
“Kenapa dari tadi diam saja?”
Ketika seorang Arunika Gantari diam, itu pasti ada apa-apanya. Dan itu juga yang membuat Oka heran karena sepanjang perjalanan pulang dari makan bersama keluarga besar Oka, Arunika hanya terdiam.
“Abang … kita ngobrol dulu yuk, Bang, di taman sana.” Arunika menunjuk taman di dalam komplek perumahannya.
Oka mengangguk, dan kembali menyalakan si merah menuju salah satu taman sederhana di sekitar blok rumah Arunika tempat anak-anak komplek bermain di pagi atau sore hari. Beberapa pohon mahoni berdiri kokoh yang menjadikan taman itu rindang di siang hari namun cukup menyeramkan di malam hari, untung saja lampu jalanan dan lampu-lampu taman cukup menerangi taman itu. Beberapa permainan anak-anak dengan cat warna warni tersebar di sana, perosotan, besi panjat, papan titian dengan setiap ujung dibentuk seperti menara, dan ayunan dimana Oka dan Arunika duduk saat ini.
“Kenapa? Kakak-kakakku melukai perasaanmu? Jangan diambil pusing, mereka memang suka bercanda, tapi aslinya mereka baik … walau nyebelin dan terkadang bar-bar.”
“Hehehe … tidak, keluarga Abang sangat baik juga menyenangkan.”
Oka tersenyum lega karena keisengan kakak-kakaknya bukan alasan Arunika diam.
“Jadi apa yang membuatmu diam?”
Arunika terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya dia membulatkan tekad dengan menatap mata Oka langsung.
“Bang, sebetulnya aku ini siapa bagi Abang?”
Oka terdiam, terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Arunika yang masih menatap bola matanya langsung tanpa gentar. Tentu saja Oka sangat paham arti pertanyaan itu.
“Kamu tahu jawabannya.”
“Aku ingin mendengar itu langsung dari mulut Abang.”
Oka terdiam, matanya menatap mata Arunika, tak bisa lagi menyimpannya seorang diri.
“Kamu lebih dari seorang teman, lebih dari seorang sahabat. Kamu perempuan yang menempati posisi setelah mamah, tante Mayang dan kakak-kakakku … paham?” Tangan Oka terulur untuk mengelus kepala Arunika yang terdiam dengan dada berdegup kencang.
Selama ini Arunika telah menyadari kalau perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Walaupun Oka kerap kali menyangkal, tapi dari perhatian-perhatian yang dia terima dari Oka membuat Arunika menyakini mereka berdua memiliki rasa yang sama. Dan kini ketika Oka secara tersirat mengungkapkan perasaannya, entah kenapa Arunika malah ingin menangis.
“Lho kenapa jadi nangis?” Oka menghapus airmata Arunika yang tanpa sadar telah bergulir. “Kamu tidak mau?” Arunika menggelengkan kepala. “Ya sudah kita temanan saja.”
“Iiih, Abang, bukan itu! hik-hik-hik!”
“Eeeh, ko’ tambah kenceng?”
“Huaaaaa … Abang, nyebelin, nggak peka!”
“Tidak peka kenapa? Tadi geleng-geleng kepala, itu artinya tidak mau kan?”
“Tuh kaaaan! Abang, nggak peka! Huaaaa…!!!”
“Aduh, sudah dong jangan nangis.” Oka mulai panik, dia turun dari ayunan, berjongkok di depan Arunika. “Sudah ya sudah, jangan nangis lagi, nanti kalau ada yang dengar bagaimana? Dikira miss. Kunkun lho.”
“Ih, Abang, kan serem!”
“Iya makanya, sudah ya nangisnya.”
Arunika berusaha menghentikan tangisnya walau masih sedikit terisak. Tangannya berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang ke luar.
“Kenapa nangis sih?” Oka masih merapihkan rambut Arunika yang sebagian menempel di pipi terkena air mata.
“Seandainya aku mendengar ucapan Abang itu dulu, sebelum aku tahu siapa aku yang sebenarnya. Aku akan sangat bahagia … tapi sekarang, aku sedih.”
Oka mengerutkan alisnya melihat Arunika yang tertunduk dengan wajahnya sedihnya.
“Sedih kenapa?”
“Karena saat ini aku merasa tak pantas untuk Abang. Apalagi setelah tadi bertemu dengan keluarga besar Abang, mengetahui siapa ayah Abang sebenarnya, mengetahui siapa kakak-kakak Abang, membuatku merasa tak pantas untuk bersanding dengan Abang.”
