
Birendra kini tak bisa diam saja melihat pemberitaan yang semakin memojokan dirinya. Awalnya Birendra pikir masalah ini akan cepat berlalu seperti angin yang hanya akan berhembus sesaat, tak mengira akan menjadi badai berkepanjangan. Setelah kemunculan Yanto, ayah Salsa, pemberitaan semakin tak terkendali. Pria tua itu semakin sering wara wiri di berbagai macam acara televisi dengan didampingi pengacaranya menyerukan #KeadilanUntukSalsa yang tagarnya sendiri masuk ke dalam trending topik.
Derasnya desakan dari masyarakat untuk mengusut tuntas kematian Salsa membuat polisi bertindak cepat, dan puncaknya adalah keluarnya surat panggilan sebagai saksi kepada Birendra.
Pada hari yang telah ditentukan Birendra datang ke kantor polisi dengan di damping oleh Frans Hutabarat, pengacara senior sekaligus atasan Birendra. Kedatangan Birendra dan pengacara disambut oleh belasan wartawan yang langsung memberondongnya dengan pertanyaan. Birendra hanya terdiam, hari itu Frans yang mewakilinya meminta para wartwan untuk bersabar hingga pemeriksaan selesai.
6 Jam kemudian Birendra dan Frans keluar dari kantor polisi yang sudah ditunggu oleh wartawan sedari pagi.
“Hari ini Birendra datang sebagai saksi, memenuhi panggilan penyidik untuk kasus kematian Salsa. Tadi polisi mengajukan kurang lebih ada 70 pertanyaan yang dijawab Birendra dengan kooperatif, mudah-mudahan hal itu bisa membantu polisi dalam kasus ini.”
“Apa benar Salsa meninggal karena bunuh diri?”
“Kalau memang Salsa meninggal karena bunuh diri, harus ada bukti untuk mendukung hal itu, misalnya surat atau apapun yang bisa membuktikan hal itu, atau mungkin saksi yang melihat korban sengaja melompat ke depan kendaraan. Dan kalau MISAL memang terbukti bunuh diri.” Frans terdiam sesaat, dia menatap para wartawan yang mengerumuni mereka membuat semuanya terdiam siap mendengarkan pengacara senior yang sudah dikenal baik publik itu. “Apa betul Salsa bunuh diri karena Birendra, bukan karena alasan lain? Misalnya masalah keluarga atau alasan yang lain?”
Perkataan Frans hari itu cukup memberi dampak kepada pemberitaan yang mulai bertanya kemungkinan alasan lain Salsa bunuh diri. Setelah hari itu Birendra dan timnya terus bekerja keras mencari bukti juga saksi yang akan membebaskannya dari tuduhan.
“Aku sudah mencari tahu pemilik akun pertama yang mengupload soal kemungkinan Salsa bunuh diri,” ucap Beno, seorang pria kurus dengan rambut berantakan. “Yanti, Mas Birendra kenal?”
“Yanti?” Birendra terlihat berpikir sesaat sebelum menggelengkan kepala.
“Jangan-jangan mantan Mas Abhi, yang sakit hati karena diputusin Mas Abhi?”
Birendra menatap Bentari yang menatapnya dengan mata bulat menggemaskan.
“Aku tidak punya mantan, Bi. Kamu kekasih pertama dan terakhirku.”
Pipi Bentari seketika memerah, dengan kedua tangannya dia menutup muka malu karena seisi ruangan itu tiba-tiba terserang batuk.
“Pole kepingin cepet moleh (Jadi pengen cepet pulang).”
“Kangen bojo yoooo (jadi kangen istri ya).”
“Teroooos! Ilingo jek onok seng jomblo ndek kene (Teruuus, inget ada yang masih jomblo di sini).”
“Lho ya, makanya jangan jadi jomblo terus.”
“Sekali-kali pacaran itu sama perempuan, jangan sama HP.”
Beno hanya bisa mendesah pasrah mendegar godaan teman-temannya. Saat ini Birendra, Bentari, dan beberapa orang yang ditunjuk Frans untuk membantu Birendra sedang mengadakan rapat di rumah paklek Wahyu karena dianggap aman dari wartawan.
“Aku sudah menyelidiki orang ini, Yanti, dia satu sekolahan sama kamu, Mas, cukup dekat dengan korban makanya dia tahu kalau korban suka membawakan kamu masakan setiap hari.”
Birendra mengingat dulu Salsa memang memiliki seorang teman dekat, tapi Birendra tidak pernah memerhatikannya, Birendra hanya pernah melihatnya sekilas.
