat.
“Nama saya Asoka, Oka.”
“Ayah saya seorang wiraswasta, jual beli rumah.”
“Sial!” Sigit memukul jok di sampingnya mengingat kembali jawaban Oka malam itu ketika dia menanyakan tentang keluarganya.
Tidak ada yang salah dengan jawaban Oka, dia berusaha jujur dengan jawabannya hanya saja saat itu Sigit terlalu memandang rendah Oka hingga akal sehatnya tertutup. Sigit hanya melihat tampilan luarnya saja, tanpa ingin mencari tahu lebih dalam tentang sosok pria yang tengah dekat dengan putrinya.
“Asoka … Oka …” Bisik sopir Sigit yang dari tadi ikut mendengarkan penjelasan ajudan Sigit dengan alis berkerut. “Apa mungkin itu mas Oka ya, Pak? Itu lho, Pak, yang suka antar jemput mbak Ara.”
“Namanya saja kali yang sama,” ucap sang Ajudan.
“Mungkin … tapi kayaknya namanya sama lho, Mas Wa, saya pernah ngobrol sama mas Oka, orangnya baik, ramah, nyenengin deh pokoknya, kalau ndak salah namanya yaitu, Mas, Asoka … wong saya pernah becandain dia, namanya mirip raja di film India.”
Pak Manto, sopir pak Sigit, terkikik mengingat obrolannya dengan Oka berbeda dengan sang ajudan yang langsung menatap ke arah belakang dimana Sigit yang semakin pucat pasi tengah bersandar lemah sambil sesekali tangannya terangkat untuk memijat kepalanya. Sepertinya apa yang dibicarakan pak Manto benar dan bosnya itu telah melakukan hal yang sangat fatal kepada sang pewaris.
Beberapa menit kemudian dengan lunglai Sigit ke luar dari kendaraan yang baru saja berhenti di carport rumahnya. Tubuhnya terasa lemah, tak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar menjawab sapaan Arum. Dia terus berjalan menuju ruang kerjanya untuk kembali memastikan apa yang diucapkan orang kepercayaannya itu benar.
Dia membuka pintu ruang kerja namun seketika kakinya berhenti melangkah ketika melihat seseorang duduk di kursi kerjanya, tangannya gemetar membaca kertas dengan beberapa amplop coklat berserakan di atas meja.
“Ara … apa yang kamu lakukan di sini?”
Kepala Arunika terangkat memerlihatkan wajahnya yang basah oleh air mata.
*****