
Seminggu ini Oka disibukan oleh berbagai tugas kuliah juga seminar di kampus, dan sudah seminggu ini juga Oka tidak bertemu Arunika.
Terakhir Oka bertemu dengan Arunika adalah ketika Oka mengantarnya pulang setelah mereka makan bakso hari itu. Semua baik-baik saja sampai akhirnya mereka sampai rumah Arunika bersamaan dengan sebuah mobil Vellfire hitam datang. Seorang pria paruh baya turun dari mobil itu dengan aura karismatik yang sangat kuat.
Sigit Suwarno, sang politisi ternama yang sering wara wiri menjadi pembicara masalah politik di televisi. Ayah dari Arunika Gantari.
Tak ada kata yang terucap dari mulut sang politisi selain balasan salam yang Oka ucapkan, selebihnya hanya pandangan menilai dari ujung kepala sampai kaki juga si merah yang terparkir di sampingnya. Dan besoknya Arunika memberi kabar kalau mulai hari itu dia akan diantar jemput oleh sopir yang disediakan sang ayah.
Seharusnya Oka tidak masalah dengan hal itu, bukankah dengan diawasi oleh orang kepercayaan ayahnya membuat Arunika akan jauh lebih aman daripada dengannya. Namun rasa khawatir itu tetap ada, membuat Oka akan mengiriminya pesan setiap malam hanya untuk bertanya apa dia baik-baik saja? Yang akan dijawab Arunika dengan sederet cerita seperti biasanya bahkan terkadang mereka akan berbicara di telepon hingga larut malam.
Jujur saja seminggu tak bertemu dengan Arunika ada sesutu yang hilang dalam hidup Oka. Terbiasa setiap hari bertemu, pulang - pergi kuliah bersama, dan kini … Oka kehilangan itu. untung saja tugas kuliah yang menumpuk mengalihkan perhatian Oka.
Seperti hari ini Oka memang tak ada jadwal kuliah. Namun begitu seharian ini dia habiskan di depan laptop dengan buku bertebaran di sekelilingnya untuk mengerjakan tugas makalah tentang studi perencanaan retaining wall. Dia hanya turun ke bawah ketika bu Mega sudah mulai cerewet mengingatkan makan, sholat atau ke toilet.
Jam dinding kamarnya menunjukan pukul 22.05 ketika Oka mematikan laptop dan meregangkan tubuhnya yang terasa lelah. Malam ini suasana di luar terasa lebih sepi dari biasanya, mungkin akibat hujan yang mengguyur kota Jakarta dari sore sampai sekarang masih menyisakan rintik dan udara dingin hingga membuat semua orang memilih untuk tidur lebih awal.
Di lantai bawah, sayup-sayup Oka mendengar suara televisi juga suara ibu dan kakaknya. Oka baru saja membaringkan tubuhnya di atas kasur memutuskan untuk tidur lebih awal ketika ponselnya berdering. Arunika.
“Assalamualaikum.”
Oka mengerutkan kening ketika tak ada jawaban dari Arunika, dia melihat layar ponselnya. Masih terhubung. Oka kembali memberi salam yang kali ini dijawab Arunika, tapi ada yang salah. Suara Arunika … suaranya terdengar lemah, seperti tengah menahan tangis.
“Kamu baik-baik saja?”
Hening sebelum akhirnya Arunika menjawab dengan satu kata, “Tidak.” Dan itu cukup membuat Oka langsung terbangun dari tempat tidur. Hilang sudah semua rasa lelah yang dia rasa tadi, berganti dengan kecemasan yang mendera.
“Kamu di mana?”
“Aku …”
“Share location, sekarang!”
Tak berapa lama sebuah pesan masuk yang memerlihatkan lokasi Arunika saat ini. Tebakannya benar, gadis itu tidak ada di rumahnya dan sedang tidak baik-baik saja. Oka mengumpat, tangannya menyambar jaket dan kunci motor, setengah berlari dia turun ke bawah sambil memakai jaket dan kembali menghubungi Arunika yang untungnya langsung diangkat.
“Cari tempat yang aman. Tunggu di sana, jangan kemana-mana aku ke sana sekarang! Jangan matikan ponselnya.”
Oka menghubungkan ponselnya dengan earphone, agar bisa terus memantau keadaan gadis itu.
“Mau kemana? Di luar masih hujan.”
“Arunika.” Hanya itu jawaban yang Oka berikan atas rasa penasaran ibu dan kakaknya. Bentari yang menyadari ada yang salah mengangguk mengerti.
“Hati-hati!”
Oka mengangguk.
Secepat kilat Oka ke luar rumah, menyalakan motornya kemudian melaju ke tempat Arunika berada saat ini. Jalanan sangat lengang, rintik hujan belum mereda membuat jalanan basah dan licin, air menggenang di jalan yang berlubang serta udara malam yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya hingga menembus jaket dan tubuh Oka yang terus menembus kegelapan malam di tengah derai hujan.