Oka terdiam mengetahui kekalutan yang dirasa Arunika saat ini.
“Dan kamu putri bungsu seorang politisi besar negri ini, apa yang membuatmu tak percaya diri? Ini bukan Arunika Gantari yang ku kenal.”
“Abang tahu alasanku merasa tak sepercaya diri ini kan?”
Oka terdiam, dia sangat tahu alasan Arunika seperti ini. walaupun hubungan antara Arunika dan keluarganya telah kembali baik, namun kenyataan itu tak bisa mengubah status Arunika.
“Boleh aku tahu kapan kamu mulai menyukaiku?”
“Dari pertama bertemu,” jawab Arunika tanpa ragu.
“Kenapa?”
“Karena ganteng.” Lagi-lagi Arunika menjawab tanpa ragu dan jujur, membuat Oka tersenyum. “Iya itu awalnya karena Abang memang ganteng, tapi aku semakin menyukai Abang setelah mengenal Abang … Abang yang pintar, Abang yang cuek tapi baik, Abang juga seolah tak peduli dengan latar belakang keluargaku, tak berusaha mendekatiku karena papah.”
“Itu kamu sudah tahu jawabannya … aku tak peduli dengan latar keluargamu.”
Arunika terdiam menatap Oka, “Tapi keluarga Abang pasti peduli.”
Oka mengangguk setuju. “Keluargaku, biar menjadi urusanku.” Kini giliran Oka yang menatap Arunika serius. “Kamu tahu kenapa selama ini aku diam, tak berani mengungkapkan perasaanku?”
“Karena Abang tidak peka,” jawab Arunika jujur membuat Oka tertawa.
“Hahaha … mungkin, tapi bukan itu.” Oka menanggenggam tangan Arunika, terdiam sesaat menatap tangan Arunika yang berada dalam genggamannya, sebelum matanya menatap manik mata Arunika. “Karena aku ingin memantaskan diri untuk kamu, atau siapapun yang nanti akan menjadi pasanganku.”
Arunika terdiam mendengar jawaban tak terduga dari Oka membuat hatinya berdesir dan perasaannya kepada Oka semakin menjadi.
“Seperti halnya kamu yang tak ingin orang hanya melihat latar keluargamu saja, begitupun aku. Aku ingin pasanganku nanti memilihku karena aku, bukan karena siapa keluargaku. Dan keluarganya merestuiku karena aku dinilai layak dan pantas untuk putri mereka, bukan karena iming-iming nama besar keluargaku.”
Sesaat Asoka terdiam kemudian kembali tersenyum menatap Arunika yang masih terdiam mendengar setiap ucapan Oka dengan jantung berdetak lebih cepat.
“Selama ini bukannya aku tak peka hanya saja saat ini mungkin belum waktu yang tepat untuk kita berdua. Saat ini aku hanya bisa memerhatikanmu, menjagamu, dan mengawasimu agar tak salah arah, dan juga mencintaimu dalam diam sambil berusaha memantaskan diriku agar kamu bangga jika suatu hari nanti berdiri di sampingku.”
“Aku bangga, sekarangpun aku bangga!” Arunika berkata dengan sangat yakin, matanya bahkan sudah berkaca-kaca karena haru mendengar perkataan Oka yang hanya tersenyum.
“Belum … saat ini masih belum waktunya. Namun suatu hari nanti akan tiba masanya bagi kita berdua … sambil menunggu waktu itu, aku akan memantaskan diri untukmu.”
“Aku juga akan memantaskan diri untuk Abang.” Arunika kembali berkata dengan penuh keyakinan. “Seperti Abang, aku pun ingin Abang bangga kepadaku dan keluarga abang akan menerimaku … walaupun aku hanya anak di luar nikah.”
Oka menganggukkan kepala. “Kita sama-sama menjaga dan memantaskan diri sampai waktunya tiba.”
Arunika mengangguk setuju, sebelum dia kembali menatap Oka.
“Apa lagi?” Oka yang sudah sangat paham dengan sifat Arunika bisa tahu kalau gadis itu tengah memikirkan sesuatu, ragu untuk diucapkan, tapi tak bisa menahannya.
Tuh kan! Oka menghela napas, rasanya sia-sia tadi dia menjelaskan tentang nanti dan kini saatnya memantaskan diri.
