Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
22. Easier said than done (Lebih mudah berbicara daripada melakukan)



Malam semakin larut, namun Arunika dan Oka masih terjaga. Duduk, diam, hening. Yang terdengar hanya suara detik jam dinding yang bersatu dengan suara rintik hujan yang kembali turun. Arunika sudah mengakhiri ceritanya, dan kini hanya diam tertunduk, sebagian rambutnya terurai ke depan menutupi wajahnya.


Di sisi lain Oka seolah belum sembuh dari keterkejutannya mendengar kisah Arunika. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam benaknya. Marah kepada orangtua Arunika yang seolah tak peduli dengan perasaan gadis itu ketika mengetahui kebenaran yang membuat dunianya hancur. Cepat atau lambat Arunika memang harus mengetahuinya, tapi bukan kah bisa memberitahunya dengan lebih halus lagi hingga Arunika tak harus merasakan kesakitan seperti sekarang.


“Apa sekarang Abang menyesal?” Arunika bertanya dengan suara lemah, namun berhasil mengembalikan Oka dari pikirannya.


“Menyesal kenapa?” Tangan Oka terulur merapihkan rambut Arunika, menyelipkannya di belakang daun telinga.


“Karena dekat denganku.”


“Kenapa aku harus menyesal dekat denganmu?”


Tidak ada perubahan dalam sikap Oka padanya selain menjadi lebih hangat atau karena rasa kasihan?


“Karena aku anak haram.”


Untuk sesaat mereka saling tatap.


“Kamu Arunika Gantari. Apapun sebutan yang melekat pada dirimu saat ini … kamu adalah dirimu. Sebutan itu tidak akan bisa merubah siapa dirimu.” Oka menatap Arunika serius. “Apakah anak-anak broken home akan selalu gagal? Tidak, banyak dari mereka yang berhasil. Apakah anak-anak jalanan akan selalu menjadi berandalan? Tidak, banyak dari mereka yang memiliki hati seperti malaikat. Apakah anak-anak pendiam itu sudah pasti anak yang baik? Belum tentu, kita tidak tahu apa yang dia pikirkan dalam diamnya itu. Apakah anak-anak yang berasal dari keluarga utuh, serta berkecukupan sudah pasti bahagia? Belum tentu, banyak dari mereka yang haus akan kasih sayang dari orangtua. Jadi apa bedanya dengan anak haram? Itu hanya sebutan, sama dengan yang lain.”


“Beda, Bang!” Arunika menatap Oka putus asa. “Anak haram adalah anak yang terlahir dari sebuah dosa besar. Dari awal aku merupakan sebuah kesalahan."


“Yang berdosa itu orangtuamu. Yang melakukan kesalahan adalah mereka, bukan kamu! Anak tidak bisa memilih dari orangtua seperti apa, atau dalam kondisi apa dia dilahirkan. Tapi orang dewasa bisa memilih mau melakukan dosa atau tidak? Mereka tahu itu adalah sebuah kesalahan dan sebuah dosa, itu adalah pilihan mereka dan mereka harus menerima konsekuensi dari kesalahan dan dosa itu. Mereka harus bertanggung jawab dengan pilihan mereka. Bukan anak yang harus menanggung dosa orangtua mereka.”


Arunika terdiam. Yang dikatakan Oka benar, tapi seandainya sesederhana itu mungkin Arunika tidak akan merasa kesakitan seperti saat ini ketika menyadari efek dari statusnya sebagai anak di luar nikah.


“Sebagai anak di luar nikah … aku juga kehilangan semua hakku di keluarga Papah.” Mata Arunika kembali menatap Oka nanar. “Jangankan harta warisan bahkan papah tak berkewajiban menafkahiku … dan siapa yang akan menjadi wali nikahku nanti? Wali hakim? Aku memiliki seorang ayah, tapi dia tak berhak menjadi waliku.” Mata Arunika mulai kembali berkaca-kaca. “Sebegitu hinanya aku saat ini, Bang. Aku tak memiliki hubungan nasab dengan papah, aku hanya anak ibuku yang bahkan aku tak tahu siapa dan dimana ibu kandungku.”


Oka kini terdiam, tak bisa menyangkal lagi karena yang dikatakan Arunika benar adanya. Yang bisa dilakukannya hanyalah memeluk membiarkan Arunika kembali menangis.


Ketika orang dewasa kehilangan akal sehat untuk mengikuti naf*su, mereka melupakan dosa dan segala risiko. Bukan hanya dosa yang akan mereka tanggung sendiri di akhirat nanti, tapi juga resiko yang harus ditanggung ketika masih hidup. Belum lagi anak yang terlahir dari perbuatan dosa itu harus menanggung beban seumur hidupnya. Terlalu banyak yang dikorbankan, terlalu besar resiko yang diterima, dan terlalu besar dosa yang harus ditanggung hanya untuk kenikmatan sesaat.


***


Hujan semalam sudah berakhir, hanya terlihat jejak hujan yang telah mengguyur Ibu Kota dari tanaman yang terlihat lebih segar, jalanan yang masih basah, juga udara pagi yang lebih dingin namum itu tak membuat geliat pagi itu terhenti.


Jalanan sudah mulai dilewati kendaraan orang-orang yang akan pergi mencari nafkah, para pelajar yang pergi sekolah, juga para ibu rumah tangga yang pergi ke warung sayur, atau sibuk menyiapkan sarapan seperti yang terjadi di dalam rumah minimalis bercat putih dengan aksen abu berlantai 2, dimana bu Mega terlihat membuat kopi dan cemilan pagi di dapur ditemani Arunika dengan wajah sembab dan mata bengkak karena menangis semalaman, sedangkan Bentari yang baru selesai menyapu sepenjuru rumah dengan cepat naik ke atas, tanpa permisi dia masuk ke kamar Oka untuk membangunkannya.


“Dia sedang ada masalah kan?” Oka langsung menutup kepalanya dengan bantal yang langsung ditarik Bentari lalu melemparkannya ke lantai. “Dia kenapa, Ka? Iiih, Adek! Cerita Arunika kenapa?”


“Kepo banget sih!” Oka menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh yang lagi-lagi ditarik Bentari dan senasib dengan bantal, terongok di atas lantai. “Aku ngantuk, Kak! Sana – sana!”


“Cerita dulu dia kenapa?”


Oka menghentak-hentakkan kakinya kesal, matanya menatap Bentari tajam, tapi kakaknya itu malah balik menatapnya dengan mata berbinar penasaran, seperti anak kucing.


“Ayo – ayo cerita!”


Oka menghela napas berat sebelum akhirnya duduk di atas temapt tidur, Bentari bertambah semangat dengan ikut duduk di hadapan Oka bersiap mendengar cerita yang membuatnya penasaran dari semalam.


“Dia sedang ada masalah.”


Oka mulai bercerita membuat Bentari mengangguk semangat.


“Masalah … keluarga.”


Bentari kembali mengangguk. Dia sudah bersiap menunggu kelanjutan cerita Oka yang terdiam menatapnya.


Satu … dua … tiga … bahkan setelah hitungan sepuluh Oka hanya terdiam sambil sesekali menguap atau menggaruk perutnya membuat Bentari mengangkat alis dan bertanya,


“Terus?”


“Terus apa?”


“Terus masalah keluarganya apa?”


“Ya udah itu, masalah keluarga.”


“Iya masalah keluarganya apa?”


Bentari mulai terlihat gemas membuat Oka terdiam menatapnya sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya untuk berbisik,


“Ra … ha … sia.”


Oka tertawa penuh kemenangan sambil turun dari tempat tidur menghidar dari tangan Bentari yang hendak memukulnya.


“Aku tidak bisa cerita.” Oka duduk di depan meja, menyalakan laptop kemudian menyambungkannya ke printer. “Itu terlalu … rumit.” Oka membuka file tugas yang semalam dia kerjakan dan belum sempat dicetak. Tangannya dengan cekatan mengatur margin dan setting print.


“Tapi untunglah semalam dia menghubungimu, kalau tidak … kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada dia.”


“Jadi selanjutnya gimana?”


Oka mengambil kertas A4 menaruhnya di printer, kemudian mengklik enter pada laptopnya dan seketika terdengar suara dari printer yang mulai bekerja.


“Aku akan mengantarnya pulang.”


“Bukankah dia sedang ada masalah di keluarganya? Bagaimana kalau di menolak?” Bentari membuka jendela kamar Oka membuat udara segar pagi hari langsung mengisi kamar Oka.


“Cepat atau lambat mereka harus membicarakan ini … ada keputusan besar yang harus dia ambil.”


“Hmmm …” Bentari bersandar di bingkai jendela dengan tangan terlipat di atas dada, matanya menatap Oka penuh selidik. “Apa masalah keluarganya mirip dengan keluarga kita? Tentu saja tanpa drama eyang, kakek, ayah, dan … aku.”


Oka menantap Bentari kemudian menggelengkan kepala. “Tidak ada yang lebih drama dari pada drama keluarga kita.”


Bentari mengangguk-anggukkan kepala. “Berarti tidak begitu berat kan?”


Oka merapihkan kertas-kertas tugasnya yang telah selesai dicetak, menyatukan lembaran-lembaran itu dengan paper clip.


“Berat dan rumit juga sih, hanya saja kalau dengan drama keluarga kita itu … berbeda genre.” Oka memasukan tugasnya ke dalam map plastik untuk dia jilid nanti. “Drama keluarga kita ada sedikit actionnya, dengan beberapa orang pemeran antagonis, yang salah satunya sudah insyaf.”


Oka tertawa melihat Bentari melotot sambil mendelik ke arahnya.


“Nah kalau Arunika itu … pure drama keluarga, tentang perselingkuhan dan efeknya.”


“Orangtuanya selingkuh?” Seketika Bentari melupakan kekesalannya kepada Oka karena menyebutnya pemeran antagonis yang sudah insyaf. “Siapa? Bapaknya? Atau ibunya?”


“Tahu nggak sih, Kak? Kakak itu sudah seperti emak-emak komplek yang suka ngegosipin teteh dulu di gerobak sayur mas Jarwo.”


“Sekarang kak Siska yang menduduki peringkat satu gossip komplek ini, karena belum juga menikah … kalau kak Siska nanti menikah, bisa-bisa aku yang jadi sasaran mereka!”


“Makanya cepat move on!”


“Ckk!”


Oka tersenyum sepanjang jalan turun ke bawah diikuti Bentari yang mulai mengutuk Birendra karena sangat susah move on dari si freezer.


Oka melihat Arunika duduk di meja makan, terlihat melamun bertemankan secangkir teh manis hangat.


“Mamah mana?” Oka menuang air putih ke dalam gelas lalu meminumnya, sedangkan Bentari sudah menghilang entah ke mana.


“Lagi ke tukang sayur,” jawab Arunika yang mendapat anggukan dari Oka.


“Hari ini kamu ada kuliah?” Oka duduk di kursi depan Arunika.


“Tidak.” Arunika menggeleng kemudian menyeruput teh manis hangat miliknya.


“Aku nanti ke kampus jam 11 ada tugas makalah yang harus dikumpulkan.” Arunika mengangguk mengerti. “Sebelum ke kampus, aku akan mengantarmu pulang.”


Arunika tersentak menatap Oka dengan mata terbelalak.


“Aku …” Arunika menggelengkan kepala.


“Kamu harus pulang, membicarakan masalah ini dengan orangtuamu.”


“Membicarakan apalagi, Bang? Semua sudah jelas.”


Oka terdiam menatap Arunika yang menatapnya berharap Oka tak mengantarnya kembali ke rumah itu. Rumah yang kini sepertinya tak layak untuk dia sebut sebagai rumahnya.


“Apa tak ada keluargamu yang menghubungimu semalam? Atau hari ini?”


Banyak! Atharya. Kakaknya, meninggalkan puluhan pesan juga panggilan tak terjawab, begitu pula dengan papahnya. Bahkan Sisil, kakak sulungnya yang kini tinggal di Makasar menanyakan keberadaannya dan juga belasan panggilan tak terjawab. Hanya Arum, yang tak mengirimi pesan, seolah tak peduli dengan keadaan dan keberadaannya saat ini.


“Mereka pasti khawatir. Jadi hari ini kamu pulang dulu ya?” Arunika terdiam, tertunduk. “Biar mereka tahu kalau kamu baik-baik saja, jadi mereka tak perlu khawatir lagi. Setelah itu kamu pikirkan baik-baik apa langkah kamu selanjutnya, kemudian bicarakan dengan mereka. Karena bagaimanapun mereka adalah keluargamu … mereka tetap orangtuamu, juga kakak-kakakmu.”


“Aku merasa kalau aku tak pantas lagi berada di rumah itu.” Arunika masih tertunduk, tanganya memainkan cangkir teh dalam genggamannya. “Selama ini bunda pasti menderita sekali setiap lihat aku.” Ada kesedihan dalam sorot mata dan suaranya. “Aku tak bisa lagi tinggal sama bunda setelah mengetahui alasan bunda bersikap dingin padaku.”


“Kamu bicarakan tentang itu dengan papah atau kakakmu. Terlepas dari yang kamu bilang semalam tentang nasab, namun yang perlu diingat ada darah yang sama yang mengalir dalam tubuhmu dengan mereka. Dan itu tak akan bisa digantikan oleh apapun.”


Seperti aku dan ayah.


Oka terdiam mengingat hubungannya dengan sang ayah yang masih belum ada perkembangan sampai sekarang … karena ego dirinya sendiri.


Ya … berbicara memang lebih mudah daripada melakukan. Sama halnya seperti mengoreksi kesalahan orang lain itu lebih mudah daripada introspeksi diri sendiri.


*****