Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
36. Key of Heart



“Isu yang beredar saat ini di masyarakat tidak benar,” ucap Birendra dengan wajah dingin menghadap para wartawan yang hadir dalam konferensi pers yang diadakan di kantor pengacara dimana Birendra bernaung.


“Anggi Santoso tidak pernah bertunangan dengan Caraka Benua. Yang bertunangan dengan Caraka adalah Kirana, kakak Anggi yang kini berstatus sebagai istri dari Caraka.”


Para wartaman mulai melayangkan pertanyaan mengingat selama ini Anggi Santoso dikenal sebagai anak tunggal Andi Santoso. Kisah keluarga Andi Santoso selama ini selalu tertutup dari masyarakat umum, jadi hanya orang-orang terdekat saja yang mengetahui kalau Andi Santoso pernah menikah sebelumnya dan memiliki 3 orang anak. Dengan adanya kasus Bentari, mau tidak mau akhirnya membuka masalah ini kepermukaan.


“Saya memiliki tiga orang anak. Putri sulung saya Kirana. Kirana inilah yang bertunangan dengan Caraka dan sekarang mereka sudah menikah, jadi bukan Anggi yang bertunangan dengan Caraka. Sangat jelas kalau berita yang tersebar saat ini sangat salah!”


Andi Santoso memberi penjelasan yang dianggap penting dan masih berhubungan dengan kasus Bentari, dia mengabaikan pertanyaan wartawan yang bersahutan menanyakan tentang siapa anak ketiganya? Mereka tinggal dimana selama ini? dan banyak lagi.


Birendra kembali mengambil alih konferensi pers.


“Sekarang sudah jelaskan kalau Anggi tidak pernah bertunangan dengan Caraka. Jadi perlu digaris bawahi, Anggi tidak ada hubungannya dengan penyerangan Kirana oleh Ferdi Izam seperti yang sekarang ini ramai diperbincangkan.”


Semua wartawan kembali fokus mendengarkan Birendra yang masih berwajah dingin tanpa ekspresi.


“Kasus penyerangan Kirana sudah ditangani oleh pengadilan bahkan pelakunya sudah mendekam di penjara.”


“Atas dasar apa penyerangan itu terjadi?”


“Ada berita yang beredar kalau Anggi adalah otak di belakang penyerangan itu, apa itu benar?”


Birendra menatap wartawan yang bertanya dengan tajam sebelum dia menjawab pertanyaan itu.


“Dendam pribadi. Persaingan bisnis yang menyebabkan pelaku tak terima atas kekalahannya dalam sebuah tender. Merasa bisnisnya diambil oleh Caraka, pelaku ingin mengambil sesuatu yang berharga bagi Caraka, yaitu Kirana. Tunangannya.”


Birendra tidak mungkin menceritakan tentang kasus pelecehan yang dialami Kirana, itu sama saja membuka luka lama Kirana. Selain itu, bisa dibayangkan kalau sampai kasus pelecehan Kirana terungkap maka semua berita baik di televisi atau online akan membahas tentang “Menantu Mahesa ternyata pernah menjadi korban pelecehan.” Itu tentu saja akan menjadi tranding menggantikan kasus Anggi, namun menutupi kasus yang sebenarnya. Korupsi proyek kereta cepat.


“Anggi memang dipanggil oleh polisi, hanya sebagai saksi. Jadi tuduhan kedua yang mengatakan kalau Anggi adalah otak di balik penganiayaan tunangan Caraka adalah salah. Dan yang terakhir … Anggi tidak ada hubungan apa-apa dengan BS yang sekarang terjerat kasus korupsi. Anggi hanya pernah bertemu dengan BS beberapa kali, itupun karena mereka berada di acara yang sama.”


“Tapi terlihat mereka berfoto di beberapa kesempatan.”


“Iya, tapi tidak berdua bukan? Anggi bahkan tidak begitu mengenal BS, mereka hanya berada di tempat dan waktu yang sama. Foto-foto yang beredar saat ini diambil kurang lebih dua tahun lalu dan setelah itu Anggi tidak pernah bertemu lagi dengan BS … sebagai kekasih dari Anggi Santoso, saya bisa pastikan kalau Anggi tidak ada hubungan apa-apa dengan BS dan kasus korupsi yang menjerat BS saat ini.”


Bu Mega, Kirana, Oka yang dari tadi terlihat serius menyimak konferensi pers di depan televisi, kini menatap Bentari yang terkejut mendengar penuturan Birendra.


“Ternyata kamu tidak jomblo, Bi, dan pacar kamu pengacara bukan koruptur. Alhamdulillah ya Allah!” Ujar bu Mega dengan wajahnya sumringah. “Calon menatu kita pengacara,” lanjutnya yang mendapat anggukan semangat dari Mayang.


“Waaaaah, si beruang kutub nih!” seru Oka seolah tak terima Birendra mengaku sebagai kekasih Bentari. “Dikirain freezer, tahunya rice cooker … aww!”


Kirana yang duduk di samping Oka langsung menggeplak kepala Oka yang kini mengaduh sambil mengelus kepalanya.


Sedangkan Bentari masih terdiam, bergeming menatap televisi dimana kini Birendra diberondong pertanyaan oleh para wartawan.