“Maksudku, sambil memantaskan diri kan kita bisa pacarana dulu,” lanjut Arunika ketika melihat Oka yang sepertinya sudah mulai habis kesabaran.
“Bukan kah tadi kita sudah sepakat untuk saling memantaskan diri dahulu?”
“Iya, tapi … aku harus bagaimana kalau ada yang nanya abang itu siapanya aku? Terus kalau semua orang tahu kalau kita tak punya hubungan, mereka pasti bakal deketin Abang.”
Oka menatap Arunika, sangat tahu apa yang ada di kepala gadis bermata bulat itu.
“Apa pernah ada yang bertanya itu?”
“Iya.”
“Kamu jawab apa?”
“Calon suami masa depanku.”
Oka tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Berhasil kan?”
“Hmmm … iya sih.”
“Terus kenapa lagi?”
“Tapi kan kalau yang nanya ke Abang, pasti jawabannya bukan siapa-siapa.”
Oka kembali tersenyum sambil mengangguk.
“Tuh kan bener!”
Arunika menghentakan kaki kesal membuat Oka tertawa.
“Tak perlu aku memberi status kekasih untukmu. Dengan hampir setiap hari kita selalu bersama, aku yang selalu menunggumu sampai kuliahmu selesai atau bahkan kadang walau libur aku akan ke kampus hanya untuk menjemputmu disela-sela tugasku yang menumpuk, mengajakmu ke tempat futsal … secara tidak langsung aku sudah mengenalkanmu sebagai pasanganku kepada teman-temanku dan tanpa aku beritahupun mereka sudah tahu itu.”
Arunika tersenyum malu-malu sambil bertanya, “Bener, teman-teman Abang mengira kita pacaran?”
“Iya, karena selama ini tak pernah sekalipun aku mengantar jemput perempuan, apalagi membawanya ke tempat futsal.”
Arunika kembali tersenyum mendengar ucapan Oka, tapi sesaat kemudian Arunika kembali menatap Oka.
“Tapi kan kalau tidak ada statusnya kita tak bisa pelukan.”
“Ckkk, selama ini kalau dibonceng itu apa namanya.”
“Ya, itukan pegangan, Bang, takut jatuh.”
“Modus.”
“Iya, modus-modus dikitlah, Bang, hehehe … terus …”
“Terus apa lagi?”
“Terus … hmmm … terus … kita tidak bisa … hmmm …”
“Apa?”
“Hmmm … itu, Bang, yang biasa orang pacaran lakuin.”
“Apa? Nonton? Nanti kita nonton.”
“Iya itu juga, tapi bukan itu.”
“Apa dong?”
“Itu lho … iiih, Abang masa tidak tahu!”
Oka tertawa membuat Aruika semakin cemberut, tapi tak lama sebelum akhirnya dia terdiam mematung dengan mata membulat terkejut ketika Oka tiba-tiba memeluknya.
“Baru dipeluk sudah tegang gini, apa lagi kalau dicium.” Oka tersenyum menggoda sambil terus memeluk Arunika yang jangankan berbicara, kali ini dia bahkan menahan napasnya. “Nanti akan tiba saatnya kita bisa melakukan itu, tapi tidak sekarang. Jaga dirimu untukku atau … untuk calon suamimu nanti. Aku pun akan melakukan hal yang sama, paham?”
Diam-diam Arunika tersenyum sambil mengangguk, perlahan walau malu tanganya terangkat dan balik memeluk Oka yang tersenyum menyadari pelukan balasan dari perempuan yang keceriwisannya dengan perlahan mulai mengisi hatinya.
Selama ini Oka bukannya tak mengetahui perasaannya, hanya saja dia tak mau terbawa naf*su dunia.
Selama ini pun Oka tak diam dengan cintanya, tapi dia tengah memersiapkan diri agar pantas untuk menjemputnya kelak. Karena seorang Arunika Gantari terlalu berharga kalau hanya untuk menjadi sementara, maka dari itu Oka memersiapkan diri untuk menjadikannya selamanya.
*****
Dan sebenarnya aku tak diam
Seraya perhatikan jejak langkahmu
Walau terlihat diriku
Tak ‘da di dekatmu
Semakin kau indah
Memperjelas setiap kelemahanku
Walau kau berharga
Sekarang untuk berdua
Jika kau berat untuk memikirkan cinta yang diam
Percayalah semua ini takkan berujung lama
Kita akan berdua
Tanpa harus terganggu oleh dosa.
Cinta yang diam (Difki Khalif feat Ariel Noah)