Oka memacu motornya secepat yang dia bisa, sesekali dia akan bertanya posisi Arunika saat ini sampai akhirnya Oka menghentikan motornya di samping tenda pecel lele yang sepi pembeli, hanya terlihat dua orang pemilik tenda tengah duduk sambil merokok dan berbincang. Mereka melirik ke arah Oka berharap akan masuk ke tenda mereka, tapi harus kecewa ketika Oka dengan cepat berjalan ke arah belakang dimana sebuah mini market yang sudah tutup berada.
Oka menghela napas antara lega bercampur rasa sedih melihat sosok Arunika yang terlihat menyedihkan. Tubuh ringkihnya duduk di pojok teras berusaha tersembunyi dari arah jalanan di balik tenda pecel lele. Tubuhnya basah karena hujan, tangannya memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar, namun dari itu semua yang membuat hati Oka terasa sakit adalah ketika mata mereka saling bertemu dan Oka melihat kesedihan yang teramat sangat dari mata yang kini menatapnya dengan berkaca-kaca.
Arunika menggigit bibirnya berusaha menahan tangis ketika Oka berjalan dengan cepat ke arahnya sambil membuka jaket yang langsung dia pakaikan di tubuh Arunika yang mengigil, perpaduan antara kedinginan juga tangis tanpa suaranya yang langsung pecah ketika Oka menariknya ke dalam pelukan.
Oka tak bertanya atau mengatakan apapun, dia hanya memeluknya membiarkan Arunika mengeluarkan semua tangisnya, sampai akhirnya tangis itu mereda.
“Kita pulang sekarang?”
Arunika menggelang.
“Aku … aku tidak mau pulang ke rumah.”
Oka terdiam sesaat, kemudian mengangguk.
“Kita pulang ke rumahku.” Oka menyugar rambut Arunika yang menutupi wajah pucatnya.
“Tapi …”
“Tidak apa-apa. Kita pulang sekarang.”
Arunika terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya dia setuju mengikuti Oka yang menuntun dengan menggenggam tangannya memberi sedikit kehangatan.
Sepanjang jalan Arunika hanya terdiam, kepalanya yang terasa berat dia sandarkan di punggung Oka, mencari sedikit kenyamanan. Mereka melewati TPU Pondok Ranggon, tempat pemakaman umum terbesar di daerah Jakarta Timur. Bukan TPU-nya yang membuat Oka takut ketika mengetahui dimana Arunika tadi. Namun ketika malam menjelang di daerah sana lebih terkenal dengan warung remang-remangnya dimana manusia akan lebih sangat berbahaya daripada genderewo and the gank sekalipun.
Malam itu dengan mengendarai si merah Oka menembus gerimis malam yang sunyi membawa Arunika pulang ke rumahnya.
“Ayo!”
Arunika hanya berdiri, matanya menatap pintu rumah Oka yang tertutup. Terlihat ragu.
“Ayo!” Kali ini Oka mengulurkan tangannya yang ditatap Arunika sesaat sebelum akhirnya menerima uluran tangan itu.
Oka baru saja akan membuka pintu rumah ketika pintu terbuka dari dalam memerlihatakan bu Mega dan Bentari yang menatap keduanya dengan cemas.
“Astagfirullahadzim, kenapa basah gini?” Bu Mega menatap Arunika yang terdiam, tertunduk dengan wajah pucat pasi. “Ayo, masuk-masuk!”
Dengan dirangkul bu Mega, Arunika melangkah masuk, sedangkan Oka kembali ke luar untuk memarkirkan si merah di tempatnya. Dia kembali masuk ke dalam dan melihat Arunika masih berdiri dengan kepala tertunduk di ruang keluarganya.
“Ganti bajunya dulu. Bajunya basah, nanti masuk angin.” Bentari memberikan sepasang baju tidur lengan panjang miliknya.
Arunika menatap Oka yang mengangguk, kemudian menerima baju dari Bentari yang mengajaknya ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Oka dengan cepat naik ke atas menuruti perintah sang ibu untuk berganti pakaian, dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Setelah selesai dia kembali ke bawah, Arunika telah selesai berganti pakaian. Dia kini duduk di sofa depan, senyum lemahnya muncul ketika melihat Oka turun dari dari atas.
“Sudah makan belum?”
Arunika mengalihkan pandangannya dari Oka ke arah bu Mega yang menaruh dua mug coklat panas di tas meja.
“Sudah, Tante, terima kasih.” Suara Arunika terdengar lemah.
“Minum coklat panasnya biar tubuhnya hangat.” Arunika mengangguk sambil kembali mengucap terima kasih. “Sudah malam. Jadi malam ini kamu tidur di sini saja ya? Besok baru pulang.”
Arunika terdiam sebelum kembali mengangguk sambil tertunduk.
“Tidak apa-apa. Nanti kamu tidur sama kakak. Sekarang minum dulu coklatnya.” Bentari menepuk bahu Arunika dengan senyum lembut membuat senyum Arunika terbit walaupun hanya sedikit.
“Ka, kamu temanin dulu Arunika di sini. Mamah mau tidur, sudah ngantuk.” Bu Mega berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Kalau mau tidur, langsung saja masuk ke kamar kakak, ya? Kakak tidur duluan.” Arunika kembali tersenyum sambil menangguk.
Sepeninggalannya Bentari dan bu Mega, Oka kembali berjalan mendekati Arunika kemudian duduk di sampingnya. Dia mengambil satu mug coklat lalu menyerahkannya kepada Arunika yang masih terdiam tertunduk.
“Minum dulu, biar tubuhnya hangat.”
Tangan Arunika yang dingin seketika terasa hangat ketika mug berisi coklat panas yang masih mengepul berada dalam genggamannya. Matanya kini menatap Oka yang juga tengah menyeruput coklat panas.
“Abang, tak bertanya kenapa?”
Arunika menatap Oka yang terdiam menatapnya untuk beberapa saat.
“Aku menunggu kamu cerita … mau cerita?”
Arunika terdiam menatap Oka yang menatapnya.
“Kalau kamu tidak memercayaiku dan tidak mau cerita. Tidak apa-apa, jangan dipaksa … habiskan coklatnya.”
Oka tersenyum sebelum mengalihkan padangannya ke arah televisi yang menayangkan film lawas Spiderman dimana manusia laba-laba itu tengah bergelantungan di antara gedung-gedung pencakar langit kota New York. Sesekali Oka akan kembali menyeruput coklatnya, seperti halnya Arunika yang masih terdiam dengan mata terus memerhatikan Oka yang seolah tengah serius menonton film, padahal entah apa yang ada di kepala lelaki yang duduk di sampingnya itu. Mungkin rasa kecewa karena merasa tidak dipercaya?
Menyadari hal itu membuat Arunika akhirnya membulatkan tekad, mungkin ini saatnya dia menceritakan semuanya dengan segala resiko … termasuk Oka yang mungkin akan kembali menjaga jarak.
“Bukan.” Oka menatap Arunika tak mengerti dengan ucapan tiba-tiba gadis itu. “Aku bukan tidak memercayai Abang, aku hanya takut.”
“Takut?”
Oka menaruh mug coklatnya yang tinggal setengah di atas meja, merubah posisinya dengan melipat sebelah kaki di atas sofa hingga berhadapan dengan Arunika yang mengangguk sambil menunduk, mata gadis itu memerhatikan mug merah polos berisi coklat panas dalam genggaman kedua tangannya.
“Takut kenapa?”
Kepala Arunika perlahan terangkat, matanya menatap mata Oka yang masih mengamatinya.
“Takut kalau Abang akan kembali menjaga jarak denganku.”
Hening …
Keduanya terdiam dengan mata saling mengunci. Oka tak mengerti dengan arti dari kalimat yang dimaksud Arunika, tapi yang pasti Oka bisa melihat ketakutan dan kesedihan itu di dalam sorot matanya yang biasanya memancarkan keriangan.
“Aww!”
Arunika mengelus jidatnya yang disentil Oka.
“Alasan tidak masuk akal. Bukankah selama ini aku menjaga jarak juga percuma karena kamu tetap saja mendekatiku.”
Arunika tersenyum, namun kali ini senyumnya berbeda. Senyum yang memancarkan kesedihan.
“Tapi mungkin sekarang berbeda. Aku tidak akan sepercaya diri dulu lagi untuk mendekati Abang … kalau Abang menjauhiku.”
Untuk pertama kalinya Oka melihat Arunika tidak percaya diri seperti itu, membuat rasa penasarannya semakin tinggi.
“Apa kamu terlibat kasus narkoba?”
“Abang!”
“Korupsi?”
“Iiiih, Abang!”
“Pembunuhan?”
“Abaaang … aku serius!”
“Aku juga serius. Kalau kamu tidak terlibat kasus-kasus itu kenapa aku harus menjauhimu?”
Arunika bisa melihat keseriusan dari ucapan Oka yang terkesan santai. Sesaat Arunika terdiam menatap sorot mata Oka yang manatapnya teduh sekaligus tegas seolah meminta untuk memercayainya … dan Arunika akan melakukan itu … melangkah melewati garis batas yang dia buat selama ini.
“Aku … bukan anak ibuku.”
Suara Arunika lemah, namun berhasil membuat Oka terdiam tak percaya.
*****