
Tujuh hari selepas kepergian Mayang, kediaman Andi Santoso masih dipenuhi oleh sanak saudara yang membantu memersiapkan acara tujuh harian yang dilaksanakan di sebuah yayasan yatim piatu, juga pemberian santunan kepada yatim piatu, janda dan kaum duafa. Di bawah pengawasan Mega acara hari itu berjalan dengan lancar, dan satu persatu saudara pun pulang kembali ke rumah masing-masing hanya menyisakan pakde Bayu dan istrinya.
“Jadi kamu akan kembali ke Jakarta besok?” tanya pakde Bayu kepada Mega.
Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga sebelum pakde Bayu pulang ke Mojokerto.
“Iya, tidak enak kalau saya terus tinggal di sini, takut menimbulkan fitnah,” ucap Mega yang duduk di samping Kirana.
“Maka dari itu, kapan kalian akan kembali rujuk?” pakde Bayu kembali bertanya membuat Andi dan Mega saling pandang. “Anak-anak sudah setuju bukan?”
“Kami setuju pakde, hanya saja untuk kapannya kami serahkan kembali kepada orangtua kami,” jawab Kirana yang memang masih berada di Surabaya bersama dengan Danish dan Mega. Sedangkan Oka dan Caraka sudah kembali ke Jakarta di hari ke tiga karena urusan pekerjaan juga kuliah.
Andi Santoso juga Mega sudah berbicara dengan ketiga anak mereka, mengemukakan niatan untuk rujuk dan mengatakan kalau Mayanglah yang pertama mengemukakan ide ini. Kirana dan Bentari dengan memikirkan kondisi kedua orangtua mereka, juga berpikir suatu hari nanti baik Bentari maupun Oka akan menikah dan memiliki keluarga masing-masing, mereka tak ingin orangtua mereka hidup sendiri dalam kesepian. Kalau orangtua mereka kembali rujuk, setidaknya mereka akan saling menemani, menjaga dan merawat. Dengan pikiran itulah Kirana, Bentari juga Oka menyetujui gagasan rujuk itu
“Nanti saja setelah … 40 atau 100 hari,” ujar Andi sambil mengambil cangkir kopinya.
“Lelaki itu tidak memiliki masa iddah, jadi sebaiknya jangan ditunda-tunda lagi.”
“Bukan maksud kami menunda, tapi tidak baik rasanya kami sekarang membicarakan pernikahan disaat tanah kuburan Mayang saja masih basah.” Mega berkata membuat Bayu menatapnya kemudian mengangguk paham.
“Kalian bicarakan lagi soal ini … kapan, bagaimana, dan di mana kalian akan ijab qobul setelah pasti beritahu aku, biar kami persiapkan semua keperluannya.”
Andi Santoso menganggukkan kepala. Setelah kematian H. Joko, pakde Bayu sebagai kakak tertua berperan sebagai pengganti orangtua. Walaupun dari segi kekayaan, kesuksesan juga nama besar sang kakak kalah dari sang adik, namun tetap saja sebagai seorang adik Andi Santoso menaruh hormat kepada sang kakak sebagai pengganti ayah mereka yang telah tiada.
Sorenya pakde Bayu dan keluarga kembali ke Mojokerto. Rumah megah itu semakin terasa sepi, dan setelah makan malam Andi Santoso meminta Birendra masuk ke ruang kerjanya.
“Apa kamu sudah mengurus semua dokumen-dokumen yang diperlukan?”
“Sudah, Yah.”
“Apa kalian yakin hanya akan melakukan pernikahan ulang secara negara saja tanpa melakukan resepsi?”
“Iya, Bentari bilang dia tak bisa membayangkan akan sanggup melaksanakan pesta pernikahan kami tanpa ada mamah Mayang di sana, jadi kami memutuskan hanya akan mensahkan pernikahan kami secara negara saja.”
Iya, Bentari dan Birendra saat itu memang hanya menikah secara agama saja. Setelah mendengar keinginan terakhir Mayang yang ingin melihat Bentari menikah, Birendra memberanikan diri untuk mengusulkan mereka menikah secara agama dulu di depan Mayang, sebelum semuanya terlambat. Tanpa dikira Bentari langsung setuju, jadilah hari itu diputuskan mereka akan menikah secara agama dahulu di hadapan keluarga inti dua belah pihak.
“Kalau memang itu yang menjadi keputusan kalian, ayah ikut saja.” Andi Santoso mengeluarkan sebuah amplop dari dalam laci meja kerjanya kemudian menyerahkannya kepada Birendra. “Ayah hanya tak ingin menjadi orangtua yang tak adil bagi anak-anak ayah.”
Birendra membuka amplop itu dan seketika matanya membulat melihat selembar cek dengan nominal yang tidak sedikit.
“Ini …”
“Itu adalah uang yang telah kami siapkan untuk pernikahan Bentari, tapi karena kalian sudah memutuskan tidak akan mengadakan resepsi, jadi terserah kalian saja uang itu mau dipakai apa.”
Sesungguhnya Birendra sendiri sudah telah memiliki tabungan untuk pernikahannya dengan Bentari, namun Allah memiliki rencana lain dengan meninggalnya Mayang. Mereka berdua hanya menikah secara agama dengan mas kawin satu set perhiasana yang sudah Birendra siapkan sebelumnya. Tanpa ada resepsi.
Birendra kembali ke kamar dan mendapati Bentari tengah duduk di depan meja rias membersihkan wajahnya dengan kapas yang sudah dibasahi toner membuatnya langsung tersenyum kemudian mencium pucuk kepala Bentari yang balas tersenyum.