“Sepertinya Birendra ingin meyakinkan publik kalau Bi tidak ada hubungan apa-apa dengan Bima, dan sepertinya ayah sudah mengetahui rencana Birendra." Caraka berkata dengan mata masih menatap televisi dengan serius.


Birendra terdiam sesaat, matanya menyisir semua orang yang berada di hadapannya.


“Tim kami sudah memeriksa akun yang menyebarkan berita tentang ini, dan itu semua adalah akun palsu. Maka dari itu kami meyakini kalau ada dalang di balik tersebarnya berita bohong ini. Tapi untuk apa mereka melakukan hal ini? Apa untuk pengalihan isu dan menutupi kasus yang lebih besar?"


Birendra kembali terdiam, matanya kembali menyisir semua wartawan yang hadir sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Maka dari itu kami akan melaporkan kepada pihak berwajib untuk mengusut tuntas masalah ini. Kami juga akan melaporkan beberapa akun yang melakukan penghujatan tanpa dasar kepada Anggi ... saya tegaskan sekali lagi … Anggi tidak ada hubungan dengan Bima dan kasus korupsinya.”


“Sepertinya ayah dan Birendra telah mengurus semuanya,” ucap Caraka yang mendapat anggukan dari Kirana.


“Mudah-mudahan penjelasan Birendra tadi bisa membuat semua orang tersadar kalau berita-berita tentang kamu itu salah.”


Bentari tersenyum menganggukan kepala. Jujur saja saat ini dia tak tahu apa yang dia rasakan. Namun yang jelas saat ini dia masih merasa kalau ini tidak nyata. Tak pernah terbayangkan dia akan terlibat dalam kasus seperti saat ini, dimana semua orang menghujat, mencaci maki, dan kini Birendra memproklamirkan dirinya sebagai kekasih Bentari di depan media.


Bukankah itu bagus? Bukankah itu yang selama ini Bentari ingin kan? Namun kenapa hatinya tak merasakan apapun? Tidak, bukannya Bentari tidak merasa bahagia, tapi dia berusaha menyangkal hal itu, dia terlalu takut untuk meyakini kalau apa yang dikatakan Birendra itu bukan karena hatinya. Seperti yang Caraka bilang, Birendra mengatakan itu hanya untuk membuat semua orang percaya kalau Bentari tidak ada hubungan apa-apa dengan Bima Seno, jadi … bukankah itu hanya sebagian dari scenario yang Birendra dan ayahnya tulis untuk konferensi kali ini?


Jadi, lebih baik Bentari menjaga hatinya, dari pada harus kembali terluka karena sebuah harapan palsu.


***


Surabaya.


Fahmi tersenyum menatap layar televisi dimana Birendra tengah melakukan konferensi pers. Ada perasaan bangga juga lega karena pada akhirnya dia bisa menolong teman lamanya dari kubangan trauma masa lalu.


Sesungguhnya sangat sulit meyakinkan Birendra untuk melakukan terapi, karena hal itu tidak mungkin dilakukan tanpa keinginan yang bersangkutan. Seperti halnya orang sakit, tapi dia tak mau pergi berobat, maka apapun obat yang diberikan dokter tidak akan diminum bahkan mungkin malah dibuang. Begitupun dengan kasus Birendra, jika Birendra tidak menginginkan maka apapun yang dilakukan dan dikatakan semua orang kalau dia bukan pembawa sial, itu tidak akan mempan.


Selama ini Fahmi telah melakukan segala cara untuk menyentil alam bawah sadar Birendra, secara tidak langsung meyakinkan Birendra kalau dia bukanlah pembawa sial. Dia mencerita tentang orang-orang yang dulu dekat dengannya yang kini telah hidup bahagia, Fahmi bahkan sampai mempertemukan Birendra dengan beberapa orang yang dulu pernah ditolong Birendra, tapi hal itu tetap tidak berpengaruh.


Hampir saja menyerah dan hanya akan menunggu mukjizat serta hidayah untuk Birendra agar mau berobat. Dan Allah menjawab doanya lebih cepat dari yang dia kira.


Walaupun Fahmi tahu kalau Bentari adalah kunci untuk membuka hati Birendra, tapi Fahmi belum menemukan saat yang tepat untuk menggunakannya, sampai akhirnya dia melihat berita tentang Bima Seno yang terlibat kasus korupsi dimana foto Bentari ikut terpampang.


Bertaruh dengan kemungkinan terburuk kalau Bentari akan dijadikan pengalihan isu, Fahmi menghubungi Birendra. Rasa sayang yang besar terhadap Bentari membuat Birendra memiliki keinginan yang kuat untuk melindungi perempuan yang dia cintai, apalagi semakin hari pemberitaan tentang Bentari semakin membesar membuat keinginan sembuh Birendra semakin besar.


Hingga akhirnya suatu pagi ketika Fahmi baru datang ke kantor Birendra telah menunggunya, dengan mata penuh keyakinan dia berkata,


“Tolong aku, aku mau sembuh. Aku harus menyelamatkannya.”


Saat itulah Fahmi semakin meyakini kalau kunci itu telah berhasil membuka hati Birendra yang telah terkunci selama bertahun-tahun.


*****