“Apa mungkin dia pula yang memberikan informasi tentang masa laluku?”
Ketiganya terlihat berpikir.
“Bisa jadi,” ucap Adrian yang paling tua dari ketiganya.
“Iya, bisa saja Salsa menceritakan tetang masa lalu kamu kepada perempuan ini kan?”
“Tapi … motifnya apa?” tanya Bentari menatap keempatnya bergantian. “Oke, sebut saja dia dekat dengan Salsa dan ingin keadilan untuk temannya. Tapi kenapa baru sekarang? Setelah sepuluh tahun?”
“Bukan hanya itu saja yang aneh,” ucap Reyza. “Setelah berita ini semakin berkembang, Yanti dan keluarganya tidak tinggal lagi di Surabaya. Mereka pindah entah kemana.”
“Tidak ada jejak?” tanya Birendra sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Tidak ada.”
“Kata para tetangga sebelum menghilang, mereka beberapa kali didatangi orang-orang dengan mobil bagus.”
Birendra mengerutkan alisnya berpikir, begitupun Bentari yang semakin curiga dengan adanya dalang di balik kasus ini.
“Ada yang lebih aneh lagi. Orang-orang yang kami temui mengatakan kalau sebelum kami datang ada dua orang pria yang juga mencari keberadaan Yanti dan keluarganya.”
“Nama kedua pria itu …” Reyza melanjutkan ucapan Adrian. “Danang dan Supri.”
“Danang dan Supri?” Birendra bertanya dengan tak percaya.
“Iya. Danang dan Supri.”
“Aaaah, syukurlah.” Bentari tergelak sambil bersandar di Sofa, begitu pulan Birendra yang tersenyum lega, membuat ketiganya saling tatap heran.
“Apa kalian mengenal mereka?” tanya Beno penasaran.
“Iya … kita tidak perlu mengkhawatirkan mereka,” jawab Birendra tersenyum santai.
Ada perasaan hangat yang menjalari hati Birendra, kini dia semakin yakin kalau dia tak lagi sendiri. Birendra yakin kalau saat ini dia dikelilingi orang yagn sayang dan peduli padanya. Kini dia hanya akan melangkah menuju masa depan yang akan penuh dengan kebahagiaan, melupakan masa lalu dimana hanya ada kesedihan.
***
Bentari :
Apa teteh tahu kalau kakang menyuruh Pak Supri mencari tahu tentang kasus Birendra.
Kirana :
Iya, ayah menghubungi kakang menanyakan tentang orang yang dulu membantuku mencari kalian.
Ayah bertanya bisa dipercaya tidak?
Tentu saja pak Supri bisa dipercaya, jadi ayah meminta tolong kakang untuk menyuruh Pak Supri menemani Mas Danang mencari tahu dalang di balik kasus Birendra.
Bentari :
Tidak tahu, aku akan menanyakannya kepada ayah kalau ayah sudah pulang.
Bentari tersenyum lega membaca pesan dari Kirana. Seharusnya Bentari tahu ayahnya tak mungkin diam begitu saja mengetahui orang di sekeliling mereka sedang kesulitan, dalam diamnya Andi Santoso pasti telah memikirkan segalanya dengan matang, buktinya Danang, anak angkat pakde Bayu sekaligus salah satu orang kepercayaan mereka, bersama pak Supri, berdua mereka berhasil menemukan Yanti lebih dahulu daripada Birendra.
“Kenapa ayah tidak mengatakan kepadaku kalau ayah sedang mencari tahu kasus yang dialami mas Abhi? Kalau aku tahu kan aku tak perlu sepusing ini, Yah,” ucap Bentari ketika mereka duduk di taman belakang setelah makan malam.
“Biar kalian juga ada usahanya, jangan menyerahkan semuanya sama ayah.”
“Ckkk … ayah itu persis Oka tahu nggak sih?”
“Kenapa?”
“Kayak yang cuek, nggak peduli, padahal diam-diam perhatian, mikirin, peduli.”
Andi Santoso tersenyum bangga. “Anak laki-laki memang harus seperti ayahnya.”
“Iya deh iya, si bungsu yang menjadi kesayangan semua orang, bahkan mamah Mayang saja sekarang apa-apa buat Oka, apa-apa buat Oka, lupa sama aku.”
“Mana ada lupa sama kamu, itu di dalam kamar … berapa banyak coba itu tas, sepatu sama baju baru, memang ayah tidak tahu.”
“Hehehe.”
Andi Santoso berdecak sambil menyeruput kopinya, kemudian terdiam.
“Apa kamu tahu bagaimana hubungan adikmu sama anaknya Sigit Suwarno?”
“Wiiih, ada yang kepo nih sama hubungana asmara anaknya.”
“Bukan kepo cuma pengen tahu saja.”
“Hahaha … itu sama saja, Yah.”
“Ayah kepo apa?” Mayang datang dengan sepiring wingko imut oleh-oleh dari Lamongan.
“Soal Oka dan Arunika,” ujar Bentari sambil terkikik.
“Mamah juga penasaran. Mereka benar pacaran?”
“Kayaknya sih.” Bentari mengambil wingko yang terasa manis gurih cocok sebagai teman minum kopi seperti saat ini. “Mamah kan tahu sendiri, Oka itu tertutup kalau soal kayak gitu, tapi kalau soal hubunganku sama Mas Abhi …” Bentari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Posesifnya lebih daripada ayah.”
“Itu tandanya dia sayang sama kamu, Bi, dia tidak mau kamu terluka.”
Bentari mengedikkan bahu dengan mulut penuh. Dengan cepat Bentari mengunyah kemudian menelan wingko ketika matanya menangkap sang ayah yang terlihat berpikir dengan mata menerawang.
“Yah.” Bentari mengembalikan apapun lamunan Andi Santoto. “Apa ayah sudah tahu siapa dalang di balik kasus mas Abhi?”
Andi Santoso mengambil cangkir kopinya. “Belum,” jawabnya singkat kemudian menyeruput kopi hitamnya. “Tapi tenang saja, Birendra akan segera terbebas dari segala tuduhan.”
Malam itu Bentari mengetahui kalau ayahnya tengah menyembunyikan sesuatu, tapi dia juga tahu kalau ayahnya tidak berbohong ketika keesokan hari sebuah portal berita online mengeluarkan berita dengan judul yang cukup membuat publik tercengang.
“YANTO SISWANTO, TERNYATA SEORANG RESIDIVIS CURANMOR, PERAMPOKAN JUGA PENGGUNA OBAT-OBATAN TERLARANG.”
Bentari bisa pastikan orang di balik pemberitaan itu adalah sang ayah, Andi Santoso, untuk membuat publik mulai ragu dengan berita tentang Birendra saat ini. Dan itu cukup berhasil. Publik mulai ragu tentang kebenaran berita soal Birendra, apa lagi setelah polisi memberitakan tentang menghilangnya Yanti, orang yang diduga pertama kali menyebarkan berita bunuh diri Salsa.
“Aku harus berterima kasih kepada ayahmu.”
“Karena berita itu?”
“Iya, dan juga karena telah meminta bosku untuk menjadi pengacara pribadiku,” ucap Birendra membuat Bentari tersenyum.
“Ayahku hebatkan?”
Birendra menganggukkan kepala dengan sunyum tulus, tangannya terulur untuk mengelus rambut Bentari yang terasa halus. Mereka kini berada di dalam apartemen Birendra setelah dirasa aman karena kini wartawan tidak lagi mengejar Birendra, namun kini mereka balik mengejar Yanto dan juga pengacaranya yang tetap gigih memberikan pembelaan.
“Memangnya Mas Abhi tidak tahu soal itu? Fakta soal Yanto.”
“Tahu.” Birendra berdiri kemudian berjalan menuju lemari pendingin yang ternyata kosong tidak ada apapun di dalam sana. “Tidak ada apa-apa, hanya ada air mineral.”
“Nggak apa-apa, gampang, kalau haus nanti aku ambil sendiri.”
Birendra tersenyum dan kembali menuju sofa dimana Bentari duduk.
“Kalau tahu kenapa Mas Abhi diam saja?”
“Aku tak berpikir meredam ‘beritaku’ dengan berita Yanto, aku terlalu fokus mencari bukti dan saksi tentang kematian Salsa.”
“Apa, Mas Abhi, sudah menemukannya?”
“Iya … aku tahu ada seseorang yang bisa menjadi saksi kunci untuk kematian Salsa, karena dia ada di tempat kejadian saat kecelakaan itu, tapi … aku sedikit sulit untuk meyakinkannya agar mau bersaksi.”
“Siapa, Mas? Siapa tahu aku bisa bantu meyakinkannya.” Bentari berkata dengan semangat mengetahui ada seseorang yang menjadi saksi kunci untuk Birendra..
“Tidak, kali ini aku yang harus meyakinkannya.”
Ya, hanya Birendra yang harus meyakinkannya untuk bersaksi atas kematian Salsa, dan mungkin akan sulit karena hal itu pasti akan kembali membuka luka lama.
*****