“Apa ini?” tanya Bentari ketika Birendra menyerahkan amplop berisi cek kepadanya.
“Dari ayah, katanya biaya pernikahan kita.”
“Tapi kita sudah sepakat untuk tidak melakukan resepsi kan?”
“Iya,” jawab Birendra sambil berjalan ke arah tempat tidur lalu duduk di atasnya dengan bersandar di kepala tempat tidur. “Ayah bilang terserah kita mau dipakai untuk apa.”
Bentari membuka amplop itu dan matanya ikut membulat melihat nominal yang tertulis di selembar cek itu, dia kembali memasukannya ke dalam amplop lalu menaruhnya di laci meja rias. Bentari kembali melanjutkan rutinitas malamnya sebelum tidur. Dia kini terlihat menepuk-nepuk wajahnya agar serum wajahnya terserap ke dalam kulit sebelum dia memakai krim malam kemudian bergabung dengan Birendra di atas tempat tidur.
“Jangan cium-cium dulu!” Bentari menahan pundak Birendra yang sudah mendekat hendak mencium pipinya yang langsung berdecak. “Biar krim malamnya meresap dulu.”
“Berapa lama?”
Bentari terkikik ketika Birendra langsung lemas dengan merebahkan kepalanya di bahu Bentari.
“Beberapa menit saja … Mas, ih, diam dulu.” Bentari mendorong Birendra yang malah menciumi leher Bentari.
“Memangnya leher pakai krim juga?”
“Bentari mengangguk sambil tersenyum membuat Birendra menghela napas pasrah.
“Mas mau pakai untuk apa uangnya?” tanya Bentari, berusaha mengalihkan perhatian Birendra untuk sesaat.
“Uang kita, ayah memberikan ini untuk kita.”
“Dan aku memberikannnya untuk kamu, jadi terserah kamu mau dipakai apa.” Birendra merebahkan tubuhnya diikuti Bentari yang menggunakan tangan Birendra sebagai bantal. “Kamu yakin kamu tidak mau mengadakan resepsi?”
“Tidak … tidak apa-apa kan?”
“Tentu saja tidak apa-apa, tapi apa kamu nanti tidak akan menyesal karena tidak ada kenang-kenangannya? Bahkan kita tidak memiliki satupun foto pernikahan kita, selain yang di rumah sakit.”
Bentari terdiam, matanya menatap langit-langit.
“Dulu aku memiliki pernikahan impianku sendiri, sederhana tidak perlu megah … bertemakan alam, hanya keluarga, saudara dan sahabat dekat saja yang datang.” Bentari tersenyum mentap Birendra yang juga tersenyum menatapnya. “Tapi setelah mamah Mayang tiada, aku tak bisa membayangkan pesta pernikahanku tanpa beliau.” Birendra mengelus lengan Bentari memahami apa yagn dirasakan istrinya. “Bagaimana kalau uangnya kita simpan saja, untuk investasi?”
Birendra menganggukkan kepala setuju, sebelah tanganya terulur untuk merapihkan rambut Bentari yang sedikit menutupi wajahnya.
“Bagaimana dengan bulan madu? Apa kamu juga tidak mau pergi bulan madu?” Birendra mendekati wajahnya ke pipi Bentari, tapi sesaat dia berhenti untuk menatap istrinya. “Ini sudah belum?”
“Hahaha.” Mau tidak mau Bentari tertawa dengan wajah memerah. “Sudah,” jawabnya malu-malu membuat Birendra langsung menyurukan wajahnya ke leher sang istri.
“Jadi …”
“Jadi?”
“Bulan madu,” ucap Birendra di antara kegiatannya menciumi leher dan pipi istrinya.
“Oh iya … bulan madu.”
“Mau?”
“Mau … Mas …”
“Hmmm.”
“Kata teteh … Mas, dengerin dulu aku lagi bicara!”
“Aku dengerin kok,” ucap Birendra tanpa mengehentikan aktifitas yang mengganggu konsentrasi Bentari untuk bercerita.
“Iiih, Mas, dengerin!”
“Sayang, mendengarkan itu pakai telinga bukan pakai bibir,” ucap Birendra dengan senyum menggoda. “Tenang saja, aku bisa multitasking … telinga mendengarkan, bibir dan tanganku melakukan aktifitas menyenangkan lainnya.”
“Iiih, Mas!” Bentari memukul lengan Birendra yang malah terkekeh melihat mata Bentari membulat dan pipi memerah malu mendengar ucapan Birendra.
“Hahaha … kenapa? Istriku mau bilang apa?”
Bentari mendelik, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.
“Kata teteh sebaiknya kita KB dulu sebelum bulan madu.”
“Lho, kenapa?”
“Takutnya seperti teteh, belum sempat bulan madu keburu hamil Danish, jadinya sampai sakarang belum bulan madu.”
“Hmmm …” Birendra menganggukan kepala setuju. “Terserah kamu, senyaman dan maunya kamu saja kapan kita memutuskan memiliki keturunan.”
“Aku tidak akan menunda, hanya … sampai kita pergi bulan madu saja. Aku tidak mau saat bulan madu nanti aku malah muntah karena morning sickness.”
“Oke, deal! Sudah itu saja?” Birendra menatap Bentari dengan tatapan menggoda membuat pipi Bentari semerah tomat.
“Sudah.”
“Oke, sekarang kita latihan dulu buat bulan madu, biar nanti lancar jaya tanpa hambatan.”
“Hahaha … Mas!”
Malam semakin larut menyelimuti dua insan yang telah sah menjadi suami istri itu melebur menjadi satu untuk pertama kalinya.
****