
Birendra Abhimana, seorang pengacara muda dengan karir cemerlang yang kini tengah menjadi sorotan publik karena hubungannya dengan the real crazy rich Surabaya, Anggi Santoso. Digadang-gadangkan akan menjadi menantu Andi Santoso, ternyata Birendra memiliki masa lalu yang suram.
Setelah mengakibatkan kecelakaan kepada adiknya hingga sempat koma selama beberapa hari dan hampir saja kehilangan nyawa, Birendra mengalami depresi hingga nekad bunuh diri dengan meminum obat sakit kepala. Untung saja saat itu nyawanya sempat terselamatkan.
Yang mengejutkan ternyata bukan hanya adiknya saja yang mengalami kecelakaan karena Birendra. Ketika SMA seorang perempuan, teman sekolah sekaligus kekasih Birendrapun mengalami kecelakaan sampai nyawanya tak tertolong lagi.
Menurut kesaksian beberapa pihak, ‘S’, perempuan itu meninggal bukan karena kecelakaan namun bunuh diri dengan melompat ke depan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi setelah sebelumnya bertamu ke rumah Birendra.
Apa yang terjadi di dalam rumah itu hingga menyebabkan seorang gadis nekad bunuh diri? Benarkah yang terjadi dengan adiknya dulu itu juga merupakan kecelakaan? Atau percobaan bunuh diri seperti yang dialami S?
“Ini gila!!!” seru Bentari dengan mata membulat tak percaya membaca berita online yang langsung menyita perhatian para netizen.
Seperti biasa spekulasi mulai bertebaran.
“Apa mungkin dia psikopat?” Kirana membaca komentar-komentar itu.
“Dia bukan psikopat! Hati-hati tuh mulut, eh jempol, nanti cantengan!”
“Ya Allah, jangan sampai Anggi jadi korban berikutnya.”
“Aku sudah menjadi korbannya, terjebak dalam cintanya, hihihi.”
“Orang depresi, tapi bisa jadi pengacara? Memang sudah gila negri ini.”
“Yang gila itu orang yang bikin berita ini!” Bentari menghempas tubuhnya di atas sofa dengan wajah memberengut.
Setelah beredar berita tentang Birendra, Bentari langsung menuju rumah Kirana. Memerlukan seseorang untuk bercerita karena tidak mungkin dia membicarakan hal ini dengan bu Mega, sedangkan Oka sedang sibuk dengan PKLnya.
“Kira-kira siapa ya, Teh, yang buat berita ini?”
“Wartawan yang tidak ada kerjaan,” jawab Kirana sambil memberikan biscuit untuk Danish yang duduk di sofa dengan tubuh bersandar dan mulut belepotan, terlihat menggemaskan. “Di antara begitu banyak berita yang seharusnya menjadi perhatian semua orang yang terjadi di negri ini… korupsi, masalah sampah yang tak pernah berakhir, kemiskinan, human trafficking yang semakin hari semakin meresahkan … wartawan itu malah membuat berita tentang masa lalu orang lain. Benar-benar tidak ada kerjaan.”
Bentari mengangguk-angguk setuju.
“Dan itu terkesan memprovokator nggak sih, Teh? Maksudku kenapa di akhir artikel ada kalimat seperti itu? Seolah-olah dia ingin semua orang berpikir ada yang salah dengan kecelakaan yang menimpa adik dan teman Birendra, padahal itu jelas-jelas kecelakaan! Gila!”
“Menurutmu siapa yang akan diuntungkan kalau misalnya nama Birendra atau bahkan mungkin karir Birendra hancur?”
Bentari terdiam, berpikir. “Lawannya di pengadilan?”
“Bisa jadi.” Kirana memegang Danish yang sedang berusaha turun dari sofa. “Apa Birendra saat ini sedang menangani kasus penting?”
“Aku tidak tahu, mas Abhi tidak pernah membicarakan tentang pekerjaannya.”
Kirana terdiam, matanya menatap Danish yang tengah berantakin kotak mainannya.
“Apa mungkin Birendra memiliki musuh dalam selimut?”
Alis Bentari berkerut menatap Kirana serius. “Maksud, Teteh, orang yang menyebarkan berita ini adalah orang terdekat Birendra?”
Kirana mengangguk. “Dia tahu tentang kecelakaan yang bahkan terjadi beberapa tahun lalu, artinya orang itu sudah kenal Birendra sejak lama.”
Bentari mengangguk pelan, sorot matanya menerawang berpikir, siapa orang yang dengan tega membocorkan informasi ini? Mereka tidak tahu bagaimana trauma menghantui Birendra selama bertahun-tahun ini.
“Saat ini Birendra sedang memerlukan dukungan dari semua orang, terutama kamu, Bi. Jangan biarkan Birendra merasa kalau dia sendirian, takutnya dia akan semakin menutup diri dari semua orang, termasuk kamu.”
Bentari mengangguk dengan yakin, tentu saja dia tidak akan meninggalkan Birendra apapun yang terjadi termasuk dengan pemberitaan tentang Birendra yang semakin hari semakin berkembang. Ada beberapa unggahan yang mengaku kenal dengan Birendra memberi informasi yang semakin memojokkan pria berkacamata itu.
Aku, S dan B adalah teman SMA, dan telah menjadi rahasia umum kalau S memang menyukai B sejak dulu. S akan mengikuti B kemana pun, saat itu B terlihat tidak masalah dengan hal itu, kami pikir mereka memang pacaran, tapi ternyata B hanya memanfaatkan S saja. Setiap hari S akan membawakan B makanan yang dia masak sendiri, memberikan apapun kepada B. Padahal S adalah seorang piatu, dan bapaknya sendiri adalah pemabuk yang terlilit hutang.
Sontak saja postingan itu mendapat beragam komentar yang semakin memojokan Birendra. Banyak netizen yang meminta Bentari segera putus dengan Birendra karena Birendra dianggap hanya memanfaatkan Bentari saja, seperti si B yang memanfaatkan si S.
Belum reda pembahasan tentang gossip Birendra yang hobi memanfaatkan perempuan, publik semakin dibuat marah akibat berita yang di unggah oleh salah satu akun berita online cukup besar, membuat berita tentang masalalu Birendra bergulir semakin besar layaknya bola salju.
BIRENDRA ABHIMANA, CALON MENANTU CRAZY RICH SURABAYA MENGABAIKAN ORANGTUANYA SELAMA BELASAN TAHUN INI
Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut, mengingat selama ini Birendra yang mulai menarik perhatian karena pengakuannya sebagai kekasih Anggi Santoto, the real crazy rich Surabaya, mendapat pujian dari para netizen karena berhasil mengubah seoarang Anggi Santoso yang glamor menjadi lebih sederhana dan berdiri di samping Anggi Santoso di saat kekasihnya itu terkena skandal belum lama ini.
Namun sayang, sikapnya yang setia kepada sang kekasih tidak ditunjukan kepada keluarganya sendiri.
Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, sudah lebih dari sepuluh tahun Birendra tidak pernah pulang ke rumah orangtuanya di Semarang walau hanya untuk menjenguk ayahnya yang sudah tak berdaya karena setengah tubuhnya lumpuh akibat stroke.
Birendra tak melanjutkan berita tentang dirinya itu. wajahnya masih terlihat dingin tak berekspresi, membuat beberapa orang yang berada di kantin kantor hanya diam-diam meliriknya kemudian berbisik.
“Ini dia selebritis kita.”
Tomi, Andre dan Agus duduk bergabung dengan Birendra dengan nampan makan siang di tangan masing-masing.
“Are you oke?” tanya Andre dengan wajah menatap Birendra yang mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Kalau sudah kebangetan seperti ini, kamu bisa nuntut media dan para ‘nyinyiers’, biar mereka tahu kalau mereka berhadapan dengan orang yang salah.”
“Kalau kamu butuh pengacara, dengan senang hati kita akan jadi pengacaramu.”
“Asal bayarannya pas.”
Birendra hanya tersenyum mendengar ketiga rekannya.
“Tadi pak Heri manggil ada apa?” tanya Tomi sebelum menyuap nasi rawonnya.
“Jangan bilang, dia ngomongin masalah ini?” Agus menyuap ayam bakarnya yang telah dicocol sambal.
Birendra mengangguk.
“Serius? Dia termakan sama berita ini?”
“Iya … beberapa klien minta ganti pengacara.”
“Siapa?”
Birendra menyebutkan beberapa nama yang selama ini telah lama memakai jasanya sebagai penasihat hukum.
“Mereka itu seperti tidak tahu kamu saja, Bi, padahal sudah lama mereka pakai jasa kamu.”
“Ya tidak salah juga sih, siapa yang mau mendapat nasihat hukum dari orang depresi.”
“Kamu itu tidak depresi, Bi, tapi suka bikin orang depresi kalau udah dilihatin sama mata laser dan wajah es mu itu.”
“Hahaha, benar.”
“BUMI, tetap pakai kamu kan?”
Birendra mengangguk sambil menyalakan rokoknya.
“Iyalah, calon mertua gitu lho.”
“Gila sih, Bi, aku sih sampai sekarang belum percaya kalau kamu pacaran sama Anggi Santoso.”
“Tidak percaya kenapa?”
Semua orang menatap ke arah suara lembut milik Bentari yang terlihat cantik dengan dress floral selutut, terlihat kontras karena berada diantara orang-orang dengan stelan blazer atau jas yang kini tengah menatap kagum kepadanya.
“Bi, kok bisa ada di sini?” Birendra langsung berdiri dengan mata membulat tak percaya menatap kekasihnya yang memerlihatkan senyum cantik membuat para lelaki di sana merasa iri dengan Birendra.
“Naik pesawat terus naik taksi,” jawab Bentari membuat Birendra tersenyum mengingat jawaban yang dia berikan ketika terakhir ke Jakarta. “Mas … aku rindu,” lanjut Bentari membuat senyum Birendra semakin lebar, berbeda dengan ketiga temannya yang kini terbatuk-batuk karena tersedak.